NovelToon NovelToon
Kebangkitan Prajurit Nomer Satu!

Kebangkitan Prajurit Nomer Satu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:813
Nilai: 5
Nama Author: kabutmalam

Renzo, mantan prajurit elite nomer satu indonesia dengan julukan beruang baja, dipenjara di Nusakambangan setelah membantai geng yang membunuh tunangannya. Ia berniat hidup tenang, sampai kabar adiknya dianiaya anak pejabat tertinggi dan keluarganya di sembunyikan membangkitkan amarahnya. Diliputi amarah, Renzo mengumpulkan para tahanan paling berbahaya—algojo kartel, yakuza, psikopat, ahli kungfu, hingga perancang bom—membentuk geng kriminal paling berbahaya dalam sejarah untuk kabur dari penjara, membalas dendam, dan menumbangkan penjahat manipulatif yang bahkan dilindungi pasukan militer!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kabutmalam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MASA LALU KELAM IVAN DRAGOS

Beberapa hari ini Ivan dan Renzo memulihkan diri. Luka di tubuh mereka perlahan mengering, namun luka yang jauh lebih dalam mulai terbuka di antara keduanya. Selama beberapa hari itu juga Ivan menceritakan masa lalunya kepada Renzo — kisah yang tak pernah ia sampaikan kepada siapa pun, kisah yang selama puluhan tahun ia kubur di bagian paling gelap hatinya.

Ivan Dragos lahir di Medan, di sebuah rumah reyot yang tak layak disebut tempat tinggal. Ibunya meninggal dalam kecelakaan saat Ivan berumur 7 tahun, meninggalkannya sendirian bersama ayahnya — pria yang tak pernah mengenal kata kasih sayang. Ayahnya adalah seorang kurir narkoba, orang yang tak segan mempertaruhkan nyawa orang lain demi selembar uang. Tak cuma kurir narkoba, ayah Ivan juga memiliki beberapa kenalan yang bergerak dalam perdagangan manusia — sekelompok orang kejam yang menjual dan memperbudak sesamanya seolah mereka bukan manusia, melainkan barang.

Karena dirinya sudah tak peduli dengan Ivan, dan karena kenalannya menjanjikan uang yang cukup besar apabila ia menjual satu anak, ayah Ivan pun menjual anaknya sendiri pada para pedagang manusia itu untuk dijadikan budak. Tanpa ragu, tanpa air mata, tanpa menoleh ke belakang.

Setiap hari hidup Ivan tak lebih dari sekadar pesuruh. Ia tumbuh di bawah pukulan, tendangan, dan kelaparan. Tubuhnya yang masih kecil dipaksa mengangkat beban yang seharusnya tak dipikul orang dewasa. Tidurnya di lantai batu yang dingin, makanannya sisa yang tak dimakan anjing. Ia tak mengenal kehangatan, tak mengenal pelukan. Ia hanya tahu satu hal: jika ia lemah, ia akan mati.

Hingga suatu hari, para pedagang manusia mengirim para budak ke Eropa Tengah untuk dijual di sana. Di perjalanan, sesampainya di Eropa Tengah, orang yang menjaga mereka lengah — tertidur pulas setelah mabuk. Ivan memanfaatkan kesempatan itu. Tanpa suara, tanpa menoleh, ia kabur ke dalam kegelapan malam.

Di Eropa, Ivan menjadi anak jalanan. Tidur di bawah jembatan, memakan sisa makanan yang dibuang orang lain, dan tak segan berkelahi demi sepotong roti. Ia tumbuh dengan tangan yang kasar dan mata yang selalu waspada.

Hingga saat berusia 12 tahun, Ivan tak sengaja bertemu seorang biksu yang sedang berkelana. Biksu dari Pegunungan Songshan itu menatapnya dengan tatapan iba karena penampilan lusuh Ivan dan tubuhnya yang kurus kering. Akhirnya biksu itu membelikan Ivan makanan yang cukup untuk tiga hari, lalu mengajaknya pergi.. mengajaknya tinggal di Biara Shaolin, tempat di mana ia bisa makan, tidur, dan belajar.

Di sana, di antara dinding batu yang berdiri sejak ribuan tahun lalu, Ivan belajar banyak hal — termasuk Kungfu Shaolin. Selama bertahun-tahun tubuhnya ditempa tak kenal henti: memikul beban berat naik-turun bukit yang terjal, berendam di air sungai yang membeku di musim dingin, menahan kuda yang liar di tanah berlumpur hingga kakinya tenggelam. Otot-ototnya terbentuk bukan dari angkat besi, melainkan dari kerja yang menyatu dengan alam — kuat, lentur, dan tak mudah hancur.

Dua puluh tahun ia tinggal di sana. Dua puluh tahun yang ia kira akan menjadi sisa hidupnya dalam kedamaian. Hingga suatu malam, peristiwa mengerikan pun terjadi — peristiwa yang membuat Ivan melenceng jauh dari ajaran yang ia pelajari, mengubah jalan hidupnya selamanya.

Malam itu angin musim gugur bertiup sangat dingin, menusuk hingga ke tulang. Langit gelap gulita, tak ada satu pun bintang yang terlihat — seolah mereka pun bersembunyi karena takut menyaksikan kejadian yang akan berlangsung.

Di sekitar kuil, awalnya ramai sekali orang yang berlalu-lalang — seperti wisatawan pada umumnya. Mereka tersenyum, berbicara dengan sopan, memberikan sumbangan, bahkan bersembahyang di hadapan patung Buddha Giok Putih yang menjadi pusaka suci kuil itu. Tak ada satu pun yang mencurigai niat jahat mereka. Tak ada yang tahu bahwa di balik senyum itu tersembunyi niat membunuh.

Namun begitu larut malam, mereka menampakkan taring mereka.

Suara langkah kaki berjingkat terdengar di lorong-lorong sunyi. Pintu kayu tua berderit pelan saat dibuka.

Saat para penjaga paviliun memergoki mereka, mereka bahkan tak sempat berteriak. Bunyi ledakan senjata api memecah keheningan malam, memekakkan telinga. Para penjaga tewas seketika, mata mereka melotot terbelalak — tak percaya pada apa yang terjadi.

"Serang! Habisi semuanya!" Sebuah teriakan menggelegar, memecah kegelapan.

Saat itulah neraka dimulai.

Para biksu Shaolin terbangun karena suara tembakan yang bertubi-tubi. Hanya dengan pakaian tidur di tubuh mereka, mereka berlari — mencoba menyelamatkan diri, bersembunyi di sudut-sudut ruangan, atau lari keluar menembus kabut malam. Namun anehnya, para penyerbu mengenal setiap lorong, setiap tangga, setiap tempat persembunyian seolah mereka tinggal di kuil itu selama bertahun-tahun. Dan yang lebih mengerikan... mereka semua berbekal senjata api.

Ledakan tembakan terdengar tanpa henti, memantul dari dinding ke dinding. Jeritan demi jeritan memilukan terdengar di mana-mana — suara orang yang jatuh, yang memohon, yang bernapas terakhir kalinya. Darah merah pekat memercik di lantai batu dan dinding kuil, mencemari tempat yang seharusnya suci dan damai. Para biksu tumbang satu per satu.

Ivan berada di samping gurunya — Kepala Biara, orang yang dua puluh tahun lalu memungutnya dari jalanan, orang yang mengajarinya membaca, berdiri, dan menjadi manusia. Sosok yang ia anggap sebagai ayah, keluarga, dan dunia.

Para penjahat itu menodongkan ujung pistol ke arah mereka berdua. Ivan melesat ke depan, berusaha melawan, namun sebelum ia sempat menjangkau musuhnya, suara erangan lirih terdengar dari belakang.

Ivan menoleh seketika. Jantungnya seakan berhenti berdetak.

Ia melihat gurunya ditikam dari belakang — dengan kejam, dengan brutal. Pedang itu menembus punggung tua gurunya, keluar dari dada depannya. Dan yang menikamnya... adalah salah satu teman Ivan sendiri. Orang yang selama ini tersenyum, berlatih, makan, dan tidur di sebelahnya. Ia ternyata pengkhianat.

Tubuh gurunya jatuh perlahan ke lantai batu. Suara darah yang menetes terdengar begitu nyaring di telinga Ivan. Diikuti oleh tawa para penjahat — tawa yang penuh penghinaan dan kemenangan.

Saat itulah dunia Ivan runtuh. Sosok yang ia anggap keluarga satu-satunya tewas mengenaskan tepat di depan matanya. Cahaya yang menyisanya padam seketika. Dan saat itulah Ivan kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.

Ia tak ingat bagaimana ia bergerak. Ia tak ingat bagaimana tangannya mencengkeram leher mereka, menghancurkan pertahanan mereka, merobek tubuh mereka satu per satu. Ia tak ingat bagaimana ia bergerak begitu cepat seakan tak menyentuh tanah. Ia hanya ingat satu hal: ketika semuanya selesai, tak ada satu pun penjahat yang selamat. Semuanya tewas — tubuh mereka tak lagi utuh, berserakan di lantai kuil yang kini berubah menjadi lautan darah.

Keheningan yang mengerikan menyelimuti tempat itu. Hanya terdengar napas Ivan yang memburu, berat, dan penuh gemetar.

Perlahan kesadarannya kembali. Ia mendekati pengkhianat itu — satu-satunya yang masih bernapas. Ia mencekiknya, menatap matanya, menuntut kebenaran. Ternyata mereka adalah kelompok mafia dari Eropa Tengah yang telah merencanakan perampokan ini bertahun-tahun — target utama mereka adalah patung Buddha Giok Putih, pusaka suci yang nilainya tak ternilai harganya.

Setelah mengetahui semuanya, Ivan mematahkan leher pengkhianat itu dengan satu gerakan tangan.

Ia keluar dari kuil itu tanpa menoleh ke belakang. Ia tahu, tangan seorang biksu tak seharusnya berlumuran darah. Tempat suci itu tak pantas lagi disentuh oleh orang sepertinya.

Semenjak saat itu Ivan berkelana. Ia mengumpulkan orang-orang kuat yang tak punya tempat tujuan, yang dicoreng dunia, yang memiliki kekuatan namun tak dihargai. Ia menaklukan berbagai organisasi kriminal satu per satu — membangun kekuatan bernama Black Dragon — semata-mata untuk satu tujuan: membalas dendam kepada seluruh jaringan mafia Eropa Tengah yang telah merencanakan pembantaian di kuil itu.

Dan begitulah, sosok yang dulu diajarkan kedamaian kini berjalan di jalur yang berlawanan — membawa api dan darah, mencari keadilan yang tak lagi bisa diwujudkan dengan kata damai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!