Diusir ke jalanan di tengah badai hujan bersama sepasang anak kembarnya yang menangis kelaparan, hidup Jiang Muchen hancur berkeping-keping saat istrinya memilih pergi demi gemerlap harta seorang tuan muda kaya.
Namun, tepat ketika keputusasaan nyaris menelan kewarasannya, "Sistem Ayah Super Tajir" tiba-tiba aktif, mengubah takdirnya dalam semalam dengan menjanjikan kekayaan tak terhingga hanya lewat satu syarat mutlak: membahagiakan anak-anaknya.
Kini, dengan kekuatan finansial yang perlahan mampu menggenggam ekonomi seluruh Kota Jiangcheng, Jiang Muchen bersumpah untuk membangun surga dunia bagi putra-putrinya, Zihan dan Ziyue, sembari memastikan siapa pun yang pernah menginjak-injak harga diri keluarganya... terutama sang mantan istri akan berlutut dalam penyesalan yang terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Cahaya matahari pagi menyinari jendela kaca raksasa Vila Raja, membiaskan pelangi kecil di atas lantai marmer yang mengkilap. Di ruang keluarga yang sangat luas itu, suara tawa Ziyue terdengar renyah bagaikan lonceng perak yang ditiup angin. Gadis kecil itu berlari memutari sofa panjang, mengenakan gaun berwarna merah muda pastel dengan pita besar di pinggangnya.
"Ayah, cepatlah! Ziyue tidak sabar ingin memperlihatkan lukisan Ziyue pada Ayah dan Guru Shen!" seru Ziyue sambil menarik-narik ujung kemeja putih Jiang Muchen.
Jiang Muchen yang baru saja selesai memasang jam tangan, tersenyum hangat melihat antusiasme putrinya. Berkat efek pasif dari Aura Ayah Super yang diberikan oleh sistem semalam, Jiang Muchen bisa melihat perubahan yang sangat nyata pada kedua anaknya. Bayangan gelap kemiskinan, rasa lapar, dan trauma akibat ditinggalkan ibu mereka telah terhapus sepenuhnya dari ingatan emosional si kembar. Ziyue dan Zihan kini memancarkan aura anak-anak bangsawan sejati yang tumbuh penuh cinta dan rasa aman.
"Ziyue, jangan berlari-lari setelah makan. Nanti perutmu sakit," tegur Zihan yang berjalan di belakang adiknya. Bocah laki-laki berusia empat tahun itu mengenakan setelan jas miniatur berwarna biru dongker yang membuatnya terlihat sangat tampan dan dewasa sebelum waktunya.
"Baik, Kakak," jawab Ziyue patuh, langsung memperlambat langkahnya dan menggenggam tangan kakaknya.
Jiang Muchen mengelus kepala kedua buah hatinya.
"Kalian sudah siap? Hari ini adalah hari besar untuk seniman kecil Ayah. Ayo kita berangkat," ucap Jiang Muchen.
Wrrrrmmm.
Suara mesin buas dari Dartz Prombron kembali memecah keheningan pagi di perbukitan Dragon Bay. Mobil lapis baja hitam pekat itu meluncur mulus menuruni jalanan aspal, membawa keluarga kecil tersebut menuju TK Internasional Royal Bintang Lima.
Hari ini, sekolah elit tersebut mengadakan acara tahunan Pameran Seni Bintang Kecil. Seluruh lobi utama dan aula telah disulap menjadi galeri seni mini yang elegan. Lukisan dan kerajinan tangan para murid dipajang dengan pencahayaan khusus layaknya karya maestro.
Saat Dartz Prombron milik Jiang Muchen memasuki pelataran parkir, semua mata langsung tertuju padanya. Berita tentang hancurnya Nyonya Zhou beberapa hari yang lalu telah menyebar di kalangan orang tua murid. Meskipun mereka tidak tahu persis seberapa besar kekayaan Jiang Muchen, mereka sangat sadar bahwa pria ini memiliki kendali absolut atas yayasan sekolah. Tidak ada satu pun dari para miliarder dan pejabat itu yang berani memandang remeh kemeja putih tanpa merek yang selalu dikenakannya.
Jiang Muchen turun dari mobil, mengangkat Ziyue dengan tangan kirinya dan menggandeng Zihan dengan tangan kanannya.
Ciiit.
Sebuah mobil sedan mewah Mercedes-Maybach berhenti tepat di sebelah Dartz Prombron. Pintu belakang terbuka, menampilkan sepasang kaki jenjang yang dibalut sepatu hak tinggi berwarna perak. Su Qingxue melangkah turun dengan keanggunan seorang ratu bisnis. Dia mengenakan gaun formal berwarna putih tulang yang membingkai lekuk tubuh sempurnanya, memancarkan pesona dewasa yang membuat beberapa ayah di tempat parkir tanpa sadar menahan napas.
"Selamat pagi, Tuan Jiang. Tuan Muda Zihan, Nona Ziyue," sapa Su Qingxue dengan senyum manis yang sangat jarang dia tunjukkan di depan publik.
"Manajer Su. Kau datang lebih awal dari dugaanku," balas Jiang Muchen santai.
"Tentu saja, Tuan Jiang. Anda telah memberikan kehormatan bagi saya untuk menemani Anda sebagai perwakilan manajemen di acara ini. Saya tidak mungkin terlambat," jawab Su Qingxue. Matanya menatap Jiang Muchen dengan penuh kekaguman. Dia sudah mendengar kabar tentang runtuhnya Grup Zhao semalam. Seluruh kota Jiangcheng sedang gempar, namun pria yang menjadi arsitek di balik kehancuran itu kini sedang menggendong anak perempuannya dengan senyum paling damai di dunia.
"Halo, Bibi Su yang cantik!" sapa Ziyue riang.
Su Qingxue tersenyum lebar. Dia merasa hatinya meleleh setiap kali melihat anak-anak ini. Dia mengambil tempat di sisi kanan Jiang Muchen, berjalan mendampinginya layaknya seorang nyonya rumah yang anggun. Formasi mereka berempat saat memasuki lobi sekolah benar-benar seperti keluarga kerajaan yang turun dari langit, menarik semua tatapan kagum dan iri dari kerumunan elit Jiangcheng.
Di pintu masuk aula pameran, Shen Yueru sudah berdiri menyambut para tamu. Guru muda itu mengenakan gaun selutut berwarna biru laut yang sangat sederhana namun menonjolkan kulit putihnya yang bersih dan murni. Rambut hitam sebahu miliknya dibiarkan tergerai, memberikan kesan kelembutan yang menenangkan.
Saat melihat Jiang Muchen berjalan mendekat bersama Su Qingxue, ada secercah perasaan canggung yang melintas di mata Shen Yueru. Su Qingxue terlihat begitu sempurna, kuat, dan setara dengan pria itu. Namun, perasaan canggung itu segera hilang saat Ziyue melompat turun dari gendongan ayahnya dan berlari memeluknya.
"Guru Shen! Ziyue sudah datang!"
"Selamat pagi, Ziyue sayang. Selamat pagi, Zihan yang pintar," sapa Shen Yueru sambil membalas pelukan gadis kecil itu. Dia kemudian mendongak dan menatap Jiang Muchen. "Selamat datang di pameran seni kami, Tuan Jiang. Dan... Nona Su."
"Guru Shen, terima kasih sudah membimbing anak-anakku. Ziyue tidak henti-hentinya membicarakan pameran ini sejak semalam," ucap Jiang Muchen dengan nada lembut.
Su Qingxue menatap Shen Yueru dengan pandangan menilai yang halus. Sebagai wanita yang cerdas, Su Qingxue bisa membaca bahasa tubuh. Dia melihat bagaimana wajah Shen Yueru sedikit merona saat berbicara dengan Jiang Muchen, dan bagaimana tatapan murni guru itu menyimpan kekaguman yang dalam.
"Tuan Jiang ini sangat mempesona. Tidak heran jika guru yang polos seperti dia juga ikut tertarik. Tapi, aku tidak akan kalah begitu saja," batin Su Qingxue, jiwa kompetitifnya sedikit terpancing, meski dia tetap mempertahankan senyum elegannya.
"Mari saya tunjukkan di mana letak lukisan Ziyue, Tuan Jiang," tawar Shen Yueru, membimbing mereka masuk ke dalam aula.