Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.
Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.
Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.
Dunia mengira ia kehilangan segalanya.
Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Ballroom Wijaya Group dipenuhi cahaya kuning hangat dan suara gelas yang saling beradu. Lantai marmernya sama mengilap dengan ballroom Nugroho tempat Elang berdiri beberapa hari lalu, tetapi kali ini ia tidak datang sebagai anak yang tidak dianggap. Ia melangkah masuk dengan setelan hitam yang pas di pundaknya dan Lastri menggandeng lengannya dengan gaun biru lembut serta pita yang sama di rambutnya.
"Semua orang melihat kita," bisik Lastri sambil mengeratkan pegangan di lengan jasnya.
"Biarkan mereka melihat," jawab Elang tanpa menoleh. "Itu pekerjaan mereka malam ini."
Beberapa tamu berhenti bicara ketika mereka lewat. Di sudut ruangan, seorang pria berambut perak mengangkat gelas ke arah mereka, dan Elang membalas dengan anggukan singkat. Pak Wijaya berdiri di dekat panggung kecil dengan jas abu-abu, dan senyumnya melebar ketika ia melihat putrinya berjalan tanpa tongkat atau bantuan siapa pun.
Sebelum Elang sempat menyapa, dua sosok melangkah mendekat dari sisi kanan. Ray berjalan dengan tongkatnya dan rahang yang terlalu kaku untuk disebut senyum. Di sampingnya, Dimas mengenakan jas hitam dan wajah yang sama sekali tidak menunjukkan isi pikirannya.
"Elang," kata Dimas dengan suara rendah. "Lama tidak bertemu."
"Pak Dimas." Elang mengangguk dengan sopan yang dingin. "Anda tidak perlu repot menyapa saya. Saya hanya tamu."
"Kau tetap anakku." Dimas menatap Lastri sekilas, lalu kembali pada Elang. "Dan kau tampak baik-baik saja."
"Saya baik-baik saja." Elang menaruh tangannya di punggung tangan Lastri dan tersenyum tipis. "Anda tidak perlu khawatir."
Ray menatap pita biru di rambut Lastri, lalu menatap Elang. Mulutnya terbuka seakan hendak berkata sesuatu, tetapi suara lain memotongnya dari belakang.
"Jadi ini anak muda yang jadi bahan pembicaraan satu kota." Seorang pria gemuk berusia lima puluhan mendekat dengan gelas anggur di satu tangan dan cerutu mati di tangan lainnya. Jasnya mahal, tetapi kancingnya hampir tidak muat. Ia menatap Elang dari ujung rambut sampai sepatu dengan senyum meremehkan.
"Hartono Subagyo," katanya sambil menjabat tangan Elang tanpa tenaga. "Saya dengar kau baru buka perusahaan es krim. Lastri Cecrem, benar? Perusahaan es krim." Ia tertawa kecil dan menoleh pada tamu-tamu di sekelilingnya. "Anak-anak zaman sekarang memang berani. Dapat sedikit nama di televisi, langsung merasa bisa berbisnis."
"Es krim bukan perkara kecil, Pak Hartono," kata Elang dengan nada ramah. "Anda sendiri pasti sering menikmatinya."
"Aku sudah tiga puluh tahun di distribusi makanan beku, Nak." Hartono mengangkat bahu. "Dan aku tahu apa yang tidak akan bertahan. Perusahaan sekecil punyamu butuh jalur distribusi, dan hanya ada tiga orang di kota ini yang bisa memberinya. Aku salah satunya." Ia mencondongkan badan dan menurunkan suara. "Tapi aku tidak berbisnis dengan anak yang belum lulus ujian."
Beberapa tamu di dekat mereka tertawa kecil. Wajah Lastri memerah, dan Elang bisa merasakan jemarinya menegang di lengannya.
Elang tidak membantah. Ia melangkah setengah langkah mendekat dan menaruh telapak tangan kanannya di bahu Hartono dengan gerakan yang ringan, seperti seorang kenalan lama.
"Pak Hartono benar," katanya pelan. "Tapi beri saya waktu lima menit untuk membuktikan bahwa saya layak. Aku ingin kemampuan bisnis sepertimu"
[Permintaan dijalankan...]
[Target: Hartono Subagyo. Kemampuan: negosiasi bisnis tingkat tinggi.]
[Keberhasilan: 100%.]
[Permintaan berhasil.]
[Kuota tersisa: 4/5.]
Sesuatu bergeser di kepala Elang, hampir tidak terasa. Tiba-tiba ia mengerti bagaimana pria di depannya menghitung untung rugi, bagaimana ia membaca ekspresi lawan bicara, dan titik-titik lemah yang tidak pernah ia tunjukkan di meja perundingan. Semuanya tersusun rapi seperti peta yang sudah lama ia hafal.
"Kalau begitu," Elang menarik tangannya dari bahu Hartono, "saya tawarkan kontrak distribusi eksklusif tiga tahun untuk seluruh kota ini. Harga bahan baku Anda yang menentukan, margin kami yang menyesuaikan, dan Anda mendapat lima persen saham perusahaan kami tanpa membayar sepeser pun."
Hartono menaikkan alis. "Lima persen? Gratis? Kau kira aku bodoh?"
"Saya kira Anda pintar, itulah sebabnya." Elang tersenyum. "Dengan tiga pabrik yang Anda punya, margin Anda naik sembilan belas persen tahun ini. Tanpa saya, Anda kehilangan pelanggan terbesar Anda bulan depan karena kontrak mereka dengan pesaing Anda sudah hampir ditandatangani."
Wajah Hartono berubah. Senyumnya hilang, dan jemarinya yang memegang gelas anggur mengencang. "Dari mana kau tahu itu?"
"Dari cara Anda berhenti bicara tiap kali nama pesaing Anda disebut malam ini." Elang mengangkat bahu. "Jadi bagaimana, Pak?"
Tidak sampai lima menit kemudian, seorang sekretaris datang membawa map dan pena. Hartono menandatangani kontrak itu di meja kecil di sudut ruangan di depan belasan orang yang menahan napas, dan Dimas, yang berdiri tidak jauh dari sana, tidak berkata apa-apa. Ray mengepalkan tangannya di gagang tongkat sampai buku jarinya memutih.
...------...
Intan berdiri di dekat meja minuman dengan gelas sampanye yang belum ia sentuh. Ia sudah melihat semuanya dari jauh, dari cara Elang berjalan sampai cara pria gemuk itu menandatangani kontrak. Tidak ada satu pun yang cocok dengan Elang yang ia kenal selama tiga tahun pertunangan mereka.
Ia menatap Ray, yang berdiri dengan wajah keras di sebelah ayahnya. Ia teringat malam ayahnya duduk di meja makan dengan wajah abu-abu setelah surat peringatan itu datang. Utang keluarganya pada Nugroho Corp sudah menumpuk bertahun-tahun, dan hanya satu orang yang menawarkan jalan keluar tanpa meminta jaminan tambahan. Ray tidak pernah menyebut nama utang itu, tetapi ia tahu apa yang ia bayar.
Ia meletakkan gelasnya, memastikan tidak ada yang memperhatikan, dan berjalan melewati ruangan menuju balkon kecil tempat Elang baru saja keluar sendirian. Langkahnya terasa lebih berat dari yang ia perkirakan, tetapi ia tidak berhenti.
"Elang."
Elang menoleh dengan satu tangan di pagar balkon. Tatapannya tenang, tidak ada kejutan sama sekali.
"Aku bisa memberimu sesuatu yang kau butuhkan," kata Intan pelan.