NovelToon NovelToon
Dua Wajah Cinta

Dua Wajah Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Jam menunjukkan pukul empat sore. Denting lonceng di atas pintu berbunyi pelan saat Gladys memutar papan penanda kafe dari tulisan Open menjadi Closed.

Hari mulai meredup, membawa nuansa jingga yang hangat menyapu sudut-sudut kafe minimalisnya.

Setelah merapikan beberapa meja di lantai bawah dan mematikan mesin espresso utama, Gladys melangkah menaiki tangga kayu menuju lantai atas yang difungsikan sebagai dapur produksi.

Suara ketukan timbangan digital dan gesekan wadah baja terdengar samar dari sana.

Di dalam dapur, Bima terlihat sibuk menimbang tumpukan tepung terigu dan bahan-bahan dasar lainnya untuk persiapan adonan donat gula pesanan besar rapat hotel lusa.

"Masih sanggup, Bim?" tanya Gladys ramah sambil menyenderkan bahunya di ambang pintu dapur.

Bima mendongak, menyapu keringat di dahinya dengan lengan kemeja, lalu memamerkan cengiran khasnya.

"Demi bonus, pasti Bima sanggup, Bu Gladys!"

Gladys terkekeh pelan melihat semangat karyawannya itu.

Ia berjalan menuju sudut dapur, mengambil dua buah cangkir keramik, lalu meracik kopi hangat segar untuk dirinya sendiri dan juga Bima.

"Ini, diminum dulu supaya tenaga kamu pulih," ujar Gladys menyodorkan salah satu cangkir ke meja kerja Bima.

Bima menerima cangkir itu dengan kedua tangannya, menghirup aroma kopi yang harum mendalam sebelum menyesapnya perlahan.

"Wah, mantap betul. Enak ya kalau punya istri seperti Bu Gladys," celoteh Bima asal jiplak sambil mengangguk-angguk puas.

Gladys seketika melirik tajam ke arah Bima dengan tatapan pura-pura galak.

"Jangan ngawur kamu, Bim. Nanti Elsa cemburu sama aku."

"Aduh aduh, siapa nih yang menyebut-nyebut namaku?"

Sebuah suara nyaring yang ceria mendadak memotong percakapan mereka dari arah tangga.

Tak lama kemudian, sosok Elsa muncul membawa wadah bekal beraroma gurih yang menggugah selera—ia membawa porsi steak buatan sendiri yang masih hangat.

Elsa, wanita muda yang merupakan calon istri Bima, melangkah masuk ke dapur.

Tanpa ragu, Elsa langsung menghampiri Gladys lalu mencium punggung tangan Gladys dengan rasa hormat dan penuh kasih sayang.

Bagi Elsa, Gladys bukan sekadar bos dari calon suaminya.

Gladys adalah sosok penyelamat yang dulu membantunya mempertahankan usaha kafe kecil ini sewaktu Gladys pertama kali menginjakkan kaki di kota terpencil ini satu tahun yang lalu.

Kebetulan dan kebaikan hati Gladys-lah yang membuat mereka bertiga kini terikat dalam jalinan kerja sama dan kekeluargaan yang begitu erat.

Sementara itu, jauh di pusat kota yang megah, gedung perkantoran Gladys Group berdiri kokoh sebagai bukti kerja keras dan tekad membara dari Raka.

Perusahaan yang dibangunnya dari nol tanpa menggunakan sedikit pun fasilitas Devandra itu kini tumbuh menjadi salah satu gurita bisnis baru yang diperhitungkan.

Bagi Raka, nama perusahaan itu bukan sekadar identitas bisnis, melainkan sebuah prasasti rindu yang ia pasang tinggi-tinggi di angkasa, berharap wanitanya suatu hari akan melihatnya.

Di dalam ruang kerja utamanya yang bernuansa modern, Raka berdiri menatap lanskap pemandangan kota di balik dinding kaca besar.

Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, sementara tatapannya menerawang jauh.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan pintu memecahkan keheningan ruangan. Seorang wanita muda berpenampilan rapi melangkah masuk sambil membawa sebuah map dokumen berwarna krem di tangannya.

"Mas Raka," sapa Sari lembut.

Sari adalah saudara sepupu almarhumah Dewi yang kini dipercaya Raka untuk memegang posisi penting di perusahaannya.

Raka memutar tubuhnya, menatap adik iparnya itu dengan raut wajah tenang.

"Ada apa, Sari?"

Sari melangkah mendekati meja kerja Raka dan meletakkan dokumen tersebut di atas meja.

"Ini, ada berkas dan undangan meeting serta acara pertemuan kolega bisnis di Jawa Tengah lusa, Mas."

Raka menganggukkan kepalanya pelan. tangannya terulur meraih berkas tersebut.

Namun, sebelum Sari berbalik untuk meninggalkan ruangan, Raka menahan langkah wanita itu.

"Sari." panggil Raka dengan nada suara yang mendadak berubah parau dan berat.

Sari menghentikan langkahnya, menoleh menatap Raka dengan tatapan penuh rasa empati.

Ia sudah tahu betul pertanyaan apa yang akan keluar dari bibir pria di hadapannya itu—pertanyaan yang sama yang selalu diulang Raka selama 365 hari terakhir.

"Apa Gladys, pernah menghubungimu?" tanya Raka lirih, memancarkan keputusasaan yang mati-matian ia sembunyikan di hadapan karyawan lain.

Sari mendesah pelan, lalu menggelengkan kepalanya dengan raut wajah serba salah.

"Belum ada kabar sama sekali, Mas. Mbak Gladys tidak pernah menghubungi saya atau keluarga yang lain."

Raka terdiam sejenak. Hatinya kembali berdenyut nyeri, namun ia menyembunyikannya dengan mengembuskan napas panjang.

"Baik, Sari. Terima kasih," jawab Raka berusaha tegar.

Ia melirik jadwal acara di dalam map tersebut. "Lusa, aku sendiri yang akan datang ke Jawa Tengah."

Sari mengangguk sopan lalu berpamitan keluar dari ruangan.

Begitu pintu kayu itu tertutup rapat, Raka kembali sendirian.

Ia meraba cincin pernikahan di dalam saku jasnya, menatap ke arah luar jendela dengan keyakinan yang tak pernah padam.

Jawa Tengah, tempat di mana langkah barunya lusa mungkin akan membawanya satu langkah lebih dekat pada takdir yang sempat terputus.

Di sudut lain kota, di ruang direktur utama gedung Devandra Corp yang megah, suasana terasa begitu dingin dan mencekam.

Praduta memutar-mutar surat undangan berdesain elegan di jemarinya.

Undangan yang sama persis dengan yang diterima Raka—sebuah acara pertemuan kolega bisnis terkemuka yang akan digelar di Jawa Tengah lusa.

Sudut bibirnya terangkat, membentuk seulas senyuman sinis penuh keangkuhan.

Di hadapannya, duduk Papa Devandra di atas kursi roda.

Pria tua yang dulunya begitu berwibawa itu kini tampak rapuh, pucat, dan tak lagi memiliki sisa-sisa keagungan masa lalunya.

Brak!

Praduta melemparkan berkas laporan keuangan perusahaan ke atas meja kaca tepat di hadapan sang ayah.

"Papa lihat, kan?" ucap Praduta dengan nada menuntut, suara baritonnya mengintimidasi ruangan.

"Aku bisa memajukan perusahaan ini. Bahkan keuntungannya naik dua kali lipat dibanding saat dipimpin oleh putra kesayanganmu itu!"

Papa Devandra memandangi lembaran berkas itu dengan jemari yang gemetaran.

Pria tua itu menelan salivanya dengan susah payah, menganggukkan kepalanya pelan tanpa berani menatap langsung mata tajam Praduta yang penuh kebencian.

"I-iya, Praduta." jawab Papa Devandra dengan suara parau dan terbata-bata.

"Kamu, anak yang hebat."

Seringai kepuasan di wajah Praduta makin lebar, meski rasa hampa di dadanya tak jua terobati.

Pengakuan dari pria paruh baya di hadapannya ini terasa begitu terlambat, namun tetap memberinya rasa menang yang memabukkan.

Praduta menekan tombol interkom di atas mejanya.

"Suster, masuk," perintahkan Praduta dingin.

Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka dan seorang perawat pribadi melangkah masuk dengan menunduk sopan.

"Bawa Papa pulang ke rumah," perintah Praduta tanpa memalingkan pandangannya dari surat undangan di tangannya.

"Pastikan dia tidak ke mana-mana dan istirahat dengan cukup. Aku ada urusan penting di Jawa Tengah lusa."

"Baik, Pak Praduta," jawab sang perawat sigap seraya mendorong kursi roda Papa Devandra keluar dari ruangan.

Sepeninggal ayahnya, Praduta menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya.

Ia menatap lekat tanggal dan lokasi acara yang tertera pada undangan tersebut: sebuah hotel bintang lima terkemuka di Jawa Tengah.

"Raka pasti akan datang," bisik Praduta lirih, sorot matanya berubah tajam dan penuh obsesi.

"Dan, kalau Raka ada di sana, aku yakin bayangan Gladys tak pernah jauh darinya." ucap Praduta.

1
nining cahyaningrum
akur jelas cerita bagud
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!