Setelah mengorbankan wujud fananya untuk menyelamatkan jiwa Su Qingyue, Lin Chen hancur oleh cakar Kaisar Langit dari Ras Naga Sejati.
Sisa jiwanya yang nyaris sirna diselamatkan oleh pengorbanan umur Tian Yu yang memanggil Esensi Phoenix Abadi, mengubahnya menjadi sebuah kepompong api. Atas kehendak Tuan Istana Ujung Takdir, kepompong itu dibuang ke dunia fana murni Kerajaan Chen tempat di mana hukum kultivasi, Qi spiritual, dan ancaman dewa tidak pernah ada.
Ratusan tahun berlalu dalam keheningan, menunggu sang Penantang Langit untuk menetas kembali. Tanpa kultivasi, tanpa tombak dewa di tangannya, namun membawa fondasi fisik gabungan dari Naga, Kekacauan, dan Phoenix Abadi, Lin Chen memulai kehidupan keduanya bukan sebagai monster kehancuran, melainkan sebagai seorang pangeran fana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Janji di Bawah Rembulan
Kuil Tua di Bukit Barat Ibukota sudah puluhan tahun tidak didatangi peziarah. Atapnya bolong, dan patung dewa tak bernama di dalamnya telah kehilangan kepalanya. Di bawah sinar bulan purnama yang menyelinap masuk melalui atap yang hancur, Lin Chen berbalut jubah hitam dengan wajah tertutup duduk bersila di atas altar debu.
Suara langkah kaki yang sangat pelan terdengar dari balik semak belukar.
Bocah kurus berbaju goni melangkah masuk. Mo Ying datang sendirian. Matanya yang berwarna abu-abu gelap masih memancarkan aura serigala liar, namun saat melihat sosok kecil berjubah hitam di atas altar, ia langsung berlutut dengan satu lutut.
"Adikku sudah minum obatnya. Dia bisa tidur tanpa batuk darah malam ini," suara Mo Ying serak, namun tegas. Ia menundukkan kepalanya. "Nyawaku milikmu. Perintahkan aku."
Lin Chen menatap bocah berusia sembilan tahun itu. Kesetiaan yang lahir dari keputusasaan adalah kesetiaan yang paling murni.
"Dunia fana ini sedang berubah, Mo Ying," Lin Chen angkat bicara, suaranya tenang namun memancarkan otoritas yang membuat Mo Ying merinding. "Kekuatan otot dan pedang besi akan segera menjadi rongsokan. Aku akan mengajarimu cara bernapas meminum bayangan."
Lin Chen melentikkan jarinya. Sebuah gulungan perkamen kecil yang ia tulis sendiri menggunakan arang melayang secara presisi, jatuh tepat di pangkuan Mo Ying.
"Itu adalah Teknik Pernapasan Hantu. Bernapaslah sesuai pola itu saat tengah malam. Awalnya kau hanya akan merasa dingin, tapi lama-kelamaan, tubuhmu akan menyerap kekuatan yang tidak bisa dilihat oleh mata telanjang," jelas Lin Chen. Teknik itu adalah teknik kultivasi kelas fana terendah di Sektor Langit, namun di dunia ini, itu adalah fondasi untuk menciptakan monster. "Berlatihlah. Saat kau sudah bisa meremukkan batu bata hanya dengan cengkeraman tangan kosong, temui aku lagi di sini."
Mo Ying mencengkeram perkamen itu erat-erat seolah itu adalah nyawanya sendiri. "Aku tidak akan mengecewakanmu, Tuan."
"Ingat," Niat Membunuh yang sangat tipis menekan lorong kuil, membuat Mo Ying kesulitan bernapas. "Jika kau mengkhianatiku, bahkan kematian akan menjadi kemewahan yang tidak bisa kau dapatkan."
Mo Ying bersujud dalam-dalam. Saat ia mengangkat kepalanya lagi, altar itu telah kosong. Tuan bayangannya telah menghilang seolah tertiup angin malam.
Satu minggu kemudian, Ibukota Kerajaan Chen bergetar.
Bukan karena gempa bumi, melainkan karena derap langkah puluhan monster seukuran rumah yang berbaris memasuki gerbang utama kota. Gajah-gajah raksasa berlapis zirah besi tebal melangkah dengan angkuh, membawa paviliun mewah di punggung mereka. Ini adalah armada diplomatik dari Kekaisaran Yan, kekuatan fana terkuat di benua ini.
Di dalam istana, Raja Chen menyambut mereka di Alun-Alun Matahari. Permaisuri Lin Yue duduk di sampingnya, sementara Lin Feng berdiri tegak dengan zirah kebanggaan pangeran. Di belakang Lin Yue, Lin Chen yang berusia tujuh tahun duduk manis, sesekali menyembunyikan wajahnya di balik gaun ibunya saat utusan Yan menatap ke arah mereka, memainkan peran anak bungsu yang pemalu.
Pemimpin utusan itu adalah Pangeran Kedua Kekaisaran Yan, Yan Bo. Seorang pemuda berusia delapan belas tahun dengan tubuh kekar, mata elang, dan senyum meremehkan. Di sisinya, berdiri seorang jenderal tua bermata satu yang memancarkan aura pembunuh bayaran yang pekat.
"Raja Chen, kami membawa salam dari Kaisar Agung Yan," Yan Bo tidak menunduk hormat, hanya menangkupkan tangan dengan santai. "Pertukaran kebudayaan kita tahun ini, kuharap tidak semembosankan tahun lalu."
Raja Chen tersenyum formal, menyembunyikan kekesalannya. "Pangeran Yan Bo, kami telah menyiapkan perjamuan dan tarian terbaik. Kerajaan Chen selalu menyambut tamu dengan hangat."
"Tarian? Ah, itu untuk para wanita," Yan Bo tertawa keras, suaranya sengaja dikeraskan agar seluruh prajurit mendengarnya. Ia menatap lurus ke arah Lin Feng. "Di Kekaisaran Yan, kami menyambut tamu dengan benturan pedang! Kudengar Pangeran Pertama Kerajaan Chen adalah pemuda yang luar biasa berbakat. Bagaimana jika kita melakukan latih tanding persahabatan sebelum perjamuan? Untuk menghangatkan suasana."
Wajah Raja Chen sedikit menegang. Yan Bo dua tahun lebih tua dari Lin Feng dan memiliki reputasi brutal di medan perang Utara. Ini bukan tantangan persahabatan; ini adalah unjuk gigi untuk mempermalukan Kerajaan Chen di rumah mereka sendiri.
Namun Lin Feng tidak mundur. Darah mudanya mendidih. Ia melangkah maju, menghunus pedang latihannya. "Kehormatan bagiku untuk belajar dari Pangeran Yan Bo."
"Feng'er, hati-hati," bisik Lin Yue cemas.
Lin Chen yang bersembunyi di balik gaun ibunya, menyipitkan mata keemasannya. Ia tahu ada perbedaan kekuatan yang mencolok, bukan hanya dari usia, tapi dari niat membunuh yang memancar dari tubuh Yan Bo.
Pertarungan dimulai.
Yan Bo menerjang layaknya badak besi. Pedang kayunya berayun dengan kekuatan yang merobek udara. Lin Feng menangkis, namun benturan itu memaksanya mundur tiga langkah. Tangannya bergetar hebat.
Jurus Pedang Harimau Membelah Gunung! Lin Feng membalas, melompat dan mencoba menyerang titik buta Yan Bo.
Namun, Yan Bo hanya tersenyum sinis. Alih-alih menghindar, ia memutar tubuhnya dan secara brutal menghantamkan pangkal pedang kayunya lurus ke arah dada Lin Feng.
BUGH!
Lin Feng terbatuk, darah merembes dari sudut bibirnya. Ia terhuyung mundur, namun sebelum ia bisa menyeimbangkan diri, Yan Bo menendang lututnya dengan kejam. Terdengar bunyi retakan kecil, dan Lin Feng jatuh berlutut.
"Hanya segini kekuatan calon Raja Chen?!" ejek Yan Bo, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, mengarahkannya bukan ke tubuh, melainkan ke arah kepala Lin Feng yang sedang berlutut. Itu adalah ayunan yang bisa membuat seseorang geger otak permanen.
"CUKUP!" Raja Chen setengah berdiri dari takhtanya, matanya memerah.
Namun, serangan Yan Bo terlalu cepat untuk dihentikan oleh pengawal. Lin Feng memejamkan mata, bersiap menerima hantaman.
Di kursi keluarga kerajaan, Lin Xue menjerit menutup matanya. Dan di saat yang sama, tangan mungil Lin Chen yang berada di balik lengan bajunya yang panjang, bergerak.
Teknik Jarum Qi Kosong.
Sebuah untaian Qi Kondensasi Tingkat Tiga yang sangat tipis, lebih tipis dari sutra dan tidak kasat mata, dipadatkan di ujung jari telunjuk Lin Chen. Dengan satu jentikan ringan yang terlihat seperti anak kecil sedang membetulkan lengan bajunya, jarum Qi itu melesat membelah alun-alun.
Jarum itu tidak menyerang dada atau pedang Yan Bo. Ia menembus udara dan menghantam titik akupunktur Yongquan tepat di telapak kaki kiri Yan Bo yang menjadi tumpuan utamanya.
ZRAAAAT!
Rasa kebas yang luar biasa ekstrem menyengat saraf kaki Yan Bo dalam sepersejuta detik. Tepat saat ia mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh ke bawah, kaki kirinya tiba-tiba lumpuh total.
Keseimbangan Yan Bo hancur berantakan. Momentum serangannya sendiri menjadi bumerang.
Alih-alih memukul Lin Feng, tubuh besar Pangeran Yan itu terpelanting ke depan. Wajah congkaknya menghantam lantai batu alun-alun dengan bunyi BAM yang sangat keras, terseret sejauh dua meter hingga hidungnya berdarah dan dua gigi depannya patah.
Keheningan kuat menyelimuti alun-alun istana.
Lin Feng yang sedang berlutut membelalakkan matanya, bingung melihat lawannya tiba-tiba tersungkur mencium tanah tepat di depannya.
"P-Pangeran Yan Bo!" Jenderal tua bermata satu dari Kekaisaran Yan berteriak panik, berlari ke tengah lapangan dan membangunkan pangerannya yang mengerang kesakitan dengan hidung patah.
Seluruh prajurit Kerajaan Chen menahan napas, berusaha mati-matian menelan tawa mereka. Pertunjukan dominasi yang diidamkan Kekaisaran Yan berubah menjadi komedi paling memalukan dalam sejarah diplomasi mereka.
Raja Chen terdiam sesaat, lalu buru-buru mengubah ekspresinya menjadi prihatin, meski ujung bibirnya sedikit berkedut. "Astaga! Apakah Pangeran Yan Bo terlalu lelah dari perjalanan hingga tergelincir? Tabib istana, cepat bantu Pangeran Yan!"
Lin Chen, yang duduk di belakang ibunya, hanya mengedipkan matanya dengan lugu, menyandarkan kepalanya ke lengan ibunya sambil menguap kecil seolah bosan dengan pertunjukan tersebut.
Namun, saat semua orang sibuk menertawakan atau menolong Yan Bo, mata jenderal tua bermata satu dari Kekaisaran Yan itu menyipit tajam. Saat ia memeriksa kaki Yan Bo yang kebas, insting veteran perangnya merasakan sesuatu. Tidak ada jejak racun atau panah, tapi otot pangerannya lumpuh oleh sebuah kekuatan yang tidak wajar.
Ia menatap lurus ke arah takhta Kerajaan Chen, matanya memindai Raja, Permaisuri, Pangeran Pertama, hingga berhenti sejenak pada sosok pangeran cilik berusia tujuh tahun yang sedang menguap.
Jenderal tua itu perlahan berdiri, membersihkan debu dari zirah Yan Bo yang sedang dituntun pergi. Ia membungkuk pada Raja Chen.
"Raja Chen, sepertinya Pangeran kami butuh istirahat. Namun sebelum kami undur diri..." Jenderal itu mengeluarkan sebuah kotak kayu hitam berukir naga dari balik jubahnya. "Kaisar kami menitipkan sebuah 'hadiah' rahasia yang baru saja ditemukan oleh pasukan penambang kami di kedalaman Jurang Kematian Utara. Kaisar kami berharap... Kerajaan Chen mempertimbangkan ulang kedaulatan kalian setelah melihat benda ini."
Jenderal itu membuka kotak tersebut.
Di dalamnya, tidak ada perhiasan fana atau emas. Yang ada adalah sekeping pecahan batu giok berwarna ungu pekat yang memancarkan aura Qi Spiritual yang luar biasa tebal, menciptakan kabut tipis di sekeliling kotak tersebut.
Raja Chen dan para jenderalnya bingung melihat batu bercahaya itu.
Namun di belakang sana, napas Lin Chen terhenti. Mata keemasannya melebar sempurna. Rasa bosannya lenyap, digantikan oleh kewaspadaan tingkat tinggi.
Itu bukanlah batu giok biasa. Itu adalah kepingan Giok Jiwa Tingkat Bumi dari Sektor Langit Primordial! Sebuah material yang hanya bisa ditemukan di alam kultivasi tingkat tinggi, yang kini entah bagaimana bisa berada di tangan pasukan fana Kekaisaran Yan. Dan yang lebih mengerikan, aura yang memancar dari kepingan giok itu...
Su Qingyue ikut Lin Chen dan Tua hitam ke alam Abadi.
Kenapa ana Qingyue lagi di alam Fana 🤣🤣