NovelToon NovelToon
Bangkitlah Jingga: Badai Akan Berlalu

Bangkitlah Jingga: Badai Akan Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Tiri
Popularitas:21.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.

Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.

Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.

Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Jingga menceritakan semuanya kepada Maya malam itu. Ia menunjukkan rekaman Rangga dan Dira yang masih tersimpan di ponselnya. Maya terdiam beberapa saat, sulit mempercayai bahwa Dira, perempuan yang selama ini tampak membela Jingga, ternyata melakukan hal yang sama menyakitkannya dengan Rangga.

“Jadi, mereka benar-benar berselingkuh?” tanya Maya memastikan.

Jingga mengangguk. “Aku melihat mereka berciuman dengan mata kepalaku sendiri. Saat aku memergoki mereka, Rangga malah mengancamku supaya diam.”

Maya mengembuskan napas panjang. “Dia masih berani mengancammu setelah semua yang dia lakukan?”

“Dia takut ibunya tahu, bukan takut kehilanganku.”

Maya tidak sanggup berkata-kata. Ia menggenggam tangan Jingga, memberikan dukungan tanpa memaksanya berhenti menangis.

“Aku tidak ingin membalas mereka, May. Aku hanya ingin bercerai dan menjalani hidupku sendiri.”

“Kalau begitu, kita pastikan kamu bisa melakukannya dengan aman. Simpan rekamannya di beberapa tempat. Jangan terpancing ancaman Rangga, dan bicarakan langkah selanjutnya dengan bantuan hukum.”

Jingga mengangguk. Ia segera mengirim salinan rekaman ke penyimpanan pribadi dan memastikan berkas aslinya tetap aman. Ia tidak berniat menyebarkan video itu ke media sosial atau mempermalukan siapa pun. Bukti tersebut akan digunakan seperlunya untuk mendukung proses perceraiannya dan menjelaskan alasan mengapa ia tidak mungkin kembali ke rumah Cendana.

Keesokan paginya, Jingga menghubungi pihak yang sebelumnya membantunya memahami prosedur perceraian. Ia menjelaskan bahwa ada perkembangan baru dalam masalah rumah tangganya, termasuk ancaman dari suaminya. Setelah mendapatkan arahan, ia menyimpan pesan-pesan Rangga dan mulai menyusun kronologi kejadian secara teratur.

Sementara itu, di rumah Cendana, Rangga tidak bisa berkonsentrasi. Ia berkali-kali membuka percakapannya dengan Jingga, berharap perempuan itu mengirim pesan atau setidaknya memberikan tanda bahwa ia bersedia berkompromi. Namun, tidak ada pesan yang datang.

Dira juga bersikap berbeda. Sejak kejadian di ruang keluarga, perempuan itu berusaha menghindarinya. Ketika Rangga mencoba mengajaknya bicara, Dira selalu memiliki alasan untuk pergi.

Akhirnya, Rangga menghentikannya di dekat tangga.

“Kau menghindariku?”

Dira menghela napas. “Aku tidak ingin memperpanjang masalah yang sudah terjadi.”

“Masalah itu juga masalahmu, Dira. Jingga melihat kita.”

“Aku tahu!”

“Kalau begitu, berhentilah bersikap seolah-olah hanya aku yang harus menghadapi akibatnya.”

Dira menatapnya tajam. “Aku nggak pernah memintamu melakukan itu.”

Rangga tak menyangka Dira akan menjawab seperti itu.

“Kau membalas ciumanku.”

“Dan itu kesalahanku. Aku mengakuinya.” Dira menelan ludah sebelum melanjutkan. “Tapi jangan menganggap kejadian itu berarti aku ingin menjadi pasanganmu. Aku sedang kehilangan arah, dan aku membiarkan sesuatu yang salah terjadi. Itu tidak berarti aku ingin menggantikan Jingga.”

Wajah Rangga menegang. “Jadi, selama ini kau mempermainkanku?”

“Aku nggak pernah menjanjikan cinta kepadamu.”

Kata-kata Dira menghantam Rangga lebih keras daripada yang ia duga. Selama bertahun-tahun, ia memelihara harapan bahwa suatu hari Dira akan menyadari perasaannya. Ia bahkan menikahi Jingga demi membuat perempuan itu cemburu. Kini, setelah rumah tangganya hancur dan ia mengkhianati istrinya sendiri, Dira justru menegaskan bahwa ia tidak pernah berniat memilihnya.

“Kalau kau tidak menginginkanku, kenapa kau membalas ciumanku?” desak Rangga.

Dira tak langsung menjawab, ia tahu ada bagian dari dirinya yang menikmati perhatian Rangga. Ia menyukai kenyataan bahwa lelaki itu masih menginginkannya, tetapi ia tidak pernah benar-benar memikirkan harga yang harus dibayarnya.

“Aku salah,” katanya akhirnya. “Tapi aku tidak bisa memberikan sesuatu yang sejak awal memang tidak pernah kujanjikan.”

Rangga menatapnya dengan kemarahan yang tertahan. Ia ingin menyalahkan Dira, tetapi ia tahu dirinya juga memiliki pilihan. Tidak ada yang memaksanya mencium perempuan itu. Tidak ada yang memaksanya mengkhianati Jingga. Ia hanya terlalu terbiasa mengejar keinginannya sendiri.

Sore harinya, Bu Farah pulang dan mendapati suasana rumah tidak seperti biasanya. Rangga tampak murung, sedangkan Dira lebih banyak mengurung diri di kamar. Ketika ditanya, keduanya memberikan jawaban singkat yang tidak menjelaskan apa pun.

Bu Farah mulai curiga, tetapi belum mengetahui bahwa ada rahasia besar yang sedang mereka sembunyikan.

Di tempat lain, Jingga baru saja menyelesaikan tugasnya di rumah sakit ketika Samudera melihatnya duduk sendirian di bangku dekat taman kecil. Wajahnya terlihat lelah, tetapi ia berusaha menenangkan diri sebelum pulang.

“Belum pulang, Jingga?” tanya Samudera.

Jingga mengangkat wajah. “Sebentar lagi, Dokter. Saya sedang memikirkan beberapa hal.”

Samudera duduk di bangku lain dengan jarak yang sopan. Ia tidak langsung bertanya tentang masalah pribadi Jingga, tetapi menunggu sampai perempuan itu sendiri yang memutuskan apakah ingin bercerita.

“Ada masalah dengan suami saya,” ujar Jingga akhirnya.

Samudera menoleh, memperhatikan wajahnya yang tampak menahan kesedihan. “Apa kamu merasa aman?”

“Saya sedang berusaha memastikan semuanya, Dok. Saya sudah memutuskan untuk bercerai.” Jawab Jingga.

Samudera mengangguk. “Semoga prosesnya berjalan baik. Jangan abaikan keselamatan dan keadaan dirimu sendiri hanya karena ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat.”

“Terima kasih, Dokter.”

Samudera tidak mendesaknya bercerita lebih jauh. Ia hanya mengingatkan Jingga bahwa ia dapat meminta bantuan apabila merasa kewalahan. Sikap itu membuat Jingga sedikit lega. Untuk saat ini, ia tidak membutuhkan seseorang yang mengambil keputusan untuknya. Ia hanya membutuhkan ruang untuk membuat pilihannya sendiri.

Malamnya, Rangga akhirnya mengirim pesan kepada Jingga.

Rangga: [Besok kita bertemu, aku ingin menyelesaikan masalah ini.]

Jingga membaca pesan itu tanpa terburu-buru membalas. Ia sudah tahu bahwa Rangga ingin mengendalikan keadaan, tetapi kali ini ia tidak akan datang sendirian atau membiarkan percakapan berubah menjadi ancaman.

Ia mengetik balasan singkat.

Jingga: [Jika ada yang perlu dibicarakan, sampaikan melalui jalur yang semestinya. Keputusanku untuk bercerai tidak berubah.]

Rangga langsung meneleponnya. Jingga membiarkan panggilan itu berdering sampai berhenti. Beberapa detik kemudian, pesan baru muncul.

Rangga: [Kau benar-benar ingin menghancurkan pernikahan kita?]

Jingga menatap layar ponsel cukup lama sebelum menjawab.

Jingga: [Pernikahan ini tidak hancur karena aku memilih pergi! Pernikahan ini hancur karena kau berkali-kali memilih menyakitiku. Dan sekarang, kau bahkan mengkhianatiku.]

Setelah mengirim pesan itu, Jingga meletakkan ponselnya dan kembali memeriksa dokumen yang harus disiapkan. Ia masih terluka, dan masih harus menghadapi banyak hal yang belum selesai. Namun, ia tidak lagi bersedia menjadikan rasa takut sebagai alasan untuk bertahan dalam hubungan yang menghancurkan dirinya.

Seminggu kemudian, surat panggilan sidang perceraian akhirnya sampai ke tangan Rangga.

1
Cicih Sophiana
si Dira itu maksud apa... aq gak ngerti pikiran dia
Cicih Sophiana
payah nih Jingga buat apa bilang udah merekam mereka... itu sama aja dgn bohong klo bisa di rebut Rangga
Cicih Sophiana
kan ada Tuhan yg melihat... ternyata kalian itu gatal yah 🤭
Cicih Sophiana
dasar laki laki bodoh kamu Rangga ada yg tulus malah di sia siakan...
Cicih Sophiana
semoga aja dokter Samudra jodoh nya Jingga...
Cicih Sophiana
semangat Senja 💪
Cicih Sophiana
jodohkan Senja dan Samudra thor...
Cicih Sophiana
suami nya buang aja ketempat nya yg pantas buat dia senja 🤭😄
Cicih Sophiana
ayo Jingga semangat 💪 bangunlah dari keterpurukan dan bangkitlah untuk melawan orang orang zolim...
Cicih Sophiana
bagus Jingga semangat... libas si Rangga biar dia menyesal nanti..
Cicih Sophiana
nah gitu Jingga... aq suka perempuan yg tegas jgn bisa nya cuma nangis...
Cicih Sophiana
jgn mundur Jingga walau di ancam... Rangga tdk mencerai mu hanya karena nama baik kluarga nya bukan krn mencintai mu
Cicih Sophiana
punya suami lebih perhatian samacuma ipar nya😭😭
Cicih Sophiana
mampir thor... seperti nya seru nih cerita nya
Mundri Astuti
ni nih modelan org egois...dah punya anak, dah punya keluarga masih ngerecokkin rmh tangga ipar ...dpt karma masih ga sadar...masih nyalahin org
Mundri Astuti
nah iya knapa kamu yg berantakan rangga😄
Mundri Astuti
bapaknya Dira arogan juga...anaknya sendiri juga salah lo...dah main belakang sama Rangga disaat Rangga masih terikat dng pernikahan ..
awalnya ta kira Dira yatim piatu ...jadi nyari perhatian terus dari keluarga Rangga dng dalih kehilangan suami...lah taunya masih ada ortu...janggal jadinya
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
si serangga ini mmg ringan tangan yh serem deh😒
Mundri Astuti
ya ngga akan bahagia lah endingnya...kalian mulainya salah
Mundri Astuti
nah kan was" suamimu di deketin perempuan lain, mikir ngga jingga kamu gituin juga...
bahagia ngga kamu skrg ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!