NovelToon NovelToon
Aturan Nomor 1 Jangan Jatuh Cinta Dengan Dosen

Aturan Nomor 1 Jangan Jatuh Cinta Dengan Dosen

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ziziyuuu

Aturan Nomor 1: Jangan pernah jatuh cinta dengan dosen sendiri.
Aturan yang dibuat Kila sendiri, dan kemudian dia langgar di detik berikutnya.
Kehidupan kampus Kila yang tadinya membosankan, berubah total setelah dosen baru itu masuk.
Tiba-tiba penuh dengan hal-hal mendebarkan. Bimbingan yang bikin jantung mau copot, jemputan mobil hitam di gerbang kampus, sampai makan malam canggung di mana dia dipanggil "calon mantu".

Dosen baru itu adalah Pak Rhaegar. Dosen dingin kayak kulkas, dan... orang yang paling Kila hindari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ziziyuuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Seperti yang dikatakan Pak Rhaegar tadi di perpus, Kila harus menemuinya setelah jam makan siang. Jam 1 siang tepat. Belum juga makanannya turun dengan sempurna di perut, Kila sudah berlari kecil menuju ruang dosen, tasnya sampai hampir jatuh. Antara takut dimarahi kalau telat, dan... jujur saja, tidak sabar ingin lihat senyum tipis itu lagi.

"Permisi Pak," sapa Kila pelan setelah sampai di depan pintu kayu yang sedikit terbuka itu, mengetuk dua kali.

Pak Rhaegar bahkan tidak mengangkat kepalanya dari laptopnya yang menyala. Kacamata bacanya bertengger di hidung. "Hmm, sini. Ambil kursi itu dan bawa ke samping saya," katanya menunjuk kursi kayu di depan mejanya dengan dagu.

Perintahnya singkat. Dingin. Tidak ada silakan, tidak ada terima kasih. Komandan mode on.

What? Duduk di sampingnya? Persis di sampingnya? Bukan di depan? Ya Tuhan, Kila membeku di ambang pintu. Aku bisa pingsan beneran kalau begini caranya. Jantungku belum siap.

"Hei, aku nyuruh kamu ambil kursi, bukan jadi patung di pintu," suara berat itu kembali menyentak lamunannya, kali ini menoleh sekilas.

"Ehhh, iya Pak! Siap!" Kila tergagap, segera menarik kursi kayu itu dengan kedua tangan. Bunyi kaki kursi yang bergesek dengan lantai keramik terdengar nyaring, sreeek, di ruangan yang sepi dan ber-AC dingin itu. Dia meletakkannya tepat di samping kursi Pak Rhaegar. Terlalu dekat. Jaraknya mungkin hanya 30 cm.

Kila masih berdiri mematung di samping kursi itu, tidak berani duduk. Tangannya berkeringat, roknya diremas.

"Ngapain masih berdiri? Duduk! Saya nggak gigit," perintah lagi, nadanya sedikit kesal karena Kila lambat.

"Iya Pak, ini juga baru mau duduk, Pak," jawabnya dengan suara hampir tidak terdengar seperti bisikan nyamuk.

Begitu duduk, Kila langsung menyesal seumur hidupnya. Parfum Pak Rhaegar tercium begitu jelas dari jarak ini. Wangi kayu yang maskulin, woody, bercampur wangi kopi hitam dari gelas di mejanya dan wangi sabun yang bersih. Jantung Kila berdetak begitu keras, dug dug dug, sampai dia yakin Pak Rhaegar di sebelahnya pasti bisa mendengarnya.

Jantung tenanglah, tolong tenanglah. Malu-maluin banget. Gimana aku bisa kelihatan pinter kalau detaknya kayak gini terus, kayak drum band, batinnya sambil menatap lurus ke depan, tidak berani menoleh.

"Kamu nyalakan komputer itu," kata Pak Rhaegar, masih fokus pada laptopnya, mengetik cepat.

"Yang ini Pak?" Kila menunjuk komputer desktop di depannya yang masih mati.

"Memang ada komputer lain di sini?!" Pak Rhaegar menoleh. Dahi mengerut, tatapan 'kamu nanya apa sih' keluar.

"Hehehe, nggak ada sih Pak, iya Pak saya nyalain," Kila cengengesan bodoh, refleks menggaruk kepalanya yang tidak gatal, salah tingkah maksimal.

Pak Rhaegar hanya memutar bola matanya pelan dan menggeleng kecil, tapi Kila melihat sudut bibirnya hampir tertarik lagi.

"Udah nyala Pak," kata Kila beberapa saat kemudian setelah komputer booting.

Tanpa menjawab, Pak Rhaegar tiba-tiba meraih mouse di depan Kila. Gerakannya cepat, sehingga tubuhnya sedikit condong ke arah Kila, bahunya hampir menyentuh bahu Kila. Lengan kemeja putihnya yang digulung sampai siku terlihat jelas, otot lengannya... Kila menahan napas. Wajahnya memanas sampai ke telinga. Jarak mereka kini hanya sejengkal, dia bisa melihat pori-pori di rahang Pak Rhaegar.

Kila menahan napas sekuat tenaga, seperti sedang menyelam.

_Aku benar-benar bisa pingsan kalau kayak gini caranya. Ya Tuhan, tolong ambil aku sekarang aja atau tenangkan jantung ini,_ batinnya, matanya melihat mouse yang diklik Pak Rhaegar tapi tidak fokus.

"Kamu tahu cara ngeprint?" tanya Pak Rhaegar setelah menemukan file yang dicarinya di folder, wajahnya masih dekat, masih condong.

Kila hanya mampu mengangguk cepat seperti ayam mematuk, tidak bisa bersuara.

Tiba-tiba Pak Rhaegar mengerutkan dahi melihat Kila yang memegangi wajahnya dengan kedua tangan dan menunduk.

"Kamu kenapa? Sakit? Mukanya merah banget dari tadi, demam?" katanya, nadanya berubah sedikit khawatir. Dan sebelum Kila sempat menjawab atau menghindar, sebuah telapak tangan yang hangat, lebar, dan sedikit kasar sudah menempel di dahi Kila. Mengecek suhu.

Deggg.

Waktu berhenti. AC, suara ketikan, semuanya hilang.

Seketika jantung Kila tidak hanya berdetak kencang, tapi seperti berhenti total, lalu meledak seperti kembang api. Sentuhan itu hanya dua detik, tapi bagi Kila rasanya dua jam, dua abad. Dunia berputar.

Secara spontan Kila berdiri sampai kursinya terdorong ke belakang dengan bunyi keras.

"Kamu kenapa ?" Pak Rhaegar kaget, tangannya masih menggantung di udara, bingung dengan reaksi Kila yang berlebihan.

"Emmm.. nggak kok Pak! Nggak apa-apa! Saya mau... eee.. saya mau ke toilet Pak! Kebelet! Kebelet banget!" kata Kila terbata-bata, wajahnya sudah semerah tomat matang, matanya tidak berani menatap Pak Rhaegar sama sekali.

"Oh kirain kenapa, yaudah sana, toiletnya di ujung lorong," jawabnya santai. Datar. Tanpa dosa sama sekali, seolah baru saja tidak membuat jantung seorang mahasiswi hampir copot.

Kila hampir berlari keluar dari ruangan itu. Di koridor, dia berlari kecil menuju toilet wanita seperti orang yang benar-benar kebelet, padahal kebelet karena malu.

Begitu sampai di dalam toilet, dia langsung mengunci pintu bilik dan menatap wajahnya di cermin wastafel yang agak buram.

"Sadar Kila, sadar! Dia itu dosen kamu! Dosen! Bukan aktor drakor! Dosen killer!" katanya pada pantulan dirinya sendiri sambil membasuh wajahnya dengan air keran. Airnya dingin, tapi pipinya tetap panas membara tidak mau turun. "Jangan lebay! Cuma dipegang dahi doang! Bukan dilamar!"

Dia menepuk-nepuk pipinya sendiri dengan keras. "Jangan lebay! Jangan lebay! Tenang!"

Setelah beberapa menit mengatur napas, mengelap wajah, dan memastikan mukanya tidak semerah tadi, Kila pun kembali dengan langkah pelan. Dia menarik napas panjang tiga kali di depan pintu kayu itu sebelum membukanya, seperti mau masuk ring tinju.

"Maaf Pak, lama, toiletnya ngantri," katanya pelan, kembali duduk di kursi yang tadi, menjaga jarak 5 cm lebih jauh dari sebelumnya.

Pak Rhaegar melirik sekilas. "Tadi kamu sudah lihat filenya kan? Print terus copy jadi 50 rangkap, bisa? "

"Bisa Pak, tapi kok banyak banget Pak, emang ini apaan ya? Buat apa?" tanya Kila kepo.

"Memang nggak bisa baca?" jawabnya dengan nada dingin andalannya kembali, menunjuk layar.

Kila mengintip layar komputer dengan malu. "Ohh.. kuesioner."

Kila mulai mencetak kuesioner itu. Suara printer dot matrix yang bekerja kretek kretek terdengar mengisi keheningan canggung di antara mereka. Kila fokus menatap kertas keluar satu per satu biar tidak perlu menatap Pak Rhaegar. Setelah selesai, dia berdiri dengan tumpukan kertas hangat.

"Permisi Pak, saya sudah selesai ngeprint, kalau begitu saya permisi buat ke tempat fotokopian ya Pak di depan kampus."

"Hmm, ingat ya 50 rangkap, jangan kurang. Kertasnya yang bagus."

"Siap laksanakan Pak."

Baru dua langkah menuju pintu, suara berat Pak Rhaegar menghentikannya lagi.

"Ehhh, tunggu sebentar."

"Iya, ada apa Pak?" Kila berbalik, jantungnya naik lagi.

Pak Rhaegar melirik jam tangan hitam mahal yang melingkar di pergelangan kirinya. "Kayaknya bakal makan waktu lama deh buat mengcopy sampai 50 rangkap, ini juga udah mau sore, udah jam 3. Fotokopian pasti rame."

"Jadi, gimana dong Pak?" tanya Kila.

"Kamu titip aja di fotokopian, besok baru kamu ambil. Kamu langsung pulang aja, nggak usah ditungguin. Saya juga udah mau pulang, udah selesai kerjaan saya hari ini," katanya sambil mematikan laptopnya.

"Ok Pak, kalau begitu saya permisi ya Pak. Makasih," kata Kila.

Kila sudah memegang gagang pintu kayu ketika suara itu terdengar lagi, pelan, hampir seperti bisikan tapi jelas.

"Hmm iya, hati-hati di jalan."

Langkah Kila terhenti sepersekian detik di ambang pintu. Tangan yang memegang gagang pintu mengeras. Dia tidak berani menoleh ke belakang karena takut wajahnya merah lagi. Dia hanya mengangguk cepat dan keluar, tapi senyuman merekah tidak bisa dia tahan sepanjang koridor. Kata "hati-hati" dengan suara pelan itu terus terngiang di telinganya, diulang-ulang seperti kaset rusak.

_Hati-hati... dia bilang hati-hati... dengan suara selembut itu..._

Kila melangkah keluar dengan senyum malu-malu. Tujuan selanjutnya adalah kios fotokopi langganan di dekat gerbang kampus.

"Permisi Pak, ini tolong di fotokopi 50 rangkap ya, yang bagus," kata Kila menyerahkan lembaran kuesioner pada bapak penjaga fotokopi yang sudah kenal dia.

"Iya Dek, mau diambil sekarang?" tanya bapak itu.

"Hmm, saya boleh titip nggak, besok pagi baru saya ambil? Soalnya udah sore."

"Boleh kok Dek, sekitaran jam berapa besok?"

"Sekitar jam sembilanan deh Pak, bisa kan? Saya ambil jam 9."

"Bisa... bisa, nanti Bapak siapin."

"Ok deh Pak, kalau gitu saya balik ya Pak, makasih."

"Iya Dek."

Kila melihat jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul 15:10. Sore yang cukup melelahkan untuk jantungnya, butuh istirahat. Dia pun memutuskan untuk pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, Kila langsung masuk kamar mandi. Air dingin sedikit membantu menurunkan rasa panas di pipinya yang sejak tadi tak kunjung reda, sejak kejadian telapak tangan di dahi.

"Ahhh seger banget," katanya setelah keluar dari kamar mandi sembari menggosok rambutnya yang masih basah setelah keramas. Handuk masih melilit di kepalanya seperti pusar, kaos tidur kebesaran.

"Kringg... kringg.." Ponselnya berdering nyaring di atas kasur yang berantakan.

"Ini nomor siapa? Kok nggak ada namanya?" Kila mengerutkan dahi melihat nomor tidak dikenal di layar.

"Haloo, maaf ini siapa ya?" kata Kila setelah menjawab, masih menggosok rambut.

"Ini saya," kata suara berat di seberang sana. Suara yang familiar, namun Kila tak ingat siapa pemilik suara itu.

"Yahh namanya siapa? Mana saya tahu kalau kamu bilang gitu doang? Sebut nama dong," kata Kila sedikit kesal karena orang itu irit bicara.

Namun setelah orang itu menyebutkan namanya dengan datar, Kila tetap tidak ingat. Otaknya masih loading.

"Rhaegar," kata suara itu.

Kila memutar otak, mencoba mengingat-ingat teman atau kakak angkatan dengan nama itu. Nihil. Tidak ada.

"Ini saya dosen kamu, baru ketemu tadi aja udah lupa? Cepat lupa ya?" kata suara itu lagi, kali ini terdengar jelas sedikit... menahan tawa? Nada mengejek lembut.

Seketika handuk di kepala Kila hampir merosot jatuh. Napasnya tercekat. Lututnya lemas. Ponselnya hampir jatuh.

What? Bapak Dosen tampan itu menelponku??? Pak Rhaegar nelpon aku? Malam-malam begini?

 

1
Rini Hanindya Salma Nurazizah
bagus
Linda Natalia
lanjut kak,crita nya bagus
Rian Moontero
mampiiirr😍👍
Wien Ibunya Fathur
ceritanya lumayan seru...
ayok ada dibaca🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!