Menurut Tina, memiliki bos seperti Alfan itu menyebalkan. Sifat dan kepribadiannya yang aneh, sering kali membuat Tina ingin menyerah meski pada akhirnya ia tetap tidak bisa. Banyak hal yang mengharuskannya tetap bertahan, termasuk keinginannya untuk membahagiakan papanya.
Lalu apa jadinya bila Alfan menyuruh Tina untuk datang ke rumahnya di hari pertunangan adiknya, dan dengan entengnya mengatakan bila Tina adalah calon istrinya di depan seluruh undangan dan keluarganya.
Tentu saja, Tina merasa kesal dan marah, ia ingin bosnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun bosnya itu justru mengajukan perjanjian, menyatukan mereka ke dalam kesepakatan.
Mulai hari itu, mereka semakin dekat, hingga hari itu tiba, di mana Satria datang menghancurkan segalanya. Satria adalah cinta pertama Tina, namun juga luka untuk Alfan yang belum melupakan semuanya.
Ketiganya terjalin di sebuah takdir masa lalu, sanggupkah mereka bertahan dan bahagia atau justru berakhir sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 06
Part 06
"Buat apa, Pak?" tanya Tina waswas.
"Tulis saja di kertas, jangan banyak tanya."
"Iya, Pak. Maaf," jawab Tina patuh, mengambil buku dan menuliskan alamatnya di sana lalu memberikannya pada Alfan.
"Ini, Pak." Tina memberikan secarik kertas ke bosnya yang langsung diambil begitu saja dan memasukkannya ke dalam saku celananya setelah melihatnya sekilas.
"Tunggu apalagi? Masuk!" Alfan berujar tegas yang langsung Tina angguki.
"Iya, Pak."
Keduanya berjalan masuk, sampai saat mereka melewati ruangan di mana para karyawan sudah berada di tempat kerjanya masing-masing. Di saat itu lah Alfan menghentikan langkahnya diikuti Tina di belakangnya.
"Perhatian semuanya," ujar Alfan lantang namun tetap tenang, ke arah semua karyawan yang langsung berdiri dan terdiam sopan.
"Saya mendengar ada rumor di perusahaan ini tentang saya. Kalian pasti bisa menebaknya kan, rumor menjijikkan seperti apa yang membawa-bawa nama saya?" ujar Alfan tenang, namun tidak dengan semua orang yang berada di sana, karena di balik tundukkan mereka, banyak ekspresi ketakutan di masing-masing wajah termasuk Tina.
"Saya memiliki kelainan seksualitas? Itu kan yang sering kali kalian dengar tentang saya?" tanya Alfan yang lagi-lagi hanya mereka diami tanpa berani menjawab karena memang itu kenyataannya. Banyak rumor yang beredar bila bos mereka memiliki kelainan, seolah menjadi jawaban atas rasa penasaran mereka kenapa bosnya tidak mau menikah di usianya yang sudah menginjak umur tiga puluh tahun.
"Saya di sini cuma mau menegaskan bila semua itu tidak benar, buktinya Tina." Alfan menatap ke arah asistennya yang tampak bingung dengan ucapannya.
"Maksud Bapak apa?" tanya Tina kebingungan begitu pun dengan semua orang yang berada di sana, mereka menatap ke arah depan dengan tatapan bertanya-tanya.
"Tina calon istri saya, kami akan menikah secepatnya. Jadi berhenti berbicara omong kosong dan fokus lah kalian bekerja, atau kalian akan tahu akibatnya." Alfan berujar tegas ke arah semua orang yang tampak tercengang, merasa tak percaya dengan apa yang baru bos mereka katakan.
"Pak, saya bukan ...." Tina berusaha bertanya, namun sepertinya Alfan tidak mau mendengar ucapannya, bisa dilihat jelas dari sorot mata tajamnya.
"Kalian bisa kembali bekerja." Alfan mengakhiri ucapannya lalu berjalan masuk ke ruangannya, diikuti Tina di belakangnya yang berharap mendapatkan penjelasan akan ucapan bosnya yang pasti akan menggemparkan perusahaan.
"Ada apa?" tanya Alfan tenang setelah sampai di ruangannya, itu karena Tina terus memerhatikannya dengan mata tak percayanya.
"Ada apa? Seharusnya Bapak jelaskan tindakan Bapak tadi ke saya?"
"Apa yang harus saya jelaskan?" Alfan bertanya tenang, ia bahkan duduk di kursinya dengan penuh keangkuhan.
"Bapak tadi bilang kalau saya calon istri Bapak di depan semua karyawan." Tina berusaha mengingatkan Alfan, meski rasanya juga mustahil bila bosnya itu lupa dengan melakukannya beberapa menit yang lalu.
"Memangnya kenapa? Bukannya itu sudah perjanjian kita ya?" Alfan menatap tenang ke arah Tina yang terlihat bingung sekarang.
"Perjanjian?"
"Iya. Apa kamu lupa? Padahal baru kemarin kita membuat perjanjian bila kamu akan berpura-pura menjadi calon istri saya dan saya akan membayar kamu untuk itu."
"Tapi saya pikir perjanjian itu hanya berlaku saat berada di depan keluarga Bapak," jawab Tina terdengar tak percaya, bisa-bisanya bosnya itu semakin memperlakukannya dengan semena-mena.
"Apa kamu pikir keluarga saya tidak curiga andai para karyawan tidak tahu bila kamu calon istri saya? Semua orang harus tahu, apalagi para karyawan di sini sudah menyebar rumor kebohongan tentang saya." Alfan mendirikan tubuhnya, berusaha mengintimidasi Tina yang tidak bisa berbuat apa-apa.
"Iya sih, Pak. Tapi saya harus jawab apa kalau ada yang tanya bagaimana saya bisa dekat dengan Anda?"
"Itu mudah. Kamu bilang saja kalau kita sering bertemu makanya kita bisa dekat."
"Mustahil," keluh Tina terdengar syok dan pasrah di waktu yang sama.
"Mustahil. Kenapa?"
"Bagaimana mungkin saya bisa menjawab seperti itu, sedangkan saya sering ...."
"Sering apa?" tanya Alfan penasaran, bibir tipisnya merapat dengan mata memicing ke arah Tina yang tampak resah.
"Saya sering mengeluh tentang Anda, Pak. Saya bahkan hampir tidak pernah memuji Anda di depan teman-teman saya. Bagaimana mungkin saya dan Anda bisa ... menikah?" tanya Tina tak yakin, yang tentu saja membuat Alfan kesal, seburuk itu kah ia di mata asistennya.
"Memangnya apa saja yang kamu keluhkan tentang saya?"
"Itu ... rahasia, Pak. Kalau saya kasih tahu, nanti Bapak pecat saya." Tina mengalihkan tatapannya, bibirnya komat-kamit berharap bosnya tidak marah.
"Saya tidak akan pecat kamu. Cepat katakan saja apa keluhan kamu selama ini?" Alfan melangkahkan kakinya ke arah Tina, matanya terus tertuju ke arah asistennya itu.
"Saya tidak mau, tatapan Bapak saja sudah seperti ingin memakan saya, apalagi kalau saya katakan yang sebenarnya, saya bisa saja dikunyah." Tina masih kekeh dengan pendiriannya, namun Alfan terus mendekat dan bahkan hampir menempelkan wajahnya ke arah Tina.
"Iya. Saya sangat ingin memakan kamu, mengunyah, dan bahkan menelan kamu sampai habis. Sekarang kamu katakan saja keluhanmu atau saya benar-benar akan menghabisimu." Alfan berbisik tepat di telinga Tina, membuat wanita itu takut dan resah, berusaha menelan ludahnya dengan susah payah.
"Iya, Pak. Iya. Tapi Bapak jauh-jauh ya." Tina menjauhkan tubuhnya dengan mengarahkan tangannya untuk pembatas di antara mereka.
"Bapak itu ... suka menyuruh saya mengerjakan pekerjaan aneh, pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan kantor, malah kadang Bapak menyuruh saya diam supaya Bapak bisa menatap saya dengan tatapan mengerikan. Itu sering terjadi saat Bapak sedang marah, kalau kantor ada masalah, saat ada kendala juga Bapak selalu bersikap seenaknya pada saya." Tina menjawab jujur, sedangkan Alfan hanya terdiam dengan tenang.
"Itu saja keluhanmu?"
"Masih banyak lagi, Pak. Tapi cuma itu yang paling membuat saya kurang nyaman."
"Kenapa?"
"Saya cuma ... trauma. Saya sering melihat Papa saya ditatap seperti itu sebelum dipukuli bosnya." Tina menundukkan wajahnya, ia sudah mengatakan yang sebenarnya. Trauma itu memang menyiksa hidupnya selama ini, meski pada akhirnya ia harus tetap bertahan bekerja dengan bosnya meski semua itu sangat membebaninya.
"Memangnya Papa kamu kerja apa sampai kamu trauma dengan apa yang Papa kamu alami?"
"Pekerjaan buruk, tapi maaf saya tidak bisa mengatakannya."
"Begitu ya? Jadi, selama ini kamu tertekan dengan tatapan saya?" tanya Alfan tak percaya sekaligus merasa bersalah, padahal bukan seperti itu niatnya. Alfan menatap Tina saat marah, karena ia merasa tenang saat melihatnya. Ia memang menatapnya dengan mata dingin, itu semua karena ia tidak mau Tina menyadari niat hatinya.
"Maaf, Pak." Tina menundukkan wajahnya, ia tak berniat mengatakannya, namun ia sendiri juga tidak sanggup menahannya.
"Tidak apa-apa," jawab Alfan mengerti.
"Saya tidak dipecat kan, Pak? Saya benar-benar butuh pekerjaan ini, tolong jangan hiraukan keluhan saya. Saya mau melakukan apa saja supaya saya tetap bekerja di sini, Pak. Meskipun Bapak menatap saya setiap hari dengan tatapan yang sama, saya akan berusaha tetap bertahan." Tina berusaha mempertahankan pekerjaannya, sedangkan Alfan hanya terdiam dengan menghela nafas panjangnya.
"Saya sudah berjanji tidak akan memecat kamu kan, jadi saya akan tetap mempertahankan kamu. Sudahlah, lebih baik kamu ke mejamu dan kerjakan tugas kamu." Alfan menunjuk meja Tina dengan dagunya lalu duduk di kursi kerjanya.
"Iya, Pak terima kasih." Tina mengangguk patuh lalu berjalan ke arah kursi kerjanya tanpa menyadari bagaimana Alfan menyesali perbuatannya.