NovelToon NovelToon
KAU KHIANATI AKU, KUNIKAHI AYAHMU

KAU KHIANATI AKU, KUNIKAHI AYAHMU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Dicampakkan Aris karena dianggap tidak selevel, Aura memilih balas dendam paling elegan: Menikahi Hendra (38th), ayah Aris yang tampan dan kaya raya.
​Kini, sang mantan harus tunduk di bawah kekuasaan ibu tiri barunya.
​"Dulu kamu menginjakku, Aris. Sekarang, panggil aku Ibu!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ATURAN

“Kamu sengaja, kan, Aura? Kamu sengaja ngelakuin semua ini cuma buat ngebalas aku?!”

Suara Aris bergetar hebat di balik pilar marmer koridor lantai dua yang sepi. Pria itu menahan napasnya yang memburu, matanya memerah menatap Aura yang berdiri tenang membelakangi dinding kaca besar. Suasana rumah utama Fahreza malam itu sudah kembali hening setelah makan malam tegang yang menguras emosi usai. Hendra sedang berada di ruang kerjanya untuk merapikan beberapa dokumen, sementara Siska sudah pamit pulang lebih awal dengan wajah penuh kebingungan.

Aura tidak sedikit pun terkejut melihat Aris menyergapnya di koridor menuju kamar utama. Wanita bergaun merah marun itu melipat kedua tangannya di dada, menatap Aris dengan pandangan dingin yang penuh dengan rasa kasihan.

“Ngelakuin apa, Aris?” tanya Aura santai, suaranya halus bagai bisikan namun sanggup menusuk tepat ke jantung pria di hadapannya.

“Aku cuma menerima lamaran dari pria sejati yang tahu cara menghargai wanita. Bukankah ini yang kamu mau? Kamu bilang aku nggak selevel sama keluarga kamu. Tapi lihat sekarang, siapa yang berdiri jauh di atas kamu?”

Aris mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa bersalah, amarah, dan kehancuran ego bertumpuk menjadi satu di dadanya.

“Kamu gila, Ra! Papa itu ayah aku! Kamu pacaran sama aku tiga tahun, dan sekarang kamu mau nikah sama Papa? Kamu pikir Papa bakal tinggal diam kalau dia tahu kita pernah berhubungan selama tiga tahun?!”

bentak Aris dengan nada tertahan, takut suaranya terdengar hingga ke ruang kerja ayahnya.

Aura melangkah satu titik mendekati Aris. Sepatu hak tingginya berdenting halus di atas lantai marmer, menciptakan gema yang menambah kesan intimidatif. Aura mendongak sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata Aris yang penuh dengan ketakutan.

“Kalau begitu, kenapa kamu nggak cerita sekarang ke Papamu, Aris?” tantang Aura pelan, tersenyum mematikan.

“Pergilah ke ruang kerja Hendra sekarang. Bilang sama dia kalau calon istrinya adalah mantan pacar yang kamu sembunyiin selama tiga tahun dan kamu buang begitu saja demi cewek kaya. Coba kamu lihat... siapa yang bakal dilempar keluar dari rumah ini oleh Hendra Fahreza?”

Aris bungkam seketika. Lidahnya terasa kelu. Pria itu tahu betul watak ayahnya. Hendra Fahreza adalah pria yang sangat menjunjung tinggi kehormatan, prinsip, dan keputusan yang sudah diambilnya. Jika Aris mengaku sekarang, Hendra tidak akan menyalahkan Aura—Hendra justru akan melihat Aris sebagai anak penakut, tidak bertanggung jawab, dan pengecut yang telah menyia-nyiakan wanita seanggun Aura. Posisi Aris sebagai calon pewaris tunggal Fahreza Group bisa hancur berantakan dalam sekejap.

“Kamu... kamu benar-benar ular, Aura,” bisik Aris pasrah, suaranya bergetar menahan tangis kefrustrasian.

Aura merapikan kerah jas Aris dengan gerakan yang sangat lembut—sebuah gestur yang dulu selalu ia lakukan saat mereka masih berpacaran, namun malam ini gestur itu terasa seperti cengkeraman ketakutan bagi Aris.

“Bukan aku yang ular, Aris. Kamu yang mengajari aku betapa kejamnya dunia ini,” bisik Aura tepat di depan wajah Aris.

“Kamu memanfaatkan nama besar Ayahmu untuk menindas aku selama tiga tahun. Jadi sekarang, menikmati perlindungan dan kekuasaan dari pria yang sama adalah hal yang sangat adil, bukan?”

Aris melangkah mundur, melepaskan cengkeraman halus Aura dari kerah jasnya.

“Apa mau kamu sebenarnya, Ra? Harta? Posisi? Aku bisa kasih kamu uang! Berapa yang kamu mau supaya kamu pergi dari hidup Papa?!”

Aura tertawa pelan—sebuah tawa anggun yang sangat merendahkan.

“Uang? Kamu pikir aku butuh uang receh dari kamu, Aris? Sebagai Nyonya Hendra Fahreza, aku memegang kendali atas seluruh aset rumah ini dan otorisasi penuh atas nama besar keluarga kamu. Uang kamu nggak ada artinya dibanding posisi yang sebentar lagi aku duduki.”

Sebelum Aris sempat membalas, suara langkah kaki yang tegap dan teratur terdengar memantul dari arah lorong utama. Aroma parfum kayu sandalwood dan amber yang sangat khas seketika memenuhi udara.

Hendra Fahreza melangkah keluar dari ruang kerjanya, mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung rapi. Mata tajam sang taipan menangkap sosok putra tunggalnya yang sedang berdiri tegang di dekat Aura.

“Aris? Kenapa kamu masih di sini? Bukankah Siska sudah pulang dari tadi?”

suara Hendra terdengar berat dan dalam, menginterupsi ketegangan di antara mereka berdua.

Aris dengan cepat memutar tubuhnya, mencoba menyembunyikan wajahnya yang pucat dan panik dari pandangan sang ayah.

“Ah... nggak apa-apa, Pa. Aris... Aris cuma mau bicara sedikit sama Tante... maksud Aris, sama Aura.”

Hendra berjalan mendekat, melingkarkan tangannya di pinggang Aura dengan gerakan yang sangat alami dan penuh dominasi. Tatapan mata Hendra yang tajam meneliti wajah Aris dari atas ke bawah, menangkap gestur gelisah yang ditunjukkan oleh putranya.

“Bicaralah dengan sopan pada calon ibumu, Aris,” tegur Hendra dingin, tidak menyukai raut wajah panik putranya.

“Dan mulai esok hari, Papa minta kamu merapikan semua urusan pribadi serta pekerjaanmu di kantor cabang. Papa tidak ingin ada masalah sepele yang mengganggu jalannya acara pernikahan kami dua minggu lagi.”

“Tapi Pa...” Aris mencoba menyela dengan suara bergetar.

“Tidak ada tapi, Aris,” potong Hendra tegas tanpa memberi ruang untuk dibantah.

“Keputusan Papa sudah bulat. Kalau kamu merasa tidak sanggup melihat Aura memegang kendali di rumah ini, kamu bisa pindah ke apartemen pribadimu esok pagi.”

Aris menelan ludahnya yang terasa kering. Kata-kata ayahnya bagaikan hukuman telak yang menghempaskan sisa-sisa kesombongannya. Pria yang dulu merasa paling berkuasa di atas penderitaan Aura kini harus menundukkan kepala di rumahnya sendiri.

Aura mengusap lembut dada bidang Hendra, menyandarkan kepalanya sedikit di bahu tegap sang taipan.

“Sudahlah, Hendra. Aris hanya butuh waktu untuk beradaptasi. Jangan terlalu keras padanya.”

Hendra menatap Aura dengan binar kelembutan yang sangat jarang ia perlihatkan kepada orang lain. Pria matang itu mengecup pelipis Aura dengan mesra di hadapan Aris, membuat Aris memalingkan wajahnya karena tidak sanggup menyaksikan pemandangan tersebut.

“Kamu terlalu baik dan pemaaf, Aura,” ujar Hendra pelan seraya memandangi calon istrinya.

“Ayo, aku antarkan kamu pulang. Sudah terlalu larut untuk kamu berada di luar.”

Aura mengangguk anggun. Sebelum melangkah pergi menuruni tangga utama bersama Hendra, Aura menoleh sedikit ke arah Aris yang masih mematung di koridor. Ia menyunggingkan senyuman paling manis namun paling dingin di bibirnya, memberikan tatapan kemenangan mutlak atas mantan kekasihnya itu.

Dua minggu berlalu dalam sekejap.

Hari yang ditunggu-tunggu oleh jagat bisnis dan media massa akhirnya tiba. Pernikahan digelar secara sangat privat dan eksklusif di glass house megah milik kediaman utama Fahreza yang disulap menjadi tempat pemberkatan bertabur bunga mawar putih dan pendar lampu kristal. Hanya deretan pejabat tinggi, kolega bisnis papan atas, serta keluarga inti yang memegang undangan khusus untuk menyaksikan momen bersejarah tersebut.

Aura berdiri di depan cermin tinggi di kamar rias pengantin. Ia tampak bagai dewi yang turun dari langit dalam balutan gaun pengantin berwarna putih gading dengan eksterior renda Italia yang sangat elegan. Mahkota berlian simpel menghiasi sanggul anggunnya, menonjolkan kecantikan alaminya yang memikat dan tak tersentuh.

Pintu kamar rias terbuka pelan. Hendra melangkah masuk mengenakan setelan tuksedo hitam buatan penjahit terbaik di Eropa. Di usianya yang ke-38 tahun, ketampanan dan karisma pria itu berada di puncaknya. Tidak ada keraguan atau kegelisahan di wajah tegas sang taipan—yang ada hanyalah kepuasan dan dominasi seorang pria sejati yang berhasil memiliki wanita impiannya.

Hendra berjalan menghampiri Aura dari belakang, memandangi pantulan kecantikan calon istrinya di cermin besar.

“Kamu adalah pemandangan terindah yang pernah saya lihat sepanjang hidup saya, Aura,”

bisik Hendra penuh intensitas, suaranya yang berat membuat tengkuk Aura meremang hangat.

Aura membalikkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata cokelat gelap milik Hendra. Ada rasa kagum yang murni menjalar di dalam dadanya. Di balik tujuan awalnya untuk membalas dendam pada Aris, Aura tidak bisa memungkiri bahwa Hendra Fahreza adalah sosok pria matang yang sangat mempesona, menghormatinya, dan memperlakukannya seperti Ratu sejati.

“Terima kasih, Hendra,”

balas Aura tulus, menyentuh dada bidang suaminya.

“Saya siap melangkah di samping Anda.”

Prosesi akad dan pemberkatan berlangsung dengan sangat khidmat dan megah. Di hadapan saksi-saksi penting dan janji suci yang diucapkan dengan suara mantap oleh Hendra, Aura resmi menyandang nama belakang keluarga terkuat di negeri ini. Ia kini sah menjadi Nyonya Hendra Fahreza.

Di barisan depan tamu undangan, Aris berdiri dengan wajah pucat pasi dan kemeja yang terasa mencekik lehernya. Ia terpaksa menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri saat ayahnya melingkarkan cincin berlian bernilai puluhan miliar di jari manis Aura. Rasa penyesalan yang membakar jiwa meremukkan hatinya saat menyadari bahwa wanita yang dulu ia buang kini secara hukum telah menjadi ibu tirinya.

Malam harinya.

Lampu-lampu di kamar utama kediaman Fahreza dinyalakan temaram. Kamar berukuran sangat luas dengan interior kayu jati dan kain sutra itu memancarkan suasana yang privat dan hangat. Angin malam yang berembus pelan di luar jendela kaca membawa aroma hujan tipis yang menenangkan.

Aura baru saja selesai mengganti gaun pengantinnya dengan gaun tidur sutra panjang berwarna sampanye yang jatuh anggun membingkai tubuh jenjangnya. Ia berdiri di dekat jendela, menatap pendar lampu taman di bawah sana seraya membelai cincin pernikahan di jari manisnya.

Pintu kamar mandi terbuka. Hendra melangkah keluar hanya mengenakan celana piyama hitam panjang dan jubah mandi yang dibiarkan terbuka di bagian dada, memperlihatkan tubuh tegap dan berototnya yang sangat terawat. Rambut hitamnya yang basah diusap pelan menggunakan handuk kecil.

Hendra berjalan tenang menghampiri Aura. Pria matang itu berdiri di belakang Aura, lalu melingkarkan kedua tangannya yang kokoh di pinggang mulus sang istri. Kehangatan tubuh Hendra seketika menyelimuti

punggung Aura, membawa aroma parfum kayu sandalwood yang begitu memabukkan.

Aura menyandarkan punggungnya pada dada bidang Hendra, merasakan detak jantung suaminya yang berembus teratur di dekat telinganya.

“Apa yang sedang kamu pikirkan, Nyonya Fahreza?”

bisik Hendra lembut, menanamkan kecupan hangat di leher jenjang Aura.

Aura memiringkan kepalanya sedikit, menikmati kehangatan sentuhan pria yang kini resmi menjadi suaminya.

“Saya hanya berpikir... betapa cepatnya takdir berubah dalam waktu satu bulan, Hendra.”

Hendra terkekeh rendah—sebuah tawa seksi yang menggetarkan dada bidangnya. Pria itu memutar tubuh Aura agar menghadap sepenuhnya ke arahnya. Jemari kokoh Hendra memegang dagu Aura dengan lembut namun penuh dominasi, memaksa mata jernih wanita muda itu untuk menatap lurus ke dalam manik matanya.

“Takdir tidak berubah dengan sendirinya, Aura. Kamu yang membawanya ke sini dengan keberanianmu,”

ujar Hendra penuh keyakinan. Pria itu mendekatkan wajahnya, mengikis sisa jarak di antara mereka hingga bibir mereka hampir bersentuhan.

Aura menahan napasnya sejenak.

Ketertarikan dan gairah dewasa yang murni membakar dadanya saat menatap bibir tegas sang taipan. Ini bukan lagi sekadar permainan balas dendam; ini adalah awal dari dominasi baru dalam hidupnya bersama pria terkuat yang memilihnya.

Hendra menatap bibir merah Aura yang merekah lembut di bawah pendar lampu temaram, lalu menyunggingkan senyuman menawan yang sarat akan janji dan kekuasaan mutlak.

“Selamat datang di hidup saya yang sebenarnya, Aura,” bisik Hendra dengan suara beratnya yang menawan, sebelum memiringkan kepalanya untuk menyapa bibir sang istri.

“Malam ini, tidak ada lagi kontrak atau kesepakatan bisnis di antara kita... hanya ada kamu dan suami yang berhak memiliki seluruh dirimu.”

1
Ds Phone
dia lagi cekap
Ds Phone
siapa pulak tu tak habis lagi ke
Ds Phone
akhir nya derama dah berhair
Ds Phone
meraka lagi cekap
Ds Phone
dah culik anak orang tu pulak
Ds Phone
apa kagi dia nak buat
Ds Phone
semua nya dah kenatankap
Ds Phone
ada yang tak betul ni
Ds Phone
ada yang tak kena lah ni
Ds Phone
ada apa masalah lagi tu
Ds Phone
semua bolih di patah kan nya
Ds Phone
ada masalah lagi
Ds Phone
apa masut dia ya
Ds Phone
kena tankap juga sudah nya
Ds Phone
macam mana kau bolih dapat fi al rasia tu
Ds Phone
dapat lari apa dia akan buat hal
Ds Phone
kalau kita apa
Ds Phone
kena penjara juga sudah nya
Ds Phone
banyak sangat duit yang dia pakai
Ds Phone
kenapa nak kena tankap pulak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!