NovelToon NovelToon
Jerat Asmara Sang CEO Dingin

Jerat Asmara Sang CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rey Nanda

Reynand, CEO dingin yang anti-cinta, terpaksa menikahi asisten pribadinya, Aira, demi meredam skandal kantor.

​Bagi Reynand, pernikahan ini hanyalah kontrak sementara. Namun, keteguhan hati Aira perlahan meruntuhkan pertahanan sang CEO.

​Saat intrik dan masa lalu mengancam, sanggupkah Reynand mengakui perasaannya sebelum kehilangan wanita yang telah menjerat hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34: Bayang-Bayang Pembawa Badai

Sinar matahari pagi menerobos lembut melintasi dinding kaca tebal penthouse megah di kawasan Senayan. Sisa-sisa aroma lavender yang menenangkan dan keharuman ribuan tangkai mawar dari malam pesta pernikahan masih terhirup samar di udara. Suasana di dalam kamar utama begitu hening, menyisakan kehangatan privat yang seolah mengisolasi mereka berdua dari bisingnya dunia luar.

​Aira Anindita perlahan membiarkan kelopak matanya terbuka. Rasa hangat yang nyaman melingkupi seluruh tubuhnya ketika ia menyadari sebuah lengan kokoh berotot—lengan milik Reynand Aristha—masih melingkar protektif di pinggangnya, mendekapnya begitu erat seolah takut kehilangan walau hanya sejengkal. Pria yang selama ini dikenal oleh seluruh jagat bisnis Asia Tenggara sebagai sosok CEO berdarah dingin, tegas, dan tak tersentuh oleh emosi itu, kini terlelap damai di sisinya. Wajah tampan Reynand tampak begitu tenang tanpa guratan beban pekerjaan yang biasanya menghiasi dahinya.

​Aira mengulas senyum tipis yang sarat akan rasa syukur. Jemari lentiknya terangkat pelan, memberanikan diri mengusap garis rahang tegas Reynand yang kokoh. Dadanya bergemuruh oleh gejolak emosi yang membuncah. Sungguh, rasanya masih seperti mimpi. Perjalanan mereka tidaklah mudah. Berawal dari skandal foto yang sengaja dibocorkan untuk menjatuhkan kredibilitas Aristha Corp, dinamika status sebagai asisten pribadi, hingga keraguan yang sempat ditunjukkan oleh Nyonya Rosalinda di meja makan keluarga, semuanya telah mereka lewati bersama. Dan semalam, di hadapan ratusan saksi mata dan ribuan pendar kristal ballroom, Reynand telah mengikatnya dalam janji suci keabadian.

​Sentuhan lembut di wajahnya membuat Reynand perlahan terbangun dari tidurnya. Manik mata elangnya yang biasanya memancarkan aura intimidasi kini meredup hangat saat beradu dengan tatapan bening Aira. Ukiran senyum tipis yang sangat langka dan hanya milik Aira seorang terbit di bibirnya.

​"Selamat pagi, Nyonya Aristha," bisik Reynand dengan suara baritonnya yang dalam, serak, dan sangat seksi khas bangun tidur.

​Tanpa memberikan kesempatan Aira untuk membalas dengan kata-kata, Reynand menarik tubuh lembut istrinya makin rapat ke dalam dekapan dadanya yang hangat, lalu mendaratkan kecupan panjang yang dalam di dahi Aira.

​"Selamat pagi, Suamiku," balas Aira dengan pipi yang mendadak merona merah. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Reynand, mendengarkan detak jantung pria itu yang teratur dan menenangkan. "Kamu tidak ada jadwal rapat darurat pagi ini di kantor?"

​Reynand terkekeh pelan, sebuah tawa renyah yang sangat jarang didengar oleh dunia luar. Jemari kokohnya membelai rambut panjang Aira yang terurai halus di atas bantal. "Hari ini seluruh urusan dunia bisnis Aristha Corp harus mengalah. Bursa saham bisa menunggu, dewan komisaris bisa menunggu. Waktuku sepenuhnya milikmu, Aira."

​Aira tertawa kecil, merasakan kebahagiaan yang begitu membuncah memenuhi rongga dadanya. Namun, di saat kehangatan dan romantisme pagi pertama mereka sebagai suami istri sedang berada di puncaknya, sebuah gangguan mendadak merusak ketenangan itu.

​Bzzzt... Bzzzt... Bzzzt...

​Ponsel pribadi milik Reynand yang tergeletak di atas meja nakas bergetar hebat. Reynand mengerutkan dahinya. Ponsel itu menggunakan jalur enkripsi khusus dan nomor pribadinya hanya diketahui oleh jajaran keluarga inti serta orang-orang tepercaya di lingkaran terdalamnya.

​Awalnya, Reynand berniat mengabaikannya dan kembali memeluk Aira. Namun, getaran itu berhenti sejenak hanya untuk kembali berdering secara persisten, menandakan panggilan yang sangat mendesak.

​"Angkatlah dulu, Reynand. Siapa tahu itu hal penting dari kantor," bisik Aira lembut sambil menatap suaminya.

​Reynand menghela napas berat. Dengan enggan, ia mengurai pelukannya, meraih ponsel berkilau itu dari meja nakas, dan menggeser ikon hijau di layarnya. "Halo?"

​"Selamat pagi... dan selamat atas pernikahan megahmu yang penuh kepalsuan, Kakakku yang terhormat..."

​Suara terkekeh yang sangat dingin, sinis, dan penuh rasa dengki mengudara seketika dari pengeras suara ponsel. Nada bicara yang begitu familier itu langsung membuat seluruh otot di tubuh Reynand menegang seketika.

​Rahang Reynand mengeras. Manik matanya yang tadinya hangat mendadak membeku, berkilat memancarkan aura membunuh yang sangat pekat. Pria di ujung telepon itu adalah Devan—saudara tirinya yang licik dan penuh dendam.

​"Mau apa lagi kamu, Devan?" desis Reynand dengan suara yang sangat rendah, berat, dan dipenuhi ancaman yang sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya. Ia sengaja mengecilkan suaranya agar Aira tidak terpengaruh oleh rasa cemas.

​Di ujung telepon, Devan tertawa keras—sebuah tawa puas yang memamerkan kelicikannya. "Oh, wajar bukan jika seorang adik mengucapkan selamat kepada kakak tercintanya yang baru saja merayakan pesta miliaran rupiah di Senayan? Tapi katakan padaku, Reynand... bagaimana rasanya menikmati kebahagiaan palsu di atas kemenangan yang sangat sementara?"

​"Jika kamu hanya menelepon untuk membuang waktuku dengan omong kosongmu, aku akan memastikan sisa saham minoritasmu di Aristha Corp habis tak berbekas sebelum matahari terbenam hari ini," ancam Reynand tanpa keraguan sedikit pun.

​"Gertakan yang luar biasa dari Sang CEO Dingin!" desis Devan, kini nadanya berubah penuh rasa benci dan dengki. "Tapi ingat baik-baik kata-kataku, Reynand. Restu dari Ibu dan gaun pengantin mahal milik Aira tidak akan cukup kuat untuk menyelamatkan posisimu saat dewan komisaris melihat berkas-berkas baru yang sudah kupersiapkan untuk rapat luar biasa minggu depan! Foto skandal di hotel itu baru permulaan. Aku tahu apa yang kamu sembunyikan lima tahun lalu di Singapura... dan kali ini, aku pastikan kamu akan merangkak memohon di kakiku!"

​Tut... Tut... Tut...

​Panggilan terputus secara sepihak.

​Ruangan penthouse yang tadinya dipenuhi kehangatan cinta mendadak berubah mencekik dan sangat dingin. Reynand mencengkeram ponsel di tangannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar menahan amarah yang membakar dada. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke depan dengan kilatan dendam yang menakutkan. Rahasianya... bagaimana bisa Devan mengendus jejak kejadian lima tahun lalu di Singapura?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!