Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.
Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.
Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.
Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.
Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 — Selamat Datang Kembali, Anakku
Gu Chen menepis tangan pria itu dari bahunya. Ia mundur beberapa langkah, sementara pikirannya berusaha mencerna kalimat yang baru saja didengarnya.
“Anakmu?” ulangnya dingin. “Kau salah memilih orang untuk dijadikan bahan lelucon.”
Pria berpakaian abu-abu itu tidak tersinggung. Ia justru tersenyum seolah telah memperkirakan reaksi tersebut.
“Wajar jika kau tidak mempercayaiku. Ingatanmu telah diubah berkali-kali. Bahkan namamu sekarang mungkin bukan nama yang diberikan kepadamu saat lahir.”
“Kalau kau mengetahui begitu banyak hal, buktikan.”
“Bukti?” Pria itu mengusap dagunya. “Kau memiliki bekas luka kecil di bawah tulang rusuk kiri, bukan? Luka yang kau dapatkan ketika berusia tujuh tahun.”
Gu Chen spontan menyentuh bagian tersebut.
Ada bekas luka tipis di sana. Ia mendapatkannya ketika terjatuh dari pohon saat kecil. Setidaknya, itulah yang selama ini ia ingat. Namun, ia tidak pernah menceritakan hal itu kepada siapa pun selain ayahnya.
Pria tersebut melanjutkan, “Kau juga membenci suara lonceng yang berdentang tiga kali. Setiap kali mendengarnya, kepalamu akan terasa sakit, dan kau akan bermimpi tentang sebuah ruangan putih.”
Wajah Gu Chen berubah.
Ia pernah mendengar suara lonceng itu dalam penglihatannya. Ia juga melihat ruangan putih ketika memasuki ruang kesepuluh. Tetapi bagaimana pria ini mengetahui hal-hal yang bahkan belum sepenuhnya ia pahami?
“Siapa kau sebenarnya?” tanya Gu Chen.
Pria itu tersenyum tipis.
“Namaku tidak penting. Untuk saat ini, kau boleh memanggilku Tuan Bai.”
“Nama palsu.”
“Tentu saja. Nama asli adalah benda berbahaya di dunia ini.”
Gu Chen hampir tertawa mendengar jawaban tersebut. Sejak memasuki dunia permainan, ia bertemu terlalu banyak orang yang berbicara seolah setiap kalimat harus menyimpan rahasia.
“Baiklah, Tuan Bai. Katakan siapa yang membunuh ayahku.”
Senyuman pria itu perlahan menghilang.
“Orang yang membunuh Gu Yuan bukanlah orang yang mengayunkan pedang terakhir.”
Gu Chen mengepalkan tangan. “Aku tidak peduli dengan teka-teki. Sebutkan namanya!”
“Nama itu tidak akan memberimu jawaban yang kau inginkan. Kau akan mengejarnya, membunuhnya, lalu mengetahui bahwa kematian ayahmu hanyalah akibat dari keputusan yang dibuat jauh sebelum kau dilahirkan.”
“Kalau begitu, aku akan mencari orang yang membuat keputusan itu.”
“Dan jika orang tersebut adalah ayahmu sendiri?”
Gu Chen langsung menghunus pisaunya.
“Jangan bicara sembarangan tentang dia.”
Tuan Bai tidak bergerak meskipun ujung pisau telah mengarah ke lehernya.
“Kau masih menganggap ayahmu sebagai korban karena itulah satu-satunya cara untuk mempertahankan ingatanmu tentang dirinya. Aku tidak menyalahkanmu. Namun, kebenaran tidak berkewajiban untuk sesuai dengan kenangan yang kau sukai.”
Gu Chen ingin menyerangnya. Ia ingin memaksa pria itu menjelaskan semuanya. Namun, tekanan yang menyelimuti tubuh Tuan Bai membuatnya memahami bahwa serangan apa pun kemungkinan besar tidak akan menghasilkan apa-apa.
Ia menurunkan pisau, tetapi tidak menyarungkannya.
“Kalau kau benar-benar mengetahui masa laluku, katakan satu hal. Siapa aku sebelum menjadi Gu Chen?”
Tuan Bai memandangnya cukup lama.
“Kau adalah seseorang yang seharusnya tidak pernah dilahirkan.”
Keheningan menyelimuti aula.
Lin Yue yang sejak tadi berdiri di belakang Gu Chen ikut terdiam. Bahkan ia tidak berusaha menyela, seolah merasakan bahwa percakapan tersebut telah menyentuh sesuatu yang jauh lebih besar daripada urusan keluarga Lin.
Gu Chen menatap pria itu tanpa berkedip.
“Kalau aku memang tidak seharusnya dilahirkan, mengapa aku masih hidup?”
“Karena seseorang melanggar aturan untuk menyelamatkanmu.”
“Siapa?”
Tuan Bai tidak langsung menjawab. Ia mengangkat tangan, lalu menunjuk ke arah sumur batu di tengah aula.
“Lihat ke dalamnya.”
Gu Chen tidak bergerak.
“Aku sudah melihatnya. Ada seorang pria yang mengaku pernah menjadi diriku.”
“Kalau begitu, kau telah melihat salah satu kemungkinan masa depanmu.”
“Apa maksudmu?”
“Sumur itu tidak menunjukkan masa lalu atau masa depan. Ia menunjukkan kemungkinan yang pernah ditolak oleh dunia.”
Tuan Bai berjalan menuju sumur dan berdiri di tepinya.
“Dalam salah satu kemungkinan, kau menjadi pemain. Dalam kemungkinan lain, kau menjadi bidak yang sempurna. Namun, ada satu kemungkinan yang paling ditakuti oleh mereka yang mengendalikan permainan.”
Ia menoleh kepada Gu Chen.
“Kau menghancurkan papan itu, tetapi gagal menyelamatkan orang yang ingin kau selamatkan.”
Gu Chen teringat kata-kata pria dalam bayangan air: membunuh dunia demi membebaskan satu orang.
“Siapa orang itu?” tanyanya.
Tuan Bai menunduk memandang air hitam.
“Untuk mengetahui jawabannya, kau harus menemukan tiga benda yang ditinggalkan Gu Yuan. Kau sudah memiliki salah satunya.”
“Bidak hitam?”
“Bukan. Bidak itu hanyalah alat untuk mengamatimu. Benda pertama yang sebenarnya kau miliki adalah sesuatu yang bahkan tidak kau sadari keberadaannya.”
Gu Chen teringat lempengan kayu dari Shen Mo. Ia segera mengeluarkannya dan memperlihatkan sembilan garis yang terukir di permukaannya.
“Ini?”
Tuan Bai menggeleng.
“Lempengan itu hanya kunci menuju tempat pertama. Benda yang kucari tidak berada di sakumu.”
Gu Chen mengerutkan kening. Ia memeriksa pakaiannya, kantong-kantong kecil, dan tas yang dibawanya. Tidak ada benda lain selain beberapa koin, pisau, serta sisa makanan.
Lalu ia teringat sesuatu.
Sebuah lonceng hitam.
Dalam percakapannya dengan Shen Mo, lelaki itu pernah bertanya apakah Gu Yuan meninggalkan benda berbentuk lonceng. Saat itu Gu Chen menyangkal mengetahui keberadaannya. Namun, ia tidak pernah benar-benar memeriksa seluruh barang peninggalan ayahnya setelah kematian lelaki tersebut.
“Aku tidak membawa lonceng,” katanya hati-hati.
Tuan Bai menatapnya tanpa berkedip.
“Kalau begitu, kau harus pulang.”
“Apa?”
“Tempat ini tidak akan memberimu jawaban berikutnya. Benda itu berada di tempat ayahmu meninggal, dan hanya orang yang membawa darahnya yang bisa menemukannya.”
Gu Chen menatapnya dengan curiga. “Kau ingin aku kembali ke tempat yang mungkin sedang diawasi oleh Sekte Pedang Awan?”
“Kalau kau ingin mengetahui kebenaran, kau harus berani kembali ke tempat yang paling ingin kau tinggalkan.”
Sebelum Gu Chen sempat menjawab, suara gemuruh terdengar dari lorong. Langkah kaki dan benturan logam semakin dekat. Para pengejar dari keluarga Lin telah menemukan jalan menuju aula.
Lin Yue langsung mengangkat busurnya.
“Kita tidak punya waktu!”
Tuan Bai mengangguk, lalu berjalan ke sisi sumur. Ia mengangkat satu tangan dan mengetuk batu di tepinya tiga kali.
Dong.
Dong.
Dong.
Suara lonceng yang dalam menggema di seluruh aula.
Gu Chen langsung mencengkeram kepalanya. Rasa sakit luar biasa menusuk pikirannya. Ia melihat ruangan putih, papan raksasa, dan seorang anak kecil yang berdiri di hadapan seorang pria berjubah hitam.
Anak itu menangis.
Pria berjubah hitam berlutut di hadapannya, lalu berkata, “Maafkan aku. Suatu hari nanti, kau mungkin akan membenciku. Namun, itu lebih baik daripada membiarkan mereka menggunakanmu.”
Penglihatan itu lenyap.
Gu Chen terhuyung, hampir jatuh ke lantai. Lin Yue segera menopang tubuhnya.
“Gu Chen! Kau baik-baik saja?”
Ia tidak menjawab. Matanya terpaku pada Tuan Bai.
Pria itu kini tidak lagi tersenyum.
“Kau mendengarnya, bukan?” katanya pelan. “Itulah alasan mengapa aku tidak ingin membangkitkan ingatanmu terlalu cepat.”
Gu Chen menepis tangan Lin Yue dan berdiri tegak meskipun kepalanya masih berdenyut.
“Siapa pria berjubah hitam itu?”
Tuan Bai memejamkan mata.
“Orang yang menyelamatkanmu.”
“Siapa namanya?”
“Gu Yuan.”
Gu Chen merasa seluruh dunia berhenti bergerak.
Ayahnya.
Pria yang selama ini ia kenal sebagai seorang lelaki sederhana dari Desa Qingyuan ternyata pernah berada di ruangan yang bahkan tidak dapat dijangkau oleh manusia biasa. Ia menyelamatkan Gu Chen dari sesuatu yang belum dipahami putranya sendiri.
Namun, mengapa?
Dan apa yang sebenarnya telah dilakukan Gu Yuan hingga harus membayar harga sebesar itu?
Sebelum Gu Chen dapat mengajukan pertanyaan berikutnya, pintu aula dihantam dari luar. Suara seorang pria terdengar lantang.
“Gu Chen! Atas perintah keluarga Lin, menyerahlah sekarang juga!”
Lin Yue menegang ketika mengenali suara tersebut.
“Ayahku…”
Gu Chen menoleh kepadanya. “Kau yakin?”
Lin Yue mengangguk dengan wajah pucat. “Aku mengenali suaranya.”
Tuan Bai menghela napas.
“Sepertinya kalian harus berpisah.”
Ia mengangkat tangan. Lantai di bawah kaki Gu Chen dan Lin Yue tiba-tiba memancarkan cahaya. Sebuah lingkaran terbentuk, kemudian menyelimuti keduanya.
Gu Chen segera meraih lengan pria itu.
“Tunggu! Kau belum menjawab semua pertanyaanku!”
Tuan Bai menatapnya untuk terakhir kalinya.
“Jangan mencari pemain yang membunuh ayahmu terlebih dahulu. Carilah orang yang membuat ayahmu takut kepadamu.”
Cahaya semakin terang.
“Dan ingat satu hal, Gu Chen. Tidak semua orang yang mengendalikan bidak adalah pemain. Sebagian dari mereka hanyalah tawanan yang terlalu lama duduk di kursi penguasa.”
Tubuh Gu Chen dan Lin Yue menghilang dari aula.
Ketika cahaya padam, Tuan Bai berdiri sendirian di tepi sumur. Ia mengeluarkan sebuah benda kecil dari balik jubahnya: bidak hitam yang bentuknya sama dengan milik Gu Chen, tetapi tanpa retakan.
Ia memandang benda itu dengan ekspresi lelah.
“Maafkan aku, Gu Yuan,” bisiknya. “Aku hanya bisa memberinya sebagian kebenaran.”
Dari dalam sumur terdengar suara seorang pria.
“Apakah kau yakin dia akan memilih jalan yang sama?”
Tuan Bai terdiam cukup lama sebelum menjawab.
“Tidak.”
Ia menggenggam bidak hitam itu hingga tangannya gemetar.
“Itulah satu-satunya harapan kita.”
Gu Chen terjatuh di atas tanah basah. Ketika membuka mata, ia mendapati dirinya berada di tengah hutan yang dikenalnya. Pepohonan tua mengelilinginya, dan di kejauhan terlihat jalan kecil menuju Desa Qingyuan.
Lin Yue terbaring beberapa langkah darinya. Gadis itu segera bangkit dan memeriksa sekeliling.
“Kita kembali ke dunia luar?”
Gu Chen mengangguk.
Ia memandang ke arah desa, tempat ayahnya pernah tinggal dan meninggal. Selama ini ia berusaha menjauh dari tempat tersebut karena tidak tahan menghadapi kenangan tentang kematian Gu Yuan. Namun, sekarang ia harus kembali.
Bukan untuk berduka.
Melainkan untuk mencari benda yang sengaja disembunyikan ayahnya.
Gu Chen bangkit dan mulai berjalan.
Lin Yue mengikutinya tanpa banyak bertanya. Setelah beberapa langkah, ia akhirnya berkata, “Gu Chen, apakah kau mempercayai pria tadi?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa mengikuti petunjuknya?”
Gu Chen menatap jalan di hadapannya.
“Karena kebohongan pun bisa meninggalkan petunjuk menuju kebenaran.”
Ia memasukkan tangan ke sakunya dan menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak ada di sana.
Selembar kertas kecil.
Di atasnya tertulis satu kalimat dengan tulisan tangan yang sangat dikenalnya.
Tulisan ayahnya.
Chen'er, jika kau membaca ini, jangan pulang sendirian. Mereka sudah menunggumu.
Gu Chen berhenti berjalan.
Jauh di depan, di jalan masuk Desa Qingyuan, beberapa sosok berjubah abu-abu berdiri menghalangi jalan. Di tengah mereka terdapat seorang lelaki yang memegang lonceng hitam.
Lonceng yang selama ini dicari banyak orang.
Lelaki itu mengangkat lonceng tersebut, lalu membunyikannya sekali.
Dong.
Dari dalam desa, terdengar suara puluhan orang menjerit secara bersamaan.
Gu Chen menatap pemandangan itu dengan wajah membeku.
Ia terlambat.
Bersambung ke Bab 11.