Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.
Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.
Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.
Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.
Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?
Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Peti Emas Di Bawah Akar
Kapal feri pulang dari Ambon ke Tual berlayar lebih pelan daripada kapal berangkat. Mungkin karena membawa kemenangan, bukan membawa ketakutan. Lima warga Langgur duduk di dek atas kapal, tidak mabuk laut lagi, mereka tertawa-tawa sambil makan pop mie yang dibeli dari uang sisa sidang. Uang itu pemberian hakim yang kasihan melihat mereka tidak punya uang pulang.
Pak RT Unus memegang surat putusan pengadilan tinggi yang sudah dicap resmi, kertasnya masih hangat dari mesin fotokopi pengadilan. Surat itu adalah nyawa baru Langgur.
"Hahaha! Lihat muka Pak Hendra waktu dicekik anaknya sendiri! Kapok!" kata Bapak Simon sambil terbahak-bahak, tapi habis itu dia langsung istighfar karena ingat di kapal tidak boleh sombong.
Ara tidak ikut tertawa. Dari Ambon sampai sekarang, dia diam saja, memeluk karung goni berisi batu hitam yang sekarang sudah retak sedikit karena dibanting Dion kemarin di pengadilan. Retakan kecil di batu itu mengeluarkan cahaya emas yang sangat pelan, seperti napas orang yang sedang tidur.
Dia masih ingat mimpinya semalam di masjid besar Ambon. Pohon mangga raksasa tumbang, akarnya terangkat, dan di bawahnya ada peti kayu besar berukiran Belanda, isinya emas batangan yang berkilau.
"Jali, kau pernah dengar cerita peti emas Belanda di Langgur tidak?" tanya Ara pelan ke Jali yang duduk di sampingnya.
Jali mengerutkan kening. "Peti emas? Dulu waktu kecil, kakekku pernah cerita, katanya waktu Belanda masih di sini tahun 1940, mereka pernah sembunyikan harta di Langgur karena takut dirampas Jepang. Tapi itu cuma dongeng anak-anak biar tidak main jauh-jauh ke hutan."
Paman Tua Theo yang mendengar itu langsung menoleh. "Bukan dongeng, Jali. Aku juga pernah dengar dari ayahku. Katanya Belanda memang kubur satu peti di bawah pohon besar. Tapi pohon besar di Langgur kan banyak, tidak ada yang tahu pohon yang mana."
Ara merinding. Mimpinya terasa semakin nyata.
Jam enam pagi keesokan harinya, kapal sampai di Tual. Dari Tual mereka naik kapal kayu lagi ke Langgur. Perjalanan tiga jam itu terasa sangat lama bagi Ara, karena dia ingin cepat sampai di bawah pohon mangga raksasa.
Sesampainya di pantai Langgur jam sembilan pagi, seluruh warga Langgur sudah menunggu di pantai! Mereka sudah dapat kabar dari radio SSB bahwa Langgur menang di Ambon! Anak-anak berlari-lari membawa bendera kecil dari daun kelapa, ibu-ibu membawa nampan berisi papeda dan ikan kuah kuning.
"Langgur merdeka! Langgur merdeka!" teriak anak-anak.
Mama Ino berlari memeluk Ara sambil menangis. "Kalian pulang! Kalian menang! Ara, kau hebat!"
Tapi Mama Ino langsung berbisik pelan di telinga Ara, "Ara, ada yang aneh dengan pohon keramat kita. Sejak kemarin malam, pohonnya menangis terus. Keluar air dari batangnya, bukan getah, tapi air bening seperti air mata. Dan akarnya, akarnya naik ke atas tanah sendiri, seperti mau kabur."
Ara langsung berlari ke halaman belakang rumahnya yang setengah hangus itu, ke tempat pohon mangga raksasa itu berdiri.
Benar kata Mama Ino. Pohon mangga raksasa yang kemarin sudah sembuh dan bertunas hijau, sekarang batangnya mengeluarkan air bening yang menetes-netes terus, seperti orang menangis. Dan yang paling aneh, akar-akar besarnya yang biasanya di dalam tanah, sekarang muncul ke permukaan tanah, melilit-lilit seperti ular, dan tanah di sekitar akar itu retak dan menggunung, seperti ada sesuatu yang mau keluar dari dalam tanah.
Warga lain yang melihat juga takut dan tidak berani mendekat.
"Jangan-jangan pohonnya mau mati lagi?" kata Bu Ani cemas.
Ara mendekati pohon itu pelan-pelan, dengan batu hitam retak di tangannya. Saat batu hitam itu dekat dengan akar pohon yang muncul itu, batu itu bergetar keras dan cahaya emasnya yang pelan tadi menjadi terang!
Tiba-tiba, akar pohon yang besar itu bergerak sendiri! Bergerak pelan membuka tanah di bawahnya!
Tanah di bawah pohon itu terbuka! Terbuka lebar seperti mulut!
Dan di dalam lubang tanah yang menganga itu, terlihatlah sebuah peti kayu besar! Peti kayu yang sudah sangat tua, kayunya hitam, ada ukiran tulisan Belanda di atasnya, dan diikat dengan rantai besi yang sudah berkarat!
Peti emas Belanda! Mimpi Ara benar!
Semua warga Langgur yang melihat langsung mundur ketakutan, ada yang berteriak histeris.
"Peti hantu! Jangan dibuka! Nanti ada kutukan!" teriak Pak RT Unus.
Bapak Simon yang mantan kepala desa yang serakah, matanya langsung hijau melihat peti itu. Dia maju pelan-pelan dan berkata, "Kalau ini emas Belanda, ini bisa buat bangun Langgur jadi kota! Kita bisa jadi kaya!"
Tapi sebelum ada yang berani menyentuh peti itu, dari dalam peti itu terdengar suara ketukan dari dalam! TOK! TOK! TOK! Seperti ada orang yang terkurung di dalam peti dan minta dikeluarkan!
Ara yang memegang batu hitam itu, mendengar bisikan pelan dari batu itu, suara Revan.
"Jangan buka sekarang, Ra. Di dalam bukan hanya emas. Di dalam ada tulang. Tulang orang Langgur yang dibunuh Belanda dulu karena tidak mau kasih tahu di mana peti itu disembunyikan. Mereka dikubur hidup-hidup bersama emasnya biar jadi penjaga."
Ara langsung teriak, "JANGAN ADA YANG SENTUH PETI ITU! DI DALAM ADA MAYAT!"
Warga langsung menjauh lebih jauh lagi.
Paman Tua Theo maju dan melihat tulisan Belanda di peti itu. Dia bisa baca sedikit bahasa Belanda dari ayahnya. Dia membaca pelan, "Eigendom van de VOC... 1942... 50 kilogram goud... en 5 zielen..."
"Artinya, milik VOC... 1942... 50 kilogram emas... dan 5 nyawa..." terjemah Paman Tua Theo dengan suara gemetar.
50 kilogram emas! 5 nyawa!
Semua warga terdiam. 50 kilogram emas itu kalau dijual bisa triliunan rupiah! Bisa buat bangun Langgur jadi seperti Ambon! Tapi ada 5 nyawa di dalamnya, 5 leluhur mereka yang dikubur hidup-hidup!
Malam itu, tidak ada yang berani tidur dekat pohon mangga raksasa. Peti itu masih di dalam lubang tanah yang menganga, tidak ada yang berani tutup lagi lubangnya, tidak ada yang berani buka petinya.
Ara duduk di depan lubang itu sendirian, menjaga peti itu dengan batu hitam di pangkuannya. Dia tahu, besok pagi dia harus memutuskan, apakah peti itu harus dibuka atau harus dikubur lagi selamanya bersama rahasianya.
Di dalam rumahnya yang setengah hangus, Mama Ino demam tinggi lagi, mengigau, "Jangan buka... jangan buka... nanti Langgur jadi rebutan lagi... nanti datang lagi orang-orang serakah seperti Pak Hendra..."
Angin malam Langgur bertiup kencang, membawa bau tanah basah dari lubang peti emas itu, bau yang sudah terkubur 80 tahun.
Di kejauhan, dari arah laut, terlihat lampu kapal besar lagi, kapal yang tidak dikenal, mendekati pantai Langgur pelan-pelan tanpa menyalakan lampu besarnya, seperti kapal maling yang mau mencuri.
Ternyata kemenangan di Ambon belum selesai, perang baru akan dimulai lagi, perang memperebutkan 50 kilogram emas Belanda di bawah akar pohon keramat.