Namaku sari, umur 19 tahun menikah dengan suami yang aku cintai. tapi baru 6 bulan menikah , tetangga janda kaya sebelah rumah terus menggoda suamiku dengan uang. apakah rumah tanggaku akan hancur? Kisah nyata dari mamuju yang bikin menangis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab1 pernikahan yang ku harap indah
Namaku Sari, umurku 19 tahun. Aku tinggal di desa kecil di Mamuju, Sulawesi Barat. Aku hanyalah gadis desa biasa, lulus SMA tahun lalu dan tidak melanjutkan kuliah karena orang tuaku tidak punya biaya. Hidup kami sangat sederhana, rumah kami rumah panggung dari kayu, di belakangnya ada kebun pisang.
Aku menikah dengan Rizal, laki laki yang aku cintai sejak SMA. Rizal adalah cinta pertamaku. Dia ganteng, tinggi, dan pintar bicara. Semua temanku iri padaku. Waktu Rizal melamarku, aku menangis bahagia. Ibuku bilang, menikah muda itu tidak apa apa asal dengan laki laki yang bertanggung jawab.
Bulan pertama pernikahan kami sangat indah. Rizal bekerja sebagai kuli bangunan di kota Mamuju. Setiap pagi dia berangkat jam 6 dan pulang jam 5 sore. Setiap pulang dia selalu membawa gorengan atau es untukku. Kami tidur di kamar kecil yang kami hias sendiri. Aku merasa menjadi wanita paling bahagia.
Tapi semuanya berubah di bulan ketiga. Rizal mulai sering pulang malam, kadang jam 10 malam baru pulang. Bajunya wangi parfum wanita, bukan parfumku. Parfumku hanya parfum murah harga 20 ribu, tapi wangi di bajunya adalah parfum mahal yang menyengat. Ketika aku bertanya, Rizal malah marah besar. Dia bilang aku istri yang cerewet dan tidak percaya suami.
Aku mulai curiga. Aku sering melihat Bu Ratna, janda kaya sebelah rumah kami, sering memanggil Rizal. Bu Ratna itu umur 35 tahun, tapi masih sangat cantik. Kulitnya putih, bibirnya merah, dia punya toko pakaian besar di pasar Mamuju dan punya mobil Avanza putih. Suaminya sudah meninggal 2 tahun lalu dan dia hidup sendiri dengan banyak uang.
Suatu sore, saat aku mau menjemur baju, aku melihat dari celah pagar. Bu Ratna memakai daster pendek dan memanggil Rizal yang baru pulang kerja. Rizal masuk ke rumah Bu Ratna. Aku mengintip dari jendela kayu rumahnya. Aku melihat Bu Ratna memberikan 5 lembar uang seratus ribu kepada Rizal. Bu Ratna memegang tangan Rizal dan mengelus pipinya. Rizal tersenyum malu malu.
Darahku mendidih, kakiku lemas, air mataku langsung jatuh deras. Jadi ini alasannya Rizal sering pulang malam. Dia bukan kerja lembur, tapi dia bersama janda kaya itu demi uang. Hatiku hancur berkeping keping. Aku adalah istrinya yang sah, yang sudah berjanji sehidup semati, tapi suamiku lebih memilih uang daripada cinta tulusku.
Malam itu aku menunggu Rizal pulang. Jam sudah menunjukkan jam 11 malam. Rizal baru pulang dengan wajah senang sambil membawa ayam goreng dan baju baru untukku. Dia bilang ini rejeki dari lembur. Aku tidak bisa menahan tangis lagi. Aku melempar ayam goreng itu dan aku bertanya, apakah uang itu dari Bu Ratna?
Rizal terdiam, wajahnya pucat. Dia tidak bisa menjawab. Itulah jawaban yang paling menyakitkan untukku. Malam itu menjadi malam pertama aku tidur dengan air mata dan hati yang sangat sakit. Apakah pernikahan kami harus berakhir di sini? Apakah aku harus bertahan atau pergi dari rumah ini? Aku tidak tahu harus berbuat apa.Aku sangat sedih dan kecewa malam itu. Aku berdoa kepada Allah agar diberi kekuatan dan petunjuk terbaik untuk rumah tanggaku ini yang hampir hancur berantakan.
Bersambung ke Bab 2, jangan lupa like dan komentar ya bunda bunda.