Demi menyelamatkan sang ayah dari siksaan maut seorang mafia kejam, Aisyah gadis bercadar, Hafizah bermata biru blasteran menyerahkan diri sebagai tawanan abadi. Syaratnya gila: pria berdarah dingin itu harus masuk Islam dan menikahinya.
Pernikahan tanpa cinta pun dimulai. Alih-alih menjadi ratu, hidup Aisyah berubah menjadi neraka ketika suaminya sengaja membawa wanita malam ke hadapannya setiap hari untuk menghancurkan mentalnya.
Di tengah ketakutan yang mencekam dan air mata yang tak pernah kering, Aisyah hanya bersandar pada sujud malamnya.
Mampukah kelembutan ayat-ayat suci meluluhkan hati seorang psikopat tanpa Tuhan, atau justru Aisyah yang akan hancur lebur di sarang iblis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam di Balik Jeruji Hati
Malam kembali merayap turun, menyelimuti istana megah di atas bukit dengan selimut kegelapan yang pekat.
Di luar jendela kamar, angin malam berhembus kencang, membawa serta suara gesekan dahan-dahan pohon pinus yang terdengar seperti bisikan misterius.
Namun, kengerian terbesar bukanlah apa yang terjadi di luar bangunan itu, melainkan badai emosi yang berkecamuk di dalam kamar lantai dua tempat Aisyah Humaira dikurung.
Seharian penuh, Aisyah menghabiskan waktunya dalam keheningan.
Selepas insiden di meja makan pagi tadi, tidak ada lagi interaksi antara dirinya dan sang suami.
Kenzie Al-Ghazali, sang penguasa dunia bawah yang ditakuti banyak orang, memilih menghabiskan seluruh waktunya di ruang kerja pribadinya di lantai bawah, sibuk dengan transaksi gelap dan jaringan penyelundupan senjatanya.
Aisyah duduk bersila di atas sajadah beludru abu-abu yang terbentang di sudut kamar.
Di pangkuannya, Al-Qur'an kecil terbuka.
Jemarinya yang terbalut kain manset dengan lembut menyusuri setiap baris ayat suci.
Suaranya yang merdu namun lirih mengalun pelan, memenuhi ruangan yang bernuansa gelap itu dengan gelombang kedamaian Ilahi.
Bagi Aisyah, Al-Qur'an adalah satu-satunya tempat ia mengadu.
Setiap kali rasa sesak menghimpit dadanya, setiap kali bayangan wajah sang Abah yang penuh luka atau air mata Ummi melintas di kepalanya, ayat-ayat Allah menjadi obat penawar yang menyembuhkan luka batinnya secara perlahan.
Namun, kedamaian itu tidak berlangsung selamanya.
Cklek.
Suara kunci pintu yang diputar dari luar memecah keheningan.
Jantung Aisyah langsung berdegup kencang.
Ia segera menutup Al-Qur'an tersebut dengan hati-hati, merapikan posisinya, dan menarik cadarnya agar menutupi wajahnya dengan sempurna.
Pintu terbuka lebar.
Kenzie melangkah masuk.
Pria itu tampak jauh lebih berantakan dari biasanya.
Jas hitamnya telah dilepas, menyisakan kemeja putih yang kini kusut dengan dua kancing teratas terbuka lebar.
Lengan kemejanya digulung sampai siku, memperlihatkan otot-otot lengannya yang tegang.
Ada guratan kelelahan yang nyata di wajah tampannya, tetapi sorot mata setajam elangnya tetap memancarkan aura dominasi yang mematikan.
Aroma alkohol yang pekat langsung menguar memenuhi ruangan, bercampur dengan bau tembakau mahal.
Rupanya, hari ini adalah hari yang buruk bagi sindikatnya.
Kenzie berjalan mendekat dengan langkah berat.
Ia berhenti tepat di hadapan Aisyah yang masih duduk bersimpuh di atas sajadah.
Pria itu menatap tajam ke arah istrinya dari atas ke bawah, seolah menilai seberapa kuat ketahanan mental gadis itu setelah sekian hari berada di bawah terornya.
"Masih saja sibuk dengan kitab itu?"
suara Kenzie terdengar berat, dingin, dan sarat akan sarkasme.
"Apa kitab itu bisa memberimu makan?
Apa kitab itu bisa membebaskanmu dari tempat terkutuk ini?"
Aisyah mendongak perlahan, menatap manik mata hitam kelam suaminya tanpa sedikitpun rasa gentar.
"Kitab ini tidak memberi saya makan, Tuan,"
jawab Aisyah dengan nada suara yang tenang, lembut, namun tegas.
"Tapi kitab ini memberi saya ketenangan jiwa—sesuatu yang tidak akan pernah bisa Anda beli dengan seluruh harta dan kekuasaan dunia bawah yang Anda miliki."
Mendengar jawaban itu, rahang Kenzie mengeras.
Ia benci ketenangan di mata biru Aisyah.
Ketenangan itu seolah menjadi cermin yang menampar keras kekosongan, kemarahan, dan kegelapan yang bersemayam di dalam jiwanya sendiri.
Kenzie mendengus sinis.
Ia berjongkok, menyamakan posisinya dengan Aisyah, lalu mencengkeram dagu gadis itu secara perlahan namun kuat melalui kain cadarnya.
"Jangan mengguruiku, Aisyah!"
desis Kenzie tajam tepat di depan wajah istrinya.
Napas hangat beraroma alkohol menerpa cadar hitam itu.
"Kau pikir kau siapa?
Kau bukan siapa-siapa di sini!
Kau hanya tawanan!
Alat tukar untuk menyelamatkan nyawa ayahmu yang renta itu!
Jangan berani memasang wajah suci di hadapanku!"
Aisyah tidak memberontak.
Ia tidak menangis, tidak pula menjerit ketakutan.
Ia hanya membiarkan dagunya disentuh, sementara sepasang mata birunya menatap lurus ke dalam mata Kenzie dengan penuh belas kasihan—sebuah tatapan yang justru membuat Kenzie merasa seperti ditelanjangi hidup-hidup.
"Saya tahu siapa diri saya, Tuan..."
bisik Aisyah lirih, suaranya begitu tulus hingga membuat cengkeramannya mengendur.
"Saya adalah istri Anda di hadapan Allah.
Dan meskipun Anda memperlakukan saya sebagai tawanan, saya tidak pernah membenci Anda.
Saya justru kasihan pada Anda..."
Kenzie tertegun.
Alis tebalnya bertaut kaget.
"Kasihan?
Kau kasihan padaku?
Jangan melucu!"
"Ya, kasihan,"
lanjut Aisyah dengan suara lembut yang menghujam relung hati Kenzie.
"Anda memiliki kekayaan yang melimpah, kekuasaan yang ditakuti orang, dan istana yang megah.
Tapi hidup Anda hampa.
Tidak ada ketenangan di dada Anda.
Anda hidup tanpa Tuhan, dan itu membuat Anda berjalan dalam kegelapan abadi."
DEG!
Kata-kata itu meluncur bagaikan anak panah beracun yang tepat menghantam titik paling rapuh di dalam dada Kenzie.
Selama bertahun-tahun, tidak ada satupun orang di dunia ini yang berani mengatakan hal seperti itu di hadapannya.
Semua orang tunduk pada kekuatannya, gemetar ketakutan di hadapannya, atau memujanya demi uang.
Hanya gadis bercadar inilah yang dengan tenang menatap matanya dan menyebut hidupnya hampa.
Amarah yang membara di dada Kenzie seketika berubah menjadi gejolak emosi yang membingungkan.
Ia merenggut tangannya menjauh dari dagu Aisyah, berdiri tegak dengan napas memburu.
"Cukup!"
bentak Kenzie, suaranya menggema di seluruh sudut kamar.
"Jangan pernah sebut-sebut soal Tuhan atau kekosongan di depanku lagi!"
Kenzie berbalik dengan kasar, melangkah cepat menuju pintu keluar.
Namun, sebelum tangannya memegang gagang pintu, ia berhenti sejenak.
Tanpa menoleh ke belakang, Kenzie berkata dengan nada dingin yang menyayat,
"Dan bersiaplah... malam ini aku tidak sendiri.
Teman-teman bisnisku akan datang untuk pesta kecil di lantai bawah.
Jangan coba-coba keluar kamar."
Brak!
Pintu tertutup rapat dengan dentuman keras.
Aisyah terduduk lemas di atas sajadah.
Air mata yang dari tadi ia tahan akhirnya menetes juga membasahi kain cadarnya.
Ia tahu, ujian hidupnya di rumah ini masih sangat panjang dan terjal.
Namun, jauh di lubuk hatinya, ia merasakan ada secercah perubahan kecil yang mulai terjadi pada benteng es di hati sang suami sebuah celah kecil yang membuktikan bahwa Kenzie tidak sekeras batu seperti yang ia tunjukkan.
Sementara itu, di lantai dasar istana, suasana ruang tamu utama tampak remang-remang dan dipenuhi oleh kepulan asap sigaret yang pekat.
Kenzie duduk di sofa panjang berlapis kulit hitam, meneguk segelas wiski murni hingga tandas.
Di hadapannya duduk beberapa orang pria bertubuh kekar para petinggi sindikat penyelundupan senjata internasional dari luar negeri.
Mereka sedang mendiskusikan jalur distribusi baru dan pengiriman senjata ilegal yang dijadwalkan minggu depan.
"Semuanya sudah beres, Boss Kenzie,"
ucap salah seorang rekan bisnisnya sambil tersenyum menyeringai.
"Kapal kargo dari eropa timur akan bersandar di pelabuhan tikus lusa malam.
Muatannya aman, lolos dari radar penjagaan."
Kenzie hanya mengangguk dingin, tidak terlalu antusias.
Pikirannya melayang entah ke mana.
Bayangan sepasang mata biru jernih yang menatapnya dengan penuh belas kasihan tadi terus berkelebat di dalam kepalanya, mengusik konsentrasinya.
'Sial...'
batin Kenzie menggerutu dalam hati, meletakkan gelas kaca itu ke meja dengan kasar hingga berdenting nyaring.
Kenapa aku harus memikirkan perkataan wanita itu?
Dia hanya tawanan!
Istri bayaran yang kudapatkan dari hasil memeras ayahnya!
Namun, sekuat apapun ia mencoba menepisnya, bayangan Aisyah menolak pergi dari benaknya.
Rasa penasaran yang bercampur dengan kemerahan akibat harga dirinya yang terusik membuat Kenzie merasa gelisah.
Menjelang tengah malam, rapat bisnis itu akhirnya selesai.
Para rekan bisnis Kenzie pamit pulang, meninggalkan istana dalam kesunyian yang kembali mencekam.
Alih-alih langsung naik ke kamar utamanya untuk beristirahat, Kenzie justru melangkah gontai menuju dapur.
Tenggorokannya terasa kering akibat alkohol dan nikotin yang ia konsumsi sepanjang malam.
Begitu ia mendorong pintu dapur, suasana remang-remang menyambutnya.
Kenzie berniat mengambil sebotol air dingin dari dalam kulkas besar.
Namun, langkah kakinya terhenti ketika ia melihat sesuatu di atas meja dapur bersih.
Sebuah mangkuk kecil tertutup rapi dengan piring kecil, di sebelah sebuah gelas berisi air putih hangat dan secarik kertas kecil tertulis tangan dengan rapi.
Kenzie mengernyitkan keningnya.
Dengan rasa curiga, ia mendekati meja tersebut.
Ia membuka penutup mangkuk itu.
Di dalamnya terdapat bubur beras merah hangat yang masih mengepulkan uap tipis, ditaburi sedikit suwiran ayam dan irisan seledri segar.
Begitu sederhana, jauh dari kesan makanan mewah istana.
Kenzie lantas mengambil secarik kertas di sampingnya dan membaca tulisan tangan yang sangat rapi dan indah:
“Tuan Kenzie... saya tahu Anda lelah dan stres mengurus pekerjaan Anda hari ini.
Lambung Anda pasti perih karena terlalu banyak minum alkohol dan merokok.
Makanlah sedikit bubur ini agar perut Anda hangat.
Jangan khawatir, saya tidak meracuninya. Istirahatlah yang cukup.”
— Aisyah —
Kenzie terpaku membaca pesan singkat tersebut.
Jantungnya seolah berhenti berdetak untuk sepersekian detik.
Matanya menatap lekat-lekat mangkuk bubur hangat di hadapannya.
Hatinya yang selama ini dipenuhi oleh kebencian, dendam, dan kekejaman dunia hitam mendadak dihantam oleh gelombang kehangatan yang luar biasa dahsyat.
Seumur hidupnya, tidak pernah ada satupun orang yang peduli padanya seperti ini.
Ibu kandungnya telah meninggalkannya sejak kecil demi pria lain, dan dunia yang ia jalani penuh dengan pengkhianatan serta darah.
Tidak ada yang pernah mengingatkannya untuk menjaga kesehatan lambungnya, apalagi membuatkannya makanan dengan penuh ketulusan di tengah malam buta setelah ia memperlakukan wanita itu dengan begitu kejam.
Kenzie mengepalkan tangannya di tepi meja dapur.
Napasnya memburu, dadanya terasa sesak oleh emosi asing yang belum pernah ia kenali.
Ia menatap mangkuk bubur itu lama sekali.
Keraguan melanda dirinya.
Apakah ia harus memakannya, atau membuangnya ke tempat sampah seperti biasa?
Namun, rasa lapar di perutnya dan aroma harum kaldu yang menguar mengalahkan egonya.
Dengan ragu-ragu, Kenzie mengambil sendok, lalu mencicipi sesendok bubur buatan Aisyah.
Rasa hangat langsung menyebar dari tenggorokan hingga ke perutnya.
Rasa gurih dan lembutnya bubur itu begitu menenangkan, menyapu bersih rasa pusing akibat alkohol yang mendera kepalanya.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, seorang Kenzie Al-Ghazali mafia berdarah dingin yang ditakuti ribuan penjahat menundukkan kepalanya dalam diam, sementara butiran air mata penyesalan tanpa sadar menggenang di pelupuk matanya.
Di lantai atas, di balik pintu kamar yang terkunci rapat, Aisyah sedang bersujud di atas sajadahnya, menengadahkan tangan seraya berdoa dengan suara lirih, memohon agar Allah berkenan melembutkan hati suaminya dan menarik pria itu keluar dari jurang kegelapan dunia hitam.
Malam itu, di antara dinding-dinding istana yang dingin, takdir tak kasat mata perlahan mulai merajut benang-benang takdir di antara dua jiwa yang terpaut di ujung badai.