NovelToon NovelToon
An Affair Ashford

An Affair Ashford

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Roman-Angst Mafia
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Sepuluh tahun Dominic Qiel Ashford mempertaruhkan kesetiaannya hanya untuk ditolak berulang kali oleh Florence Nightingale, wanita yang menolak ikatan pernikahan. Luka penolakan itu akhirnya mendorong Dominic pada keputusan gila di sebuah malam yang pekat.

Di tengah frustrasi, ia mendapati Ester Alba—mahasiswi berbeasiswa sekaligus guru privat keponakannya—terjebak dalam gaun seksi di bar elit demi mencari biaya operasi sang ayah.

Demi menyelamatkan harga dirinya sekaligus melampiaskan keputusasaan, Dominic mengajukan penawaran berbahaya. Sebuah kesepakatan terikat yang menuntut kepatuhan mutlak, jauh dari ranah cinta.

Namun, saat rahasia alasan sebenarnya di balik kebencian Florence pada pernikahan mulai terkuak, Ester menyadari bahwa ia bukan sekadar pelampiasan—melainkan kunci dari permainan emosi yang siap menghancurkan mereka bertiga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#16

Udara pagi New York berembus dingin, membawa serta sisa-sisa embun yang membasahi pelataran basement apartemen tempat Ester Alba tinggal.

Cahaya matahari musim gugur berjuang menembus jendela kaca buram, jatuh berpendar di atas kap mesin mobil sport mewah berwarna hitam legam milik Dominic Ashford yang terparkir tepat di dekat pilar beton nomor empat.

Di samping pintu mobil yang terbuka, perdebatan kecil namun sengaja diredam tengah terjadi di antara dua insan yang kini terikat oleh rahasia paling kelam.

"Sudah kukatakan tidak perlu menjemputku, Tuan Ashford," suara Ester terdengar tegas namun setengah berbisik, berusaha menahan geram. Ia berdiri dengan tas ransel tersampir di bahunya, mengenakan kemeja katun rapi dan rok lutut sederhana—jauh dari kesan wanita malam yang bergelut di ranjang panas kemarin.

"Aku akan ke kampus sendiri naik bus kota. Aku sama sekali tidak mau merepotkanmu."

Dominic, yang baru saja keluar dari kursi pengemudi dengan balutan setelan jas abu-abu arang yang elegan, menutup pintu mobilnya dengan bunyi gedebuk pelan.

Pria 32 tahun itu melangkah mendekati Ester tanpa sedikit pun keraguan di matanya.

"Tidak, aku sama sekali tidak merasa repot," jawab Dominic tenang, menatap lurus manik mata cokelat gadis itu. "Kau adalah tanggung jawabku sekarang, Ester. Apa kau lupa?"

Ester mendengus sinis.

Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miris yang menyayat hati. Ia melangkah mundur selangkah, menatap Dominic dengan sorot mata yang sengaja dibuat merendah.

"Oh, benar... Aku lupa. Aku kan hanya jalang pribadimu!" ucap Ester rendah, sengaja melontarkan kalimat itu untuk menusuk ego sang pengusaha.

Mendengar kata-kata itu meluncur dari bibir Ester, dahi Dominic langsung berkerut dalam.

Rahangnya mengeras seketika.

Pria itu maju dan mencengkeram kedua bahu Ester dengan lembut namun penuh penekanan.

"Aku sama sekali tidak pernah menganggapmu seperti itu, Ester!" tegas Dominic, suaranya berat dan sarat akan ketidaksukaan yang amat sangat. "Berhenti mengatakan hal gila dan merendahkan diri seperti itu. Kau bukan jalangku."

Ester menatap dada bidang Dominic yang berada tepat di hadapannya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena tersipu, melainkan oleh benturan realita dan rencana besar yang sedang ia susun di dalam kepalanya.

Tanpa membantah lagi, Ester membiarkan dirinya dituntun masuk ke dalam kabin mobil sport mewah milik Dominic.

Suasana di dalam kabin mobil yang kedap suara itu terasa begitu hangat dan privat.

Aroma parfum maskulin khas kayu cendana milik Dominic berpadu dengan wangi vanila lembut dari tubuh Ester. Mereka berdua sama-sama mencoba mencairkan kecanggungan pasca-badai yang mereka lewati.

Mobil mulai melaju membelah jalanan kota yang mulai padat. Dominic melirik sekilas ke arah wanita di sampingnya, lalu tersenyum tipis.

"Jika suatu malam nanti aku menginginkanmu... apa aku boleh langsung datang ke apartemenmu?" tanya Dominic pelan, memecah keheningan di antara alunan musik klasik yang mengalir lirih dari radio mobil.

Ester menoleh, menatap lurus ke depan jalanan kota sebelum menjawab dengan suara datar, "Iya... itu sudah menjadi bagian dari kesepakatan kita. Lagipula, terima kasih banyak atas pelunasan biaya rumah sakit ayahku."

Suara Ester terdengar begitu lirih.

Dan ya, demi Tuhan, Dominic tahu persis bahwa ayah Ester—Fernando Mattos—memang benar-benar dirawat di rumah sakit besar di Boston dalam kondisi kritis.

Ester sama sekali tidak berbohong soal itu. Dominic bahkan telah memastikan bahwa seluruh tagihan medis pria paruh baya itu telah dipindahkan ke rekening rumah sakit atas namanya sejak kemarin siang.

Namun, apa yang tidak diketahui oleh Dominic adalah kenyataan di balik layar.

Di kepala Ester, roda taktik berputar tanpa henti.

Kekasih brengseknya pasti akan segera bertanya-tanya perihal siapa malaikat penolong yang melunasi biaya rumah sakit ayahnya untuk setahun ke depan.

Dan sisanya... adalah bagaimana caranya agar Dominic bisa sepenuhnya berada di bawah kendaliku, melindungiku, dan menghancurkan pria sialan itu tanpa menyisakan debu.

Tunggu sebentar lagi, Ester, bisik suara hatinya menyemangati diri sendiri.

Tetap jalankan rencana kita sedari awal. Jangan gegabah. Kita hanya tinggal selangkah lagi.

Lihat... Dominic sudah mulai menunjukkan tanggung jawabnya sebagai pelindung. Dan sebentar lagi, aku pastikan kata 'milikku' terucap mutlak dari bibirnya.

Tak terasa, mobil sport mewah itu telah memasuki kawasan kampus elit tempat Ester menempuh kuliah. Dominic meminggirkan kendaraannya tepat di dekat gerbang utama yang dipenuhi oleh lalu-lalang mahasiswa.

Sebelum Ester sempat membuka pintu mobil, Dominic dengan sigap mencondongkan tubuhnya, meraih tengkuk gadis itu, dan melayangkan sebuah ciuman hangat di bibirnya.

Ciuman itu singkat namun cukup menuntut, membuat napas Ester tercekat sejenak.

Dominic menarik wajahnya kembali dengan seulas senyum tanpa dosa di bibirnya.

"Aku akan menjemputmu sore nanti di sini," ucap Dominic santai seolah-olah ia baru saja melakukan hal yang sangat wajar.

Ester menggeleng cepat.

"Tidak. Jangan menjemputku dengan mobil ini."

Alis Dominic terangkat tinggi.

"Kenapa? Ada yang salah?"

"Mobilmu terlalu kentara dan mencolok, Tuan Ashford," jawab Ester datar.

"Jika kau benar-benar ingin menjemputku... kau bisa naik bus umum bersamaku untuk pulang. Baru setelah itu kau boleh mengantarku."

Deg.

Dominic terperanjat di kursi kemudi.

Pria 32 tahun pewaris dinasti Ashford itu melotot tak percaya.

"Aku... naik bus umum? Bersamamu?" ulang Dominic dengan nada horor. "Apa kata dunia nanti jika melihatku naik bus umum?!"

Ester mendengus geli, memutar bola matanya malas. "Kurasa dunia tidak akan mengatakan apapun, Tuan. Karena dunia terlalu sibuk dan tidak bisa bicara sendiri padamu. Terima kasih atas tumpangannya."

Ester hendak membuka pintu mobil ketika sebuah tangan besar mencekal pergelangan tangannya.

"Tunggu sebentar," bisik Dominic.

Pria itu merogoh saku jas dalamnya, lalu mengeluarkan segepok uang tunai pecahan seratus dolar yang cukup tebal dan meletakkannya begitu saja di atas telapak tangan Ester.

"Aku belum memiliki nomor rekeningmu untuk transfer bulanan, jadi... sebaiknya kau pegang ini untuk kebutuhan sehari-harimu dulu," ujar Dominic tanpa beban.

Ester menatap gepokan uang di tangannya, lalu mendongak menatap Dominic dengan senyuman penuh arti.

"Terima kasih," ucap Ester dengan nada manja yang dibuat-buat. "Kupastikan pelayanan malam nanti akan jauh lebih memuaskan, Tuan..."

Belum sempat Ester merampungkan kalimatnya, telapak tangan Dominic dengan cepat membungkam bibirnya.

"Sudah kukatakan jangan pernah mengucapkan kalimat sampah seperti itu, Ester," geram Dominic tajam namun matanya menyiratkan kehangatan. "Aku memberikan itu bukan sebagai bayaran untuk tubuhmu. Aku hanya... ingin malam nanti kita tidur saling berpelukan. Tidak lebih."

Ester mengerjap, tertegun di balik genggaman tangan Dominic, sementara sang pengusaha muda itu melepaskan bungkaman-nya dan menyuruhnya turun dengan senyuman paling tulus yang pernah ia tunjukkan pada siapapun.

1
Yusry Ajay
semangat berkarya 💪💪💪
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak komentarnya 🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
makasih uda up bnyk Thor 🤗🤗🤗
Isma Nayla
kasihan Ester walaupun caranya salah dalam masuk kekeluarganya Dominic semoga bila Dominic mengetahuinya rencana Ester sebelumnya dom2 tidak meninggalkan Ester /Whimper//Sob/
Rosdianah 🌷: huhu😭
total 1 replies
Yusry Ajay
wahhh dominic cemburu 🤗🤗
Isma Nayla
terima kasih Thor sudah up banyak2 hari ini 🙏
love sekebon kebonnya 😍/Kiss/
Rosdianah 🌷: huhu love setaman-tamannya kak 🤭🫶
total 1 replies
Isma Nayla
lagi Thor 🤭
sekejap saja bacanya,kayak kurang panjang 😄
Rosdianah 🌷: hehhe siap kak🫶
total 1 replies
Isma Nayla
keren ceritamu Thor,sangat menarik dan tak terduga.
di tunggu kelanjutannya Thor 💪
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Lilla Ummaya
Ditunggu updatenya
Rosdianah 🌷: siap kak
total 1 replies
JR Rhna
bukan susahpun utk tegaskan bahawa dia tak pernah tidur dengan Florence
Isma Nayla
kalau sampai domdom nikahi si flo lebih baik Ester pergi saja Thor./Right Bah!/
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🤭
total 3 replies
Isma Nayla
terima kasih sudah up Thor 🙏
Rosdianah 🌷: happy reading kak 🫶
total 1 replies
Isma Nayla
lanjut thor
berasa sedikit bacanya 🤭
Isma Nayla
keren...
makasih Thor sudah up 🙏
Rosdianah 🌷: maaf ya author nggak pernah double up 🫶🙏🏻
total 1 replies
Isma Nayla
yang ini kok belum up Thor 😭
Rosdianah 🌷: huhu bentar kak
total 1 replies
Lilla Ummaya
Lanjut thor
Yusry Ajay
selalu semangat Thor 💪💪
Yusry Ajay
lanjut Thor makin seru nih 🤗🤗
Lilla Ummaya
Karyamu slalu keren .. ditunggu updatennya soon kaa😍
Lilla Ummaya: Thor ko lama updatenya
total 4 replies
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪😁
Yusry Ajay
uda Dominic ma Ester aja Thor 😁😁
Rosdianah 🌷: bisa di atur🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!