Empat tahun lamanya mengarungi bahtera rumah tangga, dan tepat di ulang tahun pernikahan yang seharusnya disambut bahagia, Arjanti harus menelan kecewa, dipaksa memberi izin suaminya menikah lagi.
Mertuanya terus menekan, melimpahkan kekurangan ada pada dirinya yang tak kunjung hamil, sementara mereka ingin segera menggendong cucu.
Sang suami yang awalnya menentang keras saat dipaksa menikah lagi, lama kelamaan setuju dengan alasan ingin menimang anak.
Pada akhirnya, Arjanti harus berbagi suami. Tinggal satu atap dengan wanita bermuka dua, berambisi menjadi istri tunggal.
Lantas, bagaimana kehidupan Arjanti pasca pria yang dicintai segenap jiwa itu menghadirkan wanita lain selain dirinya?
Apa benar kalau dia memang mandul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMWI : 17
“Mas, Mas! Tanganku kena pisau! Sakit sekali ini sayang, hu hu hu ....” adunya dengan suara mendayu-dayu. Manja.
“Kamu manggil siapa, Astuti?!” tanya sebuah suara di belakang tubuh seketika kaku.
Pembantu mengenakan celana tidur panjang diatas lutut, baju lengan pendek itu perlahan berbalik badan. Napasnya tercekat sejenak, dan otak tak mampu berpikir cerdas.
“Saila,” ia tersenyum gugup, bak Kuda meringkik memamerkan gigi.
“Panggil aku nyonya, lancang banget kamu!” bentaknya cukup keras. “Barusan kamu manggil siapa?!”
‘Sial bener aku hari ini!’ Ditekannya telunjuk terasa perih dan mengeluarkan darah.
“Ini aku lagi telponan sama pacarku,” dustanya masih sedikit tampak gugup.
Saila tak lantas percaya, dia pun berniat mencari headset di telinga tertutup rambut panjang.
“Kamu ngapain saja, Astuti?! Motong buah pun mau setahun gak selesai-selesai!” Doko tiba-tiba sudah berdiri di belakang sang menantu.
Aksi Saila terhalang dan terhenti, dia tidak jadi memeriksa telinga sang pembantu yang selalu berpakaian seksi.
“Maaf, Pak. Tadi tanganku kena pisau,” ucapnya sopan, enggan menatap.
“Ceroboh! Ngupas buah saja sampai melukai jari sendiri, buruan selesaikan tugasmu itu!” ujarnya tegas, sedatar ekspresi muka.
Astuti mengangguk, lalu langsung berbalik badan membelakangi sang selingkuhan dan juga Saila. ‘Untung masih selamat aku kali ini.’
Walaupun masih menaruh curiga, namun Saila tidak punya alasan berlama-lama disana, terlebih suara ayah mertuanya seperti seseorang menahan amarah.
Ayah mertua dan menantu itu kembali ke ruang santai.
Beberapa saat kemudian, Astuti menyuguhkan dua piring potongan buah segar.
“Kamu mau kemana, Astuti?” panggil Darti ketika melirik pembantu yang melangkah keluar dari ruang santai.
“Istirahat, Bu, ini sudah jam setengah 10 malam,” jawabnya sopan.
“Jangan dulu! Urusin aku sampai naik ke atas kasur, baru selesai tugasmu. Janti juga biasanya gitu. Dia selalu mijitin kakiku pakai minyak sereh yang kegunaannya bisa meningkatkan kualitas tidur nyenyak,” bukan bermaksud memuji sang menantu, niatnya memberi contoh ke pembantu.
‘Apes banget aku hari ini? Semua gara-gara si Janti!’ Dia mengangguk, memaksakan diri untuk bersikap sopan padahal hatinya kesal.
Astuti pun menunggu keluarga majikannya makan buah. Dia duduk di pojok ruangan yang mana ada bangku terbuat dari kayu jati.
Herlan menyerah, tak lagi membujuk istrinya agar mau keluar dari kamar.
Efek dari perubahan sikap Arjanti terasa nyata bagi mereka yang biasa bergantung pada wanita itu.
Sementara yang dipanggil sedari tadi sampai tangan Herlan memerah dikarenakan mengetuk, menggedor pintu, tertidur pulas diatas sajadah, masih mengenakan mukena.
Arjanti ketiduran, merasa damai setelah larut dalam doa hingga rasa kantuk mendera.
***
Keesokan harinya tepat pukul enam pagi, Arjanti sudah berpakaian rapi, wangi parfum baru, rambut diikat satu.
Wajahnya jauh lebih segar, lingkaran hitam dibawah kelopak mata tak lagi kentara, hanya tampak samar.
“Enak ya yang pura-pura tuli sama buta? Nanti beneran jadi cacat baru tau rasa!” sindir wanita yang penampilannya jauh dari kesan segar.
Arjanti menyahuti dengan ketenangan diri patut diacungi jempol. Ia sedang menyeduh segelas kopi untuk diri sendiri. “Aku sedang menikmati status menantu keluarga kaya, lagian gunanya kamu disini ya untuk bekerja sesuai profesi pembantu rumah tangga, kan? Kenapa seolah-olah menganggapku setara denganmu, Mbak?”
Astuti pun terdiam mendengar balasan menohok itu, dan dia kembali bungkam sambil menahan amarah ketika Arjanti menelisik penampilannya dengan pandangan mengejek.
“Memang seperti inilah seharusnya seorang pembantu. Pakaian sedikit kusut, lap terlampir di pundak, rambut diikat asal-asalan, dan tercium bau obat pel lantai bukan parfum mahal yang wanginya mengundang gairah sang tuan,” ucapnya dibarengi senyum samar.
“Kamu keterlaluan, Janti! Gara-gara sikap kekanakanmu, aku kena imbasnya!” protes seorang pelayan lupa diri kalau sedang berbicara dengan nyonya muda, saking baiknya Janti selama ini, mau saja dimanfaatkan.
“Protes sana ke mertuaku. Minta tambah pembantu, jangan lupa suruh carikan rekan yang sudah berumur, takutnya kalau sebaya, nanti menjadi sainganmu dalam menggoda pria tua.” Janti membawa gelas kopi masih mengepulkan uap, melewati Astuti yang termangu.
“Ihhh! Kurang ajar dia!” Kain lap di pundak dilempar ke lantai. Hidungnya mencium bau keringat masam, bertambah kesal hatinya.
“Aku gak mau tau, malas ngerjain sendirian rumah sebesar ini!” dulu dia menolak usulan Doko yang berencana mau nambah pembantu biar mereka lebih banyak waktu bermesraan di kamar pojok lantai atas.
Kala itu, Astuti menentang dengan mengatakan ada Arjanti yang bisa dimanfaatkan, dan tentu saja gratis.
Sekarang dia merasakan imbasnya bak senjata makan tuan. Harus mengerjakan pekerjaan rumah tak ada habisnya, ditambah merawat wanita cerewet.
“Sial, sial, sial!” Kakinya menghentak. “Biasanya jam segini aku sudah wangi, siap-siap mau pergi ke pasar, bukannya beneran jadi babu!”
Astuti mengomel. Lelah, tapi diharuskan terus bekerja sebelum penghuni rumah satu persatu bangun dan waktunya sarapan.
Arjanti sendiri sedang menikmati segelas kopi ditambah roti sebungkus yang dia beli kemarin di mal.
Saat menggigit roti rasa selai coklat ditaburi keju, wajah terangkat ke atas dan bertemu tatap dengan sosok wanita berdiri di pembatas balkon kamar utama yang terletak di bangunan samping.
Saila tersenyum meremehkan. Dia merasa menang karena bisa menempati kamar utama. “Sayang, kemari lah.”
Di bawah sana, pada gazebo bersebelahan dengan kolam renang, Janti mendengar jelas suara mendayu itu.
Herlan keluar. Pria baru bangun tidur itu tidak mengenakan baju, hanya celana kolor pendek dipertengahan paha. Belum menyadari istri pertama memperhatikan sebab fokusnya tertuju pada belahan dada tanpa mengenakan bra.
Pucuk dada menonjol dibalik baju tidur satin dicubit gemas, dan dia menyambut ciuman panas ucapan selamat pagi dari istri mudanya.
Pagutan itu kian liar tak terkendali. Tali tipis gaun tidur Saila diturunkan, rambutnya dijambak ke belakang hingga badannya melengkung menikmati sensasi geli sekaligus nikmat ciuman basah di kulit leher.
Posisi Herlan bersandar pada pembatas balkon, membelakangi wanita mematung menyaksikan bagaimana rakusnya sang suami mencumbu istri muda.
Saila tidak sepenuhnya larut dalam gairah, dia memegang kendali. Sengaja ingin menyakiti hati Arjanti.
‘Bagaimana rasanya melihat pria yang kamu cintai dengan segenap hati ini tengah mencumbuku Janti?’ sorot matanya berkilat, enggan memutuskan pandangan dari manik berkaca-kaca.
Kakinya bergerak dan badan berputar hingga punggung membentur pembatas pagar. ‘Ayo sayang, lihat istri pertamamu yang sedang menahan tangis itu.’
Tangan Herlan masuk ke dalam celana pendek, lalu meremas bokong Saila, pada saat itulah dia baru melihat sepasang mata tengah menatap lekat, tajam.
“Arjanti!” Ia terperanjat, langsung melepaskan pelukan dari istri muda. Tak menyangka disaat langit belum benar-benar terang benderang, dia mendapatkan kejutan luar biasa.
Herlan berlari hendak turun ke lantai bawah, tentu membujuk istri pertama yang terlanjur melihat kemesraannya bersama Saila.
Alis Saila naik sedikit. Gerakannya melambat menaikan tali baju tidur yang tadi diturunkan Herlan. Ia tersenyum lebar seraya menatap lama wanita yang meremat kaos dikenakannya.
“Arjanti, Sayang, kamu sudah bangun?”
.
.
Bersambung.
wis nikmati saja mantu baru mu apa bisa di amdalkan seperti Janti wekkkk
cuma menunggu karma sekeluarga mantan lucnat
gimana mau ngomong sebelum mulut terbuka aja rasanya gak sanggup menyakiti hati ibu dan bapak yang dah menyayanginya. janti masih sabar dan berharap keluarga doko mau menerima tapi sayangnya rasa sabar dan diam janti malah dimanfaatkan