PACAR KONTRAK SANG KETUA GENG
Fake Dating • Bad Boy • School Romance • Possessive Love
Nadine Kirana tidak pernah berniat terlibat dengan Axel Pratama—ketua kelompok Orbit yang terkenal dingin, sulit diatur, dan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.
Bagi Nadine, hidup sudah cukup rumit. Di tengah kesibukan sekolah dan pekerjaan paruh waktu, dia harus mencari uang untuk biaya perawatan ibunya. Sementara itu, impiannya melanjutkan kuliah di luar kota perlahan terancam oleh keadaan yang tidak bisa dia kendalikan.
Lalu Axel datang membawa tawaran yang tidak masuk akal.
Jadilah pacarku selama sembilan puluh hari, dan aku akan menanggung biaya yang kita sepakati.
Axel membutuhkan pacar pura-pura untuk menggagalkan rencana perjodohan keluarganya. Nadine membutuhkan uang. Kesepakatan itu seharusnya sederhana: berpura-pura saling mencintai di depan orang lain, menaati aturan, lalu berpisah ketika waktunya habis.
Tidak ada perasaan. Tidak ada tuntutan. Tidak ada masa depan bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Pertama Kali
Pesan dari sekolah masuk ketika Nadine sedang memeriksa berkas beasiswanya.
Pihak kesiswaan menetapkan Senin pagi sebagai jadwal konfirmasi kesaksian mengenai insiden di gedung olahraga tahun lalu. Ia diminta datang sebelum pelajaran dimulai.
Nadine segera membuka percakapannya dengan Axel.
Nadine: Sekolah sudah kasih jadwal. Senin pagi, sebelum kelas.
Balasan Axel datang beberapa menit kemudian.
Axel: Gue juga diminta datang.
Nadine: Mereka bilang mau nanya apa?
Axel: Mencocokkan keterangan lama sama dokumen tambahan. Belum ada detail lain.
Nadine kembali menatap berkas beasiswa di hadapannya. Ada beberapa bagian yang harus ia periksa sebelum akhir pekan berakhir. Ia tidak ingin urusan sekolah membuat semua rencananya berantakan.
Namun, sebelum kembali bekerja, ia mengirim satu pesan lagi.
Nadine: Kalau ada hal soal kejadian itu yang belum pernah lo ceritakan, gue lebih baik dengar langsung dari lo.
Kali ini Axel membutuhkan waktu lebih lama untuk menjawab.
Axel: Gue bakal cerita kalau memang ada yang gue tahu. Gue nggak mau menebak-nebak.
Nadine mengangguk kecil, meskipun Axel tidak bisa melihatnya.
Nadine: Oke. Senin kita lihat apa yang sebenarnya ada di arsip.
Ia menyimpan ponselnya dan kembali menyelesaikan surat motivasi. Masa lalu Axel mungkin akan membuka persoalan baru, tetapi itu bukan alasan untuk mengabaikan masa depannya sendiri.
---
Senin pagi, Axel sudah menunggu di depan ruang kesiswaan.
Kemeja seragamnya rapi, tetapi jari telunjuknya terus mengetuk sisi ponsel. Gerakan kecil yang biasa muncul ketika ia menahan kegelisahan.
Nadine menghampiri tanpa menyinggungnya.
“Sudah lama?”
“Lima menit.”
“Tumben datang lebih awal.”
“Gue nggak mau dipanggil karena telat lagi.”
Nadine meliriknya. “Setidaknya ada satu hal yang bisa diperbaiki tanpa perlu membuka arsip lama.”
Axel mendengus pelan.
Pintu terbuka sebelum ia sempat membalas. Pak Hendra, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, mempersilakan mereka masuk.
Di atas meja terdapat beberapa map cokelat, buku agenda lama, dan sejumlah lembar fotokopi.
“Terima kasih sudah datang,” ujar Pak Hendra. “Saya ingin menjelaskan bahwa pertemuan ini bukan untuk langsung mengubah keputusan sebelumnya. Kami sedang memeriksa kelengkapan arsip karena ada catatan tindak lanjut yang tidak disertai hasil pemeriksaan.”
Axel duduk tegak.
Pak Hendra membuka map pertama dan mengeluarkan salinan laporan insiden di gedung olahraga.
“Ini laporan awal yang digunakan ketika keputusan disiplin dibuat. Kalian tidak perlu mengulang seluruh kejadian dari awal. Saya hanya ingin memastikan bagian-bagian yang masih bisa diperiksa.”
Ia lalu menunjukkan sebuah catatan yang terlampir di belakang laporan.
“Setelah keputusan awal dicatat, sekolah menerima keterangan tambahan dari seorang saksi. Keterangan tersebut menunjukkan bahwa urutan kejadian mungkin berbeda dari yang tertulis dalam laporan pertama.”
Nadine mengenali bagian itu sebagai alasan sekolah kembali menghubunginya.
“Di sini ada catatan bahwa pemeriksaan lanjutan perlu dilakukan,” lanjut Pak Hendra. “Tetapi kami belum menemukan berita acara atau keputusan yang menunjukkan pemeriksaan itu benar-benar selesai.”
Axel menatap lembar tersebut cukup lama.
“Berarti keputusan awal tetap berlaku, sementara pemeriksaan tambahannya nggak pernah tercatat selesai?”
“Benar. Setidaknya, itulah yang dapat kami pastikan dari dokumen yang ditemukan sejauh ini.”
“Kenapa bisa begitu?”
Pak Hendra menutup map sebentar.
“Kami belum tahu. Kami tidak akan menyimpulkan bahwa ada orang yang sengaja menghentikannya tanpa bukti. Arsip bisa saja tidak lengkap, dokumen bisa berpindah, atau prosesnya memang tidak diteruskan. Kami harus memeriksa kemungkinan yang ada.”
Axel menarik napas pelan.
Setahun lalu, ia mengira persoalan itu sudah selesai karena sekolah telah menjatuhkan keputusan. Ia membenci keputusan tersebut, tetapi pada akhirnya ia berhenti mempertanyakannya.
Sekarang, ternyata ada bagian yang bahkan tidak pernah mendapatkan penyelesaian tertulis.
Pak Hendra mengambil buku agenda lain.
“Selain itu, ada beberapa catatan pembinaan setelah insiden tersebut.”
Ia membuka halaman yang ditandai dengan selembar kertas kecil.
“Di sini tertulis bahwa kamu menolak mengikuti seleksi perwakilan sekolah untuk kegiatan antarsekolah. Ada juga catatan tentang ketidakhadiranmu dalam beberapa kegiatan.”
Axel mengerutkan kening.
“Saya memang menolak seleksi itu.”
“Apakah ada alasan tertentu?”
“Waktu itu saya merasa percuma.”
Pak Hendra mengangkat pandangan.
“Bisa kamu jelaskan?”
Axel terdiam sebentar sebelum menjawab.
“Setelah kejadian di gedung olahraga, orang-orang sudah punya kesimpulan sendiri tentang saya. Kalau saya membantah, saya dianggap mencari alasan. Kalau saya diam, mereka menganggap saya mengakui semuanya.” Ia menatap catatan di meja. “Saya pikir, kalau saya ikut kegiatan sekolah dan melakukan kesalahan sedikit saja, orang akan menghubungkannya lagi dengan kejadian itu.”
“Apakah kamu pernah meminta peninjauan resmi?”
“Tidak, Pak.”
“Kenapa?”
“Karena saya pikir tidak ada gunanya.”
Pak Hendra mencatat jawaban itu tanpa menyanggah.
“Saya memahami bahwa kamu merasa tidak didengar. Namun, peninjauan sekarang bukan berarti semua tindakanmu setelah kejadian itu otomatis dibenarkan. Kami hanya perlu memastikan catatan mengenai insiden awal dibuat berdasarkan keterangan yang lengkap.”
“Saya mengerti.”
“Bagus. Sekarang, Nadine, saya ingin mendengar apa yang masih kamu ingat. Ceritakan hanya hal yang benar-benar kamu lihat atau dengar sendiri.”
Nadine mengangguk.
Ia menjelaskan posisi para siswa saat insiden terjadi, urutan kejadian yang disaksikannya, dan bagian-bagian yang tidak dapat ia pastikan. Ia tidak mencoba menambahkan dugaan tentang siapa yang berniat memulai masalah. Ia juga tidak mengubah keterangannya hanya karena Axel berada di ruangan yang sama.
Pak Hendra sesekali mengajukan pertanyaan untuk memperjelas waktu dan posisi mereka.
Ketika Nadine tidak yakin terhadap satu detail, ia mengatakannya terus terang.
“Saya nggak ingat bagian itu dengan pasti, Pak. Saya nggak mau menjawab seolah-olah saya melihatnya.”
Pak Hendra mengangguk.
“Justru itu yang kami perlukan. Keterangan yang jujur, bukan jawaban yang terdengar paling meyakinkan.”
Setelah mencatat keterangan mereka, Pak Hendra mengumpulkan kembali dokumen-dokumen tersebut.
“Kami akan mencocokkan kesaksian ini dengan arsip yang tersedia. Jika perlu, kami akan meminta keterangan dari saksi lain. Untuk sekarang, belum ada keputusan baru.”
Axel berdiri.
“Kalau nanti ada hasilnya, saya bisa melihat catatan yang diperbarui?”
“Tentu. Jika ada perubahan resmi, kamu berhak mengetahui hasilnya.”
“Baik, Pak.”
Pertemuan berakhir tanpa jawaban yang mereka harapkan. Namun, setidaknya sekolah kini memiliki keterangan tambahan dan mengakui bahwa proses lama belum dapat dinyatakan selesai berdasarkan arsip yang tersedia.
---
Di koridor, Axel berjalan di samping Nadine tanpa banyak bicara.
“Lo baik-baik aja?” tanya Nadine ketika mereka sampai di dekat jendela.
“Gue kelihatan seperti apa?”
“Seperti orang yang sedang menyusun tiga puluh cara buat marah, tapi belum memilih salah satunya.”
Axel menoleh.
“Gue cuma sedang berpikir.”
“Berpikir boleh. Menuduh orang tanpa bukti jangan.”
“Gue belum menuduh siapa-siapa.”
“Bagus. Pertahankan.”
Axel menyandarkan bahu ke dinding.
“Gue baru ingat sesuatu. Setelah insiden itu, wali kelas pernah menawarkan gue ikut seleksi perwakilan sekolah. Gue menolak karena merasa semua orang bakal menganggap gue cuma ingin memperbaiki nama.”
“Lo masih menginginkan kesempatan waktu itu?”
Axel terdiam.
“Sebagian dari gue masih ingin ikut. Tapi gue nggak mau memberi mereka kesempatan buat bilang gue gagal lagi.”
Nadine memandang lapangan di bawah jendela.
“Kalau lo menolak, mereka memang nggak punya kesempatan menilai kemampuan lo. Tapi lo juga kehilangan kesempatan buat mencoba.”
“Gue tahu sekarang.”
“Bagus. Berarti lo sudah bisa melihat akibat keputusan lo sendiri.”
Axel meliriknya.
“Lo bisa nggak, sekali saja, nggak terdengar seperti guru yang sedang memberi nilai?”
“Bisa. Nilai lo hari ini belum keluar.”
Axel terkekeh.
Sesaat kemudian, ekspresinya kembali serius.
“Menurut lo, kalau catatan itu diperbaiki, orang-orang bakal berubah?”
“Sebagian mungkin. Sebagian lagi belum tentu.”
“Terus buat apa?”
“Supaya catatan sekolahnya benar, Axel. Bukan supaya semua orang langsung suka sama lo.”
Ia tidak mengucapkannya dengan nada menggurui. Baginya, persoalan itu sesederhana memisahkan dua hal yang selama ini tercampur: kebenaran sebuah kejadian dan penilaian orang terhadap seseorang.
“Lo nggak bisa memaksa semua orang mengubah pendapatnya,” lanjut Nadine. “Tapi sekolah bisa memastikan keputusan resminya berdasarkan keterangan yang lengkap.”
Axel mengangguk kecil.
“Gue cuma nggak mau kejadian itu terus dipakai buat menjelaskan semua hal tentang gue.”
“Kalau begitu, jangan jadikan pendapat mereka satu-satunya ukuran buat diri lo sendiri.”
Bel masuk berbunyi.
Nadine membenahi tali tasnya.
“Gue ke kelas dulu. Surat motivasi gue belum selesai, dan gue nggak mau terlambat cuma karena ikut mengurus masa lalu orang.”
“Orang itu gue?”
“Lo cepat juga menangkap maksud pembicaraan.”
“Gue belajar jadi lebih baik.”
“Jangan berlebihan.”
Nadine berjalan lebih dulu. Axel menyusul beberapa langkah kemudian.
Tidak ada janji bahwa ia akan selalu ada untuk Axel. Tidak ada pula permintaan agar Axel melupakan semua yang terjadi.
Nadine hanya bersedia mengatakan apa yang ia ketahui dan membiarkan Axel bertanggung jawab atas bagian hidupnya sendiri.
Untuk sekarang, itu sudah cukup.
---
Saat istirahat, Dimas menemukan Axel di belakang gedung kelas.
“Jadi, bagaimana hasil pemeriksaannya?”
“Belum ada hasil akhir. Mereka baru mengumpulkan keterangan.”
Dimas mengangguk, lalu bersandar di pagar pembatas.
“Lo ingat waktu dulu menolak seleksi perwakilan sekolah?”
“Sayangnya.”
“Gue sempat mengira lo memang nggak tertarik.”
“Gue juga ingin mengira begitu.”
Dimas menoleh.
Axel mengeluarkan ponsel dari saku, tetapi tidak membukanya.
“Gue pikir kalau gue berhenti peduli, orang-orang nggak bisa bikin gue kecewa lagi.”
“Berhasil?”
“Menurut lo?”
Dimas menghela napas.
“Gue nggak akan menyuruh lo melupakan semuanya. Tapi jangan sampai lo terus hidup berdasarkan sesuatu yang terjadi setahun lalu.”
Axel menatap lapangan.
“Gue sedang mencoba.”
“Bagus. Dan jangan berubah cuma supaya Nadine menganggap lo orang baik.”
Axel menoleh tajam.
“Gue nggak melakukan ini buat dia.”
“Gue tahu.” Dimas mengangkat kedua tangan. “Gue cuma mengingatkan. Lo punya kebiasaan menjadikan seseorang alasan untuk melakukan sesuatu, lalu marah kalau hasilnya nggak sesuai keinginan lo.”
Axel tidak membantah.
Dimas benar dalam satu hal: ia tidak boleh menggantungkan perubahan dirinya pada penilaian Nadine. Gadis itu bukan hadiah yang akan ia dapatkan jika berhasil menjadi lebih baik.
“Gue cuma ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi,” kata Axel akhirnya.
“Kalau begitu, cari jawabannya. Jangan sibuk mencari orang yang bisa disalahkan sebelum lo punya bukti.”
Dimas menepuk bahunya sekali sebelum kembali ke kelas.
Axel tetap berada di sana beberapa saat.
Ada sesuatu yang mengganggunya sejak pertemuan dengan Pak Hendra. Bukan hanya catatan yang tidak selesai, melainkan satu percakapan lama yang baru sekarang terasa penting.
Ia belum ingat semuanya.
Namun, ia mulai yakin bahwa ada seseorang yang mengetahui lebih banyak daripada yang pernah ia sadari.
---
Sore hari, Nadine kembali bekerja di tempat fotokopi Pak Udin.
Setelah pelanggan terakhir pergi, ia membuka laptop untuk menyelesaikan surat motivasi beasiswanya. Ia memperbaiki dua kalimat, memeriksa persyaratan dokumen, lalu menyimpan berkas.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Axel.
Axel: Gue baru ingat sesuatu tentang pemeriksaan hari itu
Nadine menghentikan pekerjaannya sejenak.
Nadine: Apa?
Axel: Beberapa hari setelah keputusan awal, ada seseorang yang bilang pemeriksaan gue belum tentu selesai. Dia bilang masih ada catatan yang harus diperiksa.
Nadine membaca pesan itu dua kali.
Nadine: Siapa orangnya?
Balasan Axel datang setelah beberapa menit.
Axel: Gue belum yakin. Gue ingat percakapannya, tapi belum ingat jelas siapa yang ngomong.
Nadine tidak buru-buru membalas. Ia mencoba menilai informasi itu tanpa menarik kesimpulan terlalu jauh.
Nadine: Orang itu bisa saja tahu ada rencana pemeriksaan lanjutan. Kita belum tahu apakah dia tahu hasilnya atau nggak?
Axel: Gue tahu. Gue nggak mau menuduh siapa-siapa.
Nadine: Kalau lo bisa mengingat tempat atau kapan persisnya, itu mungkin membantu sekolah.
Axel tidak menjawab selama beberapa menit.
Lalu satu pesan masuk.
Axel: Gue ingat sekarang. Percakapan itu terjadi di dekat ruang kesiswaan, setelah gue diminta mengembalikan kartu akses ruang kegiatan. Orang itu bilang, “Jangan anggap keputusan awal sebagai akhir. Masih ada yang harus diperiksa.”
Nadine duduk lebih tegak.
Kalimat itu terdengar cukup spesifik untuk menjadi petunjuk, tetapi belum cukup untuk membuktikan apa pun.
Nadine: Lo ingat apakah orang itu guru atau siswa?
Axel: Gue belum bisa memastikan. Yang jelas, dia tahu ada pemeriksaan lanjutan sebelum gue tahu prosesnya belum selesai.
Nadine memandang layar ponsel.
Itulah bagian yang berbeda.
Bukan sekadar seseorang pernah mengatakan bahwa masalahnya belum berakhir, melainkan seseorang yang mengetahui adanya proses pemeriksaan lanjutan ketika Axel sendiri tidak pernah menerima hasilnya.
Nadine: Coba ingat pelan-pelan. Jangan memaksakan ingatan. Besok lo bisa menyampaikan hal ini ke Pak Hendra sebagai informasi tambahan, bukan tuduhan.
Axel: Iya. Gue bakal bilang apa adanya.
Nadine meletakkan ponsel dan kembali ke surat motivasinya. Ia tidak akan membiarkan persoalan itu mengambil alih semua waktunya. Axel memiliki hak untuk mencari jawaban, tetapi ia juga harus belajar melakukannya tanpa menyerahkan seluruh kendali hidupnya kepada masa lalu.
Di rumah Pratama, Axel mencoba mengingat kembali koridor di dekat ruang kesiswaan. Ia mengingat kartu akses di tangannya, suara langkah kaki, dan kalimat singkat yang saat itu dianggapnya tidak penting.
Wajah orang yang mengucapkannya masih kabur.
Namun, kini Axel memiliki sesuatu yang lebih konkret daripada sekadar perasaan bahwa ada hal yang tidak beres: tempat percakapan itu terjadi dan kalimat yang ia ingat.
Ia belum tahu apakah ingatannya cukup akurat. Ia juga belum tahu apakah orang tersebut benar-benar mengetahui sesuatu yang penting.
Tetapi jika catatan sekolah menyebutkan bahwa pemeriksaan lanjutan pernah direncanakan, dan seseorang pernah mengatakan hal yang sama kepadanya, keduanya layak diperiksa bersama.
Axel membuka percakapannya dengan Nadine sekali lagi, membaca pesan terakhir gadis itu, lalu menyimpan ponselnya.
Kali ini, ia tidak ingin berhenti mencari tahu hanya karena jawaban yang tersedia belum lengkap.
Mungkin, selama setahun terakhir, Axel bukan satu-satunya orang yang mengingat kejadian di gedung olahraga itu. Ada seseorang yang mengetahui bahwa ceritanya belum selesai—dan untuk pertama kalinya, Axel memiliki petunjuk di mana ia harus mulai mencari.