Novia Maharani itu paket lengkap masalah: ratu bolos, langganan BK, dan hobi bikin rusuh di sekolah. Tapi hidupnya berbalik 180 derajat saat dijodohkan paksa dengan Reyhan Aldebaran, Ketua OSIS paling dingin, perfeksionis, dan kaku se-antara jagat.
Tinggal seatap dengan musuh bebuyutan itu neraka. Reyhan benci kekacauan, sedangkan Novia adalah kekacauan itu sendiri. Namun, di balik sikap pemberontak Novia, ada luka masa lalu yang ia sembunyikan dengan tawa. Dan di balik wajah datar Reyhan, ada rahasia yang membuatnya enggan menyentuh cinta.
Saat tembok pertahanan mereka mulai runtuh oleh perhatian kecil yang bikin baper, rahasia keluarga dan ego remaja mengancam segalanya. Bisakah si pembuat onar dan si Ketua OSIS belajar dewasa bersama, atau pernikahan ini justru menghancurkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terjebak 10.
Pemandangan di dekat mading itu mendadak blur di mata Novia.
Caca masih sibuk mengoceh di sebelahnya, menyuarakan kekaguman atas betapa serasinya dua manusia di ujung lapangan sana.
Namun, suara Caca perlahan menyublim, kalah telak oleh suara gemuruh di dada Novia sendiri.
Suami. Satu kata itu terlintas, lalu buru-buru Novia bunuh dalam benaknya. Gila. Dia tidak boleh memikirkan kata itu.
Hubungan mereka hanya transaksi di atas kertas yang sah secara hukum, tapi mati secara rasa.
"Ca," potong Novia tiba-tiba, suaranya terdengar serak bahkan di telinganya sendiri.
"Eh? Kenapa, Nov?" Caca menoleh, menatap sahabatnya bingung.
"Gue titip tas. Kalau guru nanya, bilang aja gue di UKS," ujar Novia datar. Sebelum Caca sempat membalas, Novia sudah melepaskan almamater sekolahnya, menyisakan kemeja putih yang lengannya langsung dia gulung hingga siku. Dia menyerahkan tas ranselnya ke pelukan Caca, lalu berbalik arah dengan langkah lebar.
"Nov! Lo mau ke mana? Bentar lagi bel masuk!" teriakan Caca diabaikannya.
Novia butuh oksigen. Tempat ini terlalu menyesakkan.
Setiap sudut koridor seolah menertawakan status rahasianya yang mengenaskan.
Dia tidak pergi ke UKS. Langkah kakinya membawa Novia menuju pagar belakang sekolah—sebuah area mati yang berbatasan langsung dengan tanah kosong dan bangunan mangkrak yang sering disebut anak-anak sebagai 'Benteng Belakang'.
Di sana, pembatas betonnya sudah runtuh sebagian, menyisakan celah yang cukup untuk dilewati tubuh remaja.
Begitu berhasil melompati reruntuhan beton, aroma asap rokok dan deru mesin motor langsung menyambutnya.
Di tanah lapang yang berdebu itu, sekitar sepuluh motor sport dan matic modifikasi terparkir sembarangan.
Sekumpulan cowok berjaket jin belel dan kaus hitam sedang nongkrong.
Mereka adalah bagian dari geng motor lokal yang sering memicu masalah, tapi bagi Novia saat ini, mereka adalah pengalih perhatian terbaik dari rasa sakit di dadanya.
"Woi, lihat siapa yang dateng! Tuan putri Pelita Bangsa bolos lagi!" teriak salah satu cowok berambut cepak bernama Jafran. Dia melempar puntung rokoknya dan menyeringai.
Novia berjalan mendekat tanpa rasa takut. Dia duduk di atas kap mobil rongsokan yang ada di sana, melipat kedua tangannya di dada. "Gue butuh sebat atau apa pun yang bisa bikin otak gue gak mikir. Ada?"
Jafran terkekeh, melemparkan satu kaleng soda dingin yang langsung ditangkap Novia. "Muka lo kayak orang abis patah hati, Nov. Kenapa? Ditolak cowok?"
"Bukan urusan lo," sahut Novia ketus. Dia meneguk sodanya rakus, membiarkan sensasi dingin dan sodanya membakar tenggorokan. Matanya menatap lurus ke depan, tapi bayangan tangan Laura yang merapikan dasi Reyhan justru makin tercetak jelas di otaknya.
'Kenapa gue harus sesakit ini? Dia cuma cowok egois yang terpaksa tinggal satu atap sama gue' batin Novia merutuk.
Kuku-kukunya mencengkeram kaleng aluminium itu hingga agak penyok.
"Halah, sok misterius. Tapi gapapa, gabung aja. Hari ini kita juga lagi males tarikan. Santai-santai aja di sini sampai siang," sahut anak geng motor lainnya.
Suasana benteng belakang itu bising oleh tawa kasar dan obrolan cowok-cowok ini.
Novia hanya diam, sesekali menanggapi dengan senyum sinis.
Namun, di dalam hatinya, dia bersyukur. Kebisingan ini setidaknya bisa menenggelamkan suara-suara di kepalanya yang terus memutar kalimat kejam Reyhan tadi pagi:
‘Lo pikir gue ke sana karena peduli? Gue ke gudang karena kalau lo mati di sekolah, nama baik keluarga gue yang bakal hancur. Paham?’
**
Tiga puluh menit berlalu.
Angin siang mulai berembus kering, menerbangkan debu-debu tanah. Novia baru saja hendak turun dari kap mobil untuk berniat pergi mencari suasana lain, ketika tiba-tiba salah satu anak geng yang berjaga di dekat tikungan jalan berteriak panik.
"Woi! Pengepungan! Ada razia!"
Suasana santai itu instan berubah menjadi kekacauan total.
"Razia apa brengsek?! Polisi?" tanya Jafran panik, langsung melompat ke atas motornya.
"Bukan! Polisi Pamong Praja sama tim eksekusi wilayah! Mereka bawa dua mobil bak terbuka di ujung jalan depan, dan dari arah hutan belakang mereka jalan kaki! Kita dikepung!"
Mendengar kata 'dikepung', jantung Novia mencelos.
Deru mesin motor langsung bersahutan, meraung-raung memecah keheningan benteng belakang.
Anak-anak geng motor itu panik setengah mati. Mereka tidak peduli lagi satu sama lain, yang ada di pikiran mereka hanya bagaimana menyelamatkan motor-motor mereka agar tidak diangkut ke kantor dinas sosial atau polsek terdekat.
"Jafran! Tunggu!" teriak Novia, mencoba mengejar Jafran yang motornya paling dekat dengannya.
Namun, kepanikan membuat orang menjadi egois. Jafran langsung menggas motor sport-nya, melesat melewati celah sempit di antara puing bangunan, meninggalkan kepulan asap hitam dan debu yang membuat mata Novia perih. Cowok-cowok lain pun sama, mereka memacu kendaraan mereka ke segala arah yang masih terbuka, kabur kocar-kacir.
Dalam hitungan detik, tanah lapang itu sepi. Yang tersisa hanyalah Novia sendirian, berdiri di tengah kepulan debu.
"Itu di sana! Ada satu anak sekolah! Jangan sampai lolos!"
Suara bentakan berat bersahutan dari arah balik reruntuhan bangunan.
Novia menoleh panik. Beberapa pria berseragam khaki cokelat khas Satpol PP tampak berlari ke arahnya dengan wajah garang.
Dari arah jalan keluar utama, sebuah mobil patroli dengan sirine berdenging nyaring sudah menutup jalur.
Jalur kanan, kiri, depan, dan belakang semuanya sudah tertutup rapat.
Novia melangkah mundur. Kakinya tersandung batu, membuatnya hampir terjatuh. Dia menatap ke sekeliling dengan napas memburu dan dada yang bergemuruh hebat karena takut.
Dia memakai seragam sekolah Pelita Bangsa—sekolah elite yang sangat menjaga reputasi.
Jika dia tertangkap basah membolos bersama geng motor liar dan diangkut oleh mobil Satpol PP, tamatlah riwayatnya.
Pihak sekolah pasti akan memanggil wali keluarga nya.
"Hei! Berhenti di tempat! Jangan mencoba kabur!" teriak salah satu petugas yang jaraknya kini hanya tinggal sepuluh meter dari tempat Novia berdiri.
Novia membeku. Langkah kaki para petugas itu terdengar makin mendekat, mengepungnya dari segala penjuru. Dia terjebak, sendirian, tanpa ada satu pun jalan untuk meloloskan diri.
......................
...****************...
Tbc,