Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.
Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.
Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.
Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.
Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.
Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.
Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?
Ikuti kisahnya yuk...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Tangis Dalam Sujud
Anisa melangkah pelan memasuki kamar. Pintu ia tutup tanpa suara.
Gus Hafiz masih terlelap, wajahnya damai. Berbeda dengan dadanya yang terasa porak-poranda.
Ia berdiri beberapa detik di tepi ranjang. Lalu berbalik menuju kamar mandi.
Air wudu membasahi wajahnya.
Saat air itu menyentuh kulitnya, entah kenapa air matanya ikut jatuh. Bercampur. Mengalir tanpa bisa dibedakan mana air wudu, mana air mata.
“Ya Allah…” lirihnya nyaris tak terdengar.
Selesai berwudu, ia keluar. Tangannya mengambil sajadah. Digelarnya di sudut kamar, menghadap kiblat.
Malam terasa sunyi.
Hanya ada lampu tidur redup dan suara napas suaminya yang teratur.
Anisa berdiri, mengangkat tangan, lalu takbir.
Salatnya panjang. Bacaan-bacaannya tersendat karena tangis yang ia tahan.
Ketika sujud pertama, bahunya mulai bergetar. Di sujud terakhir, ia tak segera bangkit. Keningnya menempel lama di sajadah.
Dan di situlah semuanya pecah.
“Ya Allah…” suaranya hancur. “Jika Engkau memang yang menuliskan hamba ter lahir dari rahim seorang ibu yang dipandang hina, hamba tetap ridho dengan takdir-Mu… tapi kenapa hatiku Engkau buat selemah ini?”
Isaknya pecah, tertahan namun dalam.
“Hamba tidak pernah minta dilahirkan dari perempuan yang dibenci… Hamba tidak pernah minta menjadi sebab luka orang lain…”
Tangannya mencengkeram sajadah.
“Jika kelahiran hamba sebagai aib… kenapa Engkau biarkan hamba tumbuh mencintai rumah yang ternyata tidak pernah benar-benar menerima, hamba-Mu ini?”
Air matanya membasahi kain sajadah.
“Ya Rabb… jikalau satu saat Suami hamba tahu, hamba lahir dari sebuah pengkhianatan… apakah beliau masih akan memilih Hamba?”
Isaknya makin keras.
“Hamba takut, Ya Rabb… takut kehilangan satu-satunya orang yang memelukku tanpa syarat…”
Di atas ranjang, Gus Hafiz bergerak.
Isak yang pelan itu akhirnya sampai ke telinganya.
Ia membuka mata perlahan. Duduk.
Matanya langsung tertuju pada sosok istrinya yang bersujud lama.
Tangis itu bukan tangis biasa. Itu tangis yang seperti membawa seluruh beban hidup.
Gus Hafiz terdiam.
Wajahnya berubah. Ada tanya. Ada khawatir.
Apa yang sedang istrinya adukan pada Sang Maha Pemilik hidup?
Ia tidak mendekat.
Tidak menyentuh.
Tidak memanggil.
Ia hanya duduk di tepi ranjang, menatap Anisa yang masih tersungkur dalam sujudnya.
Anisa kini terisak tanpa ditahan.
“Ya Allah… jika memang nasabku hina di mata manusia… jangan jadikan aku hina di mata-Mu…”
Kalimat itu membuat dada Gus Hafiz terasa sesak.
Ia menggenggam selimut tanpa sadar.
“Kalau Engkau ingin mengujiku… jangan dengan memisahkanku dari suamiku…”
Tangisnya kembali pecah.
Gus Hafiz menunduk.
Ia tak tahu apa yang terjadi.
Tapi satu hal jelas, istrinya sedang membawa luka yang sangat dalam kepada Rabbnya di sumut malamnya.
Dan ia memilih menunggu.
Menunggu sampai Anisa selesai mengadu.
Karena ada tangis yang tidak bisa disembuhkan dengan pelukan.
Hanya bisa dikuatkan… setelah selesai berserah kepada Tuhan.
Selesai salam, Anisa belum sempat melipat sajadahnya ketika tiba-tiba sepasang tangan menariknya ke dalam pelukan hangat.
Gus Hafiz.
Pelukan itu erat. Kokoh. Seolah takut ia runtuh kalau dilepas sedetik saja.
Anisa terkejut, tapi detik berikutnya ia membalas pelukan itu dengan lebih kuat. Tangisnya yang tadi ditahan kini pecah tanpa sisa.
Gus Hafiz mengelus punggungnya perlahan. Naik turun, tenang, sabar.
“Ada apa…” bisiknya lembut di telinga istrinya. “Cerita… pelan-pelan.”
Anisa terisak. Ia menjauh sedikit, menatap wajah suaminya yang penuh tanya namun tidak menghakimi.
Matanya merah. Basah.
“Jika aku cerita… apa Gus akan tetap bersikap sama?” suaranya bergetar. “Apa Gus akan tetap memelukku seperti saat ini?”
Gus Hafiz menyipit pelan, bukan karena marah, melainkan karena mencoba membaca luka yang tersembunyi di mata istrinya.
Dengan kedua tangannya, ia menangkup wajah Anisa. Mengusap air matanya dengan ibu jarinya.
“Nisa…” suaranya dalam, tenang. “Pelukan Mas bukan hadiah untuk orang yang sempurna.”
Anisa menahan napas.
“Pelukan ini untuk istriku.”
Ia mendekatkan keningnya ke kening Anisa.
“Kalau kamu cerita tentang masa lalu… itu tidak akan mengubah siapa kamu hari ini. Mas menikahimu bukan karena kisah sebelum kamu lahir.”
Air mata Anisa kembali jatuh, tapi kali ini tidak sepedih tadi.
“Takdir kelahiran bukan pilihan kita,” lanjutnya lembut. “Tapi cara kita hidup setelah itu… itu pilihan.”
Ia mengusap pipi istrinya lagi.
“Kalau kamu lahir dari dosa orang tuamu, itu bukan dosamu. Kalau kamu tumbuh dari keluarga yang hancur, itu bukan salahmu.”
Napas Anisa tersendat.
“Yang Mas lihat setiap hari adalah kamu yang bangun sebelum subuh. Kamu yang mencium tangan Mas setiap pagi. Kamu yang menjaga kehormatan dan adabmu.”
Ia tersenyum tipis.
“Kalau cerita itu berat… Mas tidak akan pergi. Kalau itu pahit… Mas tidak akan melepaskan.”
Anisa terisak lagi.
“Nisa takut sekali, Gus…”
Gus Hafiz memeluknya kembali, lebih erat.
“Mas tidak menjanjikan dunia ini tidak akan berubah,” bisiknya. “Tapi selama Mas masih jadi suamimu… Mas akan tetap memelukmu seperti ini.”
Ia mencium ubun-ubun istrinya lama.
“Kamu bukan masa lalu orang tuamu. Kamu adalah amanah Mas.”
Tangis Anisa perlahan berubah menjadi isak yang lebih tenang.
Di dalam pelukan itu, untuk pertama kalinya malam ini, rasa takutnya sedikit mereda.
Karena yang ia butuhkan bukan jawaban panjang.
Hanya kepastian… bahwa ia masih dicintai tanpa syarat.
Tapi setelahnya, Anisa menggeleng pelan dalam pelukan itu. Tangannya mencengkeram baju Gus Hafiz seolah takut kehilangan.
“Bagaimana jika Romo dan Umi menolak nasabku, Gus…?” suaranya serak. “Bagaimana kalau mereka tahu nasabku… darahku bukan dari wanita salehah…”
Gus Hafiz mengernyit. Ia menjauh sedikit agar bisa melihat wajah istrinya dengan jelas.
“Nisa… apa yang sebenarnya kamu sembunyikan?”
Pertanyaan itu lembut, tapi tegas.
Anisa menatapnya lama. Lalu seperti bendungan yang jebol, semua keberaniannya runtuh.
“Nisa bukan anak Mama Sarah, Gus…”
Napas Gus Hafiz tertahan.
“Ibuku… bukan beliau. Ibuku bernama Tantri.”
Air mata kembali mengalir.
“Ibuku..." ada jeda disana.
"Ibuku...seorang wanita malam…Gus.Papa menikahi ibuku cecara diam-diam karena alasan keturunan. Pernikahan itu… dibangun dari pengkhianatan.”
Suaranya pecah.
“Pada akhirnya Mama Sarah tahu. Mama marah. Ibuku dipaksa menggugurkan kandungannya… tapi beliau menolak. Hingga beliau melahirkan Aku. Dan beliau meninggal saat aku baru berusia lima hari.”
Anisa menunduk dalam-dalam.
“Aku bukan anak yang lahir dari keluarga terhormat seperti yang Gus kira. Aku hanya anak dari pernikahan rahasia. Anak dari perempuan dunia malam.”
Tangisnya kembali pecah.
“Kalau Romo dan Umi tahu… kalau keluarga besar tahu… apa mereka masih akan menerimaku? Apa Gus masih akan setenang ini memelukku?”
Sunyi beberapa detik.
Gus Hafiz tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap Anisa dalam-dalam.
Ia mengangkat dagu istrinya perlahan.
“Sudah selesai ceritanya?”
Anisa mengangguk pelan.
Gus Hafiz menghela napas panjang.
“Nisa… dengarkan Mas baik-baik.”
Ia menangkup wajah Anisa dengan kedua tangannya.
“Pertama. Dosa orang tua tidak diwariskan pada anaknya. Itu prinsip Islam.”
Suaranya mantap dan tegas.
“Kedua. Perempuan yang bertaubat dan mempertahankan anaknya di tengah tekanan untuk aborsi… itu bukan perempuan hina. Beliau wanita hebat, wanita kuat, seperti kamu.”
Anisa membeku.
“Mas tidak melihat ibumu sebagai aib. Mas melihat beliau sebagai ibu yang memilih melindungi nyawa anaknya meski sendirian.”
Air mata Anisa mengalir lagi, kali ini berbeda rasanya.
“Ketiga,” lanjut Gus Hafiz, “Mas menikahimu bukan karena Mama Sarah itu kerabat Umi. Mas menikahimu karena kamu, Sarah Fadillah.”
Gus Hafiz, menarik Anisa ke dalam pelukan lagi.
“Kalau Romo dan Umi bertanya, Mas yang akan berdiri di depan. Kalau ada yang menolak, Mas yang akan menjawab.”
Suaranya kini lebih tegas.
“Kamu istriku. Pilihan Mas. Dan Mas tidak pernah menyesal memilihmu.”
Anisa terisak di dadanya.
“Mas tidak peduli kamu lahir dari istana atau dari lorong gelap. Selama kamu menjaga imanmu… kamu tetap wanita yang Mas pilih.”
Ia mengusap rambut Anisa lembut.
“Dan kalau pun seluruh dunia mempermasalahkan nasabmu…”
Ia mengangkat wajah Anisa sekali lagi.
“Mas akan tetap mempertahankan kamu di sisi Mas.”
Tangis Anisa pecah lagi, tapi kali ini bukan karena takut.
Melainkan karena… ia merasa tidak sedang membawa beban itu sendirian ada suami yang berdiri tegak di sisinya.