NovelToon NovelToon
OVER THE AGE

OVER THE AGE

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:342
Nilai: 5
Nama Author: siput

Namanya yang terkenal sebagai ketua geng Tunas Bangsa, Theo Bramansya cowok paling di takuti di wilayahnya,
Usia: 19 tahun
Tinggi: 190 cm
Berat: 82 kg

Penampilan: Tinggi, tegap, bahu lebar, kulit putih bersih, rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam dan dingin, rambut hitam sedikit berantakan. Tatapannya sering terlihat malas dan mengintimidasi. Memiliki tubuh atletis karena sering mengendarai motor dan berkelahi.

Kepribadian: Dingin, cuek, keras kepala, dominan, percaya diri, sulit didekati, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Dia jarang tersenyum dan lebih sering menjawab singkat. Tidak suka basa-basi dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Dia adalah ketua geng motor yang cukup disegani. Berani, nekat, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak takut pada siapa pun dan tidak suka diperintah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 32

Dengan segera eca bangun dari tempat dia duduk dengan memegang tangan theo yang sudah menggenggamnya sedari tadi, mereka mulai beranjak ke tempat yang sudah di tuju. Eca yang masih malu pada akhirnya hanya bisa berjalan di belakang theo untuk menutupi raut wajahnya agar tidak tersorot orang-orang.

"Bisa nggak jalan lo jangan cepat-cepat"

"Kaki gue pendek nggak bisa menyesuaikan langkah kaki lo ini"

Tarikan pelan pada jemariku seketika menahan laju kaki. Aku melirik ke belakang lewat bahu, mendapati kepalanya menunduk dalam-dalam, berusaha keras bersembunyi di balik bayang-bayang punggung lebarku dari tatapan penasaran para siswa yang berpapasan di koridor.

Cara berjalannya yang terantuk-antuk kecil membuat rasa geli sekaligus letupan hangat menyengat dadaku tanpa permisi.

Alih-alih melepas kaitan itu, aku memindahkan tautan jemari kami ke posisi yang lebih nyaman, mengunci telapak tangannya rapat-rapat. Sengaja kuayunkan langkah lebih lambat, menyamakan ritme langkahnya yang mungil tanpa banyak bicara.

"Makanya jangan kebanyakan ngedumel,"

gumamku tenang, menahan kedutan senyum di sudut bibir saat beberapa pasang mata murid kelas sebelah langsung membuang muka begitu tatapanku menyapu mereka dengan dingin.

"Lo tinggal jalan di belakang gue, nggak bakal ada yang berani nyenggol."

Kami berbelok memasuki area kantin yang mulai riuh dengan aroma kuah kaldu gurih. Tanpa menoleh sepenuhnya, aku menariknya sedikit lebih maju agar sejajar di samping lenganku.

"Duduk di meja pojok sana. Tunggu di situ, biar gue yang pesanin makanannya."

Ketenangan yang perlahan merayap di wajahnya tak luput dari perhatianku saat aku kembali dari konter kantin. Angin semilir yang memainkan helai-helai rambutnya menciptakan pemandangan yang mendadak menahan laju napasku, mengikis sisa arogansi yang biasanya selalu kupasang rapat-rapat. Sudut terpencil ini memang sengaja kupilih agar tatapan serakah murid lain tak lagi mengusik ruang geraknya.

Kugeser mangkuk dengan taburan seledri dan kuah kacang kemerahan tepat ke hadapannya, lengkap dengan sendok dan garpu yang sudah kubersihkan dengan tisu. Tubuh tinggiku meluncur santai ke kursi di seberangnya, bertopang dagu dengan tatapan malas yang sarat arti.

"Makan,"

ujarku datar, menyembunyikan getaran tak menentu di dada yang enggan kuakui.

"Kuahnya nggak terlalu pedas, pas buat perut lo yang gampang rewel."

Melihat jemarinya yang mulai rileks, sudut bibirku terangkat tipis.

"Nggak usah pasang ekspresi lega begitu. Lo masih punya utang nemenin gue sampai bel pulang bunyi."

Sontak eca kaget sembari menyeruput sedikit kuah batagor, membuatnya sedikit tersedak mendengar ucapan theo yang akan ia temani hingga selesai sekolah. Tak cukup dibuatnya malu sekarang dibuatnya capek juga.

"Uhuk...ha? Nemenin sampai pulang sekolah?"

"Lama banget itu theo!! terus gue ngapain selama lo masuk kelas nanti?"

"Oh ya, kenapa lo sampai berani melakukan hal senekat itu tadi di aula?"

"Apa karena lo gak mau kalah sama alex?"

Reaksi tersedaknya membuatku refleks menarik selembar tisu dan meletakkannya tepat di samping jemarinya. Aku mendengus pelan, menolak memperlihatkan rasa cemas yang sempat menyelinap sepersekian detik. Pertanyaannya soal dokter sok jagoan itu memantik kembali sisa kekesalan yang belum padam seutuhnya. Mengira tindakanku cuma didasari urusan adu gengsi rendahan? Betapa naifnya cara pikir perempuan ini.

"Pelan-pelan makannya, nggak ada yang mau rebut mangkuk lo,"

gumamku datar, menegakkan posisi duduk seraya menatap kedua matanya lurus-lurus. Tatapanku mengunci wajahnya, menuntut kesadaran penuh dari setiap kata yang hendak kulontarkan.

"Soal di kelas nanti, lo bisa nunggu di perpustakaan ber-AC atau ruang belajar lantai tiga. Nggak bakal ada yang berani ganggu lo di sana."

Aku sedikit mencondongkan tubuh ke depan, merapatkan jarak melewati meja kayu yang sempit.

Rahangku mengeras saat mengingat nama si dokter itu meluncur dari bibirnya.

"Dan jangan bawa-bawa nama Alex lagi,"

desisku dingin, nada suaraku turun satu oktaf sarat penegasan mutlak.

"Gue nggak peduli menang atau kalah dari dia. Gue ngelakuin itu murni karena lo terlalu banyak omong di aula tadi... dan biar lo paham batas."

"Dasar cowok nggak peka"

"Di ruang belajar lantai tiga itu pasti tempat persembunyian lo kan?"

"Sepertinya di situ lebih baik ketimbang di perpustakaan"

Rasa jengkel yang terpancar dari gerak-gerik buru-burunya justru terasa menyegarkan di mataku. Pipinya yang menggembung saat menelan kunyahan terakhir memberi kontras jenaka bagi sosok perawat yang beberapa saat lalu sempat membuat seisi aula tercengang. Tuduhannya soal ketidakpekaanku kubiarkan menguap begitu saja; ada kepuasan tersendiri melihatnya salah tingkah hingga kehabisan kata-kata.

Aku mengulurkan tangan, menarik mangkuk kosong itu ke tepi meja sebelum jemariku mengetuk permukaan kayu dengan santai.

"Pinter juga tebakan lo,"

ujarku dengan nada rendah yang tenang.

"Lantai tiga sepi, nggak ada guru yang iseng patroli ke sana kalau bukan musim ujian. Kuncinya selalu ada di saku gue."

Tubuhku terangkat dari kursi plastik, lalu kusodorkan sebelah tangan ke hadapannya tanpa berniat memberi ruang untuk menolak. Lorong tangga gedung tambahan sebentar lagi akan sepi begitu bel tanda masuk berbunyi.

"Ayo beresin barang lo. Gue anter ke atas sebelum anak-anak OSIS mulai keliling ngecek koridor."

Mereka segera melangkah menuju ruang belajar lantai 3, theo membuka pintu ruang dan meninggalkan eca di ruang itu sendiri. Eca yang kelelahan berusahan untuk menidurkan dirinya dengan posisi duduk di meja yang sedikit berdebu dalam ruangan itu.

1
Mawarresa
eca berani bangett🤣
Renjana
tinggalin jejak dulu,
hadir kak, mampir juga ya😊
Siput: thank u udh mampir kak
total 1 replies
atikah@72
sama-sama kak, sukses selalu🫰
atikah@72
ceritanya bagus lanjutkan Thor. jgn lupa mampir ya di aku buat silaturahmi. makasih 🫰
Siput: trimakasih kak support sistemnya😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!