Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 - TERJEBAK DI RUANG SERVER
Dengung rendah dari unit catu daya darurat Uninterruptible Power Supply (UPS) mengalun monoton di dalam ruangan berdinding kedap suara itu. Suhu udara di dalam ruang server lantai dua Gedung Elektronik Sentral yang biasanya dingin membeku perlahan mulai merambat hangat, seiring matinya sistem pendingin udara utama sejak jaringan listrik kota tumbang. Di tengah kegelapan yang hanya diterangi oleh kerlipan lampu LED hijau dan merah dari deretan rak server jangkung, seorang wanita muda duduk meringkuk di atas kursi kantor beroda.
Nancy mengusap kacamatanya yang berembun dengan ujung lengan sweter abu-abunya yang kebesaran. Lingkaran hitam tebal melingkupi kedua matanya yang lelah, memperlihatkan betapa ia telah bertahan tanpa tidur selama lebih dari dua puluh empat jam terakhir. Jemarinya yang kurus dan bergetar mengencangkan ikatan rambut ekor kudanya yang sudah berantakan.
Jeduk... sreet...
Suara hantaman tumpul menghantam bagian luar pintu besi tebal ruang server, disusul oleh suara gesekan kuku-kuku keras yang mencakar permukaan logam tanpa henti.
Nancy tersentak kaku, merapatkan lututnya ke dada.
Di balik pintu besi berpasak ganda yang mengunci ruang server tersebut, koridor lantai dua gedung elektronik kini dipenuhi oleh belasan zombie terinfeksi spora Cordyceps. Nancy ingat betul bagaimana kekacauan berdarah itu meletus kemarin sore. Sebagai salah seorang teknisi sistem jaringan dan pengelola server di gedung ini, ia sedang berada di ruang kontrol ketika jeritan histeris dari area showroom lantai dasar memecah ketenangan. Ia berhasil berlari menyusup ke ruang server pusat dan memicu penguncian otomatis berakses biometrik tepat beberapa detik sebelum gerombolan monster berspora menyerbu koridor.
Namun, keselamatan itu dibayar dengan isolasi total. Ruang server yang rapat dan aman ini kini berubah menjadi sangkar besi bertembok dingin tanpa makanan dan pasokan air.
"Daya cadangan tinggal tiga belas persen." gumam Nancy seraya menatap layar terminal komputer utama di hadapannya.
Di layar monitor enam belas inci itu, sebuah bilah indikator baterai berwarna kuning berkedip-kedip pelan. Di sampingnya, layar antarmuka perangkat lunak transmiter radio menunjukkan status transmisi darurat yang dipancarkan secara berulang. Papan sirkuit radio yang dirakitnya secara darurat dari komponen transmiter sisa terhubung langsung ke mikrofonsistem panggilan gedung.
"Tolonglah... siapa pun di luar sana, dengarkan sinyal ini." bisik Nancy seraya menempelkan kedua telapak tangannya yang dingin di pipi.
Nancy menggeser tetikus komputernya, memindahkan tampilan layar utama ke antarmuka pemantauan kamera pengawas CCTV gedung. Dari tiga puluh dua unit kamera yang terpasang di seluruh kompleks pertokoan empat lantai ini, hanya ada enam kamera yang masih mendapatkan suplai arus listrik dari baterai cadangan lantai dua.
Nancy mengklik ikon kamera nomor empat yang mengarah langsung ke koridor tepat di luar pintu ruang servernya.
Layar menampilkan gambar sudut atas beresolusi sedang yang diwarnai garis-garis gangguan sinyal. Di koridor yang remang-remang itu, sekitar belasan zombie berdiri dan meliuk kaku. Beberapa di antaranya memiliki gumpalan kerak jamur berwarna kehitaman yang sudah menutupi wajah atas mereka. Salah satu zombie dengan pakaian seragam staf toko yang robek terus menempelkan dahinya ke daun pintu besi ruang server, mengeluarkan suara derik kaku yang terdengar samar dari pengeras suara monitor.
Nancy dengan cepat mengalihkan pandangannya dari layar koridor karena merasa mual. Ia mengklik ikon kamera nomor delapan yang memantau area lorong pintu samping luar di lantai dasar gedung.
Awalnya, layar kamera luar itu hanya menampilkan pemandangan gang sepi yang dipenuhi pecahan kaca, balok kayu rubuh, dan bayangan abu-abu kabut spora yang melayang lambat.
Namun, sebuah pergerakan mendadak di sudut kiri bawah layar membuat mata Nancy terbelalak seketika.
Ia dengan cepat mendekatkan wajahnya ke layar monitor, menekan tombol perbesar tampilan tiga kali lipat.
Tiga sosok manusia muncul dari balik tumpukan kardus besar di lorong luar.
Sosok paling depan adalah seorang wanita jangkung berseragam taktis hitam dengan busur panah besar menggantung anggun di dadanya. Di belakang wanita itu, seorang pria bertubuh sangat kekar dengan kemeja robek menggenggam erat sebatang pipa besi tebal yang dipenuhi noda darah mengering. Sementara sosok ketiga adalah seorang pemuda berkacamata yang memeluk ransel militer besar dengan raut wajah sangat tegang.
"Ada orang... ada penyintas yang datang!" seru Nancy pelan dengan mata berbinar harapan.
Airmata kelegaan menetes hangat di pipi Nancy tanpa bisa ditahan. Setelah berjam-jam terkurung dalam ketakutan murni di tengah kegelapan ruang server, melihat keberadaan manusia bernapas yang bergerak dengan kesadaran penuh terasa bagaikan keajaiban luar biasa.
Nancy mengamati gerakan ketiga orang itu di layar CCTV dengan cermat. Wanita pemanah itu bergerak dengan ketenangan dan kepatuhan taktis yang amat mengagumkan—setiap langkahnya tidak menimbulkan getaran suara, matanya terus memindai titik buta bangunan. Ketika seekor zombie terinfeksi mendadak keluar dari balik pintu samping, wanita itu melepaskan tembakan anak panah secara instan tanpa ragu sedikit pun, melumpuhkan sang zombie dalam satu detik tanpa menimbulkan suara gaduh.
"Luar biasa..." bisik Nancy takjub melihat keahlian bertarung wanita tersebut.
Namun, rasa kagum Nancy seketika berubah menjadi kepanikan baru ketika ia melihat arah pergerakan ketiga orang itu. Pria kekar bersenjata pipa besi itu tampak menunjuk ke arah tangga darurat menuju lantai dua—rute terdekat yang akan membawa mereka langsung menuju koridor depan ruang server tempat belasan zombie berkumpul.
"Jangan lewat sana! Di atas sana ada jebakan!" jerit Nancy tertahan seraya memukul meja komputernya.
Dari layar CCTV koridor lantai dua, Nancy tahu betul bahwa jika ketiga orang itu membuka pintu tangga darurat tanpa persiapan, mereka akan langsung disambut oleh serbuan belasan zombie yang terdesak di gang sempit. Kelompok itu akan terkepung tanpa rute melarikan diri.
Nancy memutar otak dengan sangat cepat. Jemarinya yang lincah menari di atas papan ketik komputer, memutus panggilan siaran otomatis transmiter radio daruratnya. Ia mengalihkan frekuensi pemancar radio rakitannya ke frekuensi gelombang pendek lokal yang terhubung dengan modul penerima radio darurat bertenaga baterai yang dibawa oleh penyintas di luar.
Ia meraih mikrofom berkabel fleksibel di meja, mendekatkannya ke bibir dengan napas yang memburu tegang.
"Cek... tes... untuk kelompok tiga orang di pintu samping lantai dasar!" kata Nancy dengan suara jernih dan bergetar menahan tekanan emosi.
Di layar CCTV kamera luar, Nancy melihat wanita pemanah dan pria kekar itu mendadak menghentikan langkah mereka di depan pintu tangga. Pria kekar itu merogoh saku kemejanya, menarik keluar sebuah radio penerima kecil hitam yang baru saja menangkap sinyal suara Nancy secara langsung.
"Tolong dengarkan saya baik-baik!" seru Nancy cepat melalui Mikrofon, matanya bergantian menatap layar kamera luar dan kamera koridor lantai dua.
"Nama saya Nancy, teknisi yang terjebak di ruang server lantai dua. Jangan gunakan tangga darurat utama! Koridor lantai dua persis di luar pintu saya dipenuhi oleh belasan zombie berspora tebal. Kalau kalian naik lewat sana, kalian bakal langsung terkepung di gang sempit!" lanjut Nancy menjelaskan dengan penuh kepastian taktis.
Di layar kamera luar, wanita pemanah itu mengangguk pelan ke arah radio di tangan rekannya, mengisyaratkan bahwa mereka memahami peringatan tersebut. Wanita itu kemudian mendongak menatap lurus ke arah lensa kamera CCTV tempat Nancy memantau mereka.
Nancy menelan ludah kaku, merasakan getaran komunikasi dua arah pertama dalam kiamat ini.
"Saya punya peta lengkap layout gedung ini dan titik-titik kamera yang aman. Gunakan tangga servis teknisi di balik toko kamera sebelah kanan kalian. Jalur itu bersih dari zombie." pandu Nancy seraya menekan tombol pembuka kunci pintu servis bawah dari terminal komputernya.
Kkrik... bzzzt...
Di layar CCTV, pintu besi kecil di sebelah kanan lorong terbuka sedikit, memancarkan celah cahaya remang-remang.
Nancy bersandar di kursi kantornya, menghela napas panjang yang amat lega. Harapan hidupnya yang tadinya hampir padam kini menyala terang kembali. Kelompok penyintas bersenjata lengkap itu telah tiba di dalam gedungnya, dan dengan panduan teknologi dari ruang servernya, pertarungan untuk saling menyelamatkan baru saja dimulai.