Aurora kira pertemuannya dengan Bima cuma kebetulan. Tapi semakin dekat, semakin dia sadar cowok itu menyembunyikan banyak hal — dia tahu hal-hal yang belum pernah diceritakan siapa pun, dan selalu bicara soal "38.000 langkah" yang belum selesai.
Saat Bima akhirnya berjanji akan datang menemuinya, justru kabar kecelakaan yang datang. Bima pergi, meninggalkan sebuah kotak misterius. Dari sana Aurora mulai menelusuri jejak Bima, dan menyadari bahwa pertemuan mereka sama sekali bukan kebetulan. Bima sudah berjalan jauh, melewati banyak hal berat, cuma untuk sampai ke hatinya.
Walau tak bisa bertemu lagi, cinta Bima sudah sampai tujuan di hati Aurora, selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 — Langkah yang Semakin Jauh
Hari-hari setelah membaca surat Bima rasanya kayak aku buka jendela yang selama ini tertutup rapat. Udara segar masuk, dan aku sadar, rumahku nggak gelap lagi. Kalung yang dia titipkan selalu aku pakai ke mana-mana. Kadang aku lupa kalau itu ada, sampai sesuatu menempel di dadaku pas aku jalan cepat, terus aku senyum sendiri. Rasanya kayak dia pegang tanganku pelan dari dalam sana, bilang jangan takut, aku di sini kok.
Aku mulai bikin rencana yang lebih besar dari sekadar jalan-jalan keliling sekitar rumah. Buku sketsa Bima punya daftar tempat yang mau dia kunjungi, dan aku bertekad untuk ke semuanya, satu per satu. Bukan dalam sebulan atau setahun, tapi pelan-pelan, nikmati setiap tempat, rasakan setiap momen, persis kayak yang dia mau. Aku mau bawa cerita dari setiap tempat itu pulang, lalu tuliskan di buku catatanku, supaya dia juga ikut tahu gimana rasanya berdiri di sana.
Tempat pertama di daftar setelah bukit yang sudah aku kunjungi adalah sebuah pantai di pinggir kota yang nggak terlalu jauh. Bima pernah tulis di pinggir gambarnya: "Pasirnya putih bersih, ombaknya nggak terlalu besar. Di sana rasanya dunia itu luas dan kita cuma bagian kecil yang berharga." Aku berangkat pagi banget, naik kereta yang berjalan pelan melewati sawah dan desa-desa kecil. Dari jendela aku lihat orang-orang mulai beraktivitas, ada yang ke ladang, ada yang buka warung, anak-anak jalan beriringan ke sekolah. Setiap orang punya perjuangannya masing-masing kan. Setiap orang sedang menempuh langkahnya sendiri, entah itu menuju kebahagiaan, keberhasilan, atau sekadar bertahan hidup hari itu. Bima ngajarin aku untuk menghargai perjalanan itu, bukan cuma tujuannya.
Pas sampai di pantai, anginnya segar banget. Aroma air laut langsung menyambut, ombak memecah pelan di bibir pantai bunyinya menenangkan banget. Aku jalan telanjang kaki di atas pasir yang hangat terkena matahari pagi. Pasirnya halus banget, persis kayak yang dia gambarkan. Aku cari batu besar yang dia tandai di gambarnya, duduk di sana, dan diam lama banget mendengarkan suara ombak. Di saku baju aku bawa buku sketsanya, kubuka di halaman pantai ini, bandingkan gambarnya dengan pemandangan aslinya. Dia menggambar langit yang luas, cakrawala tempat laut bertemu langit, dan satu siluet orang yang berdiri menghadap ke depan. Tulisannya di bawah gambar: "Suatu hari nanti kita berdiri di sini berdua, nggak perlu banyak ngomong, cukup tahu kalau kita ada untuk satu sama lain."
Aku tarik napas dalam-dalam, lalu bicara pelan ke arah ombak yang datang dan pergi.
"Aku di sini Bima. Pemandangannya indah banget, kamu benar. Dunia ini luas banget, dan kita memang kecil, tapi kehadiran kita berarti kan? Makasih udah ajak aku ke sini walau kamu nggak bisa berdiri di sebelahku secara langsung. Aku dengerin suara ombak ini buat kita berdua. Tenang aja ya, aku nikmati setiap detiknya. Aku nggak buru-buru pulang. Kita di sini sebentar lagi, bareng-bareng."
Aku tinggal di sana sampai matahari mulai tinggi. Berjalan di sepanjang bibir pantai, mengumpulkan kerang kecil yang warnanya cantik, duduk sebentar di bawah pohon kelapa sambil menulis apa yang kurasakan di bukuku. Nggak ada rasa sedih yang berat. Cuma rindu yang hangat, dan rasa syukur karena dia udah membawaku sampai ke sini.
Saat aku pulang ke rumah sore itu, aku merasa hatiku penuh banget. Bukan karena aku pergi ke tempat indah, tapi karena aku sadar, kebahagiaan nggak harus menunggu orang lain datang untuk menemani kamu menikmatinya. Kamu bisa menikmatinya sendiri, sambil membawa kenangan orang yang kamu sayang di hatimu. Itu juga kebersamaan kan?
Beberapa hari kemudian aku mulai cerita soal perjalananku ke tempat-tempat di buku sketsa Bima. Aku tulis pengalamanku, pasang foto pemandangannya, dan cerita apa yang aku rasakan pas berdiri di sana. Orang-orang yang membacanya ikut senang. Banyak yang bilang mereka ikut merasa bepergian lewat tulisanku, banyak yang jadi terinspirasi untuk mulai menjelajah tempat-tempat di sekitar mereka juga. Ada yang bilang ceritaku bikin mereka berani pergi sendirian untuk pertama kalinya. Rasanya luar biasa banget. Bukan karena aku terkenal, tapi karena langkah kecil yang kuambil ternyata mendorong orang lain untuk juga melangkah. Bima pasti senang banget melihat ini. Dia selalu percaya kalau kebaikan itu menular dengan caranya sendiri yang lembut.
Kadang aku masih bertemu ibunya Bima. Kita minum teh bareng, cerita soal hal-hal kecil, kadang tertawa mengingat kebiasaan Bima yang lucu. Dia cerita Bima waktu kecil suka menyembunyikan permen di saku bajunya buat dibagikan ke teman-teman di sekolah. Aku cerita Bima suka duduk diam lama banget seolah dia sedang ngobrol dengan dunia sendiri. Kita menyatukan kepingan-kepingan cerita tentang dia, dan semakin aku tahu banyak soal dia, semakin aku sadar betapa beruntungnya aku pernah dicintai oleh seseorang sebaik dia.
Suatu sore ibunya memberiku sebuah tas kain buatan tangannya sendiri. Ada bordir bunga kecil dengan tiga kelopak di bagian depannya. "Buat kamu bawa barang-barang saat kamu bepergian. Biar dia ikut menjagamu dari jauh," katanya sambil tersenyum lembut. Aku terima dengan mata berkaca-kaca. Tas itu jadi barang yang paling berharga yang aku punya. Di dalamnya selalu ada buku catatanku, pulpen, buku sketsa Bima, dan air minum. Ke mana pun aku pergi, tas itu ikut di sampingku. Rasanya kayak aku bawa bagian dari keluargaku bersamaku.
Aku nggak tahu sampai mana perjalananku nanti. Mungkin aku nggak akan bisa ke semua tempat di buku sketsa itu tahun ini atau tahun depan. Nggak masalah. Yang penting aku terus berjalan, terus melihat, terus belajar, terus menceritakan kebaikan yang pernah diajarkan Bima ke aku. Setiap langkah yang kuambil adalah penghormatan buat dia, dan juga hadiah buat diriku sendiri. Karena Bima mengajarkanku, hidup itu bukan soal menunggu badai berlalu, tapi belajar melihat keindahan di saat hujan pun turun.
Malam itu aku tulis di halaman baru bukuku:
"Perjalanan Bima mungkin selesai, tapi perjalanan kita terus. Setiap orang yang kita temui, setiap tempat yang kita kunjungi, setiap kebaikan yang kita bagikan, itu semua adalah langkah yang masih berjalan. Bima ada di sana, di depan, menunjuk jalan dengan senyumnya yang tenang, bilang teruslah berjalan, karena yang terpenting bukan tujuan, tapi siapa kamu yang tumbuh di sepanjang perjalanan itu."
Aku menutup bukuku, menyentuh liontin di dadaku, lalu tersenyum ke arah jendela yang terbuka ke langit malam. Terima kasih udah menemani aku sejauh ini. Besok aku jalan lagi. Pelan-pelan, tapi pasti.