Alethea adalah seorang kurator museum yang bekerja di museum national gallery art di Washington. Dia sudah dua tahun ditingga! suaminya yang meninggal akibat kecelakaan ski. Suatu hari, dia mendapatkan kiriman lukisan wajahnya. Pengirimnya tertanda dari kota kecil di Irlandia. Alethea diutus oleh bossnya untuk mencari pelukisnya. Tidak mudah untuk mencari hingga dia tiba di desa kecil bernama Cedliff. Di sebuah hotel desa dia bertemu dengan Satoru Shinoda yang terkejut melihatnya. Tanpa Alethea tahu, Satoru adalah pelukisnya. Satu pertanyaan. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya tapi bagaimana Satoru bisa melukis wajah Alethea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Si Pengirim
Satoru menemani Alethea menuju ke kantor pos kecil yang ada di desa Cedliff. Keduanya memilih berjalan kaki karena menurut Satoru, lebih seru sambil menikmati pemandangan desa itu. Alethea melihat pepohonan tampak rimbun dan rindang, membuat suasana menjadi syahdu tapi juga mistis. Mengingatkan Alethea dengan novel-novel fantasi yang dia baca selama ini.
“Hawanya enak dan pemandangannya sangat indah,” ucap Alethea.
“Makanya aku mengajak kamu berjalan kaki, bukan naik mobil agar tahu bagaimana indahnya desa Cedliff,” jawab Satoru.
“Kamu sendiri sudah berapa lama bolak balik kemari?” tanya Alethea.
“Sudah empat tahun ini. Sejujurnya, aku menemukan desa ini juga tidak sengaja. Saat itu aku ada pekerjaan di Dublin dan setelahnya aku merasa jenuh. Aku menyetir mobilku sesuai hati saja dan menyasar kemari. Aku langsung jatuh cinta dengan desa ini. Jujur, itu pengalaman nyasar yang seru,” jawab Satoru.
“Lalu kamu bertemu dengan Susan?”
Satoru mengangguk. “Yup. Sejak itu aku bersahabat baik dengan Susan.”
“Yang niatnya buat liburan dan refreshing, akhirnya mendapatkan tempat yang nyaman ya?” senyum Alethea.
“Benar. Bisa dibilang blessing in disguise? Dan sejak itu, setiap ada kesempatan liburan, aku pasti kemari. Tempatnya tenang dan tidak banyak orang.” Satoru menunjuk ke sebuah rumah yang ada papan nama di sana. “Kamu lihat itu?”
Alethea melihat ke arah rumah yang dimaksud. “Tempat apa itu?”
“Itu adalah satu-satunya toko kelontong yang ada di desa ini. Bukanya dari jam delapan pagi hingga jam enam sore. Hari Minggu tutup. Jika kamu lupa membeli camilan atau makanan di hari Sabtu malam, selamat! Besok di hari Minggu, kamu akan kelaparan,” jawab Satoru.
Alethea tertawa. “Pengalaman pribadi?”
“Benar,” ujar Satoru jumawa.
Keduanya pun tersenyum bersama. Sepanjang perjalanan menuju kantor pos, Alethea mendapatkan banyak informasi dari Satoru. Pria berdarah campuran itu sangat hapal dengan desa kecil itu. Hingga akhirnya mereka tiba di kantor pos kecil yang dikelola oleh dua kakak beradik, Hannah dan Henry. Mereka mewarisi kantor pos itu dari ayahnya yang dikenal sebagai pegawai pos Royal Irlandia yang teladan.
“Wah Satoru. Kamu datang bersama si …a ….pa….” Suara Henry menghilang saat melihat Alethea. “Ya Tuhan. Kamu … kamu si gadis dalam lukisan!”
Alethea menatap Satoru bingung. “Apakah lukisan wajah aku sangat terkenal di sini?”
“Ya! Sangat terkenal! Bahkan kami bingung apakah kamu benar-benar nyata atau tidak ….” Henry mengusap dagunya. “Ya Tuhan. Sungguh aku tidak menduganya.”
“Henry! Apa-apaan sih? Kamu kok ….” Sebuah suara feminim terdengar dari dalam dan tampak seorang gadis dengan rambut merah ikal yang mengingatkan Alethea dengan tokoh Merida di film Brave, keluar menemui mereka. Gadis itu memekik saat melihat wajah Alethea. “Oh My God! Kamu itu … Tunggu!”
“Hannah! Kamu mau ngapain?” panggil Henry saat melihat kakaknya menghampiri Alethea.
“Memastikan apakah dia manusia atau peri,” jawab Hannah sambil menatap Alethea dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Kamu manusia kan?”
Alethea tertawa kecil lalu mengulurkan tangannya. “Alethea, kurator dari museum di Washington DC.”
“Kurator? Tunggu. Kamu kemari karena …?” Hannah menatap Alethea bingung.
“Mencari tahu siapa pengirim lukisan yang berwajah aku di museumku,” jawab Alethea.
Hannah dan Henry saling berpandangan. “Waduh!”
***
Hannah meneliti alamat yang diberikan oleh Alethea dan wanita itu bingung karena dua kakak beradik itu masih memakai cara lama, buku besar dengan tulisan tangan. Alethea menatap keduanya yang masih memindai satu persatu buku catatan mereka.
“Kenapa kalian tidak pindah ke digital?” tanya Alethea penasaran.
“Penduduk Cedliff hanya ada sekitar tiga ratus jiwa dan kami saling mengenal satu dengan lainnya. Tidak perlu memakai digital jika di kami. Tapi kami tetap mendapatkan informasi dari ponsel kami yang berhubungan dengan kantor pos Royal pusat,” jawab Hannah tanpa mengalihkan pandangannya dari buku besar itu.
“Lagipula, kami hapal dengan paket-paket penduduk sini. Yang paling rutin adalah obat-obatan dari rumah sakit. Bukan apa-apa, kami agak jauh jika harus ke kota besar. Meskipun kami ada dokter desa tapi obat-obatan banyak yang harus dikirim dari kota,” timpal Henri.
Alethea menoleh ke Satoru yang hanya berdiri sambil bersedekap. “Kamu benar Satoru, desa ini menyenangkan.”
“Benar kan?” balas Satoru.
“Ketemu! Pengirimnya adalah Jack Patrick Junior. Tapi lukisannya sekitar tahun lalu dikirimnya,” seru Hannah.
“Tahun lalu?” tanya Alethea.
“Memangnya, kamu dapat kapan?” tanya Henry.
“Sekitar hampir dua minggu lalu,” jawab Alethea.
“Tunggu, Jack Senior meninggal tahun lalu dan Jack Junior mulai menjual beberapa barangnya.” Hannah tampak berpikir.
“Dan Jack Junior mengirimkan lukisan itu beberapa saat setelah ayahnya meninggal,” timpal Henry. “Lalu bagaimana bisa lukisan itu baru sampai dua minggu lalu di Washington?”
Keempat orang itu tampak berpikir di area kantor pos yang menyatu dengan rumah kakak beradik tersebut. “Ini aneh. Karena berdasarkan alamat yang ada di kertas pembungkusnya, memang dikirim dari kantor pos kami,” ucap Henri.
“Benar. Tapi apakah aku bisa meminta alamat Jack Junior?” tanya Alethea. “Aku ingin berbicara dengannya.”
“Bisa saja tapi aku sarankan jangan malam ini. Dengar, sekarang sudah pukul empat sore dan biasanya, orang-orang di sini lebih suka tidak diganggu di jam istirahatnya. Kecuali akhir pekan yang biasanya berkumpul sambil menonton sepakbola,” jawab Hannah.
Alethea mengangguk. “Baiklah. Aku minta alamatnya saja dan besok kesana. Bagaimana Satoru?”
“Aku temani,” jawab Satoru.
Alethea tersenyum senang. “Terima kasih.”
*** bersambung ***
ayo kita ke pojokan Nin, kita ketawa bareng 🤣🤣🤣🤣
Duh moga kalian akan terus bersama hingga menua hingga ujung usia