Lima tahun aku menikah dengan mas pramudia dan di karuniai anak satu laki laki yang sekarang berusia empat tahun, mas Pram adalah kakak angkatku lulusan teknik sipil, aku rela menjadi ibu rumah tangga setelah lulus kuliah demi menemani beliau mulai dari nol, aku meminta teman ku yang anak pengusaha untuk investasi ke perusahaan suamiku sehingga perusahaan properti mas Pram maju dan berkembang tapi setelah pamit kerja keluar kota, tiba tiba dia bawa madu untukku, kemudian dia pura pura bangkrut untuk mengurangi jatah nafkah ku dan tidak dapat harta gono gini bila menuntut cerai, dikira aku sangat mencintai dan bertahan, Karena aku tidak berpenghasilan, mereka meremehkan aku. ku bikin bangkrut beneran biar tahu rasa, laki laki seperti itu yang tidak tahu terima kasih yuk ikuti ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama ende, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17 Mengajukan Gugatan Cerai
Selesai sarapan bubur, Zidan aku ajak berangkat sekolah sepeda motor sudah di panasi dan di siap kan oleh mas Pram, sekarang aku tinggal berangkat saja dan tadi Zidan di kasih uang saku.
Aku memacu sepeda motorku menuju sekolah Zidan, tak lama sudah sampai dan Zidan aku titipkan ke gurunya aku juga bilang ke penjaga sekolah kalau nanti pulangnya Zidan di jemput pak Bayu, dan aku kasih fotonya.
Aku pun berangkat ke pengadilan agama ternyata di pengadilan antri juga, padahal lembaga ini nggak pernah promosi yang kayak saingannya promosi nya pakai tepuk sakinah segala, tapi tetap sepi, hadeh pikiranku ngelantur kemana mana, perlu mengucapkan astaghfirullah.
Aku nunggu antrian sambil duduk nunggu nomerku di panggil untuk daftar dan mengisi formulir, kemudian berkas yang sudah di foto kopi ku jadikan satu di dalam map ku serahkan, ternyata begini saja menghabiskan waktu setengah hari.
Ku hubungi Mita dan ternyata anakku sudah di sana, ku telephon kata nya sudah makan siang, jadi dia minta jajanan saja, di perjalanan ada orang jualan pastel premium jadi aku beli untuk mereka, aku beli dua kotak, untuk Oma dan Mita, dan untuk Zidan ku belikan roti isi sosis.
Aku mampir dulu ke apartemen Oma, aku akan ambil tabletku yang kemarin aku tinggal di sana, Oma belum tidur siang karena dia masih makan siang, ku berikan satu kotak pastel buat mereka,
" Oma makan sedikit saja mon itu ada pastel" kata Oma ke Mona
Mona pun Menganti menu yang di siapkan Mona berupa kentang kukus dan telornya, katanya buat makan nanti, sekarang di ganti pastel dan susu saja.
Oma sudah tua jadi makan nasi cuma sedikit kadang dia malah nggak makan nasi.
Aku di buatkan secangkir kopi, oleh Mona dan aku juga makan pastel sambil bercerita, kalau aku sudah daftar cerai.
" kenapa kamu nggak pakai jasa pengacara saja nduk lebih praktis" tanya Oma.
" Biar saja Oma, kalau aku pakai jasa pengacara di kira banyak duwit oleh mas Pram, padahal memang duwitku banyak tapi aku sembunyikan" jawabku sambil ketawa.
"Mbak Erina hebat di khianati bukan menangis atau drop, tapi tambah banyak duwit makin menyala nggak" kata Mona
" Itu juga karena Oma Lidya mon, kalau bukan karena Oma aku rugi besar pasti hartaku ikut di habiskan mas Pram jadi yang hebat itu Oma" jawabku
" Ya begitulah nduk kita jadi wanita itu harus cerdas, tidak tergantung dengan suami, kalau suami kita baik, sih nggak apa apa, tapi kalau suaminya perhitungan kita di hina dan di pandang sebelah mata, kadang uang nafkah juga di ungkit, apalagi kalau suami sudah kecantol wanita lain hadeh pasti akan menjadi suami antagonis" kata Oma Lidya panjang lebar.
Oma benar ,dia sudah banyak pengalaman dalam menjalani kehidupan dan sekarang dia tetap kaya raya di usia tua, katanya dulu dia kerja keras membesarkan cucu nya ketika putrinya meninggal, dengan meninggal kan dua orang anak, sedangkan menantunya menikah lagi dan lupa pada anak anaknya.
" Siap oma, setelah ketuk palu dan sah aku akan menjadi janda kaya raya, apalagi kalau saham ku terjual akan ku alihkan jual beli mobil second, kerja sama dengan Bayu dan Mita" jawabku mantap
" Bagus, nggak ada ya meratap setelah cerai, tapi jadi janda kaya raya setelah cerai" kata Oma puas.
" katanya uang belum tentu dapat membawa kebahagian Oma?" tanya Mona
" kalau uangnya sedikit sayang, kalau banyak ya pasti membuat bahagia dong" jawab Oma sarkas
Aku hanya tersenyum dengan pendapat Oma karena aku setuju dengan pendapat beliau.
Aku segera pamit mau kerumah Bayu, tapi aku mengambil tabletku labih dulu dikamar, dan aku lanjut ke rumah Bayu, sampai di sana ternyata Zidan tidur di kamar tamu,
Ku kasih pastel yang tadi ku beli kemudian aku izin sholat dan istirahat Kepada Mita, di kamar yang di tiduri Zidan dan Mita mengizinkan, jadi sekarang aku pun tidur di sampingnya Zidan.
Aku di bangunkan Zidan karena sudah sore,
" Bund sudah sore ayo pulang waktunya ngaji" ajak Zidan
" Mbak sepeda motor kamu sudah laku, dan semua perabot mu sudah laku, tinggal kulkasnya, setelah di potong harga sepeda yang baru ini ada sisa lima belas juta, aku masukan rekening kamu ya" kata Bayu
" kok banyak Bay itu sudah di potong administrasi dan laba kamu?" tanya ku
" Sudah mbak, itu saja kulkas kamu belum terjual nanti uangnya menyusul" kata Bayu.
" Jangan di tranfer di rekening yang itu tapi yang baru saja dan aku minta cas dua juta buat pegangan" jawabku
Bayu pun mentransfer di rekening lain, di rekening yang di buatkan mas pram biar saja isinya sedikit kalau di periksa mas Pram biar dia tahu, kalau transferan dari Oma ku bilang saja gajiku.
Ku kasihkan anaknya Mita lima ratus ribu kemudian aku segera pulang ke kos, sampai di kos Zidan mandi dan pamit berangkat ngaji,
" Dek kamu nggak masak, mas lapar itu warung depan nggak jualan" kata mas pram.
" Bentar lagi ada bakso lewat mas, atau ada lontong kikil" jawabku
" Kalau gitu bikinkan kopi deh" kata dia
Aku bikinkan kopi buat dia dan dia duduk di bangku panjang, kemudian ada lontong kikil lewat aku belikan buat dia dan dia makan dengan lahap,
" kamu kok sampai kelaparan mana Dewi lampirmu, nggak kuat masak?" tanya ku
" jangan keras keras dek, nanti dia bangun makananku di habiskan tadi sudah makan rujak satu bungkus, Kemudian dia tidur kekenyangan" jawab dia.
" Kalau beli makan yang banyak biar dia nggak kekurangan gizi," kata ku
" Sudah banyak dek, dia saja yng makannya banyak, kadang beli dua bungkus juga di habiskan sendiri, aku hanya kebagian sedikit" jawab mas Pram.
" Itu kompor bawa ke kosmu sama Dewi biar kalian bisa masak, kan kalian sama, makannya banyak" kata ku
" Kalau gitu aku nggak bisa minta kopi sama kamu dek" jawab dia seenaknya
" Ya minta kopi sama Dewi lah, kan dia istri kesayangan mu" jawabku
" Sama dek aku juga sayang kamu, tapi kamu akhir akhir ini ketus, jadi mas nggak berani sama kamu" jawab dia
" Aku ketus juga ada sebabnya, dan yang membuat aku ketus ya kamu sendiri" jawabku
" Maafkan lah dek nanti aku tidur di sini empat hari dan di kamar Dewi tiga hari" kata dia merayu.
" Ogah ah, aku jijik nanti ada bau lampir di kamarku, lagian aku benci punya suami yang sering jajan apem di luar sana, padahal kan sudah ada apem hangat di rumah" jawabku
" Maaf dek mas khilaf, sulit sekali sih kamu maafkan mas padahal kamu kan istri yang mas perjuangkan" kata dia
" Kamu ini mau menipu aku apa, yang kamu perjuangkan itu Dewi mikir dong pakai otak udahlah sudah magrib aku ke mushola dulu, percuma kalau berdebat dengan orang yang berpikiran mesum, dan mau menang sendiri" jawabku
Kemudian aku masuk ke dalam kamar ambil uang dan mukena, ku kunci pintu kamarku dan ku bayarkan lontong kikil yang di makan mas Pram, aku langsung pergi ke musola tempat anakku ngaji sekalian jamaah sholat Maghrib di sana.
Bersambung.
terimakasih sudah update 😀👍
penasaran gmn nasib pram klo udah beneran bangkrut