NovelToon NovelToon
Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Senja Juliani Putri

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.

Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.

Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.

Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 - Nadira yang Berubah

Satu bulan khidmah Nadira selesai.

Sebulan dia membersihkan perpustakaan putri, menata buku, mengepel lantai perpus yang debunya tebal, dan menulis refleksi 5 halaman yang harus dikumpulkan ke Ustazah Khadijah tiap minggu.

Awalnya dia mengerjakan dengan dongkol. Merasa dihukum tidak adil.

Tapi lama-lama, pas lagi membersihkan perpus sendirian, dia melihat rak-rak buku. Banyak buku yang ada nama Muthi'ah di kartu pinjamnya. Muthi'ah Azzahra, pinjam Kitab Fathul Qorib, pinjam Kamus Al-Munawwir.

Nadira baru sadar, Muthi'ah itu bukan hanya "calon istri putra kiai" yang dia gosipkan. Muthi'ah itu santriwati yang benar-benar rajin ke perpus.

Sedangkan dia? Juara pidato sekali, juara kaligrafi sekali. Tapi selalu merasa kalah pamor.

Hari terakhir khidmah, Ustazah Khadijah memanggil Nadira ke kantor. Membaca refleksi minggu ke-4 nya dulu.

"Nadira, bagaimana sebulan ini? Apa yang kamu pelajari?" tanya Ustazah Khadijah.

Nadira menunduk.

"Saya belajar kalau saya iri, Ustazah," jawab Nadira pelan, jujur.

Ustazah Khadijah tersenyum, "Iri kenapa?"

Nadira menarik napas, "Saya iri sama Muthi'ah. Dia pintar, dia juara terus, dia disayang ustazah, dan... Gus Jay juga dekat dengan dia. Saya merasa, prestasi saya tidak pernah dilihat. Saya merasa kalau saya dekat dengan Gus Jay, saya baru akan dianggap. Makanya saya foto, saya crop, saya sebar. Biar Muthi'ah jelek, biar saya kelihatan lebih baik."

Ustazah Khadijah mengangguk, tidak marah.

"Bagus kamu jujur, Nadira. Iri itu manusiawi. Semua orang pernah iri. Yang tidak boleh itu irinya dijadikan fitnah. Sekarang, kamu mau apa setelah ini?" tanya Ustazah.

Nadira diam sebentar, "Saya ingin berbicara dengan Muthi'ah, Ustazah. Bukan minta maaf yang dibuat-buat. Saya ingin mengaku kalau saya iri. Saya ingin damai, meskipun tidak langsung jadi sahabat."

Besok sorenya, Muthi'ah dipanggil ke kantor Ustazah Khadijah. Dia kaget melihat Nadira sudah duduk di sana.

Muthi'ah agak takut, masih trauma. Duduk agak jauh.

Ustazah Khadijah membuka omongan, "Muthi'ah, Nadira sudah selesai masa khidmahnya. Dia ada yang ingin dibicarakan ke kamu. Ustazah di sini hanya menemani."

Nadira menatap Muthi'ah. Mukanya tidak ada make up tebal seperti biasanya, hanya jilbab polos.

"Muthi'ah," kata Nadira, suaranya pelan, agak bergetar.

"Muthi'ah, saya minta maaf. Tapi bukan maaf yang biar kamu memaafkan saya terus kita sahabatan gitu. Saya mau mengaku, saya iri dengan kamu," kata Nadira, jujur.

Nadira melanjutkan, "Saya dari keluarga donatur, dari kecil dibilang harus jadi yang terbaik biar dihargai. Saya juara pidato, juara kaligrafi, tapi tidak pernah ada yang melihat seperti mereka melihat kamu yang juara kitab kuning. Terus pas Gus Jay dekat dengan kamu, saya makin iri. Saya pikir, kalau saya bisa membuat kamu jelek, saya akan kelihatan lebih baik. Makanya saya foto payung itu, saya crop, saya sebar."

Muthi'ah diam, mendengarkan.

"Saya tidak minta kamu langsung memaafkan saya dan jadi teman saya. Saya tahu luka yang saya buat tidak hilang sebulan. Saya hanya mau kamu tahu, saya sudah sadar saya salah. Dan saya ingin damai. Kita sapa kalau bertemu, tidak usah saling menjauhi. Itu saja sudah cukup buat saya," kata Nadira.

Muthi'ah menarik napas. Sebulan lalu, dia benci sekali dengan Nadira. Tapi sekarang melihat Nadira bicara jujur seperti ini, rasa bencinya agak luntur.

"Nadira, makasih sudah jujur," kata Muthi'ah pelan.

Nadira kaget Muthi'ah bicara lembut.

"Saya maafkan kamu. Saya tidak bisa langsung jadi sahabat kamu seperti Dina, Zahra, Salsa, tapi saya mau damai. Kalau bertemu di perpus, kita sapa. Kalau bertemu di kelas, tidak usah saling sinis lagi. Saya capek musuhan," kata Muthi'ah.

Nadira mengangguk, air matanya menetes satu, "Makasih, Muthi'ah."

Ustazah Khadijah yang melihat, tersenyum lega.

"Nah begitu. Damai itu tidak harus langsung jadi sahabat. Damai itu berhenti musuhan, berhenti iri, mulai melihat orang lain sebagai saingan yang sehat, bukan musuh yang harus dijatuhkan."

Mereka salaman. Salaman yang canggung, tapi jujur.

Sorenya, di perpus, Nadira lagi menata buku terakhir. Muthi'ah masuk, mau mengembalikan kamus.

Mereka bertemu di lorong rak. Sempat canggung.

Nadira duluan menyapa, "Mau mengembalikan buku?"

Muthi'ah menjawab, "Iya."

Hening sebentar, lalu Nadira berkata, "Eh, makasih ya tadi."

Muthi'ah tersenyum, "Sama-sama."

Lalu mereka lewat, masing-masing melanjutkan urusannya. Tidak jadi sahabat akrab, tidak mengobrol panjang. Tapi tidak ada sinis, tidak ada tatapan benci lagi.

Malamnya, di kamar 7, Muthi'ah cerita ke Dina, Zahra, Salsa.

"Tadi gue salaman sama Nadira di kantor Ustazah. Damai," kata Muthi'ah.

Dina kaget, "Hah? Serius?"

Zahra tersenyum, "Alhamdulillah. Akhirnya dinding antara mereka runtuh juga."

Dan hari itu, satu antagonis di cerita ini berubah. Bukan jadi malaikat, bukan jadi sahabat dekat, tapi jadi manusia yang sadar dia iri, mengaku, dan ingin damai. Dan itu sudah lebih dari cukup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!