NovelToon NovelToon
Mantan Suami Membuangku Bos Bertato Menikahiku

Mantan Suami Membuangku Bos Bertato Menikahiku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Janda / One Night Stand
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Tiga tahun berbakti sebagai istri seolah tak ada artinya bagi Aira ketika Radit diceraikannya secara mendadak tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka.
Demi kehadiran sekretaris cantik, Aira terpaksa melangkah menembus hujan deras membawa kopernya. Kemalangan tak berhenti di situ; di tengah jalan ia diserang sekelompok preman hingga tak berdaya.
Di saat kritis, sosok pria tinggi bertato bernama Lucas datang menyelamatkannya. Namun, pertolongan itu membawa takdir baru. Dalam pengaruh obat akibat dijebak, Lucas membawa Aira ke hotel. Dengan bisikan "Jangan takut, aku mandul," Aira yang hancur akhirnya memejamkan mata dan pasrah.
Esok harinya, Aira pergi memulai hidup baru dari nol—mencari kontrakan dan pekerjaan. Namun beberapa minggu kemudian, garis dua di alat tes kehamilan meruntuhkan dunianya. Jika Radit sudah lama tak menyentuhnya, maka janin itu jelas milik Lucas. Lantas, apakah pengakuan mandul itu hanya kebohongan manis, atau ada rahasia besar yang sengaja Lucas sembunyikan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Lucas menghembuskan napas lega, lalu memutar kunci pintu utama dan menuntun Aira masuk ke dalam penthouse mewahnya.

Suasana dalam penthouse begitu tenang dan hangat.

Begitu pintu depan terkunci rapat dari dalam, Aira melepas maskernya dan meletakkan tasnya di atas meja konsol.

Ia berbalik menatap Lucas yang sedang melepaskan jas mewahnya.

Aira melipat kedua tangannya di dada. Dengan wajah yang dibuat-buat datar namun matanya memancarkan godaan, ia memiringkan kepalanya sedikit.

"‘Lucas, aku merindukanmu, hm.’" desis Aira pelan, menirukan nada suara manja dan mendayu-dayu ala Merin tadi lengkap dengan ekspresi mimik wajahnya.

Lucas yang baru saja hendak menyandarkan jasnya di sandaran sofa langsung terhenti.

Pria berbadan tegap itu menoleh, menatap calon istrinya yang sedang mengerucutkan bibir kecilnya.

Sudut bibir Lucas perlahan terangkat membentuk lengkungan senyum miring yang sangat tampan.

Langkah kakinya yang panjang melangkah mendekati Aira, mengikis jarak di antara mereka hingga Aira terdesak pelan bersandar pada meja konsol di belakangnya.

"Hm, sepertinya ada yang cemburu nih," goda Lucas dengan suara baritonnya yang rendah dan berat, tepat di hadapan wajah Aira.

Aira mendengus, berusaha memalingkan wajahnya walau pipinya sudah mulai merona merah.

"Siapa yang cemburu? Tidak ada ya! Aku cuma menirukan suaranya yang sangat bergelombang tadi."

"Benarkah?"

Lucas tertawa kecil dan mengepung tubuh Aira dengan kedua tangannya yang bertumpu pada meja di kanan dan kiri pinggang wanita itu.

"Tapi, matamu tidak bisa berbohong, sayang. Wajahmu terlihat sangat tidak ikhlas saat dia memelukku tadi."

"Ya jelas, aku cemburu! Pria yang tadi menyuapiku dan memukul orang di rumah sakit tiba-tiba dipeluk wanita seksi lain, siapa yang tidak kaget?" ucap Aira jujur, membuat Lucas semakin gemas setengah mati pada wanita di hadapannya ini.

Lucas tersenyum hangat melihat guratan cemburu yang menggemaskan di wajah Aira.

Tanpa membuang waktu, tangan kokohnya dilingkarkan di pinggang Aira.

Ia menariknya rapat-rapat ke dalam pelukannya hingga tidak ada celah di antara tubuh mereka.

"Aku ini sebentar lagi akan menjadi seorang papa dari tiga anak sekaligus, sayang. Mana mungkin aku meladeni wanita seperti Merin?" ujar Lucas lembut, menatap dalam-dalam ke manik mata Aira yang bening.

Aira mendongak, menyipitkan matanya sedikit sembari menunjuk dada Lucas dengan jari telunjuknya.

"Janji?"

"Janji, sayang," jawab Lucas mantap tanpa ragu, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat di dahi Aira, membuat seluruh keraguan di hati wanita itu menguap begitu saja.

Sementara itu, di tempat lain, perasaan tidak terima dan sakit hati membakar dada Merin.

Setelah diusir secara halus dari penthouse Lucas, wanita cantik berpakaian seksi itu langsung melajukan mobil mewahnya menuju kediaman megah milik ibunda Lucas.

Begitu sampai di ruang tamu kediaman keluarga besar Lucas, Merin langsung terisak pelan.

Air mata buatan membasahi pipinya yang dipoles make-up mahal saat ia menceritakan seluruh kejadian di penthouse tadi kepada wanita paruh baya bermartabat tinggi yang duduk di hadapannya.

"Tante, Lucas makin dingin sama aku. Dia bahkan lebih membela seorang chef wanita yang dipeliharanya di penthouse daripada aku!" adu Merin dengan nada mendayu-dayu dan penuh drama.

Ibu Lucas, yang duduk anggun sembari menyesap teh hangatnya, hanya menyunggingkan senyum tipis yang tenang.

Tidak ada raut panik atau terkejut sedikit pun di wajahnya yang masih terlihat awet muda.

"Biarlah, Merin. Aku sangat percaya pada putraku," sahut Ibu Lucas dengan nada lembut namun terasa penuh wibawa.

"Lucas itu pria dewasa yang tahu betul apa yang terbaik untuk hidup dan masa depannya."

Merin menggenggam erat jemari Ibu Lucas dengan tatapan memohon, matanya berkaca-kaca menuntut dukungan.

"Tapi, Tante, aku sungguh-sungguh mencintai Lucas! Aku ingin jadi pendamping hidupnya!"

Ibu Lucas menghembuskan napas pelan, menatap Merin dengan tatapan penuh kearifan yang tajam.

Ia mengelus pelan punggung tangan Merin, lalu mengucapkan kalimat sederhana yang langsung menembus dada wanita muda di depannya:

"Merin, cinta itu tidak bisa dipaksakan."

Kalimat tegas dari ibunda Lucas bagaikan tamparan keras yang menemu pipi Merin.

Wanita itu terdiam seribu bahasa, bibirnya gemetar menahan malu dan kekesalan yang membakar dada.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun atau berpamitan, Merin membanting tas mewahnya, berbalik, dan melangkah pergi begitu saja dari rumah megah tersebut.

Ibu Lucas hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tabiat Merin yang kekanak-kanakan.

Tak ingin menyia-nyiakan waktu, wanita paruh baya bermartabat itu segera mengambil ponsel di atas meja dan menekan nomor kontak putra tunggalnya.

Hanya butuh dua kali getaran sebelum panggilan itu diangkat.

"Lucas," sapa sang ibu penuh penekanan.

Di ujung telepon, Lucas yang baru saja selesai mendudukkan Aira di sofa penthouse langsung menghela napas panjang.

Pria itu sudah bisa menebak arah pembicaraan ini.

"Ma, pasti Merin ya yang baru saja datang dan mengadu kalau ada chef perempuan di penthouse-ku?" tebak Lucas datar.

Ibu Lucas menganggukkan kepalanya pelan, meski tau sang putra tak bisa melihatnya.

"Iya. Dia menangis sesenggukan di sini. Jadi, Lucas, siapa wanita itu sebenarnya?"

Lucas terdiam sejenak. Ia melirik Aira yang sedang mengelus perutnya yang masih rata dengan tatapan penuh kehangatan.

Kali ini, kepada sang ibu kandung sendiri, Lucas tak berniat menutupi apa pun.

"Dia calon istriku, Ma," jawab Lucas tegas dengan suara baritonnya yang mantap.

"Dan sekarang, dia sedang mengandung anakku. Kembar tiga."

Deg!

"APA?!"

Ponsel di genggaman sang ibu hampir saja terlepas.

Suara lengkingan kaget sang ibunda terdengar membahana memecah keheningan rumah megah itu.

Wajah anggunnya membelalak sempurna, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Kembar tiga?! Dasar anak nakal kamu, Lucas! Bagaimana bisa kamu menyembunyikan kabar sebesar ini dari Mamamu sendiri?!" omel sang ibu dengan napas terengah-engah antara kaget, marah, dan kegirangan yang tak tertahan.

"Mama tidak mau tahu, Mama akan ke penthouse-mu sekarang juga!"

"Ma, tunggu dulu—"

Tut... tut... tut...

Sebelum Lucas sempat menyelesaikan kalimatnya, sang ibu sudah mematikan sambungan telepon secara sepihak.

Wanita paruh baya itu berdiri dengan tergesa-gesa, memanggil asisten rumah tangganya dengan suara nyaring.

"Pak Supra! Siapkan mobil sekarang! Antarkan saya ke penthouse Lucas detik ini juga!" perintah sang ibu penuh semangat, siap menyergap putra tunggalnya dan menemui calon menantu beserta tiga calon cucunya.

Setelah mematikan sambungan telepon dari sang ibu, Lucas langsung berbalik berniat menemui Aira untuk memberitahu kabar mengejutkan tersebut.

Namun, langkah pria itu langsung terhenti begitu mendapati sisi tempat tidur di kamar utama kosong.

"Aira?" panggil Lucas heran.

Ia melangkah keluar kamar, menelusuri sudut-sudut penthouse yang luas hingga penciumannya menangkap aroma harum masakan yang khas dari arah dapur bersih. Lucas langsung mempercepat langkahnya.

Benar saja. Di balik kitchen island marmer hitam itu, Aira tampak sedang berdiri dengan cekatan, menumis potongan daging dengan irisan pare hijau segar serta tahu susu putih di atas wajan anti lengket.

Melihat wanita yang baru saja keluar dari rumah sakit kemarin pagi kini sudah kembali beraksi di depan kompor, mata Lucas langsung membelalak lebar.

Pria itu buru-buru mendekat dan mengambil alih spatula dari tangan Aira, lalu mematikan kompor seketika.

"Aira! Apa yang kamu lakukan?" protes Lucas dengan nada setengah panik sekaligus gemas, menatap calon istrinya tajam.

"Dokter sudah melarangmu melakukan aktivitas berat di dapur, dan sekarang kamu malah masak?!"

Aira mendengus pelan, menampilkan ekspresi cemberut yang menggemaskan sembari melipat tangan di dada.

"Lucas, aku bosan di kamar terus! Seharian kemarin aku cuma tiduran dan minum obat. Aku baik-baik saja, sungguh. Sesekali memasak tidak akan membuatku sakit."

Sebelum Lucas sempat menceramahi Aira lebih jauh mengenai kesehatan kandungan kembar tiganya, suara bel pintu utama tiba-tiba berbunyi kencang berturut-turut.

Ting tong! Tong! Tong!

Lucas dan Aira saling berpandangan. Belum sempat Lucas melangkah ke depan, suara ketukan pintu yang disusul suara menggelegar sang ibu sudah terdengar dari luar berkat pintu lift pribadi yang terbuka langsung.

"Mana calon menantuku?! Lucas, buka pintunya!" teriak suara seorang wanita paruh baya yang penuh wibawa namun terdengar sangat antusias dari arah lobi penthouse.

Wajah Lucas seketika mengeras kaku. Ia menepuk dahinya pelan, menyadari bahwa ibunya datang jauh lebih cepat dari perkiraannya.

"Ma, tenang, Ma." gerutu Lucas setengah berbisik sembari melangkah cepat menyambut kedatangan sang ibunda yang siap menyerbu masuk ke dalam penthouse.

1
Ariany Sudjana
skak mat Radit, ternyata bayi dalam kandungan si pelacur murahan itu, anak laki-laki lain 🤣🤣😄😄 dan dengan jahatnya kamu bilang Aira mandul? ternyata kamu yang mandul 😄😄🤣🤣
Ariany Sudjana
bisa semakin maju ini hotel Lucas, karena chef Aira kan luar biasa cerdas
Ariany Sudjana
wah berarti pasangan berikutnya Rizal dan Arum yah 😄😄🤣🤣
Ariany Sudjana
skak mat, ternyata si pelacur murahan itu hanya omong besar, ga bisa kan menghabiskan dua puluh ekor ikan kerapu asam manis
gimana Radit, ternyata kamu yang mandul 🤣🤣 jadi anak siapa yang dalam kandungan Mila? kan pelacur murahan yah 🤣🤣
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Mila, ternyata bodohnya kebangetan 🤣🤣 dan gimana ceritanya Lucas yang pemilik hotel tersebut, kamu ejek dan kamu rendahkan, dasar bodohnya kamu, sama dengan Radit dan juga ibu kamu
Ariany Sudjana
ini si pelacur murahan itu yang bodoh, preman yang kamu bayar cerdas sekali
Ariany Sudjana
puji Tuhan, chef Aira benar-benar sudah membuktikan kejeniusan nya dan kelihatan kan si pelacur murahan itu bodohnya kebangetan 😂😂🤣🤣

niat hati menjatuhkan chef Aira, kamu yang akan menghadapi kekuasaan Lucas
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍😍
Ariany Sudjana
tetap waspada ya chef dan Lukas, karena si pelacur murahan itu ga terima kalau Aira hidup dengan baik
Ariany Sudjana
wah chef Aira ngidam ceri 😄🙏
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Mila, yang ada kamu yang akan dikerjai sama preman itu dan kamu salah cari lawan
Iffanaya 😽
lanjut Thor 💪
Iffanaya 😽
kamu salah cari lawan Mila 😏 liat aja apa yg dilakukan Lucas kalo tau apa yg kamu lakukan ke aira
Dew666
💎
my name is pho: Terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Ariany Sudjana
bagus Lucas, kamu harus waspada, jangan biarkan si pelacur murahan dan Mak Lampir itu berbuat kerusuhan di hotel kamu, dan jangan sampai mereka membuat celaka ke Aira
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Siska dna Mila, silakan kalian balas dendam, kalian siap-siap jadi gembel
Ariany Sudjana
puji Tuhan, calon ibu mertua Aira itu baik hati, dan meskipun konglomerat, tidak sombong seperti mantan mertuanya
Ariany Sudjana
skak mat kamu merin, kamu hanya pelacur murahan 😂😂🤣🤣 mama Lucas benar-benar wise, tidak termakan dengan omongan si pelacur murahan itu, kacian deh loe Merin 🤣🤣😂😂
mama kandung yang waras pasti ga akan mau punya menantu pelacur murahan seperti kamu, jadi jelas sekali chef Aira kelasnya jauh di atas kamu
Ariany Sudjana
dasar laki-laki pengecut kamu Radit, kamu sudah menghina Aira. dan kamu pelacur murahan, kamu bilang Aira mandul 🤣🤣🤣😂 dasar bodoh, buktinya Aira mengandung bayi kembar 3, jangan-jangan Radit yang mandul 🤣🤣😂😂 kalau Radit mandul, berarti yang dikandung Mila, anak siapa?
Ariany Sudjana
harusnya jangan hanya diusir pelacur murahan itu, tapi juga dibinasakan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!