NovelToon NovelToon
Kebangkitan Istri Yang Direndahkan

Kebangkitan Istri Yang Direndahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:76.9k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Astrid mengorbankan segalanya untuk keluarga. Namun, pengorbanannya justru dibalas dengan hinaan.

Setelah melahirkan, tubuh Astrid berat badannya naik drastis hingga membuat Lucas, suaminya yang seorang dokter, merasa malu memiliki istri sepertinya. Tak hanya itu, Marta, sang mertua, juga menganggap Astrid sebagai wanita tidak berguna karena tidak memiliki pekerjaan maupun prestasi yang bisa dibanggakan.

Puncaknya terjadi saat Lucas dan Marta mempermalukannya di depan banyak tamu undangan. Harga dirinya diinjak-injak tanpa belas kasihan, seolah seluruh pengorbanannya selama ini tidak pernah berarti. Hari itu, Astrid memutuskan untuk berhenti menangis.

Dengan bantuan Mateo, Astrid bangkit dan mengubah hidupnya. Saat satu per satu kesuksesan berhasil diraihnya, orang-orang yang dulu merendahkan mulai menyadari kesalahan mereka.

Kini giliran mereka yang memohon, sementara Astrid tak lagi peduli. Karena ada penghinaan yang bisa dimaafkan, tetapi tidak pernah bisa dilupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Setelah Lucas berangkat kerja, rumah kembali diselimuti keheningan. Astrid duduk di karpet ruang keluarga sambil menemani Ariana bermain boneka. Gadis kecil itu tampak asyik menyuapi boneka kelincinya dengan sendok mainan, sesekali mengoceh dengan bahasa yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri.

Perhatian Astrid sama sekali tidak tertuju pada permainan itu. Tatapannya kosong mengarah ke depan, sementara pikirannya dipenuhi berbagai hal yang berputar tanpa henti. Ia merasa sangat lelah. Bukan karena pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya. Melainkan karena harus terus berpura-pura baik-baik saja ketika hatinya perlahan runtuh sedikit demi sedikit.

Ponselnya yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar. Astrid menoleh. Nama Mateo muncul di layar. Ia sempat terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.

"Halo?"

"Pagi." Suara Mateo terdengar hangat seperti biasanya, membuat Astrid tanpa sadar duduk lebih tegak. "Kamu sudah sarapan?"

Astrid terdiam. Pertanyaan sederhana itu justru membuat dadanya terasa sesak. Sudah lama sekali tidak ada yang menanyakan hal seperti itu kepadanya. Lucas tidak pernah bertanya, apalagi Marta, bahkan tidak peduli. Dan dia sendiri sering kali terlalu sibuk mengurus orang lain sampai lupa memperhatikan dirinya.

"Astrid?" Suara Mateo kembali terdengar.

Astrid segera tersadar. "Aku sudah makan."

Di seberang sana terdengar tawa kecil. "Kamu bohong."

Astrid mengernyit tipis. "Kenapa?"

"Karena suaramu terdengar seperti orang yang belum makan dari pagi."

Sudut bibir Astrid terangkat. Ia bahkan tertawa pelan. Bukan karena sedang bahagia, tetapi karena merasa diperhatikan. Perasaan yang ternyata sudah lama tidak ia rasakan.

Sementara itu Ariana yang mendengar suara dari ponsel langsung merangkak mendekat. Gadis kecil itu menempelkan pipinya ke lengan Astrid lalu bertanya dengan polos, "Ciapa Mama?"

Astrid mengusap rambut putrinya sambil tersenyum. "Teman Mama."

Ariana mengangguk seolah mengerti, lalu kembali sibuk dengan boneka kelincinya.

"Julio sudah mulai bekerja," ujar Mateo kemudian.

Senyum Astrid langsung memudar. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. "Ada hasil?"

"Belum begitu banyak."

Astrid mengembuskan napas pelan. Di satu sisi ia merasa lega. Namun di sisi lain, ia juga kecewa.

Mateo seolah bisa membaca isi pikirannya. "Apa pun hasilnya nanti, kamu harus siap."

Astrid memejamkan mata sesaat. "Aku tahu."

"Dan satu hal lagi."

Astrid membuka mata. "Apa?"

"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu."

Siang harinya, Astrid datang ke kantor Mateo sambil menggendong Ariana. Gedung tiga lantai itu masih dalam proses renovasi. Beberapa pekerja terlihat hilir mudik membawa material bangunan. Suara bor dan ketukan palu terdengar bersahutan dari berbagai sudut.

Ariana yang belum pernah melihat suasana seperti itu langsung membelalakkan matanya. Kepalanya menoleh ke sana kemari dengan antusias.

"Waaah..."

Astrid tersenyum kecil melihat tingkah putrinya. Begitu memasuki area depan gedung, Mateo sudah berdiri menunggu. Pria itu langsung tersenyum ketika melihat mereka.

"Terima kasih sudah datang."

Astrid mengangguk. "Apa yang ingin kamu tunjukkan?"

Mateo tidak langsung menjawab. Ia justru mengambil sebuah map besar dari meja lalu menyerahkannya kepada Astrid.

"Coba lihat ini."

Astrid membuka map tersebut. Matanya langsung membesar. Di dalamnya terdapat beberapa lembar desain interior sebuah restoran mewah. Ia membaca satu demi satu dengan saksama. Semakin lama, keningnya semakin berkerut.

Mateo melipat kedua tangannya di depan dada. "Bagaimana menurutmu?"

Astrid membalik halaman terakhir lalu menggeleng pelan. "Kurang nyaman."

Mateo mengangkat alis. "Kenapa?"

"Pencahayaannya salah."

"Lanjutkan."

Astrid mulai menunjuk beberapa bagian. "Area duduk terlalu padat. Kalau restoran seramai ini, pengunjung akan merasa sesak."

Mateo mengangguk. "Lalu?"

"Sirkulasi pengunjung juga buruk. Jalurnya saling bertabrakan."

Semakin lama, Astrid semakin larut dalam penjelasannya. Ia mengambil pensil. Mulai membuat coretan dan menghapus beberapa bagian. Menambahkan ide-ide baru. Tanpa sadar, matanya yang selama ini terlihat redup perlahan kembali bersinar.

Mateo memperhatikannya dalam diam. Sudut bibir pria itu terangkat.

"Akhirnya."

Astrid menghentikan gerakannya dan menoleh. "Apa?"

Mateo menunjuk sketsa yang sedang dikerjakannya. "Aku melihat Astrid yang dulu."

Astrid terdiam. Untuk beberapa saat, ia hanya menatap gambar di hadapannya.

Mateo kembali berkata pelan, "Kamu sangat berbakat."

Astrid langsung menggeleng. "Tidak."

"Kenapa kamu selalu merendahkan dirimu sendiri?"

Pertanyaan itu membuat Astrid membeku.

Mateo melangkah mendekat. "Ayahmu seorang arsitek, kan?"

Astrid menunduk. "Iya."

"Dan ibumu desainer interior. Aku masih ingat."

Astrid mengangguk pelan. Matanya mulai terasa panas. Kenangan tentang kedua orang tuanya selalu berhasil membuat hatinya bergetar.

Mateo tersenyum. "Kamu mewarisi bakat keduanya."

Astrid tidak mampu berkata apa-apa. Karena sudah terlalu lama tidak ada yang melihat dirinya seperti ini.

Selama bertahun-tahun orang hanya mengenalnya sebagai istri Lucas. Sebagai ibu rumah tangga. Sebagai perempuan yang dianggap tidak punya pencapaian.

Padahal jauh sebelum semua itu Astrid adalah seorang perempuan yang memiliki mimpi. Orang yang pernah memiliki begitu banyak kemampuan dan harapan. Setelah sekian lama, ia mulai mengingat kembali siapa dirinya.

Sore harinya, Astrid pulang ke rumah dengan hati yang terasa sedikit lebih ringan. Namun, perasaan itu tidak bertahan lama. Begitu memasuki ruang tamu, ia mendapati Marta sudah duduk bersama beberapa temannya. Seolah rumah itu juga miliknya.

"Ah, akhirnya muncul juga." Nada suara Marta langsung membuat suasana berubah.

Astrid menarik napas pelan sebelum tersenyum sopan. "Selamat sore, Bu."

"Ke mana saja kamu?"

"Saya ada urusan."

Marta mendengus sinis. "Urusan apa?"

Salah satu teman arisannya terkekeh. "Jangan-jangan pergi ke gym. Olahraga biar turun berat badan."

Beberapa orang langsung tertawa.

Dulu Astrid pasti akan menundukkan kepala. Dia akan berpura-pura tidak mendengar dan menelan sakit semuanya sendirian. Akan tetapi, tidak hari ini berbeda. Astrid meletakkan tasnya di atas meja dengan tenang. Lalu, menatap mereka satu per satu.

"Aku pergi ke luar karena sedang ada pekerjaan."

Tawa yang tadi memenuhi ruangan langsung terhenti.

Marta mengernyit. "Kamu bekerja?"

"Iya," balas Astrid singkat.

"Kerja apa?" tanya Marta dengan nada tinis dan tatapan meremehkan.

Astrid tersenyum tipis. "Sesuatu yang saya sukai."

Marta tertawa semakin kencang. "Memangnya ada yang mau mempekerjakanmu?"

Suasana kembali sunyi. Semua mata tertuju kepada Astrid. Menunggu reaksinya.

Astrid tetap berdiri tenang. Bahkan senyumnya tidak hilang. "Lumayan, Bu."

"Maksudnya?"

Astrid menatap mertuanya lurus-lurus. "Setidaknya masih ada orang yang menghargai kemampuan aku."

Senyum di wajah Marta perlahan memudar. Dua teman arisannya mulai saling berpandangan.

Astrid melanjutkan dengan nada lembut. "Karena ternyata tidak semua orang menilai seseorang hanya dari penampilannya."

Ruangan mendadak hening. Marta membeku. Untuk pertama kalinya, wanita itu benar-benar tidak memiliki jawaban.

Astrid tidak membentak. Tidak meninggikan suara atau bersikap kasar. Justru karena itulah kalimatnya terasa jauh lebih menusuk.

Hal yang paling membuat Marta kesal, Astrid mengatakannya sambil tersenyum. Biasanya sang menantu akan diam menunduk, tak berani membalas ucapannya.

Setelah itu, Astrid melangkah menuju kamar Ariana untuk memandikannya. Jantungnya berdebar kencang, tangan sedikit gemetar, tetapi ada perasaan baru yang memenuhi dadanya. Rasanya sangat ringan. Karena untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, ia tidak diam saat direndahkan. Ia tidak lagi membiarkan dirinya diinjak. Atau membiarkan orang lain menentukan nilai dirinya.

Tanpa Astrid sadari, langkah pertama menuju kebangkitannya akhirnya benar-benar dimulai.

1
Yeyet Rohaeti
lanjut
Mardiana
Lucas... lupa sama istrinya karena lihat yg lebih kinclong 😈
Mardiana
cakep ...👍👍👍👍
Aidil Kenzie Zie
ha ha ha selamat datang di hotel prodeo Lucas 🤣🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Good
sunaryati jarum
Saatnya Lucas runtuh,harta yang dikumpulkan dari hasil mencuri akhirnya akan kembali ke pemiliknya
sunaryati jarum
Semoga uang yang dicuri dan diberikan pada selingkuhannya kembali ke Astrid.Dan semua asetnya dibekukan dan jadi hak Astrid
Sugiharti Rusli
apa itu data" transaksi pengalihan yang dimiliki oleh istrinya yang selama ini juga disalah gunakan olehnya,,,
Sugiharti Rusli
dan kira" apa isi amplop yang pada akhirnya membuat pertahanan si Lucas runtuh yah itu,,,
Sugiharti Rusli
dalam hal ini sepertinya si Lucas sudah mempersiapkan kala dirinya sudah tertangkap dan bukti kejahatan mulai di paparkan,,,
Sugiharti Rusli
tapi kalo penyidik sudah berpengalaman tahu kapan mulai menyerang si tersangka yah,,,
Sugiharti Rusli
memang yah ada karakter penjahat yang bisa memainkan emosi penyidik sih dalam dunia kriminal,,,
Sugiharti Rusli
sekalinya penjahat tetap penjahat yah si Lucas itu
Sugiharti Rusli
dan kamu berkilah sama ibu kamu kalo ini hanya salah paham agar bisa menutupi semua kecurangan yang sudah kamu lakukan,,,
Sugiharti Rusli
dan sekarang kamu menghadapi dua gugatan sekaligus, dari Astrid dengan gugatan cerai, dan kasus penyelewengan
Sugiharti Rusli
kamu pikir kamu sudah bermain cantik dan tidak akan ketahuan dengan semua trik licik yang telah kamu perbuat, bahkan sama istri kamu sendiri,,,
Sugiharti Rusli
kamu memang terlalu sombong dan jumawa Lucas dengan sepak terjang kamu selama ini,,,
sutiasih kasih
lanjut thor...
ku kirim 🌹&☕.. biar semangat...
sutiasih kasih
yakin dech.... perempuan trindahmu... yg km cintai ugal"an.... g akn mau brtahan mdampingi kerutuhan karir dan hidupmu lucas🤣🤣
Tarwiyah Nasa
semakin seru 😄 gimana2 perasaan lo casss 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!