Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.
Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).
Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.
"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."
Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 024 - Umpan Darah Beracun
Begitu tetesan Darah Korosi Tulang menyentuh genangan air parit marmer di sisi barat, aroma karat tembaga yang luar biasa pekat seketika membubung ke udara lembap aula gua. Bau darah segar yang bercampur dengan zat kimia beracun pembakar meridian itu langsung menyengat sensor penciuman tajam Ular Sisik Lendir yang sedang mencari mangsa.
Kedua kepala monster raksasa itu seketika menoleh serentak ke arah barat, meninggalkan tiang ketujuh tempat Gu Yuan berdiri membeku menempel ke batu obsidian. Lidah-lidah bercabang hitamnya menjulur cepat ke udara, mencicipi butiran uap berbau tembaga karat yang sangat memikat insting buas peminum darahnya.
Sssss… sret!
Tubuh raksasa berlendir hitam itu meluncur keluar dari kolam darah dengan gerakan bergelombang yang lambat namun sarat bobot mematikan. Lapisan lendir keunguan di sisik-sisiknya meninggalkan jejak basah berasap di atas lantai marmer hitam, mendesis membakar lumut kering. Sisik-sisik tebalnya bergesekan dengan permukaan batu kapur yang licin, menimbulkan suara gemerisik tajam seperti ribuan bilah pisau kecil yang diseret bersamaan di atas lantai batu.
Monster berkepala dua itu merayap lurus tanpa ragu menuju parit barat, mendekati genangan merah pekat yang menetes dari botol tembikar kecil tadi.
Moncong kanannya membuka lebar hingga sudut rahangnya berderak, memperlihatkan barisan taring melengkung bergerigi yang meneteskan air liur beracun. Bersama dengan moncong kirinya yang tak kalah rakus, kedua kepala ular tersebut menjilati dan menelan habis genangan darah kental yang tergenang di parit marmer hitam.
Namun, Darah Korosi Tulang bukanlah darah fana biasa; itu adalah racun paling mematikan yang diramu oleh Tetua Mo Cheng selama bertahun-tahun untuk melumpuhkan, membakar, dan meremukkan jaringan meridian manusia hingga membusuk.
Begitu cairan merah pekat itu melewati kerongkongan monster tersebut dan masuk ke perutnya, reaksi kimia yang sangat destruktif seketika meledak di dalam organ dalamnya.
Hisssttt!
Jeritan melengking yang memekakkan telinga meledak serentak dari kedua tenggorokan ular raksasa tersebut. Asap hitam pekat membual keluar dari sela-sela taringnya saat racun Korosi Tulang mulai membakar lapisan daging dan kerongkongan dalamnya seperti lelehan timah cair mendidih. Rasa sakit yang luar biasa membakar membuat kedua pasang matanya yang putih keruh mendadak pecah memuntahkan darah hitam berbusa.
Tubuh raksasa setebal pohon cemara tua itu seketika mengamuk membabi buta di sudut barat aula gua.
Ekornya yang panjang dan dipenuhi duri-duri tulang keras menghantam lantai marmer dengan kekuatan ribuan kati, memecahkan lempengan batu marmer menjadi serpihan-serpihan tajam yang melayang ke segala penjuru seperti pecahan gerabah. Tubuh berlendir tebal itu bergulingan liar tanpa kendali, menghempaskan punggungnya berkali-kali ke dinding tebing cadas sebelah barat hingga stalaktit-stalaktit batu kapur di langit-langit gua rontok berjatuhan seperti hujan tombak batu.
Gemuruh hantaman tubuh monster ke dinding tebing dan suara letupan batu menciptakan kekacauan total yang mengalihkan seluruh perhatian di aula gua.
Itulah celah waktu yang telah diperhitungkan Gu Yuan dengan presisi perhitungan dingin.
Gu Yuan melompat keluar dari balik bayangan tiang ketujuh. Kakinya yang melepuh menjejak lantai marmer dengan kecepatan penuh, meluncur zig-zag di antara serpihan batu dan debu kapur yang berjatuhan dari atap. Ia tidak membuang waktu menoleh ke arah ular yang sedang sekarat bergulingan di sudut parit; fokus matanya terkunci lurus pada tiang kedua belas di seberang kolam darah.
Tiang kedua belas berdiri kokoh di samping saluran pembuangan lumpur darah kolam. Di dasar tiang setinggi dua jengkal dari lantai marmer, terlihat sebuah pasak batu berbentuk pasak baji kuno yang menahan pusaran aliran Qi penyeimbang kutub Yin-Yang agar tenaga formasi tidak berbalik arah.
Gu Yuan meluncur berlutut di depan tiang kedua belas, tangan kirinya menahan benturan pada tiang batu obsidian sambil tangan kanannya menyambar palu besi penempa tambang dari balik lipatan celemek kulitnya.
Palu besi berbobot lima kati itu ia angkat tinggi-tinggi dengan kedua tangan, memusatkan seluruh kekuatan Tulang Besi dari Ranah Pemurnian Raga lapis ketiganya ke kedua otot lengannya yang mengencang keras seperti kawat baja.
Brakkk!
Palu besi menghantam telak pangkal pasak batu penahan pusaran energi di tiang kedua belas dengan suara dentuman logam dan batu yang memekakkan telinga.
Retakan menjalar seketika di sepanjang pasak batu baji tersebut. Dengan satu pukulan susulan yang menghantam retakan dengan sudut miring ke atas sekuat tenaga raga, pasak batu penahan arus balik itu seketika patah berderak menjadi dua bagian, terlempar lepas dari rongga tiang dan jatuh menggelinding ke dalam cairan kolam darah.
Wuuusss… krrrrk!
Begitu pasak penahan terlepas, pusaran energi di dasar tiang kedua belas seketika kehilangan penyeimbangnya. Parit kapiler di sekeliling tiang mengeluarkan pendaran cahaya merah darah yang berkedip liar tak beraturan, menandakan sekat penahan arus balik tenaga telah rusak permanen.
Gu Yuan segera menyambar sejumput garam pemadam formasi dari kantong kanvas di pinggangnya, menaburkannya ke dalam lubang pasak yang patah untuk membekukan sisa energi dan menutup rongga agar aliran darah tidak bocor keluar sebelum ritual dimulai. Pasta garam yang mengering menyamarkan rongga yang patah, membuatnya terlihat utuh dari luar.
Sabotase di tiang ketujuh dan tiang kedua belas kini telah tuntas sepenuhnya.
Formasi altar darah ini tampak tenang dan normal dari luar, namun di dalamnya telah terpasang jerat maut yang akan meledakkan seluruh Dantian Tetua Mo Cheng begitu ritual pengurasan darah diaktifkan nanti malam.
Namun, di tengah deburan suara ekor ular yang mulai melemah kehabisan tenaga di sudut barat, sebuah suara gemeretak keras mendadak terdengar dari arah langit-langit aula mimbar gua di belakang Gu Yuan.