NovelToon NovelToon
CINTA BEDA 12 TAHUN: Kapten Vs Gadis Bunga

CINTA BEDA 12 TAHUN: Kapten Vs Gadis Bunga

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Action / Komedi
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Aksi heroik Kapten Fikri Rafisqy ditengah perampokan swalayan berujung duka. Berusaha menyelamatkan seorang anak kecil, Fikri tak sadar peluru maut mengincar nyawanya. Naas, seorang kakek justru mengorbankan diri demi menyelamatkannya. Dalam kondisi kritis dirumah sakit, sang kakek menyampaikan wasiat terakhir: Fikri harus menikahi cucu tunggalnya, Seruni Shafira, gadis penjual bunga kini sebatang kara.

Seruni menolak tegas. Bagaimana mungkin ia harus menikah disaat impian sekolahnya masih membumbung tinggi? Namun demi melunasi utang nyawa dan amanah terakhir, Fikri menerimanya. Didepan ruang ICU, ijab kabul terucap sebelum sang kakek mengembuskan napas terakhirnya.

Kini, kehidupan mereka berubah total. Bisakah Seruni menerima takdir pernikahannya bersama pria yang terpaut jarak usia 12 tahun darinya? Apalagi, Seruni masih bersikeras memanggil suami dengan sebutan "Paman"!

Saksikan kisah cinta penuh liku, aksi menegangkan dan kepolosan Seruni yang meluluhkan hati dingin Kapten Fikri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bintang Tiga di Hutan Belantara

Hujan deras mengguyur Hutan Tamiang sejak tengah malam, mengubah jalanan tanah menjadi lumpur pekat setinggi betis. Di balik rindangnya pepohonan tua yang rapat dan pekat, lereng bukit itu tampak seperti jalur kematian. Tidak ada suara selain deru angin malam, kepakan sayap burung hantu, dan desis air hujan yang menghantam dedaunan basah.

Kapten Fikri berdiri kaku di balik batang pohon beringin raksasa. Wajahnya tertutup loreng cat penyamaran hitam dan hijau tua. Kemeja taktisnya basah kuyup, memeluk erat dada tegapnya. Di tangannya, senapan serbu terikat rapi pada tali sandang, moncongnya mengarah lurus ke sebuah gubuk panggung kayu beratap rumbia yang berdiri di tengah celah bukit, sarang komplotan perampok bersenjata yang selama ini meresahkan warga desa.

Di sampingnya, Briptu Dimas menahan napas seraya memegang teropong malam Night Vision.

"Kapten, visual mengonfirmasi lima orang di teras luar," bisik Dimas sangat pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh deru hujan. "Dua orang memegang rakitan laras panjang, sisanya membawa senjata tajam. Di dalam gubuk terdeteksi empat pergerakan lagi. Pimpinan mereka, Hasan Srigala, ada di dalam."

Fikri memicingkan mata. Tatapannya dingin, tajam, dan penuh perhitungan matang. Hasan Srigala bukanlah perampok biasa. Kelompok ini dikenal tak segan-segan melukai dan membunuh korbannya. Tragedi perampokan di swalayan kota beberapa waktu lalu, yang merenggut nyawa Kakek Rahmat, memiliki pola serang yang mirip dengan kelompok ini. Setiap kali mengingat peristiwa itu, dada Fikri selalu bergolak oleh rasa tanggung jawab dan duka yang mendalam.

"Sesuai rencana awal," bisik Fikri dengan nada rendah yang mutlak. "Tim Dua masuk dari lambung kiri menembus jurang. Tim Tiga amankan jalur pelarian di belakang air terjun. Kamu ikut saya dari pintu utama. Ingat, utamakan keselamatan sandera warga desa yang disekap di bawah panggung. Jangan menembak sebelum saya beri komando."

"Siap, Kapten!" balas Dimas mantap.

Melalui sinyal tangan, Fikri memberikan perintah pergerakan. Delapan prajurit tim khusus kepolisian merayap pelan di atas tanah berlumpur, menembus semak belukar tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Keheningan hutan belantara itu mendadak menjadi sangat mencekam, seolah waktu berhenti berputar di tengah guyuran hujan.

Kring!

Tiba-tiba, sebuah bunyi getar dari ponsel dinas di dalam saku dalam jaket Fikri berbunyi pelan. Lampu layar ponsel itu menyala redup dalam kegelapan.

Fikri melirik layar ponselnya sekilas dari balik lipatan jaket kedap air. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sangat ia kenal:

Seruni: 'Lapor Paman Kapten, Runi sudah di rumah dinas. Sudah makan nasi goreng. Aman. Jangan lupa pulang!'

Sudut bibir Fikri yang tertutup cat kamuflase menyunggingkan senyum tipis, hampir tak terlihat di balik kegelapan malam. Pesan singkat, polos, dan ala kadarnya dari sang istri kecil yang berjarak ratusan kilometer dari sana mendadak mengalirkan kehangatan aneh yang menjalar ke seluruh aliran darahnya.

Tunggu aku pulang, Seruni, batin Fikri tegas, seraya mematikan layar ponselnya dan kembali fokus sepenuhnya pada sasaran di depan mata.

CRASH!

Suara ranting patah di sisi kanan mengagetkan penjaga gubuk!

"Siapa itu?!" teriak salah satu perampok dengan suara parau seraya mengokang senjata rakitannya.

"Bergerak! Polisi! Jangan ada yang bergerak!" gertak Fikri seraya meloncat keluar dari balik semak-semak dengan kecepatan kilat!

"Penyergapan! Tembak mereka!" jerit Hasan Srigala dari dalam gubuk!

DOR! DOR! DOR!

Lautan tembakan menyalak hebat membelah keheningan Hutan Tamiang! Cahaya kilatan peluru menerangi kegelapan malam secara bersahut-sahutan. Lumpur dan tanah memercik ke udara saat timah panas menancap di pepohonan sekitar Fikri.

"Lindungi panggung bawah! Selamatkan warga!" teriak Fikri seraya berguling di atas tanah basah, menghindari rentetan tembakan otomatis lawan.

Dengan ketenangan luar biasa yang hanya dimiliki oleh seorang perwira berpengalaman, Fikri membidik sasaran. DOR! Seorang perampok yang memegang senapan di teras langsung tumbang memegang bahunya. DOR! Perampok kedua tersungkur sebelum sempat menyalutkan tembakan.

Dimas dan Tim Dua bergerak cepat mendobrak bagian bawah gubuk panggung, memotong tali pengikat tiga orang warga desa yang disekap dalam keadaan terikat dan ketakutan.

"Warga aman, Kapten! Evakuasi jalur belakang!" seru Dimas melalui radio komunikasi.

"Bagus! Kunci area depan!" balas Fikri.

Namun, di tengah kekacauan itu, sosok Hasan Srigala mendadak menerobos keluar dari pintu samping gubuk! Pria berbadan besar dengan luka parut di wajah itu memegang sebuah granat nanas di tangan kanannya, matanya menyipit penuh dendam dan rasa putus asa!

"Mati kalian semua bersama tempat ini!" jerit Hasan histeris, mencabut pin keselamatan granat tersebut dengan giginya!

"Awas! Granat!" teriak salah satu anggota polisi panik.

Situasi berubah menjadi sangat kritis! Jika granat itu meledak di tengah gubuk kayu yang lapuk, bukan hanya pasukan polisi yang akan hancur, tetapi warga desa yang baru saja dievakuasi di bawah lantai panggung juga akan ikut menjadi korban!

Dalam hitungan detik yang amat berharga, Fikri tidak memilih untuk berlari mencari perlindungan.

Digerakkan oleh naluri pelindung yang luar biasa, Kapten Fikri justru meloncat menerjang maju! Tubuhnya meluncur di atas lumpur basah, mendarat tepat di hadapan Hasan Srigala sebelum pria itu sempat melempar granatnya!

BUGH!

Tendangan keras Fikri mendarat telak di dada Hasan, membuat pria itu terpelanting ke belakang. Namun, cengkeraman tangan Hasan pada granat tanpa pin itu terlepas, membuat benda besi mematikan itu jatuh berguling di papan kayu lantai gubuk, hanya berjarak dua meter dari posisi Fikri!

Detik demi detik terasa berjalan bagaikan siksaan lambat.

"Kapten! Awaasss!" jerit Dimas dari jauh dengan mata terbelalak lebar!

Tanpa ragu sedikit pun, Fikri meraih sebuah tameng pelindung taktis bekas benteng lawan di dekatnya, menutupkan tameng besi tebal itu tepat di atas granat yang membara, lalu menghempaskan seluruh berat tubuhnya menekan tameng tersebut ke lantai kayu!

BOOOOOMMMM!

Ledakan dahsyat menggetarkan bumi! Percikan api dan serpihan kayu membumbung tinggi. Hantaman gelombang ledakan di balik tameng besi itu menghantam dada Fikri dengan kekuatan luar biasa, melempar tubuh tegap sang Kapten hingga membentur tiang kayu utama gubuk!

Krak!

"KAPTEN FIKRI!" teriak Dimas histeris seraya berlari menembus asap tebal dan bau mesiu yang menyengat.

Gubuk kayu itu runtuh sebagian. Di antara asap hitam yang membumbung dan hujan yang masih mengguyur deras, Hasan Srigala telah berhasil dilumpuhkan dan diborgol oleh tim kepolisian.

Dimas berlutut di samping tubuh Fikri yang terbaring kaku di atas tanah berlumpur. Seragam loreng Fikri robek di beberapa bagian, napasnya tersengal-sengal parah, dan darah segar mengalir perlahan dari sudut bibir serta pelipisnya akibat benturan gelombang ledakan.

"Kapten! Kapten Fikri! Bertahan, Kapten!" panggil Dimas dengan suara gemetar panik seraya menahan pendarahan di bahu sang Kapten. "Medis! Panggil helikopter evakuasi sekarang!"

Fikri mengerjapkan matanya yang perlahan mengabur. Rasa sakit yang luar biasa menjalar di seluruh tulang rusuknya. Namun, di tengah kesadaran yang perlahan menipis dan pandangan yang kian menggelap, bayangan wajah polos Seruni yang tersenyum jahil memakai celemek toko bunga mendadak melintas jelas di ingatan Fikri.

Jemari Fikri yang bernoda darah dan lumpur meremas pelan saku dalam jaketnya, tempat ponsel yang menyimpan pesan singkat dari istrinya berada.

"Seruni..." bisik Fikri sangat pelan, hampir tak terdengar sebelum akhirnya kegelapan total menyergap kesadarannya.

1
English Lesson
lucu dan bagus❤️❤️
Ariany Sudjana
semangat belajar yah Runi
Pujiastuti
serasa melayang ke awan ya Seruni dicium sama Aa kapten 🤭🤭
Dini Anggraini
Cyndi kan masih ada briptu dimas yang single pokoknya jangan kapten fikri karena dia sudah punya seruni gak boleh kamu gaet lagi. Seruni buktikan bila prestasimu tetap bagus meskipun sudah menikah.
Nur Asiatun
Alhamdulillah...tenang ya seruni,ada mas Fikri yg akan selalu melindungimu
Ariany Sudjana
bagus Fikri, kamu suami yang bijak. harusnya kepala sekolah juga seperti itu, cari dulu kebenarannya seperti apa, jangan mudah terpancing gosip murahan
Nur Asiatun
Alhamdulillah...lanjut Author
Ayu Padi
up yg bnyk Thor...lucu seru sekali
Ariany Sudjana
betul seruni, kamu jangan bodoh, kalian itu suami istri, jadi jangan panggil suami kamu itu paman
Erizani
lanjut habis ceritanya seru banget
Ariany Sudjana
hahaha benar seruni, hantu ganteng namanya Fikri 😂😂🤣🤣
Irni Yusnita
seruni kocak sungguh senang dengan kepolosan dan apa ada tanpa ada yg dibuat"😍
Ariany Sudjana
wah semangat yah seruni 🤣🤣
Nur Asiatun: ceplas ceplos yg bikin sayang
total 1 replies
Ariany Sudjana
bagus Fikri, seruni harus belajar kalau Fikri itu suami sah, jadi jangan panggil paman, kan akhirnya Bagas nekat, dasar bodoh seruni
Ariany Sudjana
tapi benar sih kata seruni, bagaimana pun seruni itu perempuan mandiri, jadi lebih nyaman cari uang sendiri, walaupun Fikri memperhatikan semua kebutuhannya
Ariany Sudjana
bagus seruni, kamu tunjukkan kamu itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, bukan pelacur murahan seperti Farida itu 🤣🤣😂😂
tiara
Karya ini bagus dan menghibur,semangat upnya thor sehat selalu
Nur Asiatun
Alhamdulillah...di tunggu updete nya thor
Nur Asiatun
wa'alaikumussalam Author...
𝐈𝐬𝐭𝐲
Alur ceritanya bagus, lucu dan sangat menarik dan selalu ditunggu² up nya ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!