Song Qian adalah keturunan Dewa Leluhur Qing Tian yang lahir dari Menara Qian Kun setelah Tiga Alam diciptakan pada 70 ribu tahun yang lalu. Kelahirannya dianggap sebagai berkah bagi Tiga Alam. Song Qian berguru kepada Qian Gu untuk menguasai tiga elemen kekuatan semesta yang sudah ia miliki sejak lahir.
Namun, Qian Gu dan Song Qian tidak tahu apa saja rintangan yang akan menghampiri mereka di masa depan. Seiring berjalannya waktu, mereka berdua mulai jatuh cinta. Banyaknya rintangan membuat mereka harus berjuang bersama-sama untuk terus bersatu dan melindungi Tiga Alam bersama dengan Dewa Agung lainnya serta melindungi cinta di hati mereka.
Apakah Song Qian dan Qian Gu dapat mencapai tujuan mereka untuk melindungi Tiga Alam sekaligus cinta di hati mereka atau mereka harus mengorbankan segalanya untuk memberikan kedamaian bagi Tiga Alam? Ikuti terus kisahnya!
Dilarang menjiplak novel ini!!!
IG : @bellakristyc_
E-mail : bellakristyc@gmail.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas Penting dari Qian Gu dan Gosip Tentang Bibit Percintaan
Bisik-Bisik Perpustakaan Agung dan Penderitaan Takdir Sang Mahadewa
"Aku tidak peduli apa pun yang sedang ia pikirkan di dalam benaknya," gumam Song Qian seraya menyunggingkan senyuman gembira. "Yang jelas, sekarang aku bisa menikmati seluruh fasilitas mewah ini! Aku harus memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya!"
Song Qian melangkah santai menuju peraduan mewahnya, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk berlapis sutra surgawi. Kehangatan dan kelembutan peraduan buatan Qian Gu membuai seluruh persendiannya yang lelah akibat latihan fisik menyapu dan menyiram tanaman sepanjang hari. Song Qian memejamkan kedua matanya, hanya bermaksud melepas lelah sejenak.
Namun, rasa nyaman yang luar biasa itu justru menghanyutkan jiwanya ke dalam lelap tidur yang sangat nyenyak.
Beberapa jam berlalu tanpa disadari. Ketika Song Qian terbangun dan membuka matanya, ia mendapati pendar cahaya emas di dinding kamar rahasianya telah bergeser menandakan malam kian larut.
"Gawat! Sekarang sudah jam berapa?!" jerit Song Qian panik setengah mati.
Ia melompat bangkit dari kasurnya, menepuk dahinya dengan wajah pucat pasi. "Bagaimana mungkin aku bisa membaca tiga kitab tebal dalam waktu beberapa jam saja?! Aku pasti akan dihukum berat oleh Kak Qian Gu esok pagi jika tidak sanggup menceritakan kembali seluruh isinya!"
Dengan perasaan cemas bergolak di dada, Song Qian bergegas melangkah keluar dari kamar rahasianya, menembus dinding emas menuju lorong utama Perpustakaan Agung Istana Chao Sheng.
Namun, baru beberapa langkah menyusuri rak-rak kayu cendana raksasa, pendengaran tajam milik Song Qian menangkap samar-samar gema suara percakapan dua orang dari balik lorong perpustakaan.
Song Qian menghentikan langkahnya. Dahinya berkerut heran. Siapa dua dewa yang berani masuk dan bergosip di dalam Perpustakaan Agung milik Mahadewa Semesta pada larut malam begini? batin Song Qian curiga.
Dengan gerakan seringan bulu, Song Qian mengendap-endap dan bersembunyi di balik deretan lemari buku raksasa bertingkat, mengintip melalui celah-celah gulungan kitab kuno.
Dari balik bayangan rak, Song Qian melihat sosok dewi bergaun merah muda bersulam benang perak sedang melangkah memutari rak buku seraya menempel erat pada seorang dewa tampan bergaun biru laut yang tampak sibuk memilih gulungan kitab. Kedua sosok itu adalah Dewi Siang dan Dewa Air.
"Dewa Air, dengarkan aku dulu! Barusan aku mendengar berita heboh ini langsung dari para dewi pelayan istana!" panggil Dewi Siang dengan nada suara berbisik namun penuh nada antusias, terus mengganggu ketenangan Dewa Air.
"Song Qian benar-benar sudah resmi diangkat menjadi murid tunggal Sang Mahadewa Semesta! Tadi pagi saat aku menanyakan keberadaan Song Qian kepada para dewi di gerbang, mereka bilang Song Qian sudah sepenuhnya mengemas barang dan pergi dari Istana Chang Yuan!"
Dewa Air mengambil sebuah gulungan kitab dari rak, menjawab dengan nada suara yang amat tenang dan santai tanpa menoleh. "Selama lima ratus tahun ini, Song Qian selalu berada di dalam Istana Chang Yuan di bawah pengawasan Bai Yuan. Ia tidak pernah diizinkan keluar sendirian, jadi aku yakin para dewi itu hanya salah lihat."
"Mana mungkin mereka salah lihat!" sanggah Dewi Siang seraya menyunggingkan senyum manisnya. "Song Qian adalah Dewa Agung termuda di Alam Langit saat ini. Wajahnya begitu tampan, mulus, dan memancarkan pendar tiga elemen yang sangat langka! Para dewi pasti langsung bisa mengenali parasnya meskipun baru pertama kali melihatnya!"
Dewa Air menghela napas tipis, mengembalikan gulungan kitab ke tempat semula lalu memilih kitab lainnya. "Lalu... apa masalahnya jika Song Qian benar-benar telah menjadi murid Yang Mulia Qian Gu? Bukankah hal itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan tugas kita?"
"Kenapa kau bisa secuek itu, Dewa Air?! Apakah kau tidak menyadari makna tersembunyi di balik kejadian ini?" sahut Dewi Siang dengan raut wajah berbinar-binar gembira. "Mungkin saja... kehadiran Song Qian sanggup menumbuhkan kembali Bibit Perasaan Yang Mulia Qian Gu yang telah hilang!"
Langkah Dewa Air terhenti seketika. Ia menoleh, menatap Dewi Siang dengan raut wajah kaku dan peringatan keras.
"Tidak mungkin," tegur Dewa Air dingin. "Dewa Agung Bai Yuan selalu menjadi sosok dewa yang paling dicintai dan memiliki tempat tertinggi di hati Yang Mulia sejak dulu. Song Qian diangkat sebagai murid murni karena mereka berdua sama-sama dianugerahi kekuatan semesta oleh Dewa Leluhur. Kau jangan menyebarkan gosip aneh dan tak berdasar di sini, Dewi Siang! Hati-hati, jika pembicaraan tidak pantas ini sampai terdengar oleh Yang Mulia, kau bisa dijatuhi hukuman seratus kali cambukan sihir!"
Dewa Air berbalik dan melangkah menuju rak buku di sisi berlawanan untuk menghindari obrolan tersebut. Namun Dewi Siang—yang sejatinya telah lama menyimpan perasaan cinta sepihak kepada Dewa Air yang tampan dan bijaksana itu—segera menyusul langkah sang dewa dengan gigih.
"Aku membicarakan hal ini juga demi kebaikan dan kebahagiaan Yang Mulia Qian Gu sendiri!" bisik Dewi Siang dengan nada memelas. "Kau tahu sendiri, kehilangan Bibit Perasaan membuat Yang Mulia hidup bagaikan patung es tanpa emosi... Itu sama saja seperti sosok yang fisiknya bernyawa, namun jiwanya telah mati di dalam! Jika kehadiran Song Qian sanggup menyembuhkan rasa dingin di hatinya, bukankah itu hal yang sangat mengagumkan?"
Dewa Air menghentikan gerakannya di depan rak kitab sihir pedang. Untuk pertama kalinya, raut tenang Dewa Air goyah. Ia memutar badannya dan meninggikan nada suaranya penuh penekanan.
"Kau sudah gila, Dewi Siang?! Perbedaan umur dan tingkatan mereka berdua begitu terpisah jauh! Terlebih lagi... selama Dewa Agung Bai Yuan masih berdiri kokoh di Alam Dewa ini, bagaimana mungkin Song Qian memiliki kesempatan untuk bersanding di sisi Yang Mulia?!"
Dewi Siang tertegun oleh gertakan itu, namun ia segera menghembuskan napas panjang, meratapi kerumunan takdir yang ia amati selama ini.
"Tapi... Dewa Agung Bai Yuan justru memilih untuk diam membisu dan membiarkan Yang Mulia mengorbankan Bibit Perasaan-nya lima ribu tahun lalu!" keluh Dewi Siang seraya memikirkan jawabannya sendiri.
"Aku sungguh tidak sanggup memahami jalan pikiran mereka berdua... Dewa Agung Bai Yuan memilih untuk dilupakan oleh wanita yang paling dicintainya, namun di sisi lain ia tetap setia menjaga Yang Mulia dari kejauhan... Terus-menerus bertindak seperti itu, bukankah Dewa Agung Bai Yuan sendiri menanggung penderitaan batin yang luar biasa?"
Dewi Siang yang memang gemar mencampuri dan menganalisis urusan asmara para dewa menggelengkan kepalanya prihatin.
Dewa Air menatap Dewi Siang dengan sorot mata yang amat dalam dan serius.
"Pokoknya, menurut pandanganku... Song Qian tidak boleh dan tidak seharusnya menanggung beban untuk menyembuhkan Bibit Perasaan milik Yang Mulia," pangkas Dewa Air dengan nada tegas.
"Yang Mulia telah memilih jalan pengorbanan itu demi Tiga Alam atas kehendaknya sendiri. Song Qian tidak seharusnya dibebani oleh ekspektasi rumit seperti itu. Di masa depan nanti... beban takdir yang harus dipikul oleh Song Qian sebagai pelindung tiga elemen mungkin akan jauh lebih berat dan berdarah daripada apa yang pernah dikorbankan Yang Mulia untuk Tiga Alam!"
Setelah menuntaskan kalimatnya, Dewa Air mengambil sebuah kitab panduan teknik sihir pedang, lalu membalikkan badan dan melangkah cepat keluar dari Perpustakaan Agung. Dewi Siang yang tak ingin ditinggalkan segera bergegas berlari kecil menyusul langkah dewa yang disukainya itu.
Setelah gema langkah kaki kedua dewa itu menghilang sepenuhnya di balik pintu gerbang perpustakaan, Song Qian perlahan-lahan melangkah keluar dari balik bayangan rak buku.
Pemuda itu berdiri terpaku di tengah lorong sunyi. Kata-kata tajam dari Dewa Air bergaung berulang kali di dalam benaknya. Song Qian menghembuskan napas panjang yang amat berat, menatap telapak tangannya sendiri.
Sebagai pemuda yang pada dasarnya mendambakan kebebasan, bayangan takdir kelam yang mengikat jiwanya pada keselamatan Tiga Alam terasa begitu meremas dadanya.
Memangnya kenapa jika kelak aku harus berkorban banyak demi keselamatan Tiga Alam? tanya Song Qian pada dirinya sendiri di dalam hati. Bukankah diberikan kesempatan untuk berdiri sebagai pelindung semesta adalah sebuah takdir yang sangat mulia...?
Song Qian memejamkan matanya, mengusap wajahnya seraya berbisik lirih penuh kejujuran, "Andai saja aku bisa memilih... mungkin aku lebih memilih untuk dilahirkan kembali sebagai seorang manusia biasa di dunia fana. Manusia yang bisa hidup bebas... bebas untuk mencintai, membenci, dan mengejar kebahagiaan hidup mereka sendiri tanpa beban berat semesta... Tidak seperti para dewa, dewata, atau iblis yang seumur hidup jiwanya terkekang oleh takdir yang kaku..."
Song Qian menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menepis kemurungan yang merayapi hatinya. Ia mengedarkan pandangan ke ribuan kitab yang tersusun rapi.
"Aku harus segera menemukan tiga kitab pengetahuan Tiga Alam yang sanggup membuat Kak Qian Gu terkesan esok pagi... Buku seperti apa yang disukainya?"
Song Qian melangkah menyusuri lorong-lorong raksasa, mengumpulkan dua kitab tebal mengenai Sejarah Tatanan Tiga Alam dan Geografi Alam Siluman dan Iblis. Namun, benaknya yang dipenuhi rasa penasaran tak sanggup mengabaikan rahasia besar yang baru saja didengarnya dari percakapan Dewi Siang.
Bibit Perasaan...
Didorong oleh rasa ingin tahu yang membakar dada, Song Qian beralih menuju deretan rak tua bertanda rahasia giok hitam. Jemari lentiknya menelusuri sampul-sampul kitab kuno, hingga akhirnya matanya tertuju pada sebuah kitab tebal berdebu bertuliskan emas purba, yaitu Misteri Esensi Jiwa dan Bibit Perasaan Surgawi.
Song Qian bergegas mengambil kitab kuno tersebut, lalu membawanya masuk ke dalam kamar rahasianya. Ia menduduki meja belajarnya, membentangkan kitab tersebut di bawah pendar cahaya lampu giok, dan mulai menyerap setiap kalimat yang terukir di dalamnya.
Di dalam kitab kuno itu, tertera sebuah catatan sejarah yang menggetarkan jiwanya.
"Bibit Perasaan adalah esensi jiwa paling vital yang terdapat di dalam jantung setiap Dewa, Dewata, Iblis, dan Siluman. Siapa pun yang nekat mengorbankan atau mencabut Bibit Perasaannya akan mengalami kebekuan jiwa dan mati rasa selamanya.
Apabila sosok yang telah kehilangan Bibit Perasaan tersebut mencoba untuk jatuh cinta kembali, maka benih sihir takdir akan memicu penderitaan luar biasa, baik bagi dirinya maupun bagi sosok yang mencintainya. Seseorang yang memberanikan diri mencintai sosok tanpa Bibit Perasaan akan menanggung duka dan penderitaan batin seumur hidupnya... menantikan balasan cinta dalam kesia-siaan yang abadi."
Song Qian mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Air mata hangat tanpa sadar menetes menimpa lembaran kitab kuno tersebut.
"Menderita seumur hidup bagi siapa pun yang mencintai Sang Mahadewa Semesta...?" bisik Song Qian dengan suara bergetar, dadanya dihantam rasa iba dan penyesalan yang teramat dalam.
Song Qian mendongak, menatap bayangan dirinya di cermin giok seraya melontarkan pertanyaan yang penuh gejolak emosi.
"Namun... Kak Qian Gu... kenapa kau harus sampai mengorbankan Bibit Perasaan-mu demi menyegel Raja Iblis?! Apakah di masa lalu memang sama sekali tidak ada cara lain untuk menyelamatkan semesta?! Bukankah ketiga Dewa Agung yang berdiri di sisimu semuanya sangat hebat dan tangguh?! Kenapa... kenapa mereka bertiga sampai membiarkan dan tak sanggup menghentikan tindakan nekatmu untuk menyerahkan Bibit Perasaan-mu?!"
Ujian menceritakan kembali isi tiga kitab sejarah esok pagi. Akankah Song Qian berani melontarkan pertanyaan tajam mengenai pengorbanan Bibit Perasaan langsung di hadapan Mahadewa Qian Gu? Dan guncangan dahsyat seperti apakah yang tiba-tiba meretakkan Istana Langit tatkala segel Raja Iblis Xuan Ling mendadak pecah di batas utara semesta?
Bersambung......
Halo semuanya, terima kasih sudah mampir ke novel ini. Kalau kalian suka dengan ceritanya, boleh kasih like, vote, tips, dan tambahkan novel ini ke favorit ya. Kalau ingin memberikan kritik dan saran, silakan tulis di kolom komentar ya. Ikuti terus kisah Song Qian sampai selesai.