Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Pembunuh yang Menantang
GASSSHP!
Arya menarik tangannya secara mendadak! Tubuhnya gemetaran hebat, napasnya tersengal-sengal di balik masker bedah. Matanya membelalak lebar memancarkan rasa syok yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Pria itu tahu! Penjahat itu tahu keberadaan penglihatan ini!" batinnya.
Farhan yang terus mengamati pergerakan Arya segera menangkap perubahan drastis pada reaksi pemuda itu. Farhan melangkah cepat mendekat, dan membelakangi dr. Aris agar bisa menutupi Arya.
"Arya, ada apa?!" bisik Farhan dengan nada panik namun terkontrol. "Apa yang kamu lihat?!"
Arya memegang tepi meja stenlis untuk menopang tubuhnya yang lemas. Keringat dingin pun menetes deras dari pelipisnya.
"Dia... dia tahu, Pak Farhan..." bisik Arya dengan suara bergetar hebat.
"Siapa yang tahu? Apa maksudmu?!"
"Pelakunya..." Arya menatap Farhan dengan mata yang dipenuhi ketakutan yang mendalam. "Nama korban adalah Maya. Dan pelakunya... dia sengaja mengukir luka ini sebagai pesan. Dia menatap langsung ke arah saya dalam penglihatan itu! Dia tahu saya bisa melihat apa yang dia lakukan pada korban!"
Kata-kata Arya seperti hantaman petir di dalam ruang pemulasaraan yang dingin. Farhan merasakan bulu kuduknya berdiri tegak. Seorang pembunuh berdarah dingin yang tidak hanya melakukan pembunuhan keji, tetapi juga menyadari keberadaan fenomena yang dialami Arya?
"Tenang, Arya. Tarik napas dulu," perintah Farhan tegas seraya menepuk bahu Arya keras-keras untuk menetralkan kepanikan pemuda itu. "Coba ingat detail lainnya. Di mana ruangan itu? Apa yang ada di sekitar pelaku?"
Arya mencoba menenangkan detak jantungnya yang bergemuruh. Ia memejamkan mata, dan memanggil kembali potongan-potongan visual dari memori singkat tadi.
"Ruangan bawah tanah dari beton kasar... bau cat besi yang menyengat..." gumam Arya pelan. "Ada suara deru mesin besar yang bergetar secara teratur setiap beberapa detik, seperti mesin kompresor atau generator pabrik tua."
Farhan menyempitkan matanya, pikirannya yang terasah sebagai reserse langsung bekerja cepat menghubungkan petunjuk tersebut. "Pabrik tua? Bau cat besi? Ada puluhan lokasi seperti itu di kawasan industri bagian utara dekat lokasi penemuan jasad!"
"Dan satu hal lagi, Pak," tambah Arya dengan suara yang kini mulai stabil. "Pelaku menyebut nama korban: Maya. Dia juga memakai jas hujan transparan dan pisau bedah khusus, pisau bedah dengan gagang stenlis nomor empat yang biasa dipakai di laboratorium forensik."
Farhan mengepalkan tangannya. "Pisau bedah? Berarti pelaku punya akses ke peralatan medis atau memiliki latar belakang medis!"
Farhan segera berbalik menuju dr. Aris yang sedang memeriksa berkas.
"Dokter Aris!" panggil Farhan dengan nada komando. "Tolong prioritaskan pemeriksaan sampel jaringan di luka ukiran pergelangan tangan ini. Dan periksa apakah ada jejak bahan kimia atau cat industri yang tertinggal di baju korban!"
Dokter Aris menoleh heran melihat perubahan nada bicara Farhan yang mendadak sangat agresif. "Baik, Farhan. Saya akan ambil sampel swab di luka dan pakaiannya sekarang."
Farhan lalu menarik Arya keluar dari ruang IKKJ menuju koridor sepi di samping gedung. Udara luar yang dingin membantu meredakan ketegangan yang membakar dada mereka.
"Arya," kata Farhan seraya menatap lurus ke dalam mata pemuda itu. "Ini bukan lagi sekadar kasus pembunuhan biasa. Kalau pesan itu memang ditujukan untuk 'penyidik dan pemulasara', artinya penjahat ini punya hubungan dengan kasus-kasus yang kita tangani sebelumnya, atau dia adalah bagian dari jaringan Nusantara Utama Group yang belum tertangkap."
"Tapi bagaimana bisa dia tahu soal kemampuan saya, Pak Farhan?" tanya Arya dengan kecemasan yang nyata. "Hanya Bapak dan Mbak Dian yang tahu..."
"Mungkin dia tidak tahu secara pasti mekanismenya," analisis Farhan cerdas. "Tapi dia tahu kalau setiap korban yang masuk ke IKKJ RSUD Bina Husada dan dimandikan olehmu selalu berhasil memberi kita petunjuk yang tak masuk akal. Pembunuh ini sedang memancing kita, Arya. Dia ingin membuktikan kalau dia bisa mengontrol permainan ini."
Farhan merogoh ponselnya, dan menekan nomor kepala unit Cyber Crime Polres.
"Halo, Tim Cyber? Ini Iptu Farhan," ujar Farhan ke ponselnya. "Cek data orang hilang dalam 24 jam terakhir di seluruh wilayah hukum kota. Cari nama Maya, usia pertengahan 20-an, latar belakang pekerja seni, mahasiswa, atau tenaga medis. Kirimkan data lengkapnya ke ponsel saya dalam 15 menit!"
Hanya butuh waktu dua puluh menit bagi tim Cyber Crime untuk menemukan kecocokan data. Korban bernama Maya Kartika, usia 24 tahun, seorang asisten laboratorium di Universitas Bina Nusantara yang dilaporkan hilang oleh keluarganya sejak kemarin sore saat hendak pulang kuliah.
Yang lebih mengejutkan, dari hasil swab mikro-forensik dr. Aris, ditemukan jejak partikel resina epoksi, bahan dasar cat pelapis besi tahan karat, pada celana jeans dan luka di kulit Maya.
Farhan berdiri di depan peta digital kawasan industri utara yang terbuka di tablet miliknya.
"Resina epoksi... mesin kompresor... gedung beton tua..." Farhan memindahkan jarinya di atas peta, dan menunjuk satu titik lokasi yang ditandai warna merah. "Bekas pabrik cat CV Bina Warna! Pabrik itu disita oleh bank dan terbengkalai sejak tiga tahun lalu karena kasus limbah!"
"Tempatnya dekat dengan lokasi penemuan jasad di selokan bendungan?" tanya Arya yang berdiri di samping Farhan.
"Cuma berjarak dua kilometer!" jawab Farhan tegas. Ia mematikan layar tabletnya dan memeriksa pistol Glock 17 di pinggangnya. "Aku akan bawa satu tim Brimob untuk mengepung lokasi itu sekarang."
Arya melangkah maju. "Saya ikut, Pak Farhan."
Farhan berhenti, dan menatap Arya dengan dahi berkerut keras. "Tidak, Arya! Tempat itu berbahaya! Pelaku itu sengaja memancing kita, dan dia tahu siapa kamu!"
"Justru karena itu saya harus ikut, Pak!" tegas Arya dengan mata memancarkan tekad yang tak tergoyahkan. "Pria itu mengukir pesan di tubuh korban karena dia menganggap kematian dan penderitaan orang lain adalah permainan. Saya tidak bisa diam di sini sementara Bapak menuju jebakan tanpa tahu tata letak pasti dari ruangan bawah tanah yang saya lihat di penglihatan itu!"
Farhan menatap Arya secara mendalam. Ia melihat bukan lagi sosok pemulasara pemalu yang ketakutan seperti beberapa waktu lalu, melainkan seorang pria yang siap mempertaruhkan nyawanya demi menegakkan keadilan bagi jiwa-jiwa yang telah direnggut.
Farhan mendesah pelan, lalu menyunggingkan senyum tipis. "Baik. Tapi kamu tetap berada di dalam mobil komando sampai area dinyatakan aman oleh tim taktis. Paham?"
"Paham, Pak!"
Bersambung...