NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Rival

Menikah Dengan Rival

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Rii_Risa

"Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"

"Mau."

Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.

Hanya karena ingin menjadi pengangguran yang kaya raya, Lengkara Anasera nekat menerima perjodohan yang di buat oleh orang tuanya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa calon suaminya itu.

Sialnya, pria itu adalah Erlangga Bumi Maheswara, musuh bebuyutannya sejak kecil.

Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Akankah Kara nekat membatalkan perjodohan ini? Atau ia justru bertahan demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya? Mengingat Erlangga adalah sosok pria tajir melintir yang selama ini ia cari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rii_Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Mendengar ancaman itu, tubuh Kara seketika menegang. Ia tahu betul Erlangga tidak pernah main-main dengan ucapannya.

Kara perlahan mendongak, menatap tajam kearah Erlangga. "Gue bisa ganti sendiri!" ketusnya sambil menyentak kasar gaun ivory dari tangan pria itu.

Tanpa membuang waktu, Kara langsung melenggang masuk ke dalam ruang ganti dan membanting pintunya dengan kasar.

Braakkk!

Erlangga hanya tersenyum tipis sebelum akhirnya berjalan kembali menuju sofa.

Sementara itu, di dalam ruang ganti, wajah Kara sudah merah padam karena menahan kesal. Ia meremas kuat-kuat gaun ivory itu.

"Dasar cowok sinting! Lo tuh beraninya cuma ngancam gue!" gerutu Kara.

Ia mendengus kesal, lalu menunduk mengamati gaun pilihan Erlangga yang kini sudah ada di genggaman tangannya.

Mau tidak mau, ia harus mencoba gaun itu. Perlahan ia mulai menurunkan resleting pada gaun putih yang ia kenakan tadi, lalu menggantikannya dengan gaun ivory pilihan Erlangga.

Begitu bahan satin premium itu melekat pada tubuhnya, gerutu Kara mendadak terhenti. Ia berbalik menghadap kearah cermin besar di dalam ruangan. Kedua matanya mengerjap tak percaya. Gaun lengan pendek itu jatuh dengan begitu pas dan elegan di tubuhnya. Bagian dada yang tertutup rapat justru memberikan kesan mahal dan anggun, sangat kontras dengan gaun pilihan Kara sebelumnya.

Kara menggigit bibir bawahnya, mendadak kesal pada dirinya sendiri.

"Sial... kenapa gaun pilihan Erlangga sebagus ini sih?" batinnya frustrasi.

Kara memandangi pantulan dirinya di cermin sekali lagi, mencoba mencari celah kekurangan dari gaun tersebut agar punya alasan untuk menolaknya. Namun nihil. Gaun ini justru membuatnya terlihat seribu kali lebih cantik dan menawan.

"Enggak, enggak. Bagusan juga pilihan gue tadi," gumam Kara sambil menarik nafasnya dalam-dalam.

Dengan dagu yang kembali terangkat tinggi, Kara memutar knop pintu itu perlahan.

Begitu melangkah keluar, Kara langsung melipat kedua tangannya di depan dada.

"Lihat nih gaun pilihan lo. Jelek banget kan?" ketus Kara.

Mendengar suara Kara, Erlangga yang sedang memainkan ponselnya langsung mendongak.

Pria itu terpaku selama beberapa detik. Matanya yang tajam menyapu penampilan Kara dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan binar yang tidak bisa ia sembunyikan.

Perlahan ia bangkit, lalu berjalan mendekat kearah wanita itu.

"Bagus, gue suka yang ini."

"Bagus lo bilang? Selera lo tuh payah, Erlangga," ucap Kara sambil berusaha menutupi fakta bahwa ia sendiri juga terpesona dengan gaun itu.

Erlangga sama sekali tidak bergeming atau terpengaruh oleh ejekan itu. Ia justru membalikkan badannya dengan santai menghadap ke arah pramuniaga yang sejak tadi hanya berdiri canggung sambil menyaksikan pertengkaran mereka di sudut ruangan.

"Kita ambil yang ini," ucap Erlangga pada sang pramuniaga.

"Eh, tunggu! Kok lo ambil keputusan sendiri sih?!" protes Kara tak terima, ia melangkah maju dan menarik lengan jas Erlangga agar pria itu berbalik menghadapnya.

Erlangga langsung menoleh, menatap tangan Kara di lengannya, lalu beralih ke wajah wanita itu.

"Terus?"

"Gue enggak mau gaun ini! Gue mau ambil gaun yang pertama tadi!" seru Kara, lalu ia beralih menatap kearah pramuniaga itu. "Mbak, saya ambil gaun yang pertama tadi. Siapkan yang itu!"

Pramuniaga itu tampak bingung sambil melirik kearah Erlangga.

Erlangga langsung menghela nafasnya pasrah. Ia harus banyak bersabar ketika menghadapi sifat keras kepala Kara yang tidak ada habisnya itu.

"Bungkus keduanya," ucap Erlangga akhirnya.

"Baik, Tuan," sahut pramuniaga itu cepat.

Kara yang mendengar hal itu langsung menurunkan tangannya dari lengan Erlangga. Sepasang sudut bibirnya melengkung, membentuk senyum penuh kemenangan.

Tapi, Kara belum puas. Kesempatan emas tidak boleh disia-siakan bukan.

"Tunggu, Mbak! Karena calon suami saya ini sangat kaya raya..." Kara sengaja menjeda kalimatnya, lalu menunjuk sebuah gaun malam mewah berpotongan selutut di sisi kiri. "Saya juga mau ambil yang itu."

Setelah itu, Kara berbalik ke sisi kanan, di mana sederet tas berbahan kulit premium berjejer rapi di rak kaca. "Dan tas yang itu, yang hitam, merah, sama putih."

Belum puas melihat wajah Erlangga yang masih saja datar, Kara melangkah ke etalase kaca tengah, menunjuk sepasang perhiasan berlian. "Dan set perhiasan ini, saya juga mau semuanya."

Setelah puas menunjuk hampir setengah isi toko, Kara akhirnya berbalik dan melempar senyum paling manis ke arah Erlangga.

"Semua total harganya masukkan ke nota pria ini ya, Mbak. Yang bayar calon suami saya yang super baik hati dan tidak sombong ini."

Pramuniaga itu tampak ragu dan menatap Erlangga kikuk. "Tapi Nona, barang-barang disini kan..."

"Bungkus semuanya," potong Erlangga cepat tanpa berkedip sedikit pun.

Kara semakin melebarkan senyum puasnya.

"Dengar kan, Mbak? Calon suami saya aja enggak keberatan. Ya sudah bungkus, saya mau ganti baju dulu," ucapnya riang, lalu melangkah kembali ke ruang ganti.

Begitu pintu ruang ganti tertutup rapat, Erlangga langsung menghela nafas berat.

"Sepertinya limit kartu ku tidak akan cukup kalau dia memborong hampir setengah isi toko," ucap Erlangga pada pramuniaga itu.

Pramuniaga itu tersenyum sopan sambil membungkuk sedikit. "Maaf, Tuan Muda... Bukankah sudah saya sampaikan di awal? Jika anda merasa keberatan, anda sama sekali tidak perlu membayar sepeser pun di sini."

"Tidak. Aku tetap akan membayar sisanya. Butik ini milik Mama, dan aku tidak mau bisnis Mama bangkrut hanya karena ulah wanita gila itu. Jadi, tetap kirimkan sisa tagihannya ke rekeningku."

Pramuniaga itu tertegun sejenak, lalu kembali tersenyum. "Baik, Tuan Muda, jika itu keputusan Anda. Saya akan segera menyiapkan semuanya."

Tak membutuhkan waktu lama, Kara akhirnya keluar dari ruang ganti dengan pakaiannya yang semula. Ia melirik ke arah Erlangga yang sedang berdiri bersandar di sudut ruangan sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya.

Kara berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di samping pria itu.

"Nggak sabar deh gue lihat muka panik lo waktu pramuniaga itu bilang kalau saldo lo nggak cukup," batinnya sambil terkikik geli.

Tak butuh waktu lama, pramuniaga itu akhirnya kembali dengan membawa beberapa paper bag besar berisi seluruh pesanan Kara tadi.

"Terima kasih atas kunjungan Anda hari ini, Tuan, Nona," ucap pramuniaga itu sambil menyerahkan kembali kartu hitam milik Erlangga.

Erlangga mendongak, dan langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku jas, lalu segera menerima kartu hitam itu.

Sementara Kara, ia terus menatap ke arah Erlangga. Ia sangat berharap wajah pria itu sedikit panik atau berkeringat dingin. Namun sialnya wajah Erlangga tetap tenang dan datar seperti biasanya.

"Saldo lo beneran cukup buat bayar semua ini?"

Erlangga melirik sekilas ke arah Kara. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang menyebalkan. "Cukup. Atau lo mau gue beliin butik ini sekalian?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!