NovelToon NovelToon
Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Penyesalan Suami
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Diceraikan karena alasan mandul, padahal 3 tahun pernikahan ia menjadi istri yang diabaikan oleh suaminya sendiri. Malam sebelum ia meninggalkan Mansion kediaman Maximillian, Raina diam-diam menjebak suaminya, Cassion Zayn Maximillian untuk menghabiskan malam bersama. Lalu setelahnya ia menghilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun.

Namun, 8 tahun kemudian… tepat di acara pernikahan Cassion dengan teman masa kecilnya, Laura Fernandez. Raina kembali membawa sepasang anak kembar, Sean dan Shia untuk mendapatkan hak kedua anak itu sebagai pewaris keluarga Maximillian.

Dan sejak saat itu, kediaman Maximillian tidak pernah bisa tenang lagi. Raina yang tidak lagi penurut, ditambah dengan kedua anak kembarnya yang tak kenal takut. Ibu dan anak kembar itu menuntut banyak hal yang sudah 8 tahun sudah mereka lewatkan begitu saja. Dendam dan hutang mereka perhitungkan dengan baik.

Akankah Raina dan kedua anak kembarnya berhasil membalaskan dendam serta mendapatkan hak mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Tetap Sama, Tetapi Berbeda

Mungkin karena ada Sion. Mungkin karena ada Kakek Edwin. Atau mungkin karena dua pria itu telah menerima Sean dan Shia tanpa meminta penjelasan apa pun. Dan yang terpenting ia kembali bukan untuk menjadi Raina yang dulu, melainkan Raina yang jauh berbeda dari dirinya yang dulu.

Seorang kepala pelayan kemudian datang.

"Selamat datang, Tuan Muda."

Sion mengangguk. "Antarkan mereka ke kamar."

"Baik, Tuan." Kepala Pelayan itu menunduk patuh, “Silakan, Tuan dan Nona Kecil!” sambungnya dengan ramah.

Sean dan Shia langsung mengikuti kepala pelayan. Namun baru beberapa langkah, mereka berhenti. Secara serentak mereka bertanya, "Papah… Kamar kita di mana?"

"Di lantai dua."

"Yuk!"

Mereka berlari naik. Raina dan Sion hanya bisa saling pandang. Jujur saja, mereka berdua terlihat seolah sudah terbiasa dengan Mansion itu. Padahal ini adalah pertama kalinya Sean dan Shia datang. Namun, baik Raina dan Sion tidak memikirkannya terlalu jauh. Mungkin kedua anak itu memang sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan baru.

Tidak lama kemudian terdengar suara dari lantai atas. "WAH!"

"SEAN! LIHAT!"

"SHIA! ADA BANYAK MAINAN!"

Kakek Edwin tertawa. "Sepertinya mereka sangat menyukainya."

Sion tidak menjawab, namun sudut bibirnya bergerak sedikit. Sebuah senyum yang hampir tidak terlihat. Hatinya seolah merasa bangga sebagai ayah karena bisa memberikan kamar yang sesuai dengan keinginan kedua anaknya itu. Sion, Kakek Edwin dan Raina pun segera menyusulnya.

Tepat disamping kamar adalah ruang bermain yang sengaja Sion persiapkan dengan berbagai macam mainan mahal. Mereka bahkan belum melihat isi kamarnya, tetapi siapa sangka mereka sudah sangat menyukainya.

Dan ketika pintu kamar dibuka, Sean dan Shia kembali terdiam. Namun, bukan karena mereka tidak menyukainya. Justru sebaliknya, mereka sangat menyukai kamar yang udah dipersiapkan oleh Papahnya itu.

Kamar itu jauh lebih indah daripada yang mereka bayangkan. Dindingnya dihiasi warna lembut. Tempat tidur besar berdiri di tengah masing-masing kamar. Ada rak buku, lemari pakaian yang sudah dipenuhi pakaian baru. Boneka, robot, mobil-mobilan bahkan sebuah area bermain kecil sudah disiapkan.

Sean memandang sekeliling dengan mata berbinar. "Ini..."

Shia hampir tidak bisa berkata-kata. "Untuk kita?"

Kepala pelayan tersenyum. "Benar, Nona kecil dan Tuan kecil."

Sean menoleh ke arah Sion. Pria itu berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan berada di saku celananya. Sementara Raina dan Kakek Edwin berdiri satu langkah dibelakangnya, menatap kedua anak kembar itu yang terus menunjukan senyuman cerahnya.

"Papah..."

Sion menatap putranya. "Kenapa?"

"Semua ini punya kita?"

"Ya."

"Papah yang siapkan?"

Sion mengangguk. "Mm."

Tiba-tiba Sean berlari. "Papah!"

Sion bahkan belum sempat bereaksi ketika tubuh kecil itu sudah memeluk pinggangnya. Shia menyusul, hingga membuat Sion sedikit terkejut dengan aksi keduanya. Sion lantas berjongkok untuk menyamakan tinggi kedua anaknya.

"Papah!" Kedua anak itu memeluk Sion bersamaan. Kemudian...

Cup!

Sebuah kecupan mendarat di pipi kiri Sion, lalu satu lagi di pipi kanannya. Sion membeku, karena untuk pertama kalinya ia merasakan kehangatan di hatinya. Ciuman kedua anaknya seolah kembali menghidupkan hatinya yang selama ini sedingin gunung Es, bahkan Raina saja tidak bisa melakukannya.

Sean tertawa. "Terima kasih, Papah!"

Shia ikut tersenyum. "Shia suka kamar ini!"

Sion menatap keduanya, raut wajahnya masih dingin. Namun sorot matanya berubah lembut dan penuh kehangatan. "Tidak perlu berterima kasih."

Dia mengusap kepala mereka bergantian. "Ini kamar kalian."

Sean tersenyum lebar. "Berarti kita tinggal di sini?"

"Ya."

"Selamanya?"

Sion terdiam sebentar. Kemudian menjawab dengan suara rendah. "Selama kalian mau."

Raina yang berdiri di belakang mereka menatap pemandangan itu dalam diam. Dadanya terasa hangat. Dia melihat bagaimana Sion yang awalnya terlihat seperti pria yang sulit didekati kini membiarkan kedua anaknya memeluk dan mencium wajahnya sesuka hati. Bahkan dirinya saja tidak bisa menyentuh hati maupun tubuh pria itu selama tiga tahun pernikahan mereka. Akan tetapi, satu hari rupanya sudah cukup bagi Sean dan Shia meluluhkan sang gunung Es itu.

Kemudian pandangannya beralih kepada Kakek Edwin. Pria tua itu tersenyum kepadanya. Raina menundukkan kepala sedikit. Ada rasa lega yang tidak bisa dia sembunyikan. Selama bertahun-tahun, dia selalu hidup dengan ketakutan.

Takut orang dulu memburunya mengetahui keberadaan anak-anaknya. Takut Sean dan Shia akan diambil. Takut dunia kembali menghancurkan kehidupan kecil yang susah payah dia bangun.

Namun malam ini berbeda. Sion tahu mereka, Kakek Edwin tahu mereka dan tidak satu pun dari mereka menolak Sean dan Shia. Justru sebaliknya, mereka membuka pintu rumah mereka… membuka hati mereka dan memberikan tempat bagi kedua anak itu serta dirinya.

Raina tersenyum kecil. Dalam hati, dia berbisik, “Setidaknya kalian tidak ditolak dan diabaikan seperti Mamah dulu dan sekarang kalian tidak sendirian lagi.”

Dia menatap Sion. Pria itu sedang membungkuk untuk mendengarkan Sean yang bercerita panjang tentang robot barunya. Kemudian Shia ikut menyela. Sion terlihat kebingungan menghadapi dua suara yang berbicara bersamaan. Sion yang sangat irit bicara, kini harus dihadapkan dengan dua bocah yang justru tiada hentinya berbicara.

Raina hampir tertawa melihat pemandangan itu. Untuk pertama kalinya, dia merasa tidak harus menjadi satu-satunya pelindung bagi kedua anaknya. Karena kini... Ada seorang ayah yang akhirnya mengetahui keberadaan mereka. Dan ada seorang kakek yang sudah menerima mereka sebagai darah daging keluarga Maximillian.

Raina tidak tahu apa yang akan terjadi setelah malam ini atau lebih tepatnya setelah hasil tes DNA itu keluar. Dia juga tidak tahu bahwa di tempat lain, sebuah rencana sedang disusun untuk menghancurkan ketenangan mereka.

Namun untuk malam ini, dia memilih menikmati satu hal sederhana. Melihat kedua anaknya bahagia, melihat mereka memiliki rumah yang sesungguhnya dan melihat Sion... pria yang berhasil merebut hatinya sampai detik ini untuk pertama kalinya... terlihat seperti seorang ayah.

“Apa kalian tidak ingin melihat-lihat seisi mansion ini?” Pertanyaan Kakek Edwin seketika menyadarkan Raina dari pikirannya sendiri, sekaligus menyudahi cerita si kembar.

“Tentu, kami mau Kakek Buyut,” ujar Sean yang seketika beralih menggenggam tangan Kakek Edwin.

“Ayo, pergi lihat-lihat, Kek!” Shia pun tidak mau ketinggalan.

Kakek Edwin akhirnya mengajak Sean dan Shia berkeliling mansion. Kedua bocah itu tampak begitu antusias. Hingga banyak pertanyaan yang terus kedua bocah itu lontarkan sepanjang jalan.

"Ini ruang apa, Kakek?"

"Perpustakaan."

"Sebanyak ini bukunya?"

"Masih sedikit."

Sean dan Shia langsung berlari ke sisi lain. "Kalau yang itu?"

"Itu ruang musik."

"Kalau yang sana?"

"Ruang keluarga."

Pertanyaan demi pertanyaan tidak berhenti. Kakek Edwin hanya bisa tertawa sambil mengikuti langkah kedua cucunya. Sementara itu, Raina berdiri di ruang tengah bersama Sion. Dia masih memperhatikan kedua anaknya dari kejauhan ketika tiba-tiba sebuah tangan menggenggam pergelangan tangannya.

Raina tersentak. "Sion?"

Bersambung....

1
Budhe Satryo
rayna jngan terkena jebakan kamu harus bisa nglawan Calista ma anak"nya
Sri Yatun
kalo tau rencana mau menyingkirkan dan membunuhnya bakal kamu yg d usir kemungkinan besar kamu yg mati duluan ibu tiri dan saudara tiri
Budhe Satryo
makin seruuu crtanya
Budhe Satryo
misi perang dimulai rayna
Budhe Satryo
keluarga bahagia❤️❤️❤️
Budhe Satryo
adiknya yg selama ini menjadi pendukung setia rayna
Budhe Satryo
gpp salah paham dulu biar makin cinta
Budhe Satryo
misi Lum dimulai lho ...dah panas az Calista ni
Budhe Satryo
good rayna biar papah si kembar ush Dewe 😄😄😄
Budhe Satryo
moga rayna TDK mudah dijebak
Budhe Satryo
waspada rayna musuh dpn mata
Budhe Satryo
wah bisa jadi kerja sama dngn Calista tu sih laura
Budhe Satryo
akhirnya Sion bisa takluk dngn si kembar 😍😍😍
Budhe Satryo
y ampun pemilik dianggap gelandangan 🤣🤣🤣
Budhe Satryo
misi dimulai si kembar 😄😄😄
Budhe Satryo
mungkin Calista dan lea yg JD musuh dlm selimut
Budhe Satryo
bibit mafia emang g ad obat 🤣
Budhe Satryo
duo s JD pembela mamanya donk
Budhe Satryo
mulai seruuu ni 😊😊😊😍😍😍
Budhe Satryo
moga tidak JD menikah dngn laura
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!