Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Namun setelah melihat bagaimana Astiana melumpuhkan empat penembak di club malam tadi, Raka tahu gadis ini tidak sedang membual.
"Kau benar-benar monster kecil yang bersembunyi di balik wajah cantik dan lugu."
Raka menghela nafas panjang sebagai tanda menyerah pada sifat keras kepala Astiana.
"Apakah ada jadwal pengiriman barang atau pertemuan rutin di mansion itu besok."
Astiana kembali bertanya pada Leo untuk menggali celah keamanan dari rutinitas musuh.
"Setiap akhir bulan, Tuan Kusuma selalu datang ke sana secara pribadi untuk memberikan laporan keuangan."
Leo menjawab dengan cepat karena dia sangat hafal jadwal penting mantan bosnya itu.
"Dan kebetulan besok adalah hari terakhir di bulan ini."
Astiana tersenyum tipis mendengar informasi waktu yang sangat menguntungkan itu.
"Kalau begitu, besok adalah hari yang paling sempurna untuk menyamar menjadi utusan pembawa dokumen."
"Tapi kau tidak punya dokumen laporan keuangan Bintang Zamrud yang asli, Nona."
Raka memotong rencana Astiana dengan raut wajah yang kembali bingung.
"Kau kan punya tim peretas dan pemalsu dokumen yang hebat, Tuan Muda Raka."
Astiana menatap Raka dengan pandangan menuntut dan senyum tipis.
"Buat saja dokumen palsu yang terlihat sangat meyakinkan lengkap dengan logo PT Bintang Zamrud."
"Mereka tidak akan sempat membacanya dengan teliti saat aku sudah berada di dalam ruangan Nyonya Besar."
Raka terdiam sejenak sebelum akhirnya tertawa pelan menyadari betapa licik dan cerdasnya rencana ini.
"Kau benar-benar tahu cara memanfaatkan kekayaan dan sumber dayaku dengan sangat maksimal."
Raka segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi ketua tim peretas rahasianya.
"Siapkan dokumen palsu laporan keuangan Bintang Zamrud dengan kertas kualitas tinggi malam ini juga."
Raka memberikan perintah tegas lalu mematikan panggilannya tanpa menunggu jawaban.
"Lalu apa yang akan kita lakukan pada pria penipu ini sekarang."
Raka menunjuk Leo yang kembali duduk tegang menanti nasibnya diputuskan.
"Kita tidak bisa membiarkannya berkeliaran, dia tahu terlalu banyak tentang rencana kita."
Leo langsung turun dari kursinya dan bersujud di lantai gudang yang kotor memohon belas kasihan.
"Tolong jangan bunuh saya, saya akan tutup mulut rapat-rapat dan menghilang dari kota ini."
"Saya punya istri dan anak yang masih kecil, tolong kasihani nyawa saya."
"Berhenti menangis seperti anak kecil, Tuan Leo, aku tidak akan pernah membunuh orang yang tidak melawan."
Astiana memerintahkan Leo untuk kembali duduk dengan nada suara yang tegas.
"Tuan Muda Raka, apakah keluargamu punya rumah aman lain untuk menyembunyikan pria ini."
"Keluarga Darma punya banyak vila kosong di luar kota yang sangat aman dari jangkauan intelijen Bintang Zamrud."
Raka menjawab dengan cepat karena dia sudah mengerti jalan pikiran Astiana.
"Bagus, bawa dia ke vila itu malam ini juga dan berikan penjagaan yang cukup ketat."
Astiana menatap Leo yang terlihat langsung membuang nafas lega mendengar keputusan tersebut.
"Kau akan aman di sana selama kau tidak mencoba kabur atau menghubungi rekan penipumu."
"Terima kasih banyak, Nona, terima kasih."
Leo menghapus air mata ketakutannya menggunakan ujung lengan kemejanya yang berbau alkohol.
"Saya berjanji akan bersaksi di pengadilan untuk kalian jika kalian berhasil menjatuhkan Nyonya Miranda nanti."
"Simpan saja janji sucimu itu untuk nanti, Tuan Leo."
Astiana berdiri dari kursinya dan berjalan perlahan menuju pintu keluar gudang yang terbuka lebar.
Malam sudah semakin larut dan udara pelabuhan terasa sangat dingin menusuk hingga ke tulang.
"Kita kembali ke rumah sekarang, Tuan Muda Raka."
Astiana menoleh ke arah Raka yang sedang sibuk membereskan laptopnya ke dalam tas.
"Besok adalah hari yang panjang dan aku harus tidur cukup untuk kunjunganku ke Mansion Bukit Hijau."
"Aku akan menyiapkan semua perlengkapan penyamaran dan rute pelarian teraman untukmu besok pagi."
Raka berjalan menyusul Astiana dan mereka berdua masuk kembali ke dalam kenyamanan mobil sedan perak.
Brummm.
Mesin mobil menderu keras dan melaju meninggalkan kawasan pelabuhan yang gelap gulita.
Di dalam mobil, Astiana merogoh balik kerah bajunya dan mengeluarkan liontin kristalnya.
Dia menggenggam benda dingin itu erat-erat dengan tekad yang sudah bulat.
"Tunggu aku besok, Miranda Adibrata."
Suara hati Astiana bergema penuh keyakinan dan keberanian.
"Aku akan segera datang mengetuk pintumu untuk menagih semua jawaban atas masa laluku."
Malam ini adalah malam terakhir Astiana bersembunyi di balik bayang-bayang.
Fase adaptasi dan penyelidikan rahasianya telah resmi berakhir.
Mulai besok, dia akan menyerang langsung ke jantung pertahanan musuh terbesarnya.
Keluarga Adibrata akan segera mengetahui bahwa mereka telah salah membangunkan singa betina yang sedang tertidur.
selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣