NovelToon NovelToon
Cari Aku Di Rasa Sesalmu

Cari Aku Di Rasa Sesalmu

Status: tamat
Genre:CEO / Balas Dendam / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Zikri Cahyandi

Tiga tahun Alyssa Kirana Sastro duduk di meja makan keluarga Narendra, dan tiga tahun pula ia dituduh jadi penyebab lumpuhnya Nadine. Suaminya, Devan, tak pernah mau mendengarnya.

Malam ini Alyssa meletakkan surat gugatan cerai dan cincin nikahnya di meja kerja Devan, lalu pergi tanpa membawa apa pun. Dua jam kemudian, mobilnya ditemukan hancur di dasar jurang. Jasadnya tidak ada.

Devan masih ingin percaya itu hanya drama. Namun di rumahnya tertinggal selembar catatan.

Ke mana Alyssa pergi, dan apa yang akan Devan lakukan saat sadar apa yang sudah ia buang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zikri Cahyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jelang Penghakiman

Kalimat Aris masih menggantung di ruang kerja yang luas itu. Nadine keracunan di sel. Jam di dinding berdetak pelan, dan gerimis di balik kaca setinggi empat meter tiba-tiba terdengar sangat keras.

Devan sudah bergerak sebelum ia sadar. Tangannya merogoh saku jas untuk ponsel, tapi Alyssa lebih cepat.

"Aris. Kirim dua orang ke ICU Rumah Sakit Medika Utama, sekarang. Orang kita sendiri, bukan petugas rumah sakit. Mereka berjaga di kamar 402 sampai saya cabut perintahnya."

"Sudah saya hubungi tadi, Nona. Mereka dalam perjalanan." Aris menunduk sedikit. "Dan Nadine masih kritis. Polisi menduga racun dimasukkan ke dalam makan siangnya. Petugas sel yang mengantar makanan baru bertugas tiga hari."

Devan menatap Alyssa. Wanita itu tidak menoleh, tapi suaranya menyusul dingin dan cepat.

"Pergilah, Devan. Jangan tinggalkan ibumu sendirian malam ini."

"Alyssa—"

"Pergi."

Devan menahan langkahnya sebentar. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda terakhir yang ia bawa: cincin perak murah dengan garis putih yang mulai pudar di bagian dalamnya. Ia meletakkannya di atas meja jati, di samping gelang yang tadi ia kembalikan.

"Simpan saja. Bukan sebagai simbol pernikahan yang gagal." Suaranya serak. "Tapi sebagai bukti bahwa pernah ada wanita yang mempertaruhkan hidupnya untuk laki-laki sebodoh aku."

Ia membungkuk pelan. Ia tidak pernah melakukannya pada siapa pun seumur hidupnya. Lalu ia berbalik dan keluar tanpa menoleh.

Alyssa berdiri diam di balik mejanya. Pintu ganda itu menutup, dan langkah Devan menjauh di koridor kaca. Tatapannya jatuh pada dua benda di meja. Cincin yang pernah ia letakkan di meja Devan malam itu, dan gelang yang ia ikat sendiri di rem tangan.

Ia menunggu sampai bunyi lift terdengar.

Baru kemudian ia mengambil gelang itu, menyelipkannya ke pergelangan kiri, dan menutup kaitnya. Ibu jarinya berhenti di sana, tidak lagi mencari tempat yang kosong.

***

Pukul sebelas malam, Unit Perawatan Intensif Rumah Sakit Medika Utama.

Dua pria berjas gelap sudah berdiri di depan kamar 402, tanpa seragam rumah sakit dan tanpa kartu pengenal. Salah satunya mengangguk singkat pada Devan. Ia mengangguk balik dan masuk.

Siska terbaring dengan selang infus di lengan dan kabel monitor di dada. Wajahnya tanpa riasan, pucat dan keriput. Matanya terbuka perlahan ketika langkah Devan mendekat. Air matanya langsung menggenang.

"Devan..." Suaranya hampir tak terdengar di balik masker oksigen. "Selamatkan Ibu... polisi mau menahanku begitu aku keluar dari sini."

Devan duduk di kursi plastik di samping ranjang. Ia membiarkan jemari kurus itu menyentuh punggung tangannya. Ia tidak membalas genggamannya.

"Hukum harus berjalan, Bu."

"Ibu ini ibumu!" Tangis Siska pecah dalam bisikan. "Semua itu Ibu lakukan demi kamu, demi kekayaan keluarga kita!"

"Bukan demi aku." Devan menggeleng pelan. "Demi keserakahan Ibu sendiri."

Ia menarik tangannya perlahan. Saat Siska hendak meraihnya lagi, Devan berkata dengan suara yang nyaris tidak bergetar.

"Aku mengangkat telepon Ibu, kemarin. Orang bernama B itu menelepon saat Ibu pingsan."

Raut wajah Siska membeku. Monitor jantung di sampingnya berbunyi lebih cepat.

"Siapa dia, Bu?"

"Ibu... tidak tahu siapa..."

"Ibu tahu." Devan mencondongkan badan. "Dia tahu soal rekaman Nadine, padahal aku baru menemukannya dua jam sebelumnya. Dia orang yang sama yang membayar Nadine, dan sekarang dia meracuni Nadine karena Nadine hampir bicara."

Mata Siska melebar. Napasnya tersengal-sengal, dan satu tangannya mencengkeram pagar ranjang.

"Kalau Ibu bicara... dia akan membunuh Ibu, Devan..."

Hening. Hanya mesin monitor yang bersuara.

Devan menatap wajah ibunya lama. Di balik pucatnya, ia melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat: ketakutan yang bukan pura-pura.

"Kalau begitu, jangan keluar dari ruangan ini tanpa orang-orangku." Ia berdiri. "Bukan karena aku memaafkan Ibu. Tapi karena Ibu saksi yang masih hidup."

Ia berjalan ke pintu. Di belakangnya, Siska memanggil namanya sekali, lemah, tapi ia tidak menoleh.

Di koridor, ia menelepon Vito. "Taruh orangmu di setiap pintu keluar rumah sakit ini. Dan cek makanan, minuman, dan obat yang masuk ke kamar ibuku."

***

Pukul sembilan pagi, ruang rapat direksi lantai 28.

Tujuh komisaris senior duduk mengelilingi meja oval, saling berteriak dan menunjuk layar proyektor yang menampilkan grafik anjloknya saham Narendra. Pramono, komisaris utama bertubuh tambun dengan kemeja sutra bergaris, memukul meja hingga cangkir kopinya bergetar.

"Ini pengkhianatan! Devan membiarkan ibunya membusuk di rumah sakit, membiarkan Nadine ditangkap, dan sekarang menyerahkan perusahaan kepada perempuan panti asuhan itu!"

"Kita tidak boleh menandatangani apa pun!" seru komisaris lain. "Kita ajukan penundaan ke Pengadilan Niaga dan sewa pengacara internasional!"

Pintu terhempas terbuka.

Devan masuk dengan setelan hitam tanpa dasi. Wajahnya tirus, matanya cekung setelah semalam tak tidur. Teriakan di ruangan itu padam seketika.

Ia berjalan ke kepala meja dan berdiri di depan layar tanpa duduk.

"Kalian merencanakan gugatan?"

Pramono menegakkan duduknya. "Devan! Tugasmu melindungi aset pemegang saham, bukan bertekuk lutut pada A-K Capital!"

"Pemegang saham yang mana, Pramono?"

Devan melempar bundel tebal ke tengah meja. Lembar-lembar laporan keuangan lepas pantai berhamburan.

"Dividen ilegal empat puluh miliar rupiah. Kalian terima dari rekening cangkang ibuku selama tiga tahun. Kalian tahu dari mana uang itu, tapi kalian diam karena kebagian."

Wajah Pramono pucat. Beberapa komisaris menarik tangan dari meja seolah kertas-kertas itu panas.

"Kami ini pendiri bersama Kakekmu, Devan!"

"Kakekku sudah tiada." Devan menekan kedua telapak tangannya ke meja, menatap Pramono dari jarak dekat. "Dan kalau satu saja dari kalian mengajukan gugatan atau mengganggu RUPS Luar Biasa, berkas ini sampai di meja penyidik sebelum matahari terbenam. Siapkan surat pengunduran diri kalian sebelum hari rapat."

Tidak ada yang bersuara.

Di ujung meja, seorang komisaris muda menunduk dan mencatat sesuatu di ponselnya. Devan sempat melihatnya. Ia tidak berkata apa-apa.

***

Sore itu, lantai lima puluh Mahendra Tower.

Hujan sudah reda. Alyssa duduk di balik meja jati, membaca ringkasan pra-akuisisi yang baru selesai disusun tim hukum. Aris masuk membawa map merah bersegel perbankan Singapura.

"Nona. Devan berhasil membungkam dewan komisaris. Pramono batal mengajukan gugatan."

"Dia tahu cara menekan orang yang pernah bekerja di bawahnya."

"Ada hal lain yang lebih mendesak." Aris meletakkan map merah di atas meja. "Tim hukum kita di Singapura menemukan klausul di arsip konsolidasi Mahendra tahun 2006. Dua puluh tahun lalu, Tuan Rendra dan Kakek Broto, yang saat itu bersahabat, mendirikan dana wali amanat senilai seratus juta dolar di Singapura."

Alyssa mengangkat wajah. "Papa tidak pernah menyebutkannya."

"Beliau mungkin tidak tahu klausul spesifiknya. Dokumennya disusun oleh pengacara Kakek Broto." Aris membuka halaman yang sudah diberi penanda. "Dana itu dipersiapkan untuk anak cucu dua keluarga jika terjadi krisis. Sebagian besar dialokasikan untuk operasional Mahendra Corp. Tapi ada satu pos terpisah: yayasan pendidikan dan panti asuhan, termasuk Kasih Bunda."

Alyssa membeku.

"Dana itu yang membayar listrik dan makan anak-anak di sana selama dua puluh tahun, Nona."

"Syarat pencairannya?"

Aris menarik napas. "Dibutuhkan tanda tangan bersama ahli waris utama Mahendra Corp dan ahli waris utama Narendra Group. Dan pada saat penandatanganan, keduanya harus terikat dalam hubungan hukum yang sah sebagai pasangan."

Alyssa membaca paragraf itu sekali, lalu sekali lagi. Jemarinya berhenti di baris terakhir.

"Maksudnya..."

"Pernikahan, Nona. Entah itu rencana awal dua sahabat tua untuk anak-anak mereka, atau cara Kakek Broto menjamin perlindungan Anda, saya tidak bisa memastikan." Suara Aris pelan. "Tapi isinya jelas. Kalau gugatan cerai Anda disahkan sebelum dana itu dicairkan, seluruhnya dibekukan permanen oleh otoritas Singapura. Dikategorikan dana tak bertuan."

Alyssa menatap halaman itu. Satu juta lima ratus ribu dolar per tahun untuk panti. Dua puluh tahun.

"Berarti tidak ada lagi dana untuk anak-anak Kasih Bunda."

"Tidak ada, Nona. Tidak dari dana ini."

Alyssa meletakkan dokumen itu di meja dengan sangat pelan. Di pergelangan kirinya, gelang perak itu bersinar tipis di bawah lampu.

"Apakah ada jalan lain? Cara membatalkan klausul tanpa melibatkan Devan?"

"Yurisdiksi Singapura tidak bisa diintervensi pengadilan Indonesia. Hanya ada satu cara." Aris menatapnya. "Devan harus tetap menjadi suami Anda secara hukum saat RUPS Luar Biasa digelar tiga belas hari lagi, dan keduanya harus menandatangani bersama."

Alyssa memejamkan mata.

Ia memikirkan surat gugatan yang ia letakkan di meja kerja Devan malam itu. Cincin yang ia lepas tanpa ragu. Pintu yang ia janjikan tidak akan pernah ia ingat lagi.

Dan sekarang, satu-satunya jalan menyelamatkan anak-anak yang selama dua puluh tahun menjaga ingatannya tetap hidup adalah tetap menjadi istri laki-laki yang paling ingin ia tinggalkan.

.....

.....

Bersambung.

1
falea sezi
uda end kah
Kriii: udahh end kakk🙏, belum ada ide untuk ngelanjutin🤭
total 2 replies
falea sezi
🤣biar mati aja nenek sihir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!