Bagaimana bisa seorang agen rahasia berdarah dingin yang ditakuti dunia mafia mati mengenaskan di rumahnya sendiri... hanya karena tersedak air putih?
Takdir bercanda saat jiwanya terlempar ke tubuh seorang gadis kaya yang terkenal pendiam, lambat, dan selalu ditindas. Lebih parah lagi, gadis itu terikat pernikahan dingin dengan seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpengaruh.seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpeSang CEO berdarah dingin dibuat pusing setengah mati melihat istrinya yang dulu pemalu kini berubah menjadi wanita impulsif yang dengan santainya melumpuhkan puluhan penjahat, walau uniknya masih sering tersandung kaki sendiri saat berjalan.
Di tengah kecamuk perang antar-mafia, intrik bisnis triliunan rupiah, dan tingkah konyol yang tak terduga, mampukah sang Raja Mafia menundukkan jiwa liar di tubuh istrinya, atau justru dialah yang akan berlutut di hadapan sang istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Pagi itu, surat kabar nasional dan portal berita finansial terkemuka diisi oleh satu nama yang mendominasi halaman depan: **Aura Valeria Vane**. Skandal penangkapan Siska dan Clara atas tuduhan percobaan peracunan serta pencemaran nama baik menjadi berita kriminal terbesar pekan ini. Di saat yang sama, berita tentang Aura yang mengambil alih kepemimpinan proyek pelabuhan logistik otomatis bernilai 12 triliun rupiah melesatkan nilai saham Vane Group ke angka tertinggi sepanjang sejarah.
Di kediaman keluarga Valeria yang kini lengang, Hermawan Valeria hanya bisa terduduk lemas di sofa. Tanpa dukungan dana dari Vane Group dan dengan 20% saham manufakturnya yang telah dibeli secara diam-diam oleh perusahaan cangkang milik Aura, Hermawan resmi kehilangan kendali atas bisnisnya sendiri. Ia dipaksa menyetujui restrukturisasi penuh di bawah kendali tunggal Aura.
Dendam pemilik tubuh asli atas penindasan keluarga beracun itu kini telah terbalaskan sepenuhnya tanpa sisa.
Sementara itu, di lantai teratas Mansion Vane, Aura berdiri di balkon kamar utama. Ia mengenakan gaun santai warna putih yang berkibar lembut ditiup angin pagi. Di tangannya, ada cangkir teh hangat—kali ini tanpa sedotan, karena ia sudah membuktikan ketangkasannya berulang kali di hadapan para pelayan.
Aura menatap pemandangan kota dari ketinggian hill residence. Logika agen rahasianya mulai mengkalkulasi masa depan.
*Keluarga Valeria sudah hancur. Posisi finansialku dari hasil saham V-Core sudah mencapai puluhan miliar rupiah. Aku punya modal lebih dari cukup untuk pergi dari sini, membeli pulau pribadi, dan hidup bebas tanpa perlu terikat pada pernikahan kontrak ini lagi,* batin Aura bermusyawarah dengan dirinya sendiri.
Surat perjanjian perceraian yang sempat ditunda oleh Adrian tiga bulan lalu masih tersimpan di laci meja kerja pria itu.
Langkah kaki yang mantap dan teratur mendekat dari belakang. Sebuah lengan kokoh melingkar halus di pinggang Aura, menarik tubuh wanita itu bersandar rapat di dada bidang Adrian. Aroma kayu cendana yang hangat dan menenangkan seketika melingkupi indra penciuman Aura.
"Melamunkan apa di pagi hari?" suara berat Adrian terdengar rendah di dekat telinga Aura.
Aura tidak menepis tangan itu seperti biasanya. Ada rasa nyaman yang perlahan merayap dan mengikis benteng pertahanan dingin seorang mantan agen elit.
"Aku sedang berpikir..." Aura menoleh sedikit, bicaranya meluncur lancar namun tanpa intonasi cepat yang defensive seperti biasanya, "...tentang tenggat waktu tiga bulan kita. Surat cerai itu... kapan kamu bakal kirim ke pengadilan?"
Tubuh Adrian sempat membeku sejenak. Lingkaran tangannya di pinggang Aura perlahan makin mempererat dekapan. Pria itu memutar tubuh Aura agar mereka saling berhadapan lurus.
Mata gelap Adrian menatap dalam-dalam ke dalam mata bulat Aura, tidak ada lagi kilatan kejahatan atau keraguan di sana—hanya ada ketulusan dan intensitas rasa posesif yang begitu pekat.
"Surat cerai itu sudah kubakar minggu lalu, Aura," bisik Adrian dengan suara rendah yang seksi.
Aura membelalakkan mata. "Kamu membakarnya?! Tanpa persetujuanku?!"
"Ya," balas Adrian tenang tanpa rasa menyesal sedikit pun. "Sejak awal, aku menunda perceraian itu bukan karena penasaran pada permainanmu. Tapi karena aku tahu... aku tidak akan pernah sanggup melepasmu pergi."
Adrian merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam. Di dalamnya, melingkar sebuah cincin berlian biru yang sangat indah dan langka—cincin simbol penerus utama keluarga Vane.
"Kamu datang ke hidupku seperti badai, Aura," ujar Adrian, jemarinya yang hangat menggenggam jemari Aura yang lembut. "Bicaramu secepat senapan mesin, kelakuanmu tidak terduga, kamu bisa melumpuhkan pembunuh bayaran dalam hitungan detik... tapi kamu juga bisa hampir tewas cuma gara-gara tersedak air minum biasa di kamarmu sendiri."
Aura merona hebat, hendak menyambar omelan cepat, namun Adrian memotongnya dengan senyuman yang sangat menawan.
"Aku tidak peduli siapa kamu di masa lalu atau keajaiban apa yang membawamu ke tubuh ini," lanjut Adrian dengan nada lembut yang tulus. "Yang aku tahu, aku mencintai seluruh kekacauan, kejerdasan, dan kecerobohanmu. Maukah kamu tetap di sisiku... bukan sebagai istri kontrak, tapi sebagai Ratu dari Vane Group yang sesungguhnya?"
Jantung Aura berdegup kencang secara tidak wajar. Agen rahasia yang terbiasa hidup sendiri tanpa pernah percaya pada siapa pun ini mendadak merasa dadanya dipenuhi oleh kehangatan yang amat sangat. Benteng pertahanannya runtuh total di hadapan pria di depannya ini.
"Kamu... kamu sadar kan kalau hidup denganku bakal pusing terus?" bisik Aura pelan, bibirnya mengukir senyum manis yang sangat langka. "Bicaraku bakal tetap secepat senapan mesin dan aku tidak menjanjikan tidak akan terpeleset lagi di lantai rumahmu."
"Aku siap menangkapmu setiap kali kamu jatuh, Aura," balas Adrian mantap.
Adrian menyematkan cincin berlian biru itu ke jari manis Aura. Ukurannya pas sempurna.
Aura mendongak, menyandarkan kedua tangannya di dada bidang Adrian. "Kalau begitu... tawaranmu diterima, Tuan CEO konyol."
Adrian tersenyum puas, lalu menundukkan wajahnya, mendaratkan ciuman hangat yang penuh dengan rasa cinta dan kepemilikan di bibir Aura. Aura memejamkan mata, membalas kecupan itu dengan kehangatan yang sama.
Namun, di tengah momen romantis dan mengharukan yang sangat sempurna di atas balkon itu... sifat ceroboh bawaan jiwa Aura yang mendadak muncul saat ia merasa terlalu bahagia kembali berulah!
Saat hendak menepuk bahu Adrian dengan manja, tumit sandal rumahnya tersangkut di lipatan karpet balkon!
"Waa! Adrian!" jerit Aura kaget saat tubuhnya hilang keseimbangan total!
*Greb!*
Tentu saja, refleks bajak laut dan petarung mafia milik Adrian bergerak secepat kilat. Adrian menyambar pinggang Aura dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya, hingga mereka berdua jatuh bersama ke atas sofa empuk balkon dengan posisi Aura berada tepat di atas dada bidang Adrian.
Aura berkedip konyol di atas dada Adrian, matanya menatap wajah suaminya yang kini tertawa lepas dan renyah di bawah sinar matahari pagi.
"Untuk kesekian kalinya, Istriku..." bisik Adrian sambil mengacak pelan rambut Aura dengan penuh kasih sayang, "...setiap kali kamu selesai menjadi ratu yang sempurna, kamu selalu menutupnya dengan jatuh tepat di atas dadaku."
Aura merona merah padam, tetapi kali ini ia tidak lagi elak atau bersilat lidah secepat senapan mesin. Ia menyandarkan kepalanya di dada hangat Adrian, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdetak seirama dengan jantungnya.
"Iya, iya, Tuan CEO," gumam Aura dengan senyum kebahagiaan yang terkembang penuh di bibirnya. "Aku memang ditakdirkan untuk selalu jatuh... tapi cuma ke dalam pelukanmu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC ❤️ 🥰 😘