Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 — Kepulangan dari Masa Lalu
Pesawat yang membawa Clarissa kembali ke Jakarta akhirnya mendarat setelah menempuh perjalanan panjang dari luar negeri. Perempuan itu duduk sejenak di kursinya, memandangi pemandangan kota melalui jendela pesawat dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Sudah cukup lama ia meninggalkan Indonesia. Selama berada di luar negeri, Clarissa berusaha membangun kehidupan baru dan meyakinkan dirinya bahwa masa lalunya bersama Adrian Mahendra telah benar-benar selesai.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah sepenuhnya bisa ia lupakan.
Adrian.
Laki-laki yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya itu masih sesekali muncul dalam ingatannya. Bukan karena Clarissa tidak pernah bertemu orang lain setelah kepergiannya, melainkan karena hubungannya dengan Adrian berakhir tanpa percakapan panjang yang benar-benar menjelaskan semuanya.
Dahulu, Adrian selalu sibuk dengan pekerjaannya. Pertemuan mereka sering tertunda, pesan-pesannya terkadang tidak dibalas selama berjam-jam, dan rencana yang sudah disusun bisa berubah hanya karena urusan perusahaan.
Clarissa pernah berusaha memahami kesibukan itu. Namun, semakin lama, ia merasa seperti berdiri sendirian dalam hubungan yang seharusnya dijalani berdua.
Pada akhirnya, Clarissa memilih pergi.
Kini, setelah sekian lama, ia kembali.
Dan tanpa disadarinya, kehidupan Adrian telah berubah dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan.
---
Sore harinya, Clarissa tiba di apartemennya yang sudah disiapkan sebelum kepulangannya. Setelah merapikan beberapa barang, ia duduk di sofa sambil membuka ponselnya.
Ia mulai mencari kabar tentang orang-orang yang pernah dikenalnya.
Jarinya berhenti ketika menemukan sebuah unggahan dari akun yang dikenalnya sebagai salah satu rekan bisnis Adrian.
Foto itu memperlihatkan Adrian berdiri di samping seorang perempuan dalam pakaian pernikahan.
Clarissa mengernyit.
Ia memperbesar foto tersebut, memastikan bahwa laki-laki di dalamnya memang Adrian Mahendra.
Wajah itu tidak mungkin salah.
Akan tetapi, perempuan yang berdiri di samping Adrian bukanlah dirinya.
Clarissa membaca keterangan pada unggahan tersebut berulang kali. Senyum di wajahnya perlahan menghilang ketika ia memahami maksud foto itu.
Adrian sudah menikah.
“Sejak kapan?” gumamnya.
Ia kembali melihat foto tersebut. Adrian mengenakan setelan pengantin dengan ekspresi tenang yang sangat dikenalnya. Sementara perempuan di sampingnya tampak sederhana, tetapi anggun.
Nama perempuan itu tertulis pada keterangan unggahan.
Alisha Amanda.
Clarissa menyandarkan punggungnya ke sofa. Untuk beberapa saat, ia tidak melakukan apa pun selain menatap layar ponselnya.
Ia memang sudah lama meninggalkan Adrian. Ia juga tahu bahwa dirinya tidak bisa menuntut laki-laki itu untuk terus menunggunya.
Namun, mengetahui bahwa Adrian telah menikah tetap terasa berbeda dibandingkan sekadar membayangkan bahwa laki-laki itu mungkin sudah memiliki kehidupan baru.
“Jadi, kamu benar-benar sudah menikah, Adrian?” bisiknya.
Ada rasa terkejut, sedikit kecewa, dan rasa ingin tahu yang bercampur menjadi satu.
Clarissa tidak tahu seperti apa perempuan bernama Alisha Amanda itu. Ia tidak tahu bagaimana mereka bertemu atau apa yang membuat Adrian memutuskan untuk menikah.
Yang ia tahu, Adrian bukan orang yang mudah mengambil keputusan besar tanpa pertimbangan.
Pernikahan itu tentu memiliki alasan.
Clarissa mengambil ponselnya kembali, membuka daftar kontak, lalu menemukan nama seseorang yang sudah lama tidak dihubunginya.
Maya.
Ia segera mengirim pesan.
Clarissa: May, kamu sedang sibuk? Aku baru sampai Jakarta.
Balasan Maya datang beberapa menit kemudian.
Maya: Clarissa? Serius kamu sudah pulang?
Clarissa: Iya. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan.
Maya: Apa?
Clarissa sempat ragu sebelum mengetik kalimat berikutnya.
Clarissa: Kamu tahu kalau Adrian sudah menikah?
Kali ini, Maya membutuhkan waktu lebih lama untuk membalas.
Maya: Kamu sudah melihat fotonya?
Clarissa menegakkan tubuhnya.
Clarissa: Jadi, itu benar?
Maya: Iya. Aku juga baru tahu beberapa waktu lalu. Istrinya bernama Alisha Amanda.
Clarissa mengembuskan napas perlahan.
Clarissa: Kamu tahu banyak tentang perempuan itu?
Maya: Tidak terlalu. Yang kutahu, mereka sudah menikah. Aku sendiri belum pernah bertemu dengannya.
Clarissa menatap percakapan itu dengan pikiran yang semakin penuh pertanyaan.
Clarissa: Aku ingin bertemu Adrian.
Maya: Clarissa, dia sudah menikah sekarang.
Clarissa: Aku tahu. Aku hanya ingin berbicara dengannya. Kami sudah lama tidak bertemu.
Maya tidak langsung membalas.
Clarissa memahami maksud temannya. Ia tahu kepulangannya bisa menimbulkan persoalan, terutama jika ia datang tanpa memikirkan keadaan Adrian saat ini.
Namun, ia belum merasa siap mengabaikan masa lalu begitu saja.
Maya: Kalau memang ingin bertemu, setidaknya pikirkan baik-baik tujuanmu. Jangan sampai kamu justru menyakiti dirimu sendiri.
Clarissa membaca pesan itu, lalu meletakkan ponselnya di atas meja.
Tujuannya?
Ia sendiri belum bisa menjawabnya dengan pasti.
Mungkin ia hanya ingin mengetahui bagaimana kehidupan Adrian sekarang. Mungkin ia ingin mendengar penjelasan yang dahulu tidak pernah benar-benar didapatkannya.
Atau mungkin, jauh di dalam dirinya, masih ada bagian yang belum selesai menerima perpisahan mereka.
---
Di tempat lain, Adrian sedang berada di ruang kerjanya di Mahendra Group.
Tumpukan dokumen memenuhi sebagian meja, sementara layar komputer menampilkan laporan keuangan yang harus ia periksa sebelum rapat berikutnya.
Ketukan terdengar dari pintu.
“Masuk.”
Daniel melangkah masuk sambil membawa sebuah map.
“Pak, laporan dari divisi pemasaran sudah saya letakkan di meja. Selain itu, ada informasi yang perlu saya sampaikan.”
Adrian tidak segera mengalihkan pandangan dari layar komputer.
“Informasi apa?”
“Clarissa sudah kembali ke Jakarta.”
Jari Adrian yang sedang mengetik berhenti sesaat.
Hanya sesaat.
Setelah itu, ia kembali menyelesaikan kalimat yang sedang ditulisnya sebelum menutup dokumen di layar.
“Kapan?”
“Sepertinya hari ini, Pak.”
Adrian bersandar pada kursinya.
Nama itu membawa kembali sejumlah ingatan yang sudah lama tidak ia pikirkan secara sengaja. Namun, ia tidak menunjukkan perubahan berarti pada wajahnya.
“Baik.”
Daniel masih berdiri di hadapannya.
“Apakah ada yang perlu saya lakukan?”
“Tidak perlu. Kalau dia menghubungi saya, biarkan saja. Urusan pribadi tidak perlu dicampur dengan pekerjaan.”
“Baik, Pak.”
Daniel mengangguk, tetapi sebelum berbalik, ia menyampaikan satu hal lagi.
“Saya juga ingin memastikan jadwal Bapak untuk beberapa hari ke depan. Ada dua pertemuan dengan investor dan satu acara perusahaan yang perlu dipersiapkan.”
“Letakkan jadwalnya di meja saya. Saya akan memeriksanya nanti.”
“Baik.”
Setelah Daniel keluar, Adrian kembali bekerja.
Ia tidak berusaha mencari kabar Clarissa. Ia juga tidak menghubungi perempuan itu untuk menanyakan alasan kepulangannya.
Masa lalu mereka memang pernah menjadi bagian dari hidupnya, tetapi Adrian tidak merasa perlu membuka kembali sesuatu yang sudah lama berakhir.
Sekarang, ia memiliki kehidupan yang berbeda.
Ia sudah menikah dengan Alisha.
Walaupun pernikahan mereka berawal dari sebuah kesepakatan, Adrian tetap menyadari bahwa keputusan tersebut membawa tanggung jawab yang tidak bisa ia abaikan begitu saja.
Ia tidak tahu apakah hubungan mereka akan berubah seiring waktu. Untuk saat ini, ia hanya ingin menjalani kesepakatan itu tanpa menimbulkan persoalan yang tidak diperlukan.
Adrian kembali menatap dokumen di hadapannya.
Namun, sebelum melanjutkan pekerjaan, pandangannya sempat beralih ke ponsel yang terletak di sisi meja.
Tidak ada pesan baru dari Alisha.
Entah mengapa, ia teringat bahwa perempuan itu biasanya mengirim pesan singkat ketika ada sesuatu yang perlu dibicarakan mengenai rumah atau jadwal mereka.
Adrian segera mengalihkan pandangannya.
Tidak ada alasan untuk memikirkan hal itu sekarang.
---
Sementara itu, Alisha sedang membantu menyelesaikan beberapa pesanan di Sweet Morning Bakery.
Suasana toko cukup ramai sore itu. Beberapa pelanggan datang untuk membeli roti sebelum pulang kerja, sementara Mira sibuk menyiapkan pesanan yang akan diambil seorang pelanggan.
“Alisha, tolong periksa pesanan di meja depan, ya. Sepertinya ada satu kotak yang belum diberi label,” kata Mira.
“Baik, sebentar.”
Alisha memeriksa setiap kotak dengan teliti. Setelah memastikan semuanya sesuai, ia membantu Rani membersihkan meja kerja.
Di tengah kesibukan itu, pikirannya sesekali tertuju pada ibunya yang masih menjalani perawatan.
Ia berharap kondisi Ratih semakin membaik. Biaya rumah sakit memang masih menjadi beban yang harus dipikirkan, tetapi setidaknya untuk sekarang ia bisa terus bekerja dan memenuhi kebutuhan ibunya.
Ponselnya bergetar di dalam tas.
Ketika waktu istirahat tiba, Alisha mengambil ponselnya dan membaca pesan dari Adrian.
Adrian: Bagaimana pekerjaanmu hari ini?
Alisha sedikit terkejut. Biasanya Adrian hanya mengirim pesan jika ada sesuatu yang berkaitan dengan kesepakatan mereka atau keperluan rumah.
Ia membalas dengan singkat.
Alisha: Lumayan ramai, tetapi semuanya baik-baik saja. Kenapa?
Beberapa saat kemudian, balasan masuk.
Adrian: Tidak apa-apa. Hanya bertanya.
Alisha mengerutkan kening kecil.
Ia menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum membalas.
Alisha: Oh, baiklah. Aku masih bekerja. Nanti kita bicara di rumah.
Setelah mengirim pesan itu, ia menyimpan kembali ponselnya dan melanjutkan pekerjaan.
Bagi Alisha, perhatian kecil seperti itu tidak perlu ditafsirkan terlalu jauh. Adrian mungkin hanya berusaha menjaga komunikasi agar kehidupan mereka sebagai pasangan tetap berjalan dengan baik.
Bagaimanapun, mereka telah sepakat untuk menjalani pernikahan ini selama satu tahun.
Alisha tidak ingin menciptakan harapan yang tidak pernah dijanjikan.
Di sisi lain, Adrian membaca balasan Alisha sebelum meletakkan ponselnya kembali di meja.
Percakapan mereka memang singkat. Tidak ada yang istimewa.
Namun, ia menyadari bahwa belakangan ini dirinya mulai terbiasa menanyakan keadaan perempuan itu.
Adrian tidak mencoba mencari alasan di balik kebiasaan tersebut.
Ia hanya kembali bekerja, menganggapnya sebagai bagian dari tanggung jawabnya sebagai seorang suami.
Setidaknya, untuk sekarang, itulah penjelasan yang paling masuk akal baginya.
Sementara itu, di sebuah apartemen di pusat kota, Clarissa kembali membuka foto pernikahan Adrian.
Tatapannya berhenti pada wajah Alisha.
Ia belum pernah bertemu perempuan itu, tetapi kini rasa ingin tahunya semakin besar.
Clarissa tahu bahwa ia tidak bisa begitu saja kembali ke kehidupan Adrian seperti dahulu. Keadaan sudah berubah, dan ada seseorang yang kini berdiri di samping laki-laki itu.
Namun, ia belum berniat menghindar.
Ia ingin bertemu Adrian secara langsung, mendengar suaranya, dan mengetahui sendiri seperti apa kehidupan yang sekarang dijalaninya.
Clarissa meletakkan ponselnya setelah menyimpan foto tersebut.
“Aku hanya ingin bicara denganmu sekali lagi, Adrian,” gumamnya.
Ia belum tahu bahwa pertemuan yang diinginkannya itu kelak akan mempertemukannya dengan Alisha, perempuan yang kini menjadi istri Adrian Mahendra.
Dan tanpa disadari siapa pun, kepulangan Clarissa menjadi awal dari perubahan kecil yang perlahan akan menguji batas-batas dalam pernikahan yang selama ini mereka jalani.