NovelToon NovelToon
Kekasihku Seorang Intel Dan COO

Kekasihku Seorang Intel Dan COO

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Wisye Titiheru

Lusia Irene seorang dokter yang sedang sekolah spesialis onkologi di salah satu rumah sakit polisi. Karena dokter pembinanya adalah seorang polisi. Di usianya yang sudah dua puluh tujuh tahun Lusia belum perna membuka hatinya buat hadirnya seorang laki - laki. Karena traumanya atas rumah tangga orangtuanya yang berpisah karena adanya orang ketiga. Papanya berselingkuh di usianya sudah enam belas tahun. Apakah Lusia Irene bisa merasakan cinta hadir di kehidupannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Keluarga Gio

"Mas mu??? Mami... Lihat dia sembunyi - sembunyi bawa cewek makan malam. Padahal tadi aku ajak makan bersama mami."

"Maafkan saya, saya bisa pulang sekarang." Lusi mau pergi tinggalkan restoran. Gio semakin yakin bahwa Lusi salah paham.

"E... Jangan. Kalau pulang sama saya." Lusi semakin marah di buat Gio.

"Tetapi mas..... E...maaf sebelumnya. Saya dan mas Gio hanya teman biasa. Sumpah. Ngak ada hubungan apa pun." Gio tertawa, hal ini yang membuat Lusi marah. Hatinya berkata bisa - bisa tertawa, padahal pacar dan orangtua pacar lihat dia makan malam bersama wanita lain. Lusi mau berlari. Namun Gio dengan cepat memegang tangannya.

"Lus, kenalkan ini kakak saya Rahel Abraham dan ini mami saya Hany Julia. Mi, kak ini Lusia Irene." Raut wajah Lusi memerah, ingin rasanya dia menangis karena malu.

"Hai Lus, salam kenal ya. Maaf kalau adeku rada - rada ngak jelas."

"Mami dan kakak boleh gabungkan mas."

"Mami..... Bisa aja. Sebenarnya kalau Gio sih ngak ya."

"Kalau gita mami minta sama Lusi. Boleh kan Lusi??"

"Oooo silahkan tante, kak." Rahel tersenyum mengejek adiknya. Rahel memesan makanan yang sama seperti yang di pesan Gio, karena itu makanan kesukaan mereka bertiga jika makan di restoran ini. Lusi masih malu apalagi tadi dia sudah berpikir salah. Maka Lusi yang sedang malu itu menyubit paha Gio yang duduk disebelahnya.

"Aduh....."

"Kenapa dek." Gio menatap Lusi, begitu juga sebaliknya.

"Tidak masalah mi, tiba - tiba kesemutan kaki kiri adek."

Makan malam ini pun dilakukan meskipun tampak kaku, namun Lusi menikmati makan malam bersama kakak dan maminya Gio Abraham.

"Nak Lusi kerja dimana??"

"Saya belum kerja bu, saya masih sekolah."

"Lusi dokter residen mi, di mentori oleh Agus."

"Wah... Hebat dong. Kalau mentornya Agustinus berarti Lusi spesialis onkologi."

"Iya tante."

"Tahun keberapa Lus?"

"Puji Tuhan ini tahun terakhir."

"Berarti sudah mau wisuda dong."

"Dua bulan lagi tante."

"Rencananya mau melayani dimana?" Lusi sedikit bingung. Maminya Gio tahu betul tentang kedokteran.

"Dek, mamiku juga dokter." Lusi tersenyum. Hampir saja dia berpikir yang lain.

"Kalau aku ngak dokter. Aku kebetulan yang mengelola usaha keluarga." Lusi sudah tahu Adiguna Grup adalah punya keluarga Gio, dan pasti kakaknya yang mengelola usaha itu.

Makan malam bersama selesai. Lusi sedikit nyaman, karena maminya Gio orangnya ramah, dan mereka nyambung karena punya profesi yang sama. Bahkan Kak Rahel mengundang makan malam lagi. Namun kali ini, bukan di hotel tetapi di rumah mereka.

Mami dan kakaknya Gio tahu, bahwa Lusi pasti cewek yang sedang disukai oleh adeknya. Dan pertemuan pertama Rahel serta mami Hany senang berkenalan dengan Lusi. Penilaian mereka Lusi baik dan cocok buat adik serta anak laki - lakinya. Rahel Abraham sudah menikah. Suaminya juga seorang dokter saraf di rumah sakit siloam. Mereka mempunyai satu anak laki - laki baru berusia enam tahun. Kalau Rahel keluar dengan maminya, maka suaminya Dokter Roland Lemo akan menemani putra mereka. Itu sudah komitmen mereka berdua, sehingga Kellen Andreas Lemo tidak sendiri.

Sebelum jam tujuh mereka sudah pulang dari restoran yang ada di mall itu. Mami dan Kakak Rahel menggunakan mobil. Sedangkan Gio dengan motor kebangaannya membonceng Lusi pulang. Jarak mall ke apartemen tempat Lusi tinggal sangat dekat.

"Terima kasih ya, sudah mau temani aku makan malam. Meskipun dua pengacau hidupku juga hadir."

"Aku senang kok, mami dan kakakmu ada."

"Iya, tetapi aku yang ngak senang, karena ngak bebas ngomong sama kamu. Tetapi besok makan siang aku bawa kamu ke butik langganan ku."

"Oke terima kasih. Selamat malam."

"Selamat malam juga cewek jutek."

Kali ini Gio hanya mengantar Lusi sampai di bawa saja. Dia tidak ke unit apartemen Lusi. Karena tadi dalam perjalanan ada pesan dari komandannya untuk kumpul di kantor Brimob ada hal penting yang mau di bahas.

Lubuk hati Lusi paling dalam dia bahagia sekali, bisa makan malam enak bersama seorang Gio Abraham, sudah ganteng, karir masa depannya bagus, kharismatik. Pokoknya sempurna deh. Sosok dewa. Lusi tersenyum sendiri. Dia menaruh bunga kesayangannya yang dibeli Gio kedalam pot bunga yang sudah di isi air kemudian di foto dan dibuat stori pada whatsaapnya.

Lusi berpikir tidak banyak orang yang tahu dan tidak juga banyak temannya di aplikasi ini.

"Sesuka itu kamu sama bunga yang aku berikan." Raut wajah Lusi berubah menjadi merah. Dia tidak menyangka bahwa Gio sendiri yang akan berkomentar. Semakin malu Lusi, dia pun langsung non aktifkan handphonenya langsung dia tidur. Gio yang penasaran selesai rapat langsung ke apartemen Lusi, dia hendak melihat CCTV yang sebenarnya tidak bisa di lihat oleh siapa pun kecuali, pemilik sedang tidak ada, saat meminta pengurus apartemen menjaga dan membersihkan unit mereka, baru fungsi CCTV itu digunakan.

Akhirnya Gio tahu bahwa perempuan yang dia cintai ini sudah tidur. Dia tersenyum melihat Lusi sedang tertidur.

"Pak Arman ini calon nyonya Abraham."

"Betulkah bos. Nona dokter Lusi akan jadi nyonya Abraham."

"Bantu doanya ya."

"Amin. Amin. Amin. Bos. Pasti bapak doakan. Non, Lusi orangnya ramah bos." Gio tersenyum. Kemudian dia keluar dari ruangan kontrol CCTV.

Pukul dua belas siang AKP Gio Abraham sudah berada di poli onkologi. Iptu Agustinus Wiratman yang pertama kali bertemu dengan Gio.

"Ngapain lu."

"Kepo amat."

"Tetapi kamu ngak sakit kan."

"Ngak lah." Agus mulai iseng dia meminta Lusi untuk memeriksa satu pasien terakhir.

"Tapi dokter yang terdaftar tiga belas orang sudah semua di periksa oleh dokter."

"Iya, ini mendadak."

"Harusnya ke IGD dokter."

"Lusi, tolong ini jiwa orang. Stop pikir prosedurnya. Itu urusan saya." Agus tahu, bahwa Lusi tidak mau membuat dirinya susah. Karena pasien yang tidak melalui prosedur aturan akan susah di klaim. Namun ini bukan pasien onkologi. Ini pasien yang sakit jiwanya hatinya sedang dipenuhi cinta dan obatnya itu kamu. Ingin sekali dokter Agus berkata demikian, namun ditahan hati dan mulutnya.

"Baik dokter."

Gio dengan percaya diri masuk dengan membawa buket coklat kecil, namun coklat yang menjadi bahan buket adalah coklat - coklat hight class. Alias coklat - coklat mehong. Satu coklat saja harganya bisa lima ratusan ribu, jika di totalkan ada enam berarti harga buket coklat itu tiga jutaan.

"Ada keluhan apa pak."

"Hatiku berdebar - debar tidak tentu jika bersama melihat kamu."

Ners Ari sudah tersenyum sampai menahan tawa melihat sikap romantis komandan Gio Abraham. Sedangkan dokter Agus sudah menahan tawanya. Yang menjadi target sedang sibuk mengurus prosedur pasien agar dokternya tidak kena tegur dari pimpinan rumah sakit. Lusi mulai merasa ada yang berbeda. Waktu di angkat mukanya. Ternyata pasiennya ada Gio Abraham. Raut wajah Lusi berubah menjadi merah.

"Dokter sudah siap. Sesuai janjiku kemarin, hari ini aku akan mengantarmu ke butik."

"Siap komandan." Ini yang Gio suka dari Lusi, dia cepat menutup rasa gugupnya. Ini tantangan Gio untuk bisa lebih dekat mengenal perempuan ini.

"Ke butik?"

"Iya dokter, komandan Gio, mau menolong saya menjahit kain yang diberikan dokter Desy buat nikahan dokter nanti." Akhirnya Agus mengerti. Lusi sedang mengambil tasnya ruangan sebelah sekalian menganti bajunya dengan baju casual punyanya. Jins dan kaos putih, rambut di gerai dan dijepit sedikit tas putih selempang yang muat handphone dan ipadnya. Sepatu sneaker putih kesukaannya.

"Kalau bisa jangan buat calon nyonya Abraham repot buat menjadi pagar ayu."

"Tetapi ini kesempatanmu agar calon nyonya Abraham bisa semakin lengket seperti prangko."

"Bantu doa ya."

1
r111
lanjut
Ceisye: ok. terima kasih sudah membaca karyaku. kritik dan sarannya silahkan🙏🙏🙏
total 1 replies
serana
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!