Lia hanyalah gadis biasa. Hidup sederhana, bekerja keras membantu orang tuanya, tidak punya harta, tidak punya nama besar. Ia hanya ingin menjalani hari dengan tenang dan jujur.
Namun takdir membawa ia melangkah masuk ke dunia yang sama sekali asing — dunia mewah, dingin, dan penuh aturan milik Arga, pewaris tunggal kekayaan keluarga paling berpengaruh di kota itu.
Pertemuan mereka bukan karena kebetulan. Sebuah perjanjian lama mengikat kedua keluarga, memaksa mereka menikah. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah kewajiban yang harus ia penuhi. Bagi Lia, ini adalah awal dari perjalanan yang menguji ketabahan, kesetiaan, dan hatinya.
Di antara dua dunia yang tak pernah bertemu, bisakah cinta tumbuh? Apakah gadis biasa seperti Lia mampu menembus dinding dingin yang dibangun Arga? Atau pada akhirnya, ia hanya akan menjadi kisah singkat yang terlupakan di istana megah itu?
"Aku mungkin tidak lahir dengan harta, tapi aku lahir dengan hati yang mampu mencintaimu seutuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal yang Membuatku Tak Ingin Pergi
Pikiran untuk pergi datang diam-diam, seperti embun yang menempel di daun — tidak terlihat di awal, namun perlahan-lahan menjadi cukup berat untuk membuatnya membungkuk. Ia muncul di saat-saat hening, setelah mendengar bisikan di balik pintu, setelah melihat tatapan yang tidak ramah, setelah menyadari bahwa di tempat ini, aku akan selalu menjadi orang asing di mata banyak orang.
Aku membayangkannya — mengemasi pakaianku sedikit, menulis surat yang panjang dan penuh air mata, berjalan keluar dari gerbang besar ini tanpa menoleh, kembali ke desa kecil tempat aku berasal, tempat tidak ada yang menilai, tidak ada yang membandingkan, tidak ada yang berbisik di belakangku. Hidup akan sederhana lagi. Tenang. Tidak ada beban di pundak, tidak ada rasa takut setiap kali melangkah. Dan Arga... Arga akan kembali ke dunianya. Ia akan diterima kembali, dihormati, dikelilingi orang-orang yang mengerti caranya hidup. Ia tidak akan kehilangan apa-apa lagi.
Setiap kali pikiran itu muncul, hatiku terasa perih dan kosong sekaligus. Bagian dariku ingin pergi — untuk melindunginya, untuk melepaskan beban yang kurasakan. Namun bagian lain, bagian yang jauh lebih kuat, menahanku di sini. Ada sesuatu yang membuat kakiku tak sanggup melangkah menjauh — sesuatu yang bukan sekadar cinta, melainkan rumah.
Aku menemukan hal-hal itu bukan di tempat yang megah, bukan di pesta atau perayaan. Aku menemukannya di hal-hal kecil, di saat-saat yang tidak dilihat orang lain.
Ia ada di cara Arga menyisihkan waktu setiap pagi, tidak peduli seberapa sibuknya ia, untuk duduk sebentar bersamaku sebelum memulai hari — menanyakan bagaimana tidurku, apa yang ingin kulakukan, tersenyum seakan melihatku adalah hal terbaik yang terjadi pagi itu. Ia ada di cara ia mendengarkan ceritaku dengan sungguh-sungguh, meski hal itu tentang hal-hal sederhana — tentang tanaman yang tumbuh, tentang makanan yang baru kucoba, tentang kenangan masa kecilku. Ia tidak pernah terlihat bosan atau tidak tertarik. Ia mendengarkan seakan setiap kata itu berharga.
Ia ada di cara ia menjagaku tanpa membuatku merasa dijaga — saat ia berjalan di sisi jalan yang berbahaya, saat ia memastikan aku makan cukup, saat ia memelukku diam-diam saat aku merasa lelah meski tidak mengatakannya. Ia tahu kapan aku butuh dihibur, kapan aku butuh didengarkan, kapan aku hanya butuh duduk berdampingan dalam keheningan.
Ia ada di halaman kecil yang kami buat bersama — tanah yang kami gemburkan berdua, benih yang kami tanam dengan tangan sendiri, bunga yang kini mulai mekar karena kami rawat bersama. Setiap helai daun di sana adalah bukti bahwa kami bisa menumbuhkan sesuatu yang indah, bahkan di tempat yang asing bagiku.
Ia ada di caranya melihatku — bukan seperti orang melihat hiasan atau kewajiban, melainkan seperti orang melihat rumah tempat ia pulang. Di matanya, aku tidak pernah terlihat kurang. Aku tidak pernah terlihat salah. Aku hanya... aku. Dan itu sudah cukup.
Suatu sore, saat aku duduk memandang ke arah gerbang yang terbuka lebar — jalan yang bisa kulewati kapan saja — Arga datang dan duduk di sampingku. Ia tidak bertanya apa yang kupikirkan. Ia hanya berkata pelan, "Kau melihat jalan itu."
Aku mengangguk pelan. "Ia terlihat mudah."
Ia menatap ke arah jalan itu juga, lalu kembali menatapku. "Ya. Pergi itu mudah. Tetap tinggal yang sulit — terutama saat hatimu sedang lelah."
Air mata menggenang di mataku. "Bagaimana jika pergi lebih baik untukmu? Bagaimana jika dengan aku tidak ada di sini, semua kembali seperti semula?"
Arga menggeleng perlahan, menatapku dengan kesedihan yang dalam namun teguh. "Tidak akan kembali seperti semula. Karena sejak kau datang, hidupku sudah berubah. Jika kau pergi, yang tersisa bukan masa lalu yang indah — yang tersisa adalah kekosongan yang kau tinggalkan. Dan aku tidak akan bisa mengisinya dengan apa pun."
Ia menggenggam tanganku erat. "Kau bertanya apa yang membuatmu tetap tinggal? Biar aku yang menjawabnya. Bukan rumah ini, bukan nama ini, bukan apa pun yang ada di sekeliling kita. Tapi ini —" ia meletakkan tanganku di dadanya, tepat di tempat jantungnya berdetak — "ini tempatmu. Dan tidak ada yang bisa mengubah itu."
Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan suara yang lembut namun penuh keyakinan. "Aku tahu mereka menyakitimu. Aku tahu kau merasa tidak diinginkan. Tapi ketahuilah — di sini, di hatiku, kau bukan tamu. Kau pemiliknya. Dan pemilik tidak pergi hanya karena ada orang lain yang tidak menyukainya."
Hal-hal yang membuatku tak ingin pergi itu bukan satu hal besar yang menakjubkan. Ia ribuan hal kecil yang menyatu menjadi satu — senyum yang selalu menyambutku, tangan yang selalu terulur, kehadiran yang selalu menenangkan. Ia adalah rasa bahwa di tempat ini, meski banyak orang tidak menginginkanku, ada seseorang yang tidak bisa hidup tanpaku.
Malam itu, aku menatapnya saat ia tidur — napasnya tenang, wajahnya damai, seakan ia tahu aku masih di sini. Aku menyadari satu hal penting: pergi itu mudah, tapi meninggalkannya adalah hal yang paling sulit di dunia. Bukan karena tempat ini, bukan karena apa yang ia miliki — tapi karena ia adalah satu-satunya orang yang melihatku sepenuhnya, menerima aku seutuhnya, dan mencintaiku tanpa syarat.
Aku menyandarkan kepala di sampingnya, berbisik pelan agar tidak membangunkannya, "Aku tidak pergi. Tidak ke mana-mana."
Dan di saat itulah aku benar-benar paham — rumah bukan tempat yang dibangun dari batu dan kayu. Rumah adalah orang yang membuatmu merasa aman, dihargai, dan dicintai. Dan rumahku ada di sini, di sampingnya. Ke mana pun aku pergi, jika tidak bersamanya, aku tidak akan pernah pulang.
Ada hal yang membuatku tak ingin pergi. Hal itu bukan harta, bukan kedudukan, bukan pujian siapa pun. Hal itu adalah dia — Arga. Hanya dia. Dan selama ia menginginkanku di sisinya, aku akan tetap tinggal. Menghadapi bisikan, menghadapi keraguan, menghadapi apa pun yang datang — selama kami berdua bersama, aku tidak takut.