Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Keesokan harinya, pintu kamar rawatku perlahan terdorong terbuka. Sosok Olivia muncul dari balik pintu dengan raut wajah yang dipenuhi kecemasan. Begitu langkah kakinya melewati ambang pintu dan melihatku terbaring di atas brankar, ia langsung bergegas menghampiriku.
"Kata Kak Ethan, Kak Bella ada di rumah sakit sedang dirawat. Aku sangat kaget mendengarnya!" seru Olivia panik begitu sampai di sisi tempat tidurku. Matanya berkaca-kaca menatap selang infus yang menempel di tanganku. "Kak ... bagian mana yang sakit? Kenapa sampai harus dirawat di rumah sakit seperti ini?"
Aku memaksakan segaris senyuman paling tulus dan hangat di bibirku yang masih pucat. Aku tidak ingin adik kecilku ini ikut menanggung beban ketakutan tentang kutukan misterius itu.
"Kakak tidak apa-apa, Olivia. Kamu tidak usah khawatir, Kakak baik-baik saja," ucapku menenangkan, mencoba membuat suaraku terdengar seringan mungkin. "Hanya sakit maag lamaku saja yang mendadak kambuh. Ditahan sebentar lagi juga rasa sakitnya akan hilang, kok."
Aku mengulurkan tangan kanan-ku pelan, lalu mengelus lembut rambut panjang Olivia untuk meredakan kepanikannya. Namun, sentuhan itu justru membuat pertahanan Olivia runtuh. Air matanya mulai mengalir melewati pipi.
"Apa kemarin Kakak sendirian di rumah saat menahan sakit?" tanya Olivia dengan suara yang bergetar hebat. Ia menggenggam jemariku dengan erat, dipenuhi penyesalan yang mendalam. "Semua ini salah Olivia ... tidak seharusnya Olivia meninggalkan Kakak sendirian di rumah malam itu."
Olivia menjeda kalimatnya sejenak, menarik napas berat yang sarat akan kekesalan dan rasa bersalah.
"Ini juga salah Kak Aaron! Padahal Kak Aaron tahu kalau Kak Bella sudah memasak banyak makanan untuk kita, tapi dia malah menyuruh sopir datang menjemputku untuk makan di luar," ucap Olivia lagi, meluapkan seluruh kekecewaannya pada sikap dingin kakak-kakak laki-laki kami yang hampir saja merenggut nyawaku dalam kesendirian.
"Kakak mau makan sesuatu? Atau Kakak mau apa saja, biar Olivia ambilkan," ucap Olivia penuh semangat.
Ia memalingkan wajah, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang sunyi ini untuk mencari apa yang bisa ia lakukan untukku. Detik berikutnya, sepasang mata bulatnya tertuju pada keranjang parcel buah yang diletakkan di atas meja nakas.
"Kakak mau buah? Kakak mau buah apa? Biar Olivia kupaskan untuk Kakak, ya?" berondong Olivia bertubi-tubi dengan binar mata penuh perhatian. Jemari halusnya mulai menunjuk satu per satu isi keranjang. "Mau jeruk, atau apel, atau—"
"Mau buah apa saja, Olivia," potongku lembut, menyela rentetan pertanyaannya yang menggemaskan. Aku memberikan senyuman terbaik yang bisa kuukir dari atas brankar. "Apa pun buah yang kamu pilih, Kakak pasti mau memakannya."
Mendengar jawaban bella, wajah Olivia seketika kembali cerah. Tanpa membuang waktu, ia langsung mengulurkan tangan mengambil sebuah apel merah yang segar dari dalam keranjang. Ia menarik kursi besi agar lebih dekat dengan tempat tidurku, lalu dengan sangat hati-hati mulai mengupas kulit apel tersebut menggunakan pisau buah kecil yang tersedia.
Aku memperhatikan gerakan jemarinya dalam diam. Bau segar dari kulit apel yang baru terkupas mulai menguar, mengalahkan sedikit aroma obat-obatan yang sejak pagi menyengat indra penciumanku. Di dalam ruang rawat yang putih dan dingin ini, kehangatan murni dari adik kecilku perlahan-lahan mulai membasuh sisa-sisa rasa takut yang sempat mencengkeram jiwaku.
Cklek.
Suara gagang pintu yang bergerak kasar seketika memutus kehangatan di antara kami. Bau segar buah apel yang sedang dikupas Olivia mendadak menguap, digantikan oleh aura dingin yang pekat yang menguar dari ambang pintu.
Itu Kak Ethan. Ia melangkah masuk dengan raut wajah yang teramat tegang. Guratan panik dan sisa-sisa amarah dari telepon Kak Charles tadi masih tercetak jelas di dahinya yang berkerut dalam. Namun, langkah lebarnya seketika terhenti di tengah ruangan. Sepasang mata elangnya melebar, menatap tak percaya ke arah kursi di samping brankarku.
Di sana, Olivia sedang membeku dengan pisau buah dan apel yang setengah terkupas di tangannya.
"Olivia?!" suara bariton Kak Ethan mendesis tajam, memecah keheningan kamar rawat. Langkah kakinya kembali bergerak cepat, menghampiri tempat tidurku dengan tatapan mengintimidasi yang sangat kuat. "Kenapa kamu ada di sini? Bukankah sudah kukatakan di telepon tadi agar kamu tetap di rumah dan jangan pergi ke mana-mana?!"
Olivia tersentak hebat hingga pisau di tangannya nyaris tergelincir. Ia langsung bangkit berdiri dari kursi besi, menyembunyikan apel di balik punggungnya sambil menatap Kak Ethan dengan tatapan menantang yang bercampur takut.
"Kenapa Kak Ethan malah melarangku?!" seru Olivia dengan suara yang mulai bergetar menahan tangis. "Kak Bella sedang sakit parah dan dirawat di sini, tapi Kakak malah menyuruhku diam di rumah seolah tidak terjadi apa-apa! Aku ini adiknya, Kak! Aku berhak tahu kondisi Kak Bella!"
"Kamu tidak mengerti apa-apa, Olivia! Pulang sekarang!" perintah Kak Ethan mutlak, nadanya meninggi satu oktav. Pria itu menoleh ke arah pintu kaca dengan cemas, seolah takut ada sepasang mata lain yang sedang mengintai mereka dari balik koridor.
Melihat pertengkaran mereka, dadaku mendadak terasa begitu sesak. Rasa sakit di lambungku seakan kembali meremas organ dalamku dengan kejam. Kepanikan Kak Ethan yang teramat sangat ini mempertegas satu hal di benakku: telepon dari Kak Charles tadi bukan sekadar gertakan. Kak Charles benar-benar sudah tahu rahasia ini, dan Kak Ethan sedang mati-matian menjauhkan Olivia agar adik bungsu kami tidak terseret ke dalam kebencian terkutuk akibat kutukan tanggal kematian di tangan kiriku.
"Kak Ethan, kumohon... jangan bentak Olivia," bisikku lirih dari atas brankar. Suaraku yang teramat lemas dan parau seketika menghentikan argumen yang baru saja akan dilontarkan Kak Ethan.
Kak Ethan menatapku, rahangnya mengatup begitu rapat hingga buku-buku jarinya memutih saat ia mengepalkan tangan. Di dalam ruang rawat yang putih ini, dinding perlindungan yang ia bangun dengan kebohongan kini sudah berada di ambang kehancuran. Badai dari Kak Charles dan Kak Aaron bisa datang menerobos pintu ini kapan saja, dan waktu kami untuk bersembunyi sudah benar-benar habis.
Mendengar suaraku yang teramat lemas, Kak Ethan mengembuhkan napas panjang. Ia mengusap wajahnya yang tampak frustrasi, lalu berbalik dan memilih untuk langsung duduk di sofa tanpa melanjutkan bentakannya. Ketegangan yang sempat menguar pekat dari tubuhnya perlahan melunak, digantikan oleh kelelahan yang amat sangat.
Aku mengalihkan pandanganku pada Olivia yang masih berdiri mematung di samping brankar dengan mata yang berkaca-kaca. Perlahan, aku mengulurkan tangan kananku, meraih jemari halusnya, lalu mengelusnya dengan sangat pelan.
"Tidak apa-apa, Olivia ... Kakak tidak apa-apa," bisikku lembut, menyalurkan kehangatan terakhir yang kupunya demi menenangkan hatinya yang terluka.
Elusan tanganku rupanya berhasil meruntuhkan seluruh ketakutan di benak adik kecilku. Olivia menatapku lekat-lekat, lalu sedetik kemudian, sebuah senyuman lebar yang teramat manis dan cerah terukir di wajah polosnya. Binar kekhawatiran di matanya mendadak sirna, digantikan oleh rasa lega yang membubung tinggi.
Dengan gerakan riang, Olivia kembali mendudukkan diri di kursi besi. Ia membersihkan sisa potongan buah di tangannya, lalu memberikan buah apel yang baru selesai dikupasnya itu kepadaku.
"Ini, Kak Bella. Makanlah buahnya supaya Kakak bisa cepat sembuh," ucap Olivia dengan nada suara yang kembali ceria, menyodorkan potongan apel merah segar itu tepat di hadapanku.
Aku Aku menerima buah itu dengan hati yang terasa begitu penuh. Bau segar dari apel di tanganku seolah menjadi penawar sementara dari pekatnya aroma obat-obatan rumah sakit, sekaligus menjadi pelindung rapuh yang menjaga kedamaian kecil kami di dalam ruangan ini, sebelum badai dari Kak Charles dan Kak Aaron benar-benar datang menerobos masuk.
Sembari memperhatikan aku mengunyah potongan apel, Olivia mulai membuka suara. Wajah cerianya perlahan berubah mendung saat ia menceritakan kejadian di restoran mewah malam kemarin. Dengan suara yang menggebu-gebu bercampur sisa rasa kesal, ia menjabarkan bagaimana ia nekat memotong kalimat Kak Aaron dan bertengkar hebat dengan Kak Charles di depan meja makan demi membelaku.
Mendengar cerita itu, Kak Ethan yang sejak tadi duduk diam di sofa seketika menegakkan posisi duduknya. Sorot mata elangnya menajam, mengunci pandangan pada Olivia dengan raut wajah yang berubah menjadi sangat kesal.
"Kamu ... bertengkar dengan Charles di restoran?" tanya Kak Ethan, suara baritonnya mendadak terdengar berat dan penuh penekanan.
Rahang Kak Ethan mengatup begitu rapat. Ia benar-benar tidak tahu apa-apa tentang keributan itu. Bagaimana ia bisa tahu, jika malam kemarin fokusnya sepenuhnya tersedot oleh tumpukan laporan penting di atas meja kantor pribadinya, sebelum akhirnya panggilan darurat dariku memecah segalanya? Mengetahui adik-adiknya terpecah dan saling beradu argumen di tempat umum karena namaku, membuat emosi Kak Ethan kembali bergejolak hebat di dalam dadanya.
Olivia menoleh ke arah sofa, menatap Kak Ethan dengan mata yang kembali berkaca-kaca namun menyiratkan keberanian. "Iya, Kak! Kak Charles terus-menerus memaki Kak Bella sebagai pembawa sial! Aku tidak tahan mendengarnya, makanya aku melawan dan langsung pergi meninggalkan mereka begitu saja malam kemarin!"
Suasana di dalam kamar rawat yang sempat melunak kini kembali ditarik menegang. Aku meremas pelan potongan buah apel di tanganku, menatap Kak Ethan dan Olivia secara bergantian dengan dada yang terasa kian dihantam sesak. Kebencian yang membakar keluarga Adipta ternyata sudah merembes begitu jauh, menghancurkan makan malam mereka, dan kini bersiap melumat sisa-sisa kedamaian yang baru saja kurasakan di atas brankar rumah sakit ini.
Melihat ketegangan yang kembali merayap di antara mereka, aku mencoba memberanikan diri untuk membuka suara. Aku menyodorkan potongan apel di tanganku, berniat mengajak Kak Ethan ikut memakan buah bersama-sama demi mencairkan suasana canggung di ruangan ini.
Namun, sebelum kalimat itu sempat terucap dari bibirku, pintu kamar rawat mendadak digebrak terbuka dengan sangat keras dari luar.
Brak!
Denting keras pintu besi yang berbenturan dengan dinding seketika membuat kami bertiga tersentak kaget. Sosok Kak Charles berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan wajah yang merah padam oleh amarah. Langkah kakinya bergerak lebar menerobos masuk, langsung mengunci tatapan penuh kebencian tepat ke arahku.
"Kamu bisa tidak, sih, sehari saja tidak berbuat masalah?!" amuk Kak Charles menggelegar, menunjuk wajahku dengan telunjuknya yang gemetar karena emosi.
"Kak Charles?! Kenapa Kakak bisa ada di sini dan tahu ruangan ini?!" seru Olivia, bangkit berdiri dari kursinya karena terkejut melihat kedatangan kakak ketiga kami yang mendadak itu.
Kak Charles menoleh ke arah Olivia, lalu tertawa sinis sembari menunjuk dirinya sendiri. "Kamu bertanya pada Kakak? Seharusnya Kakak yang bertanya padamu, Olivia! Apa yang sedang kamu lakukan di tempat ini?!"
Setelah membentak Olivia, perhatian Kak Charles kembali beralih padaku. Sorot matanya menatapku seolah-olah aku adalah sebongkah sampah yang menjijikkan. Ia melangkah satu kali lagi, memperpendek jarak dengan brankarku, lalu menudingku dengan kasar.
"Dan kamu! Kenapa kamu menyuruh kami semua untuk pulang ke rumah malam kemarin?!" bentak Kak Charles, menumpahkan seluruh kemarahannya padaku dalam sambungan konfrontasi langsung ini. "Kamu sengaja, kan, ingin merusak acara kami?!"
"Bukan begitu, Kak ... Bella hanya—"
Kalimatku terputus begitu saja. Ucapan yang baru setengah keluar dari tenggorokanku dipotong tanpa ampun oleh lambaian tangan Kak Charles yang tampak muak. Ia melangkah satu kali lagi, memperpendek jarak dengan brankarku, lalu menatapku dengan sorot mata menuduh.
"Kak Aaron sudah menceritakan semuanya!" bentak Kak Charles, suaranya yang menggelegar membuat dadaku kembali berdenyut sakit. "Hanya karena kami tidak menghargai masakanmu malam kemarin, kamu sengaja melakukan aksi mogok makan untuk memeras simpati dan memaksa kami semua pulang?!"
Aku terbelalak kaget. Rasa sesak yang teramat sangat langsung menghimpit paru-paruku. Mogok makan? Kak Aaron mengira aku sengaja tidak makan? Padahal malam itu, organ dalamku sedang sekarat membusuk akibat kutukan tanggal kematian yang menular.
"Dan sekarang kamu berakhir masuk rumah sakit seperti ini," lanjut Kak Charles dengan emosi yang kian meluap-luap. Ia berkacak pinggang, menatapku seolah aku adalah aib terbesar di keluarga ini. "Apa kamu sengaja melakukan ini semua agar orang-orang di luar sana berpikir kalau keluarga kita menganiaya dan mengabaikanmu, hah?!"
Tuduhan kejam itu telak menghantam dadaku hingga rasanya aku lupa bagaimana caranya bernapas. Air mata yang sejak sore tadi sekuat tenaga kubendung, kini luruh tanpa bisa dicegah lagi. Belasan tahun dikurung di gudang lantai tiga yang dingin dan bocor, memakan sisa makanan di sepertiga malam dalam kesunyian, ternyata masih belum cukup di mata mereka. Di saat tubuhku baru saja merangkak kembali dari ambang kematian, yang mereka cemaskan hanyalah nama baik keluarga Adipta di mata orang lain.
"Cukup, Kak Charles!"
Sebuah teriakan melengking yang bergetar menahan tangis tiba-tiba memotong rentetan makian Kak Charles. Itu Olivia. Adik bungsu kami yang biasanya selalu dimanja dan dipuja layaknya seorang putri, kini melangkah maju. Ia berdiri kokoh di antara brankarku dan Kak Charles, menjadikan tubuh kecilnya sebagai tameng pelindung bagiku.
Kak Charles tertegun, telunjuknya yang tadi menudingku kasar perlahan turun karena terkejut melihat reaksi Olivia yang di luar dugaan.
"Olivia, apa-apaan kamu? Minggir! Jangan membela si pembawa sial ini—"
"Aku tidak mau minggir!" potong Olivia nekat. Air matanya kini luruh membasahi pipi, tetapi sorot matanya menatap Kak Charles dengan kemarahan dan kekecewaan yang teramat sangat. "Kak Charles jahat! Kenapa Kakak selalu asal menuduh tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi?! Kak Bella tidak sedang mogok makan atau berpura-pura mencari perhatian!"
"Olivia! Kamu berani memarahi Kakak hanya demi anak ini?!" bentak Kak Charles, wajahnya semakin merah padam karena harga dirinya terusik oleh adik terkecilnya sendiri.
"Iya! Karena Kak Charles keterlaluan!" seru Olivia terisak, suaranya menggema hebat di dalam ruang rawat yang sunyi. "Kakak tahu tidak? Malam kemarin saat aku pulang dari sekolah, Kak Bella sudah memasak banyak sekali makanan kesukaan kita semua. Ada iga kecap kesukaan Kak Ethan, ikan bakar kesukaan Kak Aaron, bahkan ayam goreng mentega tanpa bawang putih kesukaan Kak Charles yang pemilih! Kak Bella mengingat semua detail kesukaan kita dengan tulus!"
Olivia menjeda kalimatnya demi meraup napas yang terasa sesak, lalu menunjuk ke arahku yang hanya bisa menangis diam di atas brankar.
"Kak Bella melakukan semua itu karena kemarin malam adalah hari ulang tahunnya, Kak! Dia hanya punya satu keinginan kecil, yaitu makan bersama keluarganya sendiri untuk sekali saja! Tapi apa yang kalian lakukan? Kak Aaron malah menyuruh sopir menjemputku dan memaksa makan di luar, sementara kalian membiarkan Kak Bella menahan sakit sendirian di rumah yang sepi! Kak Bella murni sakit karena lambungnya sudah rusak, bukan karena sengaja membuat masalah untuk menjatuhkan nama baik keluarga kita!"
Mendengar ledakan pembelaan dari Olivia yang membongkar semua fakta malam itu, Kak Charles seketika membeku. Kata-kata Olivia laksana tamparan keras yang menghantam telak ego dan kesombongan kakak ketigaku itu. Sorot mata penuh kebenciannya mendadak goyah, digantikan oleh rasa terkejut yang luar biasa saat ia perlahan menoleh, menatap deretan menu makanan masa lalu yang baru saja disebutkan oleh Olivia.
eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~