Selama 5 tahun Maya mengorbankan seluruh hidup dan cita-citanya demi merawat bagas, Suaminya yang koma dan lumpuh akibat akibat kecelakaan.
Maya harus bekerja keras banting tulang untuk biaya ruah sakit dan selalu setia menemani sang suami dengan air mata dan doa.
Akhirnya membuahkan hasil, Bagas perlahan-lahan sembuh.
Tapi apa yang Maya dapat, Setelah sembuh, Bagas mendapatan pekerjaan bagus dan ia malah menjalin hubungan dengan teman kantornya yang bernama Rania, Karena ia malu memiliki istri seperti Maya yang terlibat kusam akibat penderitaan selama bertahun-tahun.
Perceraian itu akhirnya terungkap saat Maya menemukan surat cerai di saat hari pernikahan mereka yang ke-7 tahun.
Maya pun harus bangkit dari kehidupan, pengorbanannya selama ini ternyata sia-sia, iya akan menunjukkan ketulusannya akan menjadi penyesalan terbesar Bagas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
Aroma kuah bakso hangat yang berkaldu gurih memenuhi ruangan kontrakan berukuran tiga kali empat meter itu.
Mangkuk-mangkuk bergambar ayam jago tertata rapi di atas tikar pandan yang agak lusuh di lantai.
Di tengah ruangan, sebuah bolu kukus sederhana bertuliskan
"Selamat Sembuh Mas Bagas" dengan lelehan cokelat di atasnya menjadi pusat perhatian.
"Wah, ramai banget ini! Berasa pesta besar ya, May!" seru Pak Kusno, pemilik toko kelontong tempat Maya bekerja, sembari duduk melipat kakinya di tikar.
Maya yang baru keluar dari dapur kecil membawa nampan berisi teh hangat tersenyum manis. "Cuma pesta kecil-kecilan, Pak Kusno. Ini bentuk rasa syukur Maya karena Mas Bagas udah sembuh total dan bisa pulang ke rumah."
Siti, rekan kerja Maya di dapur restoran, menepuk bahu Maya pelan. "Kecil-kecilan tapi bermakna banget, May.
Kamu tahu nggak, Pak Kusno sampai bela-belain tutup toko satu jam lebih awal cuma buat datang ke sini?"
"Eeeh, kamu ini buka-buka rahasia aja, Siti," potong Pak Kusno tertawa terkeh-keh. "Tapi beneran, Maya.
Saya salut banget sama kamu. Jarang ada wanita sekuat kamu jaman sekarang."
Bagas yang duduk di samping Maya menggenggam erat jemari istrinya.
Ditatapnya deretan tamu sederhana di ruangan itu: Pak Kusno, Siti, Bu Sandra, serta Pak Hendra si pemilik konveksi dekat pasar. Merekalah orang-orang baik yang selama tiga tahun ini sudi membantu Maya mencari nafkah demi menyambung nyawanya.
"Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sekalian..." Bagas mengclearkan tenggorokannya, suaranya agak bergetar menahan haru.
"Saya mau mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dari lubuk hati saya yang paling dalam."
Semua orang di ruangan itu mendadak hening, menatap Bagas yang matanya mulai berkaca-kaca.
"Selama tiga tahun saya tidur tak berdaya kaya bangkai, istri saya—Maya—berjuang sendirian di luar sana," lanjut Bagas dengan nada penuh penyesalan sekaligus rasa bangga.
"Tanpa bantuan dan kebaikan dari Bapak dan Ibu sekalian yang mau menampung Maya bekerja, mungkin saya nggak akan pernah berdiri di sini hari ini.
Terima kasih sudah menjaga istri saya waktu saya tidak bisa menjaganya."
Bu Sandra mengusap sudut matanya dengan tisu. "Aduh, Mas Bagas... jangan bikin menangis begini ah.
Maya itu kerjanya rajin banget. Kami yang justru beruntung punya tenaga bantuan seperti Maya."
"Betul itu, Mas Bagas," timpal Pak Kusno mantap. "Maya itu anak yang jujur dan tangguh. Mas Bagas harus janji, ya, jaga Maya baik-baik. Jangan sampai Maya menderita lagi."
Bagas menoleh menatap Maya yang berada di sampingnya. Ditatapnya wajah polos istrinya yang tersenyum di balik genangan air mata bahagia. Bagas membawa tangan Maya ke dada kirinya.
"Saya bersumpah di depan Bapak dan Ibu sekalian," ucap Bagas tegas dengan mata berbinar-binar penuh keyakinan.
"Maya sudah mengorbankan masa mudanya, cita-citanya, dan seluruh tenaganya buat saya. Mulai hari ini, giliran saya yang akan membahagiakan Maya.
Saya nggak bakal biarkan Maya meneteskan air mata kesedihan lagi. Saya janji bakal jadi suami yang selalu setia dan membanggakan buat Maya."
"Amin! Kita pegang janjimu ya, Bagas!" seru Pak Hendra disambut tepuk tangan meriah dari orang-orang di dalam ruangan sempit itu.
"Ayo, ayo, ditiup dulu lilin bolu kukusnya, Mas!" potong Siti riang menunjuk ke arah lilin kecil angka tiga—penanda tiga tahun perjuangan mereka.
Bagas memejamkan mata sejenak, memanjatkan doa dalam hati, lalu meniup lilin itu bersama Maya. Tepuk tangan kembali bergemuruh di dalam ruangan kontrakan yang mungil tersebut.
Di balik tawa dan kehangatan malam itu, Maya menyandarkan kepalanya di bahu Bagas dengan perasaan lega yang amat sangat.
Ia percaya bahwa semua penderitaannya telah usai, tanpa sedikit pun menduga bahwa kebahagiaan malam ini adalah awal dari badai pengkhianatan yang paling menyakitkan.