Jarinya dipotong. Adiknya mati. Tabungannya dirampas.
Dibuang seperti bangkai oleh bos kasino tempatnya mengabdi selama lima tahun, mantan bandar bernama Sora membangkitkan satu-satunya senjata yang tersisa yakni sistem yang memanipulasi probabilitas kenyataan.
Pisau yang harusnya menancap di dada? 0,01% peluang kena. Brankas yang harusnya terkunci rapat? 99,99% terbuka. Sekarang, meja taruhan sudah terbalik. Dan rumah kasino yang selalu menang akan ia beli sendiri.
Peringatan Konten: Cerita ini mengandung kekerasan fisik ekstrem, adegan penyiksaan berdarah, tema kriminalitas (judi, pemerasan, pencucian uang), trauma psikologis gelap, serta bahasa kasar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Sora menatap Gani tanpa berkedip. Ia membiarkan pria itu menumpahkan rasa takutnya sampai tuntas. Sora paham betul rasa gentar seorang buruh tidak bisa dipatahkan dengan janji muluk; rasa takut hanya bisa dikalahkan oleh rasa pedih lain yang lebih mendalam.
“Ijazah STM-mu masih ditahan Jerry di laci meja kantornya, kan?” tanya Sora pelan.
Pundak Gani mendadak kaku. Bibirnya terkatup rapat.
“Enam bulan lalu,” lanjut Sora, suaranya tenang mengalir, “Jerry menuduhmu mencuri gulungan tembaga dinamo kasino. Padahal yang jual tembaga itu anak buah Rusli buat beli pil koplo. Jerry menahan ijazah aslimu, menahan uang pesangon sepuluh tahun kerjamu, dan mengancam bakal lapor polisi kalau kamu berani minta surat pengalaman kerja.”
Mata Gani memerah. Rahangnya mengetat keras.
“Gara-gara ijazahmu ditahan,” kata Sora lagi, melangkah satu jengkal mendekati meja kerja, “kamu gak bisa melamar kerja di galangan kapal resmi pelabuhan. Kamu cuma bisa jadi tukang las tambal ban rongsokan di comberan ini, diupah recehan sama nakhoda tongkang mabuk, sementara anak-anakmu di kampung makan nasi aking.”
“Cukup, Sor…” bisik Gani parau. Kedua tangannya mengepal di samping paha sampai buku-buku jarinya memutih.
“Malam audit tahunan konsorsium, empat hari lagi,” kata Sora, nada suaranya mengentak tegas ke telinga sang mekanik. “Brankas Jerry bakal dibobol. Laci meja kantornya dibongkar. Kamu bisa ambil kembali ijazahmu, bawa uang pesangonmu yang dirampas, dan keluar dari comberan ini bawa keluargamu ke tempat yang layak.”
Gani menundukkan kepala dalam-dalam. Napasnya memburu berat. Nalar mekaniknya bertarung melawan bayang-bayang parang Rusli.
“Kamu… kamu gak bisa merusak meja itu cuma pakai tangan kosong, Sor,” kata Gani akhirnya. Nada suaranya bergetar pelan, beralih ke cara bicara analitis seorang perancang mesin. “Dinamo penggerak stator magnetik meja rolet nomor tiga itu pakai kumparan arus bolak-balik frekuensi tinggi. Kalau kamu cuma potong kabelnya dari luar, bola gadingnya bakal memantul liar ke angka nol hijau. Pengaman bawaan Jerry sengaja disetel begitu biar kasino selalu menang kalau ada korsleting listrik.”
Sora menarik napas lega. Saat seorang montir mulai membicarakan teknis kerusakan mesin, pertahanan mentalnya sudah jebol.
“Aku gak mau potong kabelnya, Bang,” sahut Sora. “Aku mau kamu bikin alat pengacau pulsa magnetik portabel. Ukuran kecil yang muat di saku jaket, bertenaga baterai sembilan volt, yang bisa membalikkan polaritas magnet stator meja nomor tiga dari jarak lima meter.”
Gani mengangkat wajahnya perlahan. Dahinya berkerut dalam, menimbang kemungkinan rancangan tersebut.
“Membalikkan polaritas stator…” gumam Gani seraya meraba dagunya yang kasar. “Koil sekundernya… ya, koil sekundernya punya celah resonansi di tiga ratus lima puluh megahertz. Kalau kita tembak pakai gelombang pulsa elektromagnetik berdaya rendah pas bola gading mulai melambat di lingkar luar, medan magnetnya bakal menolak angka nol dan memaksa bola jatuh ke sektor angka hitam.”
Gani mengusap rambutnya yang kotor oleh debu oli.
“Tapi alat itu butuh kapasitor keramik mikro dan pemancar frekuensi radio yang presisi. Saya gak punya barang begitu di bengkel rongsokan ini. Itu onderdil khusus.”
“Maya yang bakal siapkan komponen radionya dari Warnet Meteor,” potong Sora. “Tugasmu cuma rakit pemicunya dan pasang pemancar itu ke saluran ventilasi udara di atas meja nomor tiga.”
Gani terdiam lama. Matanya menatap nyala lilin kecil yang bergoyang di sudut bengkel, menerangi dinding anyaman bambu yang rapuh. Dendam enam bulan yang terkubur di bawah lumpur pesisir akhirnya menemukan jalan keluar.
Dengan helaan napas berat, Gani menyambar sebuah kunci pas nomor empat belas dari atas rak, lalu membantingnya ke atas meja kerja kayu dengan dentang keras.
BRAK.
“Kalau sampai Rusli mencium ini…” kata Gani seraya menatap lurus ke mata Sora, “…kita bertiga bakal jadi bangkai di muara, Sor.”
Tepat saat kesepakatan itu terkunci di gubuk bengkel rongsokan, pendaran hijau neon berkedip di sudut mata kiri Sora.
...----------------...
...[SISTEM KASINO]...
...[Sub-Misi Selesai: Rekrut Teknisi Mesin]...
...[Efisiensi Sabotase: Terbuka]...
...[Hadiah: +10 Point Chip]...
...[Saldo: 22 Point Chip]...
...----------------...
Sora memungut kunci pas nomor empat belas itu dari meja, merasakan dinginnya besi baja di telapak tangan kanannya.
“Setiap meja judi punya batas taruhan, Bang,” kata Sora sembari memasukkan kunci pas itu ke dalam ranselnya. “Dan malam audit nanti, Jerry yang harus bayar seluruh taruhannya.”