NovelToon NovelToon
Takdir Yang Tak Pernah Selesai

Takdir Yang Tak Pernah Selesai

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama
Popularitas:912
Nilai: 5
Nama Author: Cristaal

Aletha sangat terkejut setelah papanya, Baskara memberitahu jika ia dijodohkan dengan anak sahabatnya sejak dari dalam kandungan. Dan sebelum kelulusannya ia akan melangsungkan pertunangan lebih dulu.
Aletha sedikit tergoda oleh ketampanan. Pria itu saat papanya bicara tentang ketampanan calon tunangannya itu.
Namun, saat tiba pertemuan di malam itu. Ternyata pria yang dijodohkan adalah Langit.
Musuh bebuyutannya di sekolah, apakah mereka akan melanjutkan perjodohan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cristaal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Perjodohan

“Pokoknya gue nggak mau nikah sama lo, Ngit! Titik! Nggak pake koma, apalagi tanda tanya!”

“Gue juga nggak mau. Jadi, nggak usah geer lo, kurcaci,”

“Eh, tiang listrik! Kalau gitu batalin! Cepetan bilang sama bokap lo sana!”

“Bilang aja sendiri.”

________________

Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya suara yang mendominasi ruang makan kediaman Baskara malam itu. Aletha sedang asyik mengunyah potongan daging steak-nya ketika sang papa berdehem berat, memecah keheningan.

"Letha," panggil Baskara sambil menyeka sudut bibirnya dengan serbet. "Besok malam, sahabat Papa waktu kuliah dulu mau datang ke sini bersama keluarganya."

Aletha mendongak, mengunyah santai.

"Oh, Om Wiliam yang sering Papa ceritain itu? Yang punya bisnis perhotelan di luar kota?"

"Iya, betul," Hanna, mama Aletha, menimpali dengan senyuman penuh arti yang membuat perasaan Aletha mendadak tidak enak.

“Mereka baru kembali lagi ke Jakarta. Dan kedatangan mereka besok... sebenarnya punya niat khusus."

Aletha mengerutkan kening.

"Niat khusus apa, Ma?"

Baskara dan Hanna saling melempar pandang, sebelum akhirnya Baskara kembali menatap putri tunggalnya itu dengan serius.

"Kami berdua sudah sepakat dari dulu untuk menjodohkan kamu dengan anak laki-laki mereka, bahkan sejak kalian dalam kandungan. Namanya Sagara."

"Uhukk!"

Aletha langsung tersedak. Ia terbatuk-batuk kecil sambil buru-buru menyambar gelas air putihnya dan meminumnya sampai tandas.

“J-dijodohin? Pa, Ma, ini udah tahun 2026! Mana ada zaman sekarang main jodoh-jodohan kayak Siti Nurbaya!"

"Letha, dengerin Papa dulu," potong Baskara tenang namun tegas. "Ini bukan sekadar janji lama. Anak laki-laki Wiliam itu mandiri, pintar, dan yang paling penting..." Baskara terkekeh pelan, "...Papa jamin dia tampan. Kamu nggak bakal nyesel. Dia setinggi model-model majalah dan aktor korea yang sering kamu tonton."

Mendengar kata 'tampan' dan 'setinggi model', pertahanan Aletha sedikit goyah. Di otaknya langsung terbayang sosok cowok blasteran berambut ikal dengan senyum manis bak aktor drama Korea. Kebetulan, hubungan Aletha dengan pacarnya di sekolah, Tom, juga sedang renggang. Gara-gara Aletha menolak saat mau dicium di Bioskop sebulan yang lalu.

"Serius ganteng banget nih, Pa? Beneran kayak model?" tanya Aletha, matanya mulai berbinar. Rasa kesalnya menguap begitu saja, digantikan rasa penasaran yang membuncah.

"Papa nggak pernah bohong soal fisik, Sayang. Dia cowok yang sangat proporsional," jawab Baskara meyakinkan.

Aletha menopang dagunya dengan kedua tangan, tersenyum simpul.

'Well, kalau cowoknya ganteng parah kayak spek dewa, apa salahnya dicoba dulu? Lumayan buat dipamerin di sekolah. Biar si Tom juga kepanasan,' batin Aletha kegirangan.

"Oke, deal. Letha mau ketemu besok. Tapi kalau nggak sesuai ekspektasi, Letha berhak nolak, ya!"

‘Awas aja lo, Tom. Gue bakalan bawa tunangan ganteng gue keliling sekolah besok,’ batin Aletha, mengumpat pacarnya yang belakangan ini menjauh.

Hanna tertawa kecil melihat tingkah putrinya.

"Iya, Sayang. Besok dandan yang cantik, ya."

Keesokan harinya, malam yang dinanti pun tiba.

Aletha sudah mengenakan gaun terusan berwarna dusty yang manis. Rambutnya digerai rapi dengan riasan tipis yang natural. Ia duduk di sofa ruang tamu bersama orang tuanya, menunggu kedatangan sang "pangeran tampan" dengan jantung yang berdebar agak cepat.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu depan membuat Aletha refleks menegakkan posisi duduknya. Rombongan tamu itu mulai melangkah memasuki ruang tamu. Seorang pria paruh baya bertubuh tegap berjalan di depan bersama istrinya yang tampak sangat anggun.

Namun, pandangan mata Aletha langsung terkunci pada sosok cowok yang berjalan di paling belakang. Cowok itu mengenakan jas kasual hitam yang pas di tubuh tingginya yang menjulang. Rambutnya tertata rapi, memperlihatkan dahi dan alis tebalnya.

Wajahnya tegas dengan rahang kokoh dan sepasang mata hazel yang dingin.

Baskara benar. Cowok itu memang sangat tampan, persis seperti model papan atas. Namun, begitu cowok itu mendongak dan mata mereka saling bertemu, senyum di wajah Aletha mendadak membeku.

"L-Langit?!" pekik Aletha tertahan, matanya membelalak lebar.

Cowok tinggi itu juga sempat menghentikan langkahnya selama satu detik. Matanya yang semula datar berubah menajam, menatap Aletha dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan tidak percaya, yang kemudian berubah menjadi seringai sinis.

"Kurcaci?" gumam Langit pelan, namun cukup jelas di telinga Aletha.

Dunia Aletha rasanya runtuh saat itu juga. Dari sekian juta cowok tampan di Jakarta, kenapa harus Langit Sagara Voss? Cowok dingin, menyebalkan, bermulut pedas, sekaligus musuh bebuyutannya di sekolah sejak hari pertama mereka masuk kelas 1 SMA!

"Wah, kalian sudah saling kenal ternyata? Kebetulan yang luar biasa sekali!" seru Wiliam, papa Langit, sambil tertawa renyah melihat reaksi kedua remaja itu.

"Letha, Langit, ayo duduk. Kenapa malah berdiri terus kayak patung?" tegur Baskara ramah dari sofa.

Duduk berdampingan dengan iblis dingin ini di depan orang tua? Yang ada ia bisa gila sebelum makan malam dimulai! Sebelum Langit sempat membuka mulut untuk mengeluarkan kalimat sarkasnya, Aletha mengambil langkah nekat.

Set!

Aletha maju selangkah, mencengkram pergelangan tangan Langit dengan kuat dan setengah menyeretnya menjauh dari ruang tamu.

"Pa, Ma, Om, Tante... Letha sama Langit kesana sebentar ya! Mau ngomongin tugas sekolah yang belum selesai!"

Langkah kakinya yang dihentak-hentakkan penuh emosi membawa mereka berdua menuju lorong panjang mansion. Di sana, tiang-tiang pilar berjajar rapi dengan ukiran klasik berwarna kuning keemasan, menciptakan kesan mewah yang justru terasa berbanding terbalik dengan keributan mereka.

Begitu merasa jarak mereka sudah cukup jauh, Aletha langsung menyentakkan tangan Langit dengan kasar.

“Pokoknya gue nggak mau nikah sama lo, Ngit! Titik! Nggak pake koma, apalagi tanda tanya!” Aletha mencak-mencak sambil berkacak pinggang. Wajahnya memerah menahan kesal.

“Gue juga nggak mau. Jadi, nggak usah geer lo, kurcaci,” jawab Langit datar. Ia melipat kedua tangan di depan dada, menyandarkan tubuh tingginya di dinding putih. Tatapan tajamnya tertuju pada Aletha yang kini menatapnya dengan mata berapi-api.

Perbedaan tinggi badan mereka memang cukup mencolok. Langit yang tinggi menjulang membuat Aletha harus mendongak setiap kali berhadapan dengannya.

“Eh, tiang listrik! Kalau gitu batalin! Cepetan bilang sama bokap lo sana!” Aletha mendorong dada Langit sekuat tenaga. Namun, pria itu bahkan tidak bergeming.

“Bilang aja sendiri.” Dengan santainya, Langit berbalik dan melangkahkan kaki panjangnya, meninggalkan Aletha yang masih berdiri di tempat.

“Gila, ya! Malah nyelonong aja!” Aletha mengepalkan kedua tangannya.

“Woi, Langit! Kita belum selesai bicara!”

Langit tetap berjalan tanpa menoleh. Bahkan kedua tangannya naik menutup telinga, seolah tidak ingin lagi mendengar celotehan Aletha.

“Cewek gila.”

Namun, sudut bibir cowok itu justru terangkat membentuk senyum tipis selagi melangkahkan kakinya di atas lantai marmer menuju ruang tamu.

Aletha mengejar dengan amarah yang meledak-ledak karena merasa belum puas. Mana mungkin ia menerima perjodohan ini? Di sekolah saja mereka sudah jadi musuh bebuyutan selama hampir tiga tahun. Ditambah lagi, statusnya saat ini masih menjadi kekasih orang lain, meski hubungan mereka sedang di ujung tanduk.

'Oh, tidak! Pokoknya apa pun akan gue lakuin buat batalin perjodohan sialan ini!' batin Aletha frustrasi.

______________________

Halo, teman-teman tercintah...

Tolong kasih pendapatmu di komentar ya..

Aku akan menerima kritik dan saran kalian, yang penting pakai bahasa yang baik, karena aku orangnya baperan.

Ini novel pertama aku, semoga kalian suka.

1
Fiya
🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!