Pradipta mendirikan divisi PRADA TRACE. Dia menerima klien yang ingin mencari anggota keluarga, teman, atau kerabat yang hilang. Pradipta bekerja sama dengan Gilang dalam menjalankan PRADA TRACE.
Namun setiap kasus yang mereka dapat, selalu menuntun mereka ke sebuah misteri yang harus dipecahkan.
Terkadang, orang yang mereka cari sudah menjadi arwah. Gilang pun harus menggunakan kemampuannya untuk menemukan jejak arwah dibantu oleh Prisa dan Jung Kook.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Berdarah
Arga baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Setelah berganti pakaian, pria itu bergegas menuju parkiran basement.
Tak berapa lama kemudian, sepeda motor yang ditumpanginya meninggalkan area parkir basement hotel tempatnya bekerja.
Hari sudah malam ketika Arga keluar. Hari ini dia memang masuk shift dua, yang jam kerjanya berakhir pukul sebelas malam.
Sebelum pulang ke kosannya, Arga terlebih dahulu mampir di minimarket. Pria itu membeli mie instan cup dan sosis siap makan. Perutnya lapar karena dia melewatkan makan malam.
Arga membawa mie instan cup yang sudah diberi air panas dan sosis yang dibelinya ke meja di depan minimarket. Sambil menunggu mienya matang, pria itu memeriksa ponselnya. Ada lima belas panggilan tidak terjawab dari Indri, kekasihnya.
Arga segera menghubungi kekasihnya itu. Tidak butuh waktu lama bagi wanita itu untuk menjawab panggilannya. “Halo,” terdengar suara Indri dari seberang.
“Kamu kenapa, sayang?” tanya Arga yang menyadari ada keanehan dari nada suara kekasihnya. Pria itu segera mengganti panggilan telepon ke panggilan video.
Setelah Indri menerima panggilan video, Arga dapat melihat wajah kekasihnya yang sembab. “Kamu kenapa?”
“Aku habis berantem sama Papa,” jawab Indri dengan suara serak.
Arga menarik napas panjang. Tanpa diberi tahu, dia sudah tahu apa penyebab pertengkaran Indri dengan ayahnya.
Danu tidak menyetujui hubungan Indri dan Arga. Alasannya klasik, karena Arga tidak sepadan dengan Indri.
Arga hanyalah pemuda yatim piatu. Kehidupannya sangat sederhana. Sampai sekarang pria itu masih menabung untuk membeli rumah. Sehari-hari, Arga bekerja di hotel sebagai petugas roomboy.
Tentu saja ayah Indri tidak merestui hubungan mereka. Terlebih lagi Arga bekerja di hotel miliknya. Reputasinya di mata rekan bisnis bisa hancur jika mereka tahu anaknya berpacaran dengan seorang roomboy.
“Aku sayang kamu, In. Tapi aku juga nggak mau jadi jurang pemisah antara kamu dan Papa kamu. Lebih baik kita putus aja.”
“Nggak mau! Kamu nggak mau berjuang buat hubungan kita?” Indri kembali menangis.
“Bukan aku nggak mau berjuang. Tapi aku mau hubungan kita direstui orang tua.”
“Kamu emang nggak sayang aku!”
Indri langsung memutuskan panggilan secara sepihak. Arga hanya mengembuskan napas panjang. Pertengkaran seperti ini memang kerap terjadi di antara mereka akhir-akhir ini, sejak hubungan mereka diketahui oleh orang tua Indri.
Arga memilih menghabiskan dulu mie instan yang sudah mulai mengembang. Setelah menghabiskan mie dan sosis, pria itu bersiap pulang.
Baru saja hendak memakai helmnya, ponselnya berdenting. Sebuah pesan dari Indri masuk.
[Papa mau menjodohkanku dengan anak rekan bisnisnya. Kalau kamu nggak mau perjuangin, aku nggak akan maksa. Tapi tenang aja, aku juga nggak akan nikah dengan laki-laki pilihan Papa. Aku lebih baik mati!]
Setelah membaca pesan tersebut, Arga segera menghubungi Indri. Namun, panggilannya langsung terhubung ke kotak suara.
Takut Indri melakukan hal nekat, Arga pun memutuskan menemui Indri. Tidak masalah jika dia harus menempuh perjalanan panjang. Yang penting dia bisa mencegah Indri berbuat nekat.
Arga segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi agar bisa cepat tiba di BSD City, tempat tinggal Indri. Kondisi jalanan yang lengang karena waktu sudah tengah malam membuat perjalanan Arga lancar.
Saat memasuki daerah Padalarang, matanya tanpa sengaja menangkap seorang wanita yang sedang ditarik paksa seorang pria.
Wanita itu mencoba melawan, tetapi sia-sia. Beberapa orang yang ada di sekitar sana bukannya membantu, malah menertawakannya.
Tak tega melihat wanita itu, Arga pun menepikan motornya. Dia segera menghampiri wanita itu. Tanpa mengatakan apa pun, dia langsung melepaskan wanita itu dari cengkeraman pria yang memperlakukannya dengan kasar.
“Apa urusan lo, hah?” tanya pria itu dengan kesal sambil mendorong Arga.
“Kamu laki-laki apa bukan? Kenapa kasar sama perempuan?” lawan Arga tanpa merasa takut.
Pria itu langsung tersulut emosi. Dia berniat menghajar Arga. Namun, niatnya pupus saat melihat petugas polisi mendekat.
“Ada apa ini?” tanya petugas tersebut.
“Nggak ada apa-apa, Pak.”
“Tolong antar saya pulang,” bisik perempuan itu kepada Arga.
Tak tega melihat perempuan itu yang tampak ketakutan, Arga pun setuju mengantarnya pulang.
“Itu tadi siapa, Mbak?” tanya Arga saat mereka berada di perjalanan.
“Dia itu senior saya di kampus, Kang. Namanya Bimo. Dia itu emang kasar. Mentang-mentang orang kaya, dia sudah seenaknya aja. Kita habis dari acara reuni. Awalnya dia mau anterin saya pulang, eh malah saya diajak nongkrong di sana.”
Arga hanya mengangguk saja mendengar penjelasan wanita bernama Lisa tersebut. Pria itu tidak bertanya lagi. Dia tidak mau terlibat dalam masalah yang bukan urusannya.
Setelah mengantarkan Lisa ke rumahnya, Arga melanjutkan perjalanan.
Motor yang dikendarai Arga sudah memasuki daerah Cikalong Wetan. Pria itu terus melajukan kendaraannya.
Saat ini dia sudah berada di Desa Tenjolaut, sebentar lagi akan masuk ke Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta.
Untuk sampai di Darangdan, Arga harus melewati kawasan hutan pinus Tenjolaut. Kawasan ini sangat sepi saat malam hari. Hanya hutan saja di kanan kiri jalan. Beberapa warung memang ada di pinggir jalan, tetapi sebagian juga sudah tutup.
Saat Arga masih memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba dari arah belakang, muncul sebuah mobil sport mewah. Dengan sengaja pengemudi menyusul Arga kemudian menyenggol motor Arya.
Motor yang dikendarai Arga oleng seketika. Pria itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Arga terpisah dari motornya. Kendaraan roda dua miliknya terus meluncur dan berhenti setelah menabrak pohon.
Benturan keras yang dialami Arga saat terpental dari motornya membuat pria itu jatuh pingsan.
Mobil yang tadi menabrak Arga berhenti. Dari dalamnya keluar empat pria. Mereka langsung mendekati Arga yang tergeletak tak sadarkan diri.
Pria yang ternyata adalah Bimo memerintahkan teman-temannya untuk membawa Arga. Pria itu dimasukkan ke bagasi mobil Bimo.
“Dit, kamu bawa motornya,” perintah Bimo.
“Bawa ke mana?” tanya Dodit bingung.
“Ke vilaku aja. Nggak jauh dari sini. Lo ikutin gue aja.”
Dodit mengangguk. Pria itu segera menuju motor Arga, kemudian mengikuti mobil Bimo.
Lima belas menit kemudian mereka tiba di vila milik keluarga Bimo. Dia meminta dua temannya untuk membawa Arga ke dalam vila.
Tubuh Arga dilemparkan begitu saja ke lantai di ruang tengah vila.
Tak lama kemudian Arga sadar dari pingsannya. Pandangannya beredar ketika dia membuka mata. Pelan-pelan dia bangun dan di hadapannya duduk Bimo. Pria itu menatapnya dengan wajah angkuh.
“Kamu,” gumam Arga pelan. “Mau apa kamu?”
“Lo udah ikut campur urusan gue tadi. Jadi, sekarang lo harus terima balasannya.”
Bimo berdiri lalu menendang dada Arga dan membuat pria itu tersungkur. Tak puas sampai di sana, Bimo hendak menendang Arga lagi.
Dengan sigap Arga menahan kaki Bimo lalu mendorongnya. Arga segera berdiri lalu menghajar Bimo. Arga berhasil menyarangkan dua pukulan ke wajah Bimo hingga sudut bibir pria itu terluka.
Karena pukulan Arga cukup keras, buku-buku tangan pria itu lecet dan ada darah Bimo menempel di sana.
Melihat Arga yang melakukan perlawanan, tiga teman Bimo langsung membantu. Melawan empat orang sekaligus tentu saja membuat Arga kewalahan. Pria itu pun menjadi bulan-bulanan Bimo dan teman-temannya.
Tubuh Arga tersungkur di lantai. Wajahnya sudah dipenuhi luka dan memar. Bimo mendekati Arga, kemudian menghantam wajah pria itu berkali-kali.
Pandangan Arga mulai buram. Pria itu sudah tidak bisa menggerakkan tubuhnya lagi. Namun, Bimo yang belum puas segera bangkit.
Dia mengambil patung logam yang ada di atas nakas lalu menghantamkannya ke kepala Arga beberapa kali.
Tubuh Arga tidak bergerak lagi. Dari kepalanya keluar cukup banyak darah akibat luka hantaman tersebut. Darah sampai menggenangi lantai tempat Arga tergeletak.
***
Hai... Aku datang dengan kisah baru. Kali ini fokusnya ke Gilang dan Pradipta. Tenang aja, Nino sama Asep juga bakal nongol sesekali.
Jangan lupa kasih like, komen, ulasan dan bintang limanya. Makasih🤗
semoga neng Giana baik baik aja 🙏