NovelToon NovelToon
Unit Kosong

Unit Kosong

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Rumahhantu / Iblis
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.

SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.

Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.

Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1: Firasat Seorang Istri

Namaku Bagas.

Aku selalu percaya bahwa firasat adalah bahasa paling jujur dari tubuh manusia. Ia datang sebelum logika, doa, dan alasan-alasan rasional yang sering kita susun demi membenarkan keputusan sendiri. Pagi itu, firasat menempel di tengkukku seperti nafas orang asing, terasa dingin, pelan, tapi tak mau pergi.

Delia berdiri di ambang pintu kamar, memeluk tubuhnya sendiri. Jam dinding menunjuk pukul 3.30 pagi, matanya sudah lelah seperti orang yang tak tidur semalaman.

"Kamu nggak usah berangkat, Gas," katanya pelan, tapi tegas. "Aku nggak enak hati."

Aku menutup resleting tas ranselku. Bunyi krek terdengar terlalu keras di keheningan rumah kami.

"Cuma dua hari," jawabku. "Pitching doang. Kalau tembus, mudah-mudahan hidup kita bisa berubah."

Delia tertawa kecil, bentuk tawa tanpa humor. "Berapa kali kamu bilang begitu? Setiap proyek sama Jefry ujung-ujungnya apa? Nol!"

Aku terdiam. Kata nol itu seperti palu yang memukul kepalaku. Bukan karena salah, tapi karena terlalu benar.

"Aku nggak mau kamu kerja sama dia lagi," lanjut Delia. "Orangnya nggak beres. Dari dulu aku bilang."

Rasanya aku seperti ingin menghela nafas panjang, tapi sulit dilakukan karena tertahan. Jefry memang selalu terlihat meyakinkan di depan klien, ia selalu rapi, ramah, pintar bicara. Tapi dibalik itu, aku tahu ada sesuatu yang licin, seperti ular yang terlalu lama berjemur di batu.

"Ini terakhir," kataku. "Demi Rafa."

Mendengar nama anak kami, Delia terdiam. Rafa, anak laki-laki kami yang berusia tujuh tahun, sedang tidur di atas ranjang. Seorang anak yang tak banyak bicara, tapi selalu tersenyum jika aku membacakan cerita sebelum tidur.

"Justru demi Rafa aku melarang," Delia berbisik. "Semalam aku mimpi buruk. Kamu naik mobil, jalannya berkabut, terus kamu turun di sebuah gedung tinggi. Banyak pintu, tapi semuanya kosong."

Aku menelan ludah.

"Itu cuma mimpi."

"Mimpi itu terlalu nyata," katanya. "Aku lihat kamu berdiri sendirian. Gelap. Kamu manggil namaku, tapi suaranya kayak bukan kamu."

Ada sesuatu merayap di perutku.

Aku meraih tangan Delia, sedikit terkejut karena terasa dingin. "Aku akan hati-hati. Aku janji."

Ia menarik tangannya perlahan. "Kalau kamu tetap pergi, jangan remehkan apa pun yang kamu rasakan di sana."

Aku mengangguk, meski tak sepenuhnya mengerti.

Langit Jakarta masih gelap ketika aku keluar dari pintu rumah, mencium kening, pipi kanan, pipi kiri, dan bibir Delia.

"Aku berangkat dulu ya," kataku sambil menggendong tas dan menuju motor.

Delia hanya mengangguk, diam tapi kemudian berucap, "Hati-hati ya."

Kelihatan sekali kalau ia masih tidak setuju dengan keberangkatan ini.

Jam di ponselku menunjukkan pukul 04.02. Udara dingin menusuk, bercampur hawa embun pagi yang membuat pagar menjadi basah.

Perjalanan dari rumah memakan waktu empat puluh lima menit, tapi rasanya jauh lebih lama, seperti ada sesuatu yang menahan langkahku sejak tadi.

Hingga akhirnya aku tiba di depan kosan Jefry.

Gerbang besi kosan itu tinggi dan dicat hitam mengkilap. Dari luar, bangunannya terlihat rapi, modern, bahkan terkesan elite. Lampu taman menyala temaram, memantulkan bayangan daun yang bergoyang pelan. Sejumlah mobil dan motor terparkir di dalam garasi. Tak ada suara selain dengung jauh kendaraan.

"Mas Bagas?"

Aku menoleh. Shinta berdiri di balik gerbang, wajahnya pucat diterpa lampu putih. Hijabnya sudah rapi, tas kecil tergantung di bahu.

"Iya," jawabku.

Ia membuka gerbang dan tersenyum singkat. "Ayo. Bang Jefry di atas."

Langkah kami bergema saat menaiki tangga menuju lantai dua. Setiap pijakan kayu berderit, seolah bangunan itu mengeluh karena bangun terlalu pagi. Lorong lantai dua sempit, lampunya redup. Pintu-pintu kamar berjajar, sebagian tertutup rapat, sebagian terbuka sedikit tapi masih gelap di dalamnya.

Entah kenapa, aku merasa sedang diperhatikan.

Shinta berhenti di depan sebuah pintu cokelat. "Di sini."

Ia mengetuk dua kali.

"Masuk aja," terdengar suara Jefry dari dalam, serak dan berat.

Begitu pintu dibuka, aku terdiam.

Ekspektasiku runtuh seketika.

Kamar itu kecil. Terlalu biasa untuk seseorang yang selama ini selalu tampil rapi dan berkelas. Hanya ada sebuah ranjang single yang spreinya kusut,  meja kecil penuh gelas bekas kopi, bungkus makanan, dan kertas-kertas acak.

Kamar mandi menyatu, pintunya terbuka, memperlihatkan lantai basah dan handuk lembab tergantung sembarangan.

Udara di dalam kamar pengap. Bau campuran keringat, kopi basi, dan sesuatu yang apek menusuk hidungku.

Begitu pintu ditutup, ruangan itu terasa makin sempit. Bahkan nafasku terasa jadi lebih pendek.

Jefry duduk di tepi ranjang, rambutnya acak-acakan, mata merah seperti orang kurang tidur. Ia menguap lebar.

"Sorry ya," katanya sambil menggaruk leher. "Semalam begadang nonton bola. Lupa set alarm."

Ia berdiri dan meraih handuk. "Gua mandi dulu. Lima menit."

Aku mengangguk tanpa berkata apa-apa.

Untuk pertama kalinya sejak mengenal Jefry, aku merasa ilfeel. Ada rasa tidak suka yang tiba-tiba muncul, sangat tajam dan tak bisa dijelaskan. Selama ini aku mengenalnya sebagai sosok rapi, necis, penuh kontrol. Tapi kamar ini, sangat berantakan. Jorok. Tidak terurus.

Aku teringat Delia.

"Orangnya nggak beres."

Shinta berdiri kaku di dekat pintu. Ia melirik sekeliling, lalu berbisik, "Mas Bagas kaget ya?"

Aku mengangguk. "I-iya."

Saat itu, suara air dari kamar mandi menyala. Di sela gemericiknya, aku mendengar bunyi lain.

Pelan, seperti kuku menggores tembok.

Aku menoleh ke arah dinding di samping ranjang. Tidak ada apa-apa. Catnya terlihat mengelupas di beberapa bagian, membentuk pola tak beraturan. Tiba-tiba bulu kudukku berdiri.

Lampu kamar berkedip sebentar.

Sekali, dua kali.

Pada kedipan ketiga, aku melihatnya.

Di sudut kamar, tepat di antara lemari kecil dan dinding, ada bayangan berdiri. Tingginya hampir menyentuh langit-langit. Tubuhnya terlalu kurus, kepalanya miring dengan sudut yang tidak wajar.

Aku hanya berani melihatnya dari sudut ekor mata.

Bayangan itu tidak punya wajah. Hanya gelap yang lebih pekat dari sudut ruangan.

Lampu kembali stabil, bayangan itu menghilang.

"Mas Bagas?" suara Shinta heran. "Kenapa?"

Aku menelan ludah. "Nggak apa-apa."

Namun tubuhku berkata sebaliknya. Jantung berdegup keras, telingaku berdenging.

Dari kamar mandi, suara Jefry bersenandung, nada lagu gereja yang familiar.

Merasa tidak tahan dengan rasa sumpeknya, aku berinisiatif untuk keluar dari kamar. Berdiri di depan pintu, bersandar ke dinding sambil membuka handphone.

Tapi kemudian, suara lain terdengar, cukup aneh, tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, seperti datang dari ujung lorong, terasa mendekat.

Aku menatap ke dalam kamar, melihat Shinta sedang membereskan barang bawaan Jefry.

Suara itu tiba-tiba menghilang.

Namun ketenangan iti tak berlangsung lama karena setelahnya terdengar suara langkah kaki dari arah tangga. Seakan ada seseorang yang datang, tapi ketika aku menunggu kemunculannya, langkah itu seolah terhenti.

Merasa penasaran, aku berjalan ke arah tangga, melihat ke bawah, tidak ada siapa-siapa.

Tiba-tiba saja aku merasakan sebuah tangan menyentuh pundak. Aku pun terkejut.

"Mas Bagas?"

Rupanya itu Shinta yang merasa heran karena aku bengong di dekat tangga.

"Ngapain di sini?" tanya Shinta lagi karena aku masih diam.

"N-nggak, tadi kayak ada orang yang mau naik," jawabku.

Dan untuk kedua kalinya pagi itu, aku merasa semakin yakin seharusnya mendengarkan firasat Delia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!