Raka melewati gapura misterius di Laweyan dan terbangun di hutan zaman Majapahit. Tiba-tiba ia bertemu Sekar dan mengetahui bahwa ia terlempar ke tahun 1350 M saat Hayam Wuruk baru dinobatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Selempang Merah
Api unggun berderak pelan. Anak lelaki itu menggigil di tanah, bukan karena dingin, dan tak ada satu pun orang di sekelilingnya yang bicara.
"Siapa namamu?" tanya Mpu Kalandara akhirnya, suaranya lembut seperti kepada cucu sendiri.
"J-Jaka, Mpu."
"Dari mana asalmu, Jaka?"
"Desa Sidowayah, di dekat Trowulan. Ayahku pengrajin gerabah." Jaka menyeka hidung dengan lengan baju. "Beberapa hari lalu, seorang tuan datang ke desa kami, tinggi, berpakaian aneh, dan memberiku kepingan perak. Banyak. Ibuku sakit, dan kami butuh uang untuk tabib."
"Jadi kau menerima."
"Aku tak punya pilihan." Anak itu menunduk. "Maafkan aku, Gusti. Aku tidak tahu kalian orang baik."
Wirabhaya, yang sejak tadi berdiri bersedekap dengan wajah gelap, menarik napas panjang dan melunak. "Kau tidak dihukum, Jaka. Tapi kau harus menjawab semua pertanyaan kami dengan jujur."
"Apa saja, Gusti."
"Kau bilang kau melapor pada seorang penunggang kuda di persimpangan. Seperti apa dia?"
Jaka mengerutkan dahi, berusaha mengingat. "Dia tidak berbicara banyak. Mengenakan jubah tebal dengan tudung, selalu menutupi wajahnya. Tapi suaranya tegas, seperti prajurit. Dan..."
"Dan apa?"
"Dan di bawah jubahnya, aku pernah melihat sesuatu. Sekilas saja, saat angin menyibak kainnya."
"Katakan."
Jaka menelan ludah. "Selempang merah. Melintang di dadanya."
Udara di sekitar api unggun seketika terasa membeku.
Tarub mengumpat pelan. Wirabhaya tak bergerak, tapi urat di rahangnya menegang, dan tangan kanannya menggenggam gagang keris seakan hendak menariknya saat itu juga.
"Selempang merah," ulang Raka hati-hati. "Maksudnya apa?"
"Itu tanda pasukan Bhayangkara," jawab Tarub dengan suara rendah. "Hanya prajurit pengawal raja yang diperbolehkan memakainya. Itu kehormatan tertinggi."
"Berarti..."
"Berarti ada orang dalam pasukan kami yang bekerja untuk Tabib itu." Wirabhaya mengucapkannya pelan, tapi ada getir di setiap katanya. "Salah satu dari anak buahku, atau dari pasukan lain di bawah komando Patih."
Mpu Kalandara mengangguk. "Itu menjelaskan bagaimana dia mendapat informasi begitu cepat. Bagaimana dia tahu tentang pertapaan, tentang cahaya di hutan Kalimati, tentang surat yang kau kirim, Wira."
"Surat yang kukirim?" Wirabhaya menoleh.
"Surat yang kau kirim ke Trowulan sebelum menemukan Raka. Hanya kau, aku, dan beberapa orang yang tahu isinya." Pertapa itu mengusap janggutnya. "Kalau ada pengkhianat di antara Bhayangkara, dia pasti pernah melihat salinannya."
Wirabhaya mengembuskan napas panjang. Ia menunduk, memejamkan mata sebentar, lalu membukanya lagi dengan tatapan yang lebih keras dari sebelumnya.
"Aku akan menemukannya," katanya. "Siapa pun dia."
Perdebatan berikutnya berlangsung hampir satu jam, dengan Jaka dipindahkan ke samping api unggun yang lain bersama Tarub yang berjaga.
"Kita tahan anak itu," usul Wirabhaya. "Kalau ia tidak muncul di persimpangan, orang itu akan curiga."
"Justru itu intinya," kata Mpu Kalandara. "Kalau dia curiga, dia akan bertindak. Lebih baik biarkan anak itu melapor seperti biasa, tapi dengan kabar yang kita pilih."
"Kabar apa?"
"Bahwa rombongan Mpu Kalandara hanya terdiri dari seorang pertapa tua, seorang prajurit pengawal, dan seorang cantrik berpakaian biasa. Bahwa tak ada pemuda berpakaian aneh. Dan tak ada gadis bercincin."
"Dan Tarub?" tanya Raka.
"Tarub akan mengikuti Jaka diam-diam dan melihat siapa yang menemuinya," kata Wirabhaya, mulai paham. "Kita akan tahu wajah pengkhianat itu."
"Persis."
Tarub menyeringai di kejauhan. "Aku sudah lama tidak mengintai orang. Menyenangkan."
"Satu hal lagi." Mpu Kalandara menatap Sekar. "Kau tidak bisa ikut masuk bersama kami ke istana."
Sekar, yang sejak tadi diam di sudut dengan tangan terlipat erat, langsung mengangkat kepala. "Apa?"
"Orang yang mencari gadis bercincin matahari tidak akan melewatkan seorang gadis muda yang bepergian bersama pertapa dan prajurit Bhayangkara. Terlalu mencolok."
"Tapi aku sudah menyembunyikan cincinnya."
"Cincin bisa disembunyikan. Wajah tidak." Mpu Kalandara bicara lembut tapi tegas. "Kau punya kerabat di Trowulan, bukan? Kau akan pergi langsung ke sana, secara terpisah, besok pagi sebelum kami. Dan tinggal di sana sampai kami mengabarimu."
"Aku tak mau," kata Sekar tegas. "Aku sudah sejauh ini bersama kalian. Aku bukan barang yang bisa dipindah-pindahkan sesuka hati."
"Sekar..." Raka mencoba.
"Jangan." Gadis itu menoleh padanya dengan mata menyala. "Jangan kau juga. Kau bilang aku boleh ikut."
"Saya bilang boleh, sebelum tahu dia sedang mencarimu." Raka menurunkan suaranya. "Sekar, orang itu tahu tentang cincinmu. Dia tahu sesuatu tentangmu yang bahkan kau sendiri tak tahu. Aku tak mau... aku tak mau terjadi apa-apa padamu."
Ia menyesal mengucapkannya begitu terdengar. Tapi kata-kata itu sudah keluar, dan wajah Sekar sedikit melunak.
"Kau juga dicari," katanya pelan. "Pemuda berpakaian aneh. Itu kau."
"Itu sebabnya aku sudah mengganti pakaian."
"Itu tidak cukup."
"Memang tidak. Tapi kami berdua bisa saling menjaga." Raka menatapnya langsung. "Tolong. Hanya sampai kita tahu siapa musuh sebenarnya."
Lama Sekar tak menjawab. Api unggun berderak, dan bayang-bayang menari di wajahnya yang tegang. Akhirnya ia menghela napas panjang, bahunya sedikit turun.
"Baiklah," katanya, nyaris berbisik. "Tapi kalau kau terluka dan aku tak ada di sana, aku tak akan memaafkanmu."
"Itu ancaman yang adil."
"Itu bukan ancaman." Matanya basah, tapi suaranya tetap keras. "Itu janji."
Malam itu, saat yang lain sudah tertidur, Raka duduk sendirian di tepi sungai dan menatap arloji Seiko yang diberikan Mpu Kalandara, jarumnya masih beku di angka tiga lewat sepuluh.
Satu hal terus mengganggunya. Ia mencoba mengingat setiap buku sejarah Majapahit yang pernah ia baca, setiap kidung, setiap prasasti, setiap catatan kecil di Pararaton atau Nagarakretagama.
Tidak ada satu pun yang menyebut seorang gadis bercincin Surya Majapahit.
Namun Sang Tabib mencarinya, berarti ia tahu sesuatu yang tidak ada di buku mana pun yang Raka kenal.
"Dia punya sumber lain," gumam Raka pada dirinya sendiri. "Sesuatu yang tidak ada di perpustakaan, tidak di museum. Sesuatu yang..."
Ia berhenti. Teringat sesuatu yang Mpu Kalandara ceritakan di pertapaan: naskah lontar langka yang disimpan seorang tukang batik di Laweyan pada tahun 1991, naskah yang tidak pernah tercatat di katalog mana pun, dan yang mendorongnya menemukan gapura itu.
Naskah itu belum pernah dibaca siapa pun sampai tuntas. Mpu Kalandara hilang sebelum sempat membukanya.
Raka menutup arloji itu dalam genggamannya dan menatap api yang tinggal bara.
Mungkin Sang Tabib sudah membacanya.
pinter bet dia🫣
dia tetap anak remaja yg belum banyak pengalaman 🥹
wahhhhhh
eh pas Hayam Wuruk naik tahta,ratu nya masih hidup ga si Thor?
wkwkwkwkwkwk
kyk nya aku pas ini kena remedial ni🤣🤣
dia ga akan bereaksi deh
coba aja
yah...Raka ga jadi pulang 🥹
apakah ada yg kebawa juga🥹
itu sebabnya namanya juga ga tercatat di sejarah?
apakah keruntuhan Majapahit ttp terjadi...
dan menghilangkan nya langsung,itu sebabnya Sekar ga pernah tercatat dalam sejarah?🥹
gajah Mada kekuasaan nya bener bener menyamai raja si ya
di satu pihak karen Hayam Wuruk terlalu muda buat mangku jadi seorang raja.
tapi.... harusnya 🥹🥹🥹
kalau aku melarang mu,akankah kau mendengar ku?
memang aura pemimpin ga bisa boong ya
pantes dia legenda tak terbantahkan 🥹
walaupun sejarah tidak menulis kan kita
bukan berarti kita tidak ada,hanya tidak terlalu penting saja untuk dikenang🥹.
tapi...baru beberapa saat ini
ada sebuah jendral besar di China yg tertulis di sejarah sebagai penghianat bangsa .
yg meninggal nya pun tragis karena tubuhnya hancur karena hukuman di tarik kuda.
tapi... ternyata faktanya jendral itu terlalu kuat pengaruh nya karena selalu menang di Medan perang
sampe raja nya pun khawatir akan kekuasaan nya,mknya difitnah sedemikian rupa. hingga sejarah pun menuliskan nya seperti itu🥹🥹.
yg artinya, terkadang sejarah pun belum tentu menuliskan kebenaran.
mereka hanya menulis apa yg orang ingin tulis.