NovelToon NovelToon
Jatuh Ke Pelukan Ayah Sahabatku

Jatuh Ke Pelukan Ayah Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.

Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 24

****

Pendar matahari pagi menembus kaca-kaca patri berukuran raksasa di ruang kerja pribadi Wiliam. Ruangan luas berlapis kayu mahoni gelap di lantai dua mansion itu diselimuti keheningan yang kaku dan mencekam. Bunga-bunga segar yang biasa menghiasi sudut meja kerja kini seolah layu diserap oleh hawa dingin yang dibawa oleh sang pemilik rumah.

Wiliam duduk tenang di balik meja kerja mahoni mewahnya. Jas tiga potong berwarna abu-abu gelap terpasang sempurna di tubuh tegapnya, memancarkan aura old money yang dominan, berkelas, dan tak tersentuh. Jemari tangannya yang panjang dan berurat menopang dagu, sementara mata sehitam jelaga miliknya menatap lurus sosok wanita yang duduk di hadapannya.

Di balik kursi kulit berukir, Siska menyandarkan punggungnya dengan anggun. Gaun sutra bernuansa krem dan perhiasan mutiara yang melingkar di lehernya memantulkan kemewahan seorang mantan nyonya besar, namun di balik polesan riasan tebalnya, tersimpan keputusasaan yang tertahan.

Wiliam sengaja menyuruh pengawal pribadinya membawa Clara keluar rumah pagi-pagi sekali—mengirim putrinya untuk berbelanja di kawasan bisnis eksklusif—hanya untuk memberi ruang bagi konfrontasi tanpa saksi ini.

"Langsung ke intinya, Siska," suara berat Wiliam memecah keheningan, menggelegar datar namun dipenuhi tekanan yang melumpuhkan. "Aku tidak punya banyak waktu untuk permainan nostalgia yang kamu buat di gerbang rumahku kemarin."

Siska menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan. Tangannya meremas tas kulit edisi terbatas di pangkuannya. "Nostalgia, Wiliam? Apakah kedatanganku kembali ke rumah ini hanya kamu anggap sebagai permainan?"

"Kamu menerobos masuk secara ilegal, memanipulasi emosi Clara yang sedang sakit, dan menciptakan skandal di pelataran rumahku," jawab Wiliam tanpa mengedipkan mata, nadanya begitu tenang hingga terasa sangat membunuh. "Kamu menyebut itu apa jika bukan keputusasaan seorang wanita yang kehabisan uang di Eropa?"

Wajah Siska mendadak menegang. Rona merah tipis menancap di pipinya akibat sindiran tajam tersebut. "Aku datang demi Clara! Dia putriku, Wiliam! Dia membutuhkan sosok ibu di rumah dingin ini! Selama ini kamu mengisolasinya di bawah bayang-bayang kekuasaanmu, dan kamu pikir dia bahagia?!"

"Clara tidak pernah kekurangan apa pun," potong Wiliam dingin, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Dialah putri tunggal dari keluarga terpandang di kota ini. Dia memiliki perlindungan penuh dariku, fasiltas terbaik, dan masa depan yang terjamin. Kehadiranmu membuat runtuh karena kamu memilih melarikan diri dengan pria selingkuhanmu ke Paris. Jangan berpura-pura menjadi ibu yang penuh kasih sekarang."

Siska mengepalkan tangannya di atas meja, matanya berkilat dipenuhi amarah yang meluap. "Aku membuat kesalahan, Wiliam! Dan aku sudah membayarnya! Aku sudah bercerai dan menyelesaikan seluruh urusanku di sana. Tempatku adalah di sini, di samping Clara... dan di rumah ini!"

"Tempatmu tidak pernah di sini," ujar Wiliam datar. Pria paruh baya itu merogoh laci mejanya, mengeluarkan sebuah map dokumen tebal berwarna hitam dan meletakkannya di atas meja marmer. "Dua puluh satu tahun lalu, aku menyelamatkan nama baikmu dan nama besar keluargaku ketika kamu datang menggegap, mengandung anak dari pria yang tidak bertanggung jawab."

DEG.

Udara di dalam ruangan itu serasa tersedot habis. Siska membeku di tempatnya, matanya membelalak sempurna menatap dokumen di depan matanya.

"W-Wiliam..." suara Siska mendadak bergetar hebat, keberaniannya mencair seketika.

"Aku memberimu nama, status, dan akses tanpa batas ke dalam kemewahan keluarga ini demi menjaga kehormatan hukum di atas kertas," lanjut Wiliam dengan nada suara yang teramat dingin dan tanpa ampun. "Aku membesarkan Clara sebagai darah dagingku sendiri di mata publik. Tapi jangan pernah lupa, Siska... kamu dan aku tahu betul siapa yang memegang kendali atas kebenaran itu."

Wiliam mendorong map hitam itu sedikit mendekati Siska. Pria tua itu menatap mantan istrinya dengan pandangan penghinaan yang terdistilasi sangat rapi.

"Di dalam map ini ada surat perjanjian pelepasan seluruh klaim hak asuh dan aset tambahan. Kamu akan menerima dana pensiun bulanan dalam jumlah yang cukup untuk membuatmu hidup mewah di luar kota ini—dengan satu syarat mutlak: kamu angkat kaki dari Jakarta dan tidak pernah menuntut hak atas mansion ini maupun mengganggu kehidupan pribadi kami lagi."

Siska menatap dokumen itu dengan napas menderu kencang. Keputusasaan dan kemurkaan beradu hebat di dalam dadanya. "Kamu... kamu mengusirku dengan dokumen dingin ini?! Setelah semua tahun yang kita lewati bersama?!"

"Kita tidak pernah melewati apa pun bersama, Siska," potong Wiliam tanpa penyesalan sedikit pun. "Pernikahan kita adalah transaksi bisnis. Dan transaksi itu sudah lama berakhir saat kamu mengkhianatiku untuk kedua kalinya tiga tahun lalu."

"Aku tidak mau menandatanganinya!" jerit Siska pelan namun penuh tekanan, menolak memegang pulpen di atas meja. "Aku berhak atas rumah ini! Aku berhak mendampingi Clara! Kenapa kamu begitu tegas membentengiku sekarang?! Dulu kamu tidak pernah sekejam ini, Wiliam!"

Siska mendadak menghentikan kalimatnya. Matanya yang tajam dan berpengalaman menyipit, mengamati Wiliam dengan cermat. Kebekuan yang diperlihatkan Wiliam, keputusan instan memblokir seluruh penerbangannya, hingga penolakan mutlak tanpa sedikit pun kompromi... ini bukan sekadar penolakan mantan suami yang terluka.

Ada pola lain. Ada barikade baru yang sedang dilindungi oleh pria berkuasa di hadapannya ini.

"Tunggu..." bisik Siska, suara ketakutannya berubah menjadi nada curiga yang menajam. "Kamu tidak sedang hanya melindungimu dan Clara..."

Wiliam tidak mengalihkan pandangannya, namun rahang tegasnya mengeras kaku secara amat tipis—sebuah gerakan mikro yang tak luput dari pengamatan Siska.

"Ada wanita lain, kan?" tuduh Siska tiba-tiba, menyunggingkan senyum sinis yang getir. "Penolakan mentah-mentah ini... ketegasan yang mendadak ini... Kamu sedang menyembunyikan seseorang di balik ketenanganmu ini, Wiliam!"

Wiliam menyilangkan jemari tangannya di atas meja, auranya tetap tenang dan tak terabaikan. "Siapa pun yang ada atau tidak ada di hidupku saat ini... sama sekali bukan urusanmu."

"Ooh, jadi benar?" kekeh Siska sinis, matanya menyala oleh percikan dendam baru. "Siapa wanita malang itu, Wiliam? Siapa yang berhasil menyelinap ke dalam sangkar emasmu sampai kamu begitu nekat membuangku sepenuhnya?! Apakah dia wanita simpanan dari kalangan kelas bawah? Atau salah satu kolega bisnismu?!"

"Bicaramu mulai melampaui batas, Siska," ancam Wiliam, suara beratnya turun satu oktav, memancarkan bahaya yang amat nyata.

"Aku mengenalmu puluhan tahun, Wiliam!" desak Siska, berdiri dari kursinya dan bertumpu pada tepi meja mahoni. "Kamu pria yang sangat dingin dan tidak tersentuh. Kamu tidak pernah membiarkan sembarang orang masuk ke dalam area privatmu! Kecuali... wanita itu sudah menyerahkan seluruh dirinya padamu!"

Siska teringat pada detail-detail kecil yang ia temui sejak kemarin: aroma sandalwood yang melekat di area-area janggal, reaksi panik para pengawal, hingga... sosok gadis muda yang berdiri canggung di dekat pilar pelataran kemarin pagi dengan perhiasan mahal di pergelangan tangannya.

"Aku akan mencari tahu siapa wanita itu," bisik Siska dingin, menatap lurus ke dalam mata sehitam jelaga milik Wiliam. "Dan ketika aku menemukannya, aku akan memastikan dia tahu betul betapa kejamnya dunia old money yang sedang dicobanya masuki."

Wiliam berdiri perlahan dari kursi kebesarannya. Tinggi badannya yang menjulang dan aura dominasinya seketika mengurung Siska di dalam bayang-bayang intimidasi yang melumpuhkan.

"Cobalah kalau kamu berani, Siska," bisik Wiliam dengan nada suara yang teramat tenang namun mematikan. "Sentuh atau usik milikku... dan aku pastikan sebelum kamu sempat menyebut namanya, kamu tidak akan pernah melihat pendar matahari di kota ini lagi."

Atmosfer di dalam ruang kerja mahoni itu membeku total. Siska menahan napasnya, merinding oleh ancaman nyata dari pria paling berkuasa di hadapannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Siska menyambar tas mewahnya, memutar tubuh, dan melangkah keluar dari ruangan dengan tumit sepatu yang menghentak keras di atas lantai marmer.

Bersambung....

1
merry
tapi tetap aj wil Clara kudu tau klo kmu bukn Bpk ya,, Clara jg hrs tau cerita mslh tentang mama ya,, biar Clara gk salahin eve kn Clara tau siska mntn mu dan ingin rujuk dan eve sbgai penghalang Clara tdk akn trma tuh,, yg eve dcap pelakor lbh bgs si Clara kudu tau dia ank siapa bgmn cerita mmy dulu biar bs nerima eve
merry
agak bingung knp mntn lin bisa tau klo lin ada di vila y clra🤔🤔🤔trss bukn y mntn berangkat lbh dulu ke itali tp mlhnn ktmu lin di dlmn ✈️✈️✈️✈️
ollyooliver
orang gila..anak sendiri kek orng lain, anak orang lain dijadiin pemuas..malah gk peduli lagi sama perasaan lyn...lebih baik orng tau lyn itu tempat pembuangan p*ju ..hadeuwww
ollyooliver
termasuk claraa..wkwkwk. anak sendiri digituiin. gmn dengan anaknya lyn. dapur doang pake aturan. gitu amat ya punya ayah yg gila kekuasaan.
ollyooliver
lah tuh dokter..gunanya ape? masak?🙃
ollyooliver
lah..makanya rawat sendiri. janga lewat orng lain. katanya bos, ya kali gk punya kuasa buat menentuin mana yg prioritas dan bukan. clara sakit masih menyangkut nyawa. bisnis ditinggal sebentar gk akan buat bangkrut. aneh aja..seoramg boss . otak kosong. pasti maminya clara ninggalin karna william gila kerja.
ollyooliver
kasihan banget ya clara..anak sendiri dijadiin saingan. bapaknya emng gak punya rasa cinta bahkan pada Lyn sekalipun. yg ada hanya obsesi. pantas ditinggalkan
guest1053527528
lanjut thor
aristi
memang tangan William sepanjang apa kok tangannya sampe ke area sensitif lyn apa mejanya yg kecil TPI g mungkin kan orang William orang kaya masa mejanya cuma selebar pergelangan tangan William, udh gtu William sambil ngopi emg bdannya g mbungkuk biar sampe ke paha Lyn yg duduk diseberang William 🤔
ollyooliver
kalau lagi berdua, pake mas aja thor. trus kalau ada clara pake om, bukan Tuan. biar enak dibaca.
ollyooliver
asikk
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
ikutan dag dig dug wey, takut bgt klo sampe ketahuan
ollyooliver
buanglah sampah pd tempatnya.



itu kata william🙂
ollyooliver
lanjut
sunshine wings
bagus storynya
enak bacanya
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
guest1053527528
mantap thor
Siskasuryaningsih
wittt. wiittt, om tolelet hadir bos ku, 😄😄
Nindyaputri Pangestika
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!