Apa jadinya kalau dua orang yang bahkan tidak saling menyukai tiba-tiba terbangun dalam tubuh masing-masing?
Itulah yang dialami Daffa dan Dinda setelah sebuah kejadian aneh membuat roh mereka tertukar. Kekacauan pun dimulai. Daffa harus menjalani kehidupan sebagai perempuan, sementara Dinda terpaksa menghadapi dunia sebagai laki-laki.
Awalnya mereka berusaha menjalani situasi yang rumit itu. Namun semakin lama, mereka justru menemukan sisi lain satu sama lain yang selama ini tidak pernah terlihat.
Masalahnya, pertukaran roh itu ternyata memiliki satu syarat aneh untuk bisa berakhir. Mereka harus menikah!
Antara kekacauan, pertengkaran, dan perasaan yang perlahan tumbuh, mungkinkah pernikahan yang awalnya hanya sebuah solusi berubah menjadi kisah cinta sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghindar
BAB 6
Menghindar
Oh, Tuhan gimana nih kalau sempet gue datang bulan dan masih belum juga balik ke tubuh asli gue?! Bang Daffa bakalan lihat semuanya. Huuwwaaa...!
Tenang..., tenang..., gue harus tenang dulu! Gue bisa bicarakan baik-baik nanti sama Bang Daffa setelah di rumah, tenang Dinda....tenang...
Dinda mencoba menenangkan dirinya meski itu tidak berpengaruh karena rasa panik itu jelas terasa dan terlihat dengan tubuhnya yang gemetar. Ia tidak memperdulikan Tiwi maupun Evan yang sejak tadi memperhatikan dirinya.
"Daffa lu sakit? Muka lu merah banget?!"
Gadis yang menarik lengan Daffa tadi berkata sambil meletakkan telapak tangannya di dahi Daffa. Wajah Evan yang melihat adegan itu langsung berubah.
Dinda yang baru sadar dari lamunannya segera menepis tangan gadis itu dari dahinya.
"Maaf, tolong jangan sentuh gue." Ujar Dinda yang memang kurang suka di sentuh, apalagi orang yang masih asing baginya.
Gadis itu tampak sedikit kecewa atas perlakukan Dinda, yang di matanya berwujud Daffa.
"Dia mungkin masih sakit. Gue dari tadi udah nyuruh dia balik aja nggak usah masuk kuliah."
Evan mencoba menghibur gadis itu.
"Pulang aja ya Daff? Biar gue anterin pakai mobil gue."
"Nggak usah, gue nggak apa-apa." Tolak Dinda.
Nih cewek siapa sih, getol banget pengen deket Bang Daffa terus?! Apa jangan-jangan dia si Tiwi itu ya? Batin Dinda bertanya-tanya.
"Bener lu nggak apa-apa?" Evan juga bertanya untuk memastikan.
"Bener, kita masuk kelas aja yuk, udah hampir mulai kan?"
Dinda lalu mengajak ke duanya masuk ke kelas. Kebetulan ada mereka, jadi ia tak perlu bingung lagi, mencari kelas Daffa.
***
Sementara itu, di sekolahnya Dinda.
Tidak sulit bagi Daffa mencari kelas tempat Dinda belajar. Ia mengambil tempat duduk paling belakang yang nyaman baginya.
"Din, kok duduk di situ sih? Sini!"
Seorang gadis tiba-tiba menghampirinya.
"Ini mejanya Gino, entar tu anak duduk dimana coba?"
Namun Daffa tetap diam tempatnya, malas untuk beranjak apalagi berpindah tempat.
Ck! Berisik banget nih cewek!
"Dinda, lu kenapa sih? Lagi bete ya?"
Akhirnya gadis itu mengalah. Ia ikut duduk dan langsung memeluk Daffa dari samping dan meletakkan kepalanya di bahu Daffa yang tengah tidur dengan melipat tangan di atas meja sebagai bantalnya.
Daffa tersentak, terkejut. Rasa ngantuknya mendadak hilang berubah menjadi rasa tegang. Ia pun bangun dan menoleh.
Gadis itu melepaskan pelukannya. Dan memperhatikan Daffa.
"Nah gitu dong....! Lu kenapa sih?"
Daffa tidak merespon, malah melanjutkan tidurnya.
"Lah, malah tiduran. Nih anak kenapa sih? Coba cerita ke gue."
Dengan malas, Daffa menjawab.
"Gue nggak apa-apa."
Ia berharap gadis itu berhenti mengoceh dan pindah duduk dari sampingnya.
"Serius? Tapi lu nggak biasanya kayaknya. Ayo bangun, sebentar lagi Leon pasti lewat. Lu nggak pengen lihat dia?"
Leon? Siapa lagi?
Dalam hati Daffa bertanya-tanya.
Dinda tidak pernah menjelaskan tentang Leon saat mereka berdiskusi kemarin. Hanya Kania sahabat dekatnya. Dan Daffa yakin dia adalah gadis cerewet yang saat ini ada di sampingnya.
"Nggak."
"Tumben lu nggak antusias?! Apa demam lu dari kemarin nggak sembuh juga?"
Duh..., cerewet banget!
Daffa bangun dan menegakkan duduknya. Ia menoleh dan menatap Kania, dingin.
"Gue nggak apa-apa, Kania"
Kania diam.
"Gue nggak mau berisik, dan nggak mau di ganggu. Bisa?"
Lalu membeku di tempatnya. Meski yang ia lihat adalah sahabatnya, Dinda. Namun kali ini, aura Dinda terasa berbeda dari yang ia rasakan sebelumnya.
"Ya.... Udah."
Akhirnya Kania menurut. Ia tak lagi banyak bicara dan hanya duduk untuk mengikuti pelajaran di samping Daffa.
Daffa menghembuskan napas pelan. Sekarang ia bisa merasakan ketenangan. Ia tidak suka keributan. Apalagi peduli dengan hal yang tidak penting menurutnya.
***
Menjalani kegiatan di sekolah membuat Daffa merasa bosan. Apalagi ia harus mengulang pelajaran yang sudah pernah ia terima dulu.
Daffa tidak berbicara maupun bergaul dengan sahabat Dinda. Bahkan ia memilih tidur sewaktu jam pelajaran maupun istirahat.
"Din, bangun. Bentar lagi pelajaran Pak Budi. Lu nggak mau kan di hukum berdiri di luar kelas gara-gara tidur?"
Kania menggoyang lengan Daffa.
Daffa yang tadinya masih tidur dengan tangan melipat di atas meja akhirnya membuka mata di bawah meja. Ia berpikir sejenak. Dinda pasti akan kesal kalau tahu ia di hukum di sekolah, pikirnya.
Namun saat hendak menegakkan tubuhnya, mata Daffa tanpa sengaja melihat paha mulus milik Kania yang duduk dengan kaki bertumpu pada kaki lainnya. Roknya yang pendek semakin ketarik hingga nyaris menuju area paling berbahaya bagi mata.
"Ck!"
Daffa berdecak dan segera duduk dengan posisi tegak. Tanpa ia sadari, Kania menoleh padanya lalu tiba-tiba memegangi wajahnya.
"Din, lu demam? Muka lu merah banget."
Kania mendadak terlihat khawatir. Namun yang lebih khawatir adalah Daffa yang lagi-lagi tanpa sengaja melihat dua bukit memukau yang terselip dan berada di balik baju yang ketat di hadapannya.
"Gue anter ke UKS ya?"
Daffa menahan tangan Kania di wajahnya, dan mencoba melepaskan.
"Gue nggak apa-apa."
"Tapi muka lu merah gitu. Duh, kenapa nggak bilang dari tadi sih lu demam."
Tiba-tiba Kania memeluk kepala Daffa dan membawanya ke dalam pelukan tepat di dada.
Daffa tak sempat menghindar.
Buset dah!!
"Ayo, lu harus di rawat!"
Kania melepaskan dekapannya dan mengajak Daffa untuk mendapat pengobatan di UKS.
"Gue nggak apa-apa."
Daffa kembali menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Ih, dari tadi 'nggak apa-apa...nggak apa-apa', gue nggak percaya! Ayo, ikut gue!"
Dengan terpaksa, Daffa mengikuti ajakan Kania. Setidaknya ia tidak perlu mengikuti pelajaran yang membosankan dan akan lepas dari Kania yang akan kembali ke kelas, pikirnya.
Namun tak semudah yang di bayangkan. Kania memang kembali ke kelas. Tetapi Daffa kembali harus melalui uji nyali berikutnya.
Saat ia menikmati ketenangan di ruang UKS, ia tiba-tiba merasakan sesuatu di bawahnya membuatnya menggelengkan kepala untuk menolak, andai bisa.
Duh, jangan sekarang.
Daffa mengusap wajahnya dengan kasar dan terpaksa beranjak bangun karena merasa kebelet dan ingin buang air kecil.
Sungguh, rasanya ia tidak sanggup untuk melakukan tugas yang menantang jiwanya dan raganya itu. Bahkan nyawanya pun nyaris memilih pergi dari tempatnya.
Meski sudah beberapa kali melihat, namun Daffa masih belum terbiasa. Mau tidak mau ia terpaksa masuk ke toilet wanita dan melakukannya seperti yang pernah di arahkan Dinda padanya, kemarin.
Hari itu pun di lalui Daffa dengan begitu beratnya.
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
salahin nggak pake kacamata itu