Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.
Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.
Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.
Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gugatan part 2
21
Gugatan part 2
Farhan mengernyitkan kening dan alisnya, ia mengambil alih dokumen yang sudah berubah menjadi gumpalan kertas, lali membacanya dengan seksama. Matanya bergerak cepat dari satu baris meningkat menjadi satu paragraf, sampai ke paragraf berikutnya.
Ketegangan nampak jelas di wajahnya,
Semakin banyak yang dibacanya, semakin jelas tegang raut wajahnya. “Ini— gugatan dari keluarga Pak Hermanto?” tanya Farhan sedikit gemetar.
“Benar, bukan sekadar gugatan biasa,” jawab Pak Jatmiko dingin. “Mereka mempermasalahkan kepemilikan saham dan penyertaan modal yang selama ini kita anggap sudah selesai.”
Farhan terdiam, nampak berpikir keras, lantas kembali membaca dokumen tersebut. Nama San Apparel tercantum di dalam lembaran dokumen tersebut, lengkap dengan sejumlah bukti penyertaan modal, serta dokumen pendukung lainnya yang berkaitan dengan perubahan struktur kepemilikan modal Permana Group.
“Bagaimana mungkin mereka masih memiliki bukti-bukti ini, Yah? Sedangkan Ayah bilang sudah memusnahkannya?!” tanya Farhan, yang membuat Pak Jatmiko mendengus kesal.
“Entahlah, tapi sepertinya seseorang membantu mereka, atau sejak awal Hermanto memang sengaja menyimpan bukti-bukti tersebut. Ternyata dia memang licik, sejak awal menyiapkan ini semua untuk menjegal kita suatu hari nanti.”
Pak Jatmiko menggebrak meja kerjanya dengan geram, dia yang berbuat curang, sekarang dia melimpahkan kesalahan pada orang lain.
Farhan menatap ayahnya, sekilas ia mengingat wajah pria yang sempat ia pergoki berjalan di sisi Dina tempo hari. Namun, ia menepis pikiran tersebut.
“Tidak mungkin dia,” monolog Farhan. “Atau memang dia? Siapa pria itu sebenarnya?”
Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggema di kepalan Farhan, lalu ia mencoba menetralisir keresahannya dengan cara menarik serta menghembuskan nafasnya perlahan. “Bukankah Ayah bilang dulu sudah dibersihkan?”
Pak Jatmiko menatap tajam putranya, “Menurut kita, sih, iya. Tapi menurut mereka, belum.”
Farhan kembali menatap dokumen di tangannya. “Lalu sekarang bagaimana, Yah?”
“Bagaimana lagi, kita lawan di pengadilan. Pengacara yang Papa sewa, berani mengatur permainan yang akan menguntungkan kita,” jawab Pak Jatmiko tegas penuh keyakinan bahwa mereka akan terus di atas angin.
“Permana Group tidak boleh goyah hanya karena satu orang merasa punya hak atas sesuatu yang sudah lama masuk ke dalam struktur perusahaan kita.”
Farhan tidak langsung menjawab, kalimat ayahnya justru membuat dadanya sesak. Satu orang itu, pernah jadi bagian dari hidupnya, serta bagian dari perjalanan permana Group.
Tanpa sadar pikiran Farhan melayang kepada mantan istrinya, Dina. Wanita yang dulu mendampinginya disaat Permana berusaha bangkit dari keterpurukan.
Namun, di masa akhir perjalanan pernikahan mereka, ia justru memberikan begitu banyak luka untuk wanita itu. Tidak maksimal mendampinginya selama masa kehamilan, justru memilih menjalankan amanat terakhir kakaknya, yakni menikahi Sarah.
Pada akhirnya, Dina lah yang mengalah, dan pergi dari hidupnya. Rupanya perceraian mereka tidak serta-merta menghapus semua persoalan yang masih belum menemukan kata sepakat serta jalan keluar.
“Ayo, kita temui pengacara.”
“Baik, Yah.”
Namun, persoalan mereka belum selesai, karena sore harinya sebuah kiriman kembali datang.
“Ini untuk Anda, Pak.” Sekretaris menyodorkan sebuah kiriman yang baru saja tiba. Sebuah amplop besar.
Farhan menerima dokumen tersebut dengan wajah serius. Dan ketika mengetahui apa isinya, wajah Farhan kembali pucat, lalu membacanya dengan seksama.
Gugatan harta bersama, atau harta gono gini. Dengan Dina sebagai nama penggugat. Untuk beberapa saat, Farhan diam dan memandangi nama itu dengan perasaan yang rumit.
Hal yang tak Farhan kira akhirnya terjadi, dia mengira Dina akan diam saja selepas diceraikan. Rupanya tidak demikian, Dina tak mau diam dan menerima begitu saja.
Dina yang dulu rela hidup sederhana, kini menampakkan warna aslinya, Ia menuntut nafkah iddah, serta harta bersama selama mereka menikah.
“Jadi, selama ini kebaikan dan keikhlasanmu hanya kamuflase?” geram Farhan, 11 12 dengan Pak Jatmiko yang tak mau introspeksi diri, justru menyalahkan orang yang menggugat hak mereka.
•••
Malam harinya, Bu Sintia dan Sarah cukup terkejut mendengar berita tentang gugatan yang sudah masuk ke pengadilan. Wajah Bu Sintia bahkan langsung berubah.
“Jadi, kita menerima gugatan dari Hermanto dan Dina?”
Dada Bu Sintia bergemuruh, tak menyangka bahwa hal ini akan terjadi. Sarah yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.
“Kalau memang mereka hanya menginginkan uang, kenapa tidak dibicarakan baik-baik?”
Tak hanya Pak Jatmiko, tapi semua orang langsung menatap Sarah.
“Kamu pikir orang yang sudah menggugat ke pengadilan masih ingin sekadar bicara?” sentak Pak Jatmiko, hingga Sarah terdiam. Tapi dalam hati ia justru lebih mencemaskan posisinya sendiri.