NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Raven Ayu

Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, Laras dicampakkan dalam semalam setelah putri kandung mereka, Tiara, ditemukan lewat tes DNA. Ketika Tiara menolak menikahi “duda tua beranak tiga dari kampung”, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi menjaga nama baik.
Di desa asing itu, Laras menghadapi seorang lelaki dingin bernama Arya dan tiga anak yatim yang kurus serta waspada. Semua orang mengira ia telah menikah turun derajat dan hanya bisa pasrah pada nasib.
Tak ada yang tahu bahwa Arya sebenarnya adalah mantan perwira Kopassus yang disegani para jenderal sekaligus konglomerat yang menyamar sebagai peternak sapi. Pria yang katanya dingin itu justru memanjakan Laras setiap hari lewat tindakannya, sampai membuat seluruh desa iri.
Sedikit demi sedikit, Laras membalik hidupnya. Ia membesarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius, membuat orang-orang yang pernah meremehkannya menelan hinaan mereka sendiri, dan bangkit dari “ibu tiri kampungan” menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.
Namun Tiara belum menyerah merebut apa yang dianggap seharusnya menjadi miliknya. Di saat yang sama, rahasia asal-usul ketiga anak itu mulai terungkap: mereka membawa darah keluarga konglomerat Adiwangsa.
"Kamu menikahiku karena terpaksa," kata Arya. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2: Rumah Termewah di Desa

“Buka pagarnya, Bik.”

Bang Gino tidak meninggikan suara. Namun kalimat itu membuat jemari Bik Inah yang menggantung di atas gerendel bergerak juga.

Besi bergesekan dengan bunyi kasar. Pagar terbuka hanya setengah badan, seolah perempuan itu masih berharap bisa menahanku dengan bahunya.

“Kalau nanti Pak Arya marah, jangan bawa-bawa saya,” gerutunya.

Aku menarik koper melewati ambang pagar. “Saya justru menunggu beliau pulang supaya semuanya jelas.”

Sasa berjalan menempel di kakiku, masih memegang ujung blusku. Jagoan berhenti menggeram ketika anak itu ikut masuk. Anjing besar itu mengendus udara di sekitarku, lalu duduk dekat rantainya sambil tetap mengawasi.

Para tetangga belum beranjak. Tatapan mereka mengikuti roda koperku yang tersendat di sela paving.

Aku berhenti dan menoleh pada Bik Inah.

“Biar tidak ada cerita yang berubah besok pagi, saya ulangi di depan semua orang. Saya dikirim keluarga Pak Bimo Santoso untuk menggantikan Tiara dalam perjodohan ini. Kalau Pak Arya tidak menerima, saya akan pergi setelah mendengar langsung dari beliau.”

Salah satu perempuan di luar pagar mengangguk. “Itu adil.”

Bik Inah mendengus, tetapi tidak berani menutup pagar di depan tubuhku lagi.

Bang Gino mengangkat salah satu karung pakan dari kendaraan roda tiga. “Saya antar Mbak Laras masuk dulu.”

“Tidak perlu!” Bik Inah cepat menyela. “Rumah ini saya yang urus.”

“Tadi juga katanya begitu.”

Terdengar tawa kecil dari jalan. Wajah Bik Inah kembali merah.

Bang Gino membantuku menaikkan koper ke teras. Setelah memastikan aku benar-benar berada di dalam, dia menurunkan karung-karung pakan di gudang samping dan kembali ke kendaraannya.

“Pak Arya biasanya pulang menjelang Magrib,” katanya sebelum menyalakan mesin. “Kalau ada apa-apa, peternakannya di ujung jalan sawah. Tanya saja Rejo Makmur, semua orang tahu.”

“Terima kasih, Bang.”

Dia mengangguk, lalu pergi. Para tetangga ikut bubar sedikit demi sedikit, meski beberapa kepala masih menoleh sampai tikungan.

Begitu pintu depan terbuka, hawa sejuk menyentuh kulitku.

Lantai ruang tamu dilapisi granit warna gading, bukan tegel murah seperti rumah-rumah lain yang kulewati. Sofa abu-abu tersusun di depan televisi layar datar yang lebarnya hampir memenuhi dinding. Di sudut ruangan berdiri lemari kayu jati dengan pintu kaca. Sebuah pendingin udara berdengung pelan di atas jendela.

Rumah ini tidak sekadar tampak bagus dari luar.

Di sisi tangga, aku bisa melihat lorong menuju dapur dan pintu lain ke halaman belakang. Lantai dua memiliki balkon dalam dengan pagar besi hitam. Semuanya kokoh, bersih, dan dirancang oleh orang yang tahu persis apa yang ingin dibangunnya.

Seorang peternak sapi di desa bisa saja kaya. Namun orang kaya biasanya suka menunjukkan kekayaan atau mengeluh ketika ditanya. Pemilik rumah ini justru membiarkan kabar tentang dirinya menjadi duda tua miskin menyebar sampai Jakarta.

Mas Arya pasti bukan lelaki sederhana.

Aku belum tahu apakah itu kabar baik.

“Jangan pegang apa-apa,” kata Bik Inah dari belakangku. “Barang di sini mahal.”

“Saya bisa membedakan barang mahal dan barang rapuh.”

“Orang kota memang pintar bicara.”

Aku tidak membalas. Tenggorokanku kering sejak turun dari ojek. Aku menunggu beberapa saat, tetapi Bik Inah malah membawa seikat kuncinya ke dapur tanpa menawarkan air ataupun tempat duduk.

Sasa masih berdiri di sisiku. Permen di mulutnya sudah habis. Ketika aku memandangnya, dia menyentuh tas selempangku dengan satu jari.

“Mau lagi?”

Matanya bergerak ke arah dapur. Lalu kembali kepadaku.

Aku mengambil permen kedua, tetapi tidak langsung memberikannya. “Kita minum dulu, ya. Haus?”

Dia tidak bersuara. Tangannya hanya naik, kedua telapak kecilnya terbuka ke arahku.

Butuh satu detik bagiku untuk mengerti.

“Mau digendong?”

Sasa menggerakkan jarinya, memintaku mendekat.

Aku berjongkok dan mengangkatnya. Tubuhnya lebih ringan daripada dugaanku. Tulang rusuknya terasa melalui kain tipis, sementara kedua lengannya langsung melingkari leherku. Wajahnya menempel di bahuku tanpa ragu.

Hangat napasnya menembus blusku.

“Baru diberi permen sudah nempel,” sindir Bik Inah yang muncul dari lorong. “Anak kecil memang gampang dibodohi.”

“Atau dia hanya tahu siapa yang tidak membentaknya.”

Tatapan Bik Inah menajam. “Mau minum, ambil sendiri di dapur. Saya banyak kerjaan.”

“Kamar untuk saya di mana?”

“Tidak ada kamar kosong.”

Aku melirik tangga dan lorong yang memiliki setidaknya empat pintu. “Rumah sebesar ini tidak punya satu kamar kosong?”

“Ada kamar, tapi bukan berarti boleh dipakai orang yang belum jelas statusnya.”

Sasa merapatkan pelukannya ketika suara Bik Inah meninggi.

Aku mengusap punggungnya. “Baik. Saya menunggu di ruang tamu sampai Pak Arya pulang.”

Aku membawa Sasa ke dapur. Sebuah dispenser berdiri di sudut, tetapi galonnya kosong. Di rak ada teko air matang. Aku mengambil gelas sendiri, membilasnya, lalu minum. Untuk Sasa, aku menuangkan sedikit air ke cangkir plastik bergambar bunga yang kutemukan di rak bawah.

Anak itu minum terburu-buru. Air menetes dari dagunya.

“Pelan,” bisikku sambil menyeka mulutnya. “Tidak ada yang akan mengambilnya.”

Dari halaman belakang terdengar suara kaki. Dua anak laki-laki berdiri dekat pintu, satu lebih tinggi dan kurus, satu lagi lebih kecil dengan rambut acak-acakan. Mereka menatapku tanpa menyapa.

Anak yang lebih tinggi segera menarik adiknya mundur begitu tatapan kami bertemu.

“Itu Raka dan Bayu,” kata Bik Inah. “Jangan harap mereka semudah Sasa.”

Pintu belakang tertutup. Kedua anak itu menghilang.

Aku tidak mengejar. Kepercayaan bukan ayam yang bisa ditangkap dengan berlari.

Menjelang sore, aku membersihkan debu di wajah Sasa dengan tisu basah dan menyisir rambutnya memakai jari. Dia duduk di pangkuanku, memainkan ujung resleting tas. Bik Inah tetap tidak menyiapkan kamar. Dia beberapa kali lewat sambil membanting pintu lemari, memastikan aku mendengar ketidaksukaannya.

Azan Magrib belum selesai ketika Jagoan mendadak bangkit.

Kali ini dia tidak menggonggong marah. Ekornya menghantam tanah berulang kali. Rantai di lehernya berdering ketika dia menarik tubuh ke arah pagar.

Suara mesin motor berhenti di halaman.

Bik Inah yang sejak tadi malas-malasan langsung berlari ke teras. “Pak Arya pulang.”

Sasa mengangkat kepala dari dadaku.

Aku berdiri sambil menggendongnya. Telapak tanganku mendadak lembap.

Seorang lelaki memasuki ruang tamu dengan langkah tenang. Kemeja kerja warna gelapnya digulung sampai siku, memperlihatkan lengan berotot yang terkena debu. Celananya kusam di bagian lutut. Ada bau matahari, rumput kering, dan samar-samar kandang sapi pada tubuhnya.

Namun dia sama sekali tidak tampak tua.

Usianya mungkin pertengahan tiga puluhan. Tubuhnya tinggi dan padat, wajahnya tegas dengan rahang yang seperti jarang dipakai untuk tersenyum. Tatapannya berpindah dari koper di dekat sofa, ke wajahku, lalu ke Sasa yang melingkarkan tangan di leherku.

Mata itu diam, tetapi berat.

Ini lelaki yang katanya tua, buruk rupa, dan hanya butuh perempuan untuk mengurus tiga anak?

Bik Inah membuka mulut lebih dulu. “Pak Arya, perempuan ini datang mengaku sebagai pengganti Tiara. Saya sudah bilang pulang, tapi dia memaksa masuk dan membuat keributan di depan tetangga.”

Arya tidak langsung menjawabnya.

Dia menatapku. “Laras?”

Dia tahu namaku.

“Iya. Saya Laras Ayuningtyas.” Aku menurunkan Sasa perlahan, tetapi anak itu menolak melepaskan leherku. Akhirnya aku tetap menggendongnya. “Keluarga Pak Bimo mengirim saya menggantikan Tiara. Saya tidak mau berpura-pura seolah keputusan itu adil. Tapi saya sudah datang, jadi saya ingin bicara langsung dengan Mas Arya.”

Tatapannya tidak berubah. “Bicara.”

“Saya bisa merawat tiga anak ini dengan baik. Saya bisa bekerja, mengurus rumah, dan menjalani hidup sederhana. Kalau pernikahan ini tetap dilanjutkan, saya akan menjalaninya dengan sungguh-sungguh.”

Aku berhenti sebentar. Detak jantungku terdengar sampai telinga.

“Tapi kalau Mas Arya hanya mencari pembantu yang tidak perlu digaji, saya akan pergi sekarang juga. Anak-anak akan saya perlakukan sebagai keluarga, dan saya juga ingin diperlakukan sebagai manusia. Bukan pengganti yang bisa dipindahkan sesuka hati.”

Sasa menyandarkan kepala di bahuku. Ruang tamu begitu sunyi sampai dengung pendingin udara terdengar keras.

Arya memandangku lama.

Dia tidak mengatakan iya. Tidak juga mengatakan tidak.

Hanya menatapku, begitu lama sampai aku mengira lelaki itu tidak akan membuka mulut sama sekali.

1
Mitha Artha Kencana Althea
inah kurang ajar dikasih kepercayaan mlh membuat snk snk kelaparan terus,,
Umi Maryam
lieur aah cwrita nya konplik terus fitnah terus ,masa istri paman nya di sebut ibu tiri gajelas .....
darwin
👍
🌹🪴eiv🪴🌹
permisi.....kok sampe sini saya muak 🤧

author judul yg anda pakai menipu seharusnya judulnya "masalah bertubi-tubi"
Nurul Ghifari
raka umur 13 tahun tapi bahasanya mengalahkan logika orang dewasa. 🙏
🌹🪴eiv🪴🌹
Vera kamu goblok bon tolol

gedek aku,, wes tak tampol kalo debat gitu sana aku
otakmu bocor ta , kasus,kasus dah 👊
mie_moet
pembantu setresss 🤬
Roamer Palsu
satu-satunya novel yang membuat saya membaca 90bab dalam sehari..

saya tidak pernah melakukan hal ini pada novel manapun sebelumnya..

novelnya tidak menjual romansa melankolis penuh air mata. tidak menjual kekejaman mertua, tidak mengeksploitasi kelemahan tokoh protagonis. setiap bab punya konflik yang tidak mungkin saya tinggalkan untuk tidak membaca bab selanjutnya..

authornya kerenn!!!
Ningsih Gedeona
aku bingungnya... si Ras nya uda selesai kuliah ya???? pindah- pindah terus... 🤭😁🤭😁🤭😁
Wulan Azka: saya malah lebih bingung sama si sasa ya yg kecil, pertama si Laras kesitu kan dia umur 2 THN ngga bisa ngomong pula. trus tau2 ada adegan si vera baru pindah dekat rumah Laras, paling si Sasa umur 3 tahun, belum sekolah juga kan. si Sasa di tes sama si Vera apa si farrel ya itu bisa ngomong lancar pakai bahasa inggris pula. dan kalimat yang dipakai baik bahasa inggris dan bahasa Indonesia pun itu kayak orang dewasa bahkan bukan kalimat santai yang biasa dipakai buat ngobrol sehari hari 🤔
total 1 replies
Ibu DelVan95
kak jujur novelmu bagus n rapi bgt bhsa ny kyk baku ya klo gk slah..ttep smngat buat kakak nya👍
H A P
plissss ngakakkkkk😭😭😭
Erna Masliana
emang kamunya yang bermasalah.. jangan nyalahin nasib .
Erna Masliana
lalu kenapa mau ditipu... udah sekali terjerumus.. ditolong..malah ngulang kesalahan
Erna Masliana
Vera Damar masih suami istri apa udah cerai sih ??
Erna Masliana
Damar kan suami Vera kok dia sepertinya membiarkan Vera terus meneror.. menganggu.. mengancam
fatmiatun sahono
cerita nya menarik.... mengajar kan ttg kehidupan keluarga. cuma gaya bahasanya kaku, seperti menggunakan AI baku banget dan formal walau sedang mengobrol dengan anak istri....🙏💪
Irianti
cerita nya bagus Thor, tapi ini seperti membaca cerita si laras aja. bukan seperti baca novel lebih bagus itu pov author aja jadi nyambung, maaf yaa Thor sekedar saran 🙏🙏🙏. tetap semangat💪💪💪
Jessica
jadi inget temenku pulang dari saudi pas goreng tempe anak e nungguin mau ambil satu nungguin ibunya pas gak tau...dia ambil satu adiknya d tarik ngumpet d makan bersama....Dia nangis kejer meluk anak2 nya minta maaf kalau mau makan apapun akan ibu masak kan,karena selama ibu nya merantau mereka serumah dng ibu tirinya makan nan d jatah😭😭😭😭😭😭
Jojo Ge
👍
🌹🪴eiv🪴🌹
Vera , wartawan kok goblok 😛
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!